vote JOLIE for CATWOMAN!

August 18th, 2008 by actualchaos


images courtesy of Andy Wirawan

Sekuel The Dark Knight masih lama lagi, tapi orang banyak telah berspekulasi akan kemunculan karakter-karakter apa saja pada sekuelnya tersebut. Nama-nama seperti Robin, The Riddler, Penguin dan Catwoman diharapkan akan kehadirannya pada seri Batman ketiga versi Chris Nolan ini.

Rumor has it, Johnny Depp will fit the role for The Riddler, yang sebelumnya pernah dimainkan oleh Jim Carrey di Batman Forever (imho, the best Batman in the 90’s). Saya yakin jika memang itu benar, Depp akan memberikan kekuatan versatilitas aktingnya dengan sempurna. Cross my heart!

Okay, enough about Depp, the most interesting  topic here is who’s gonna be the infamous bitchy Catwoman? Well, many fans has fuzzing about Angelina Jolie as the leather cat’s outfit dominatrix. I’m 100 % agree with them.

Saya dengar bahkan pemain Catwoman versi jaman baheula dulu pun sudah merestui jika Jolie yang menjadi Catwoman berikutnya. Sebenarnya saya suka sekali saat Michelle Pfeifer memainkan alter-ego Selina Kyle tersebut, karena mempunyai kharisma tersendiri. Tapi itu di dunianya Tim Burton. Untuk dunia Nolan yang realistis, well, well, Jolie definitely is The Catwoman! Man, she got the attitude….!

A-MUST!!!!!

The Chase Is Dangerous, But Subtle At Once

August 18th, 2008 by actualchaos

The_chaserstill_2 Have you seen any good South Korean thriller lately? Well, I haven’t. ‘Seven Days’, dengan pemeran utama Kim Yoon-jin (dari serial TV ‘LOST’), memakai gaya MTV yang terlalu memusingkan kepala untuk dapat mengikuti dengan nikmat jalan ceritanya, meski mempunyai premis yang menarik.

Untung kemudian ada ‘The Chaser’ atau ‘Chugyeogja’, yang merupakan debut bagi Na Hong-jin untuk menampilkan thriller yang intens, gripping dan menghanyutkan untuk tertarik dalam alurnya.

Eom Jung-ho (Kim Yoon-suk) adalah seorang germo bekas detektif polisi yang sarkastik karena kehidupannya yang keras. Ia merasa kesal karena beberapa "gadis"-nya sepertinya telah menghilang tanpa jejak setelah berkencan dengan klien. Lantas ia mengutus gadis yang tersisa, Kim Min-ji (Seo Yeong-hee) untuk melayani panggilan klien. Min-ji yang tinggal berdua saja dengan anak perempuannya, Eun-ji (Kim Yoo-jeong), sebenarnya sedang sakit, namun karena Jung-ho memaksa, akhirnya ia menerima "tugas" tersebut. Berdasarkan kesamaan nomor telepon pemesanan, Jung-ho ternyata mencurigai jika kilen ini sebenarnya adalah klien yang sama yang memakai jasa gadis-gadis yang menghilang, sehingga memutuskan untuk memakai Min-ji sebagai umpan. Namun, Ji Yeong-min (Ha Jeong-woo), bukanlah penjual gadis-gadis, melainkan seorang pembunuh berantai!

Secara tidak sengaja Jung-ho berhasil menangkap Yeong-min dan menahannya di kantor polisi atas bantuan mantan koleganya dikepolisian. Yeong-min mengakui kalau ia membunuhi gadis-gadis tersebut, namun bersikeras untuk tidak mengatakan dimana ia bersembunyi untuk membunuh selama ini. Sementara itu, karena kurangnya bukti, Yeong-min akan segera dibebaskan. Jung-ho, mau tidak mau, terpaksa menjaga Eun-ji bersamanya yang malah membangun simpatinya terhadap kehidupan Min-ji. Hal tersebut membuatnya menjadi sangat gelisah akan keselamatan Min-ji dan pada akhirnya memutuskan untuk melakukan penyelidikannya sendiri tentang siapa sebenarnya Yeong-min dan berusaha menemukannnya sebelum semuanya terlambat. Namun, waktu terus begerak, dan Min-ji bisa saja sudah tiada!

‘The Chaser’ mengingatkan akan filmnya Park Chan-wook, ‘Oldboy’ karena mempunyai derajat kekelaman yang sama dan tingkat kesadisan yang cukup tinggi (adegan pemukulan dengan palu, anyone?). Untuk ini tabik bagi Na Hong-jin yang berhasil merangkai adegan yang begitu gemilang dalam merangkai emosi penontonnya.

Namun, meski sangat menonjol dalam suspensi ketegangan ceritanya, ‘The Chaser’ lebih merupakan sebuah karakter studi yang kadang subtil, kadang kelam. Lihat saja pada progresi karakter Jung-ho atau dinginnya karakter Yeong-min yang rasanya sulit untuk diselami.

Sukses untuk kedua aktornya yang demikian piawai memainkan karakter mereka sehingga karakter-karakter tersebut bagai melekat dalam darah dan daging mereka. Namun penampilan Seo Yeong-hee dan juga terutama aktris cilik Kim Yoo-jeong tak kalah bernasnya. Yeong-hee tampak meyakinkan dalam merefleksikan karakter Min-ji yang kelihatan begitu rapuh sehingga kita dapat dengan mudah merelasikan diri pada karakternya. Sedangkan Kim Yoo-jeong tampil dengan menggemaskan namun sangat watak untuk ukuran anak seumurannya.

‘The Chaser’ mungkin saja thriller, namun ia juga sebuah ruang satir bagi Na Hong-jin bagi birokrasi di stuktur pemerintahan Korea Selatan. Oleh karenanya, meski terasa menggiriskan namun juga terasa menggelikan, dalam level satir tentunya.

Hanya saja, ‘faktor kebetulan’ di film ini terasa berlebihan, belum lagi beberapa lubang diceritanya yang seolah-olah memang menggiring ceritanya untuk dirangkai sedemikian rupa agar terkesan dramatis, yang padahal jika adegan tersebut mengalami alterasi, saya yakin film akan bergerak ke arah yang berbeda. Namun, ini memang sebuah produk film yang mengandalkan pada suspense-on-disbelief. Rasanya ia cukup berhasil untuk itu.

‘The Chaser’ adalah sebuah thriller yaang penuh dengan kekerasan, namun bukan bertumpu pada balas dendam, sebagaimana yang umum terdapat pada thriller sejenis di perfilman Korea Selatan. Ia lebih pada sebuah kedalaman karakter dan satir. Kekerasan hanya bermain sebagai pemain pendukung untuk menekankan maksud dan tujuan terpentingnya, yaitu drama dengan unsur humanis yang kental. Ini menjadikan ‘The Chaser’ jawara dalam kelasnya. Sangat direkomendasikan!

4.5 out of 5
"THE CHASER" (2008)/Showbox - South Korea/Directed by Na Hong-jin/Cast: Kim Yoon-suk, Ha Jeong-woo, Seo Yeong-hee, Kim Yoo-jeong/Runtime: 123 min

Despite Brainless, The Rise of The Oriental Mummy is Quite Fun

August 12th, 2008 by actualchaos
Themummy3pic26_1 Apakah saya harus kecewa dengan film ini? Seharusnya tidak, karena rasanya saya sudah mengantisipasi akan menyaksikan sebuah film aksi-petualangan yang begitu brainless-nya, sehingga kita tidak perlu repot-repot berkonsentrasi tinggi untuk menyaksikannya.

Terus terang saja, menyaksikan Brendan Fraser mengulangi perannya sebagai petualang happy-go-lucky bernama Rick O’Connell untuk yang ketiga kali memang terlihat kurang menarik. Pada saat karakter istrinya, Evelyn O’Connell, yang kali ini diperankan oleh Maria Bello (A History of Violence) menggantikan Rachel Weisz, kebingungaan saat hendak menulis cerita bagi novel petualangan The Mummy ketiganya, rasanya duo penulis skrip film ini, Alfred Gough dan Miles Millar juga kebingungan hendak membawa cerita kemana, sehingga akhirnya memutuskan untuk mendaur ulang plot ‘The Mummy’ sebelumnya dan memindahkan lokasi ke dataran China dan mendapuk Jet Li sebagai Kaisar yang dikutuk oleh penyihir Zi Juan (Michelle Yeoh) menjadi patung terakota, beserta seluruh tentaranya.

Selanjutnya, plot berjalan dalam pakem yang sama. Kejutan-kejutan sudah dapat diduga. Yang tersisa bagi kita hanyalah kumpulan adegan aksi yang mendebarkan. Yah, memang tidak luar biasa. Tapi Rob Cohen yang kini menggantikan kedudukan Stephen Sommers sebagai sutradara tahu bagaimana merangkai adegan laga yang (lumayan) seru.

Adegan-adegan yang mengandalkan animasi CGInya memang lemah. Chemistry Brendan Fraser dan Maria Bello nyaris nol. Komedinya terkadang kering. Jet Li and Michelle Yeoh are underused, even Mr. Li is so good as the villain if only the script gave more depth and more screen times for his character. Namun, film ini memang tidak menjanjikan akan menjadi film kontemplatif seperti ‘The Dark Knight’ misalnya, tapi murni hiburan ringan.

Ada seorang teman yang menganjurkan untuk "meninggalkan otak" dirumah saat akan menyaksikan film ini. Ayuhlah, film ini tidak separah itu untuk mendapatkan komentar sarkatis seperti itu (belum pernah menonton film Uwe Boll, ya?), walau memang tidak perlu otak yang cerdas untuk dapat menikmati film ini.

3 out of 5
"THE MUMMY: TOMB OF THE DRAGON EMPEROR" (2008)/Universal Pictures/Directed by Rob Cohen/Cast: Brendan Fraser, Jet Li, Michelle Yeoh, Maria Bello, John Hannah, Luke Ford, Issabella Leong, Anthony Wong/Runtime: 112 min

WHY SO SERIOUS?

August 5th, 2008 by actualchaos

WhysoseriousSaya dan teman-teman mengklaim kalau instalemen terbaru dari franchise Batman, ‘The Dark Knight’ adalah film tentang superhero terbaik yang pernah kami saksikan. Benar-benar luar biasa. Jalinan cerita yang berliku, penuh dengan kecerdasan, fantastis namun tetap berpijak erat ke bumi. Setidaknya ini menurut pendapat rendah hati kami.

Sementara itu teman yang lain justru menyebutkan jika film tersebut biasa-biasa saja. Jauh dari apa yang diharapkannya; penuh dengan spesial efek, seru dengan aksi berkecepatan tinggi, layaknya sebuah film superhero kebanyakan. Bahkan unsur realitasnya dianggap menghianati esensi utama seorang Batman yang seharusnya other-worldly.

Ternyata ini memang merupakan dua opini yang kini terbentuk terhadap eksistensi ‘The Dark Knight’. Sebagian mengatakan luarbiasa bagus sementara yang lain biasa-biasa saja untuk sebuah film fantasi.

Kalau dibiarkan saja, maka kedua kubu bisa saja berkembang menjadi polemik  berkepanjangan yang tak akan usai. Bahkan kalau terlalu intens, bisa saja akan berujung pada konflik yang tak berkesudahaan. Tapi sudahlah. Mengapa menanggapinya begitu serius? Toh ini kan cuma film?

Kembali ke film ‘The Dark Knight’ tadi. Saya baru saja membaca opini seseorang yang dengan cukup cerdas meresensi film tersebut, yang kemudian menyebut jika ada konteks yang sangat Amerika didalam film tersebut. Well, politically correct, bukankah rata-rata film Amerika memang mengandung setiap moral dan ide-ide yang Amerika. Mungkin maksudnya membawa popaganda idealisme Amerika?

Film memang terbukti sebagai media yang efektif untuk menggiring opini publik. Dari konteks awal sebagai sebuah tontonan sederhana menggantikan konsep pagelaran theater panggung sehingga memperoleh bentuknya yang kompleks saat ini, seperti menjadi produk dagangan dengan skala masif hingga menjadi alat propaganda yang hegemonistis.

Amerika sendiri adalah sebuah negara adikuasa yang (rasanya) bukan rahasia umum lagi berkeinginan untuk menjadi polisi dunia. Terlepas dari berbagai pro-kontra yang terjadi didalam masyarakat terhadap kebijakan pemerintahnya, rasanya Amerika secara umum memang ingin terlihat lebih unggul, sehingga tidak heran melalui film, sesuatu yang mereka sangat kuasai, terkadang ingin menunjukkan betapa mereka punya kemampuan untuk mempengaruhi orang untuk mengikuti gaya hidup mereka.

Seseorang yang seperti saya sebutkan diatas mencurigai jika sebenarnya ‘The Dark Knight’ adalah sebuah propaganda keyakinan. Propaganda westernisasi. Propaganda neo-imperialisme. Propoganda anarkisme. Jadi, untuk memerangi kejahatan dipakailah kekerasan karena sepertinya tindakan kuratif terhadap kejahatan itu sendiri hanya dapat dilakukan dengan kekerasan yang mana esensi dari kehatan itu sendiri. Bingung? Saya juga, hahaha.

Intinya, seseorang bisa saja dengan sangat serius menafsirkan perspektif sebuah film dan kemudian melahirkan perspektif lain yang menganulir kemungkinan dari maksud dan tujuan utama dari dibuatnya film tersebut. Ini memang hanya masalah persepsi. Dan setiap orang berhak untuk melahirkan persepsi mereka masing-masing.

Yang menjadi masalah adalah saat seseorang begitu menggilai sebuah film kemudian menkultuskan film tersebut dalam tingkatan akut dan kemudian menanggapi secara berlebihan dan kemudian mengganggu kehidupannya. Dalam arti yang lebih sederhana, bisa saja ia terjebak pada film yang diminati (atau tidak) tersebut dan kemudian akan terjadi friksi dengan kehidupan nyatanya jika apa yang dipercayainya dari film ternyata tidak sesuai dengan kenyaataan yang dihadapinya.

Film adalah film. Terlepas apakah dia bermakna ganda atau tidak, ia bertujuan untuk merefleksikan kehidupan nyata, bukan kehidupan nyata itu sendiri. Seharusnya kita tidak terlalu menjadikan film sebagai acuan kehidupan kita. Diperdebatkan boleh-boleh saja, akan tetapi biarkan itu menjadi wacana pengasah intelektual kita. Bukan lantas menjadi intelektual yang prima. Biarkan film menjadi kodrat sejatinya. Sarana hiburan sekaligus pencerah jiwa.

Sebagai penutup, tidak ada salahnya kita menimbang apa yang dikatakan oleh maestro sinema Perancis yang legendaris, François Truffaut, “Is the cinema more important than life?” Apakah film menjadi lebih penting dibandingkan dengan kehidupan itu sendiri? Rasanya tidak. Seperti kata Joker di ‘The Dark Knight’, “ Why So Serious?”. Santai saja. Seat back. Relax. Camera rolling. Light. Action!

Beware Men, For This Teeth is Lethal

August 5th, 2008 by actualchaos

Teeth_1Saya ingat jika Mitchell Lichtenstein adalah aktor yang berperan sebagai pasangan gay Winston Chao dalam karya klasik Ang Lee, ‘The Wedding Banquet’ di era 90-an lalu. Tidak mengira jika ia kini bermetamorfosa menjadi seorang sutradara dan karyanya yang berjudul ‘Teeth’ menunjukkan jika ia adalah seorang sutradara dengan sebuah visi yang signifikan.

Saat industri mainstream Hollywood dianggap mulai kehilangan ide-ide segar, dalam debutnya ini Lichtenstein menawarkan sesuatu yang beda, sesuatu yang mungkin tidak akan diterima secara luas (baca; komersil), sehingga ia memilih untuk bergerilya secara indie, mengangkat mitos tentang “Vagina Dentata”, yang sebaiknya menonton terlebih dahulu filmnya agar tahu apa sebenarnya arti dari istilah tersebut!

‘Teeth’ adalah tentang kelainan anatomi yang dialami oleh seorang gadis muda nan sederhana bernama Dawn (Jess Weixler). Pada mulanya ia tidak menyadari hal tersebut sampai ia hendak melakukan hubungan seksual pertamanya yang berujung tragis. Dawn sebelumnya bergabung dalam kumpulan remaja yang tidak mendukung prilaku seks-pranikah, namun ternyata hormon pubertas mempunyai kekuasaan yang lebih digdaya! Setelah peristiwa tersebut Dawn belajar tentang kekurangannya yang mungkin akan menjadi kelebihannya dalam masyarakat yang menjadikan laki-laki sebagai pemangsa kaum perempuan ini.

Dengan didukung oleh jajaran pemain yang terbiasa bermain di film kecil, menjadikan karakter-karakter dalam film ini dimainkan dengan ekspresif dan santai dan memberikan donasi yang besar dalam progresi cerita menjadi lebih bernas. Jess Weixler sendiri dengan gemilang mentransformasikan dirinya menjadi Dawn yang terkadang lembut dan bitchy kemudian. Rasa takutnya pun dapat digambarkan dengan relief komikal yang pas, sehingga kadang malah terasa menggiriskan.

‘Teeth’ mungkin sebuah horor. Mungkin juga komedi. Tapi ia adalah politik kesadaran tentang bagaimana gender yang tersubordinasi kemudian (mungkin) berevolusi membentuk sistem pertahanan menghadapi penekannya. Untuk mengeksplorasi topik seperti itu Lichtenstein menggunakan pendekatan gado-gado tadi, sehingga sebagai sebuah film remaja ‘Teeth’ terasa terlalu vulgar, kelam dan gelisah. Namun terkadang dipaparkan dalam porsi yang kurang berimbang alias satu tone mendominasi tone yang lainnya, meski sebenarnya mempunyai esensi yang substantif.

3 out of 5
"TEETH" (2008)/Dimension Films/Directed by Mitchell Lichtenstein/Cast: Jess Weixler, John Hensley/Runtime: 94 min

Somehow The Three Days Journey is Pointless

August 5th, 2008 by actualchaos

3hariuntukselamanyaSenang sekali perfilman kita mempunyai Riri Riza, karena bung satu ini konsisten dengan sajian yang lebih daripada hanya sekedar jualan tanpa isi, walaupun rata-rata filmnya juga berpretensi untuk menjadi “something-different” daripada jujur menjadi diri sendiri saja.

‘3 Hari Untuk Selamanya’ katanya adalah road movie. Film sejenis ini setahu saya memang bukan sesuatu yang sering dijadikan tema dalam perfilman Indonesia, sehingga menarik sekali melihat sepasang sepupu, Ambar (Adinia Wirasti) yang cenderung hedonis dan Yusuf (Nicholas Saputra) yang lebih kalem dalam melakukan perjalanan darat dari Jakarta menuju Jogyakarta dalam rangka mengantar seperangkat piring antik yang bakal digunakan bagi resepsi pernikahan kakak Ambar. Tentu saja, dalam tradisi road movie, sepanjang perjalanan terjadi bermacam peristiwa yang (diharapkan) mengubah sudu pandang Yusuf dan Ambar pada kehidupan mereka.

Saya yakin niat awal Riri Riza, selain sebagai sebuah film yang character driven dengan kental, ia juga pastinya menginginkan agar filmnya mengekspos panorama sepanjang perjalanan Jakarta menuju Jogyakarta tersebut dan untuk itu ia berhasil. Tapi soal character driven tadi? Hm, tunggu dulu.

Rasanya karakter Yusuf dan Ambar tidak terlalu signifikan untuk mewakilkan gambaran remaja saat ini. Apa memang benar sudah sedemikian kebarat-baratan-nya remaja kita, sehingga Riri merasa perlu mendeskripsikan dengan sedikit vulgar karakter Ambar dan Yusuf dalam bentuk sebuah film? Dialog-dialog yang mereka sampaikan terkadang juga terasa kosong dan kurang bernas, sehingga nyaris tidak memberikan apa-apa yang membekas di benak penontonnya.

Beruntung Riri memang berbakat. Film tetap dapat dicerna dengan renyah apalagi didukung dengan teknis produksi yang cukup matang dan akting menarik dari Nicholas Saputra dan Adinia Wirasti yang reuni setelah ‘Ada Apa Dengan Cinta?’. Mungkin bukan yang terbaik dari Riri Riza, tapi tetap pantas untuk disimak.

3 out of 5
"3 HARI UNTUK SELAMANYA" (2007)/Miles Film/Directed by Riri Riza/Cast: Nicholas Saputra, Ardinia Wirasti, Tarzan, Inong/Runtime: 90 min

A Relentless Bad Karma is Not So Good

August 5th, 2008 by actualchaos

Karma_1Setelah ‘Peti Mati’ atau ‘Coffin’ yang lalu, kini ada lagi film horor Indonesia yang mengangkat kultur etnis Tiong Hoa sebagai adonannya. ‘Karma’, becerita tentang dosa masa lalu yang menjadi sebuah kutukan berkepanjangan bagi keluarga Tiong Guan (H.I.M. Damsyik) dan juga keturunannya.

Sudah menjadi kepercayaan jika ada anak laki-laki di keluarga tersebut yang menikah, maka istri mereka akan meninggal dan begitu juga dengan anak yang dilahirkannya, jika berjenis kelamin perempuan. Sampai cucu Tiong Guan yang bernama Arman (Joe Taslim) membawa pulang Sandra (Dominique A. Diyose) dari luar negeri dalam keadaan hamil. Tiong Guan marah sekali dan tidak menyukai keadaan ini, namun kondisinya yang lumpuh karena tengah menderita stroke tidak mampu untuk membuat dirinya berbuat apapun.

Tidak lama, Sandra menyadari akan keanehan dalam keluarga tersebut, hingga ia melihat penampakan hantu-hantu perempuan. Tidak mau kandungannya terganggu, maka Sandra mulai melakukan penyelidikan tentang rahasia kelam didalam keluarga Guan.

‘Karma’ mempunyai ide cerita yang menarik dan menampilkan salah satu hantu menyeramkan yang pernah disaksikan di perfilman Indonesia. Sayangnya perkembangan plotnya yang disusun oleh Salman Aristo sebagai penukis skrip cukup lemah dan kurang berkembang sehingga filmnya terasa monoton. Editingnya juga tidak membantu karena terasa kurang rapi dan membuat film seakan meloncat-loncat.

Agak heran juga kenapa ‘Summer Breeze’ yang merupakan film kedua Allan Lunardi beredar terlebih dahulu dibandingkan dengan debutnya ini. Yah, memang Lunardi harus belajar lebih banyak lagi dalam membuat film dengan struktur yang lebih solid. Padahal ia tampaknya menguasai materi genre ini dengan baik, karena berhasil memaparkan beberapa adegan yang cukup menyeramkan.

Dominique sendiri menujukkan progresi yang menarik setelah ‘Berbagi Suami’ sedangkan Joe Taslim terlihat jelas berakting sebagai seorang debutan, meski ia mencoba dengan segenap kemampuannya untuk itu.

‘Karma’ dapat menjadi menarik jika penceritaannya dapat menjadi lebih ringkas dan padat. Walau begitu, upayanya untuk menjadi horor yang berbeda dari kebanyakan film sejenis yang beredar akhir-akhir ini bisa diberi kredit lebih.

2.5 out of 5
"KARMA" (2008)/Credo Pictures/Directed by Allan Lunardi/Cast: Dominique A. Diyose, Joe Taslim, Jonathan Mulia, HIM Damsyik, Henky Solaiman, Verdy Solaiman, Jenny Chang/Runtime: 90 min

Even Smart People Can Be Clueless Sometimes

August 5th, 2008 by actualchaos

Smartpeople_1 ‘Smart People’ merupakan debut Noam Murro, yang biasa menggarap iklan komersil, adalah sedikit dari komedi kecil yang renyah, ringan namun mengenyangkan, meskipun adonan formulanya terasa biasa-biasa saja dan terlalu gampang dicerna untuk ditebak kemana arah rasanya.

Prof. Lawrence Wetherhold (Dennis Quaid) adalah seorang dosen pengajar literatur disebuah kampus. Tinggal berdua saja dengan anak perempuannya Vanessa (Ellen Page) yang masih SMA, sedangkan anak sulungnya James (Ashton Holmes) yang telah kuliah memilih untuk tinggal di asrama kampus.

Lawrence terlihat begitu lelah dan pemurung sehingga ia nyaris tidak melakukan interaksi dengan orang lain dan lebih memikirkan dirinya sendiri. Vanessa, berotak cemerlang sepertinya namun berlidah tajam, sehingga nyaris menjadi cetak biru dari ayahnya. Sedangkan James tidak pernah menceritakan tentang dirinya kepada sang Ayah karena menggangap Lawrence kurang perhatian. Kedatangan adik angkat Lawrence, Chuck (Thomas Haden Church), dianggap hanya akan menambah runyam kehidupan Lawrence.

Sampai ia bertemu dengan Dr. Janet Hartigan (Sarah Jessica Parker). Sarah ternyata adalah mantan mahasiswinya yang dulu pernah naksir dengan Lawrence. Lantas, hubungan keduanya mulai dekat, sampai, tentu saja friksi terjadi!

Sesuai dengan judulnya, skrip yang ditulis oleh Mark Jude Poirier berhasil mempresentasi karakter-karakter yang terlihat cerdas dengan didukung oleh dialog-dialog bernas yang juga cerdas. Digawangi oleh aktor-aktris mumpuni, ‘Smart People’ semakin menarik saja. Dennis Quaid tampil meyakinkan. Sarrah Jessica Parker berhasil mengenyahkah ruh Carrie Bradsaw yang melekat erat. Sedangkan Thomas Haden Church memberikan performa optimalnya. Namun, yang memang mencuri perhatian itu adalah Ellen Page, yang memberi nuansa komik sekaligus intensitas mendalam dalam ceritanya. Sayang sub-plotnya dengan Haden Church tidak mendapatkan porsi yang lebih luas, sehingga karakter Vanessa-nya juga tidak mendapatkan kedalaman yang seharusnya.

Sebagai sebuah satir, mungkin ‘Smart People’ bukan yang terbaik dan jalan ceritanya gampang ditebak. Namun, Murro dan skrip Poirier berhasil menunjukkan jika materi yang sederhana dan repetitif dapat juga diolah (kembali) menjadi sesuatu yang menarik untuk disaksikan (lagi).

3.5 out of 5
"SMART PEOPLE" (2008)/Miramax/Directed by Noam Murro/Cast: Dennis Quaid, Sarah Jessica Parker, Ellen Page, Thomas Haden Church, Ashton Holmes/Runtime: 95 min

The Time Has Come For The Dark Knight

August 5th, 2008 by actualchaos

Thedarkknight01_1Saya pada awalnya ingin mengklaim jika ‘The Dark Knight’ adalah film tentang superhero terbaik yang pernah saya tonton. Tapi saya menimbang ulang perspektif tersebut, karena setelah saya fikir-fikir tidak ada yang super tentang Batman. Dia hanya seorang manusia tangkas yang cerdas, ulet dan dibantu dengan kekayaan yang luar biasa untuk menciptakan gadget yang mampu mengakomodir kebutuhan kegiatan ‘malam’-nya. Lantas kalau bukan film tentang superhero, ini film tentang apa ya?

Yang saya dengar ‘The Dark Knight’ memicu provokasi akan subgenre yang bernama comic-book-movie. Saya sebenarnya kurang paham tentang istilah itu. Mungkin nanti saya periksa di Wikipedia, itu juga kalau sudah ada. Menurut saya ‘The Dark Knight’ terlalu kompleks untuk dikotakkan pada satu titik saja, sebagian drama, sebagian aksi dan mengandung unsur-unsur psikologis yang kental.

Cerita merupakan sambungan langsung dari ‘Batman Begins’. Bruce Wayne mulai menekuni dengan serius kegiatan malamnya, sementera masyarakat terbelah antara mendukung dan menentang. Begitu juga dengan pihak kepolisian. meski telah benyak membantu, sekutu yang ia bisa andalkan cuma (bakal) Komisaris Gordon (Gary Oldman). Sementara itu seorang Jaksa Wilayah bernama Harvey Dent (Aaron Eckhart)-yang bagi siapa saja yang pernah membaca komiknya bakal tahu itu siapa-tengah memgusut dunia hitam di Gotham, sisa-sisa yang ditinggalkan oleh Falcone sebelumnya. Harvey sendiri bekerjasama dengan Rachel Dewes (Maggie Gyllenhaal, menggantikan Katie Holmes) asisten sekaligus kekasihnya. Sementara itu, seorang kriminal kecil bernama Joker (Heath Ledger) memasuki Gotham dan memulai eksperimennya dengan kekacauan terhadap komunitas Gotham. Intrik Joker inilah yang akan mepertemukan mereka dalam nasib yang akan menentukan masa depan mereka.

Saya mengagumi kerangka struktur dunia yang direka Christoper Nolan sebagai sutradara, membawa Batman kedalam multi-dimensi yang dapat direlasikan dengan mudah kepada penonton, sekaligus menghilangkan jarak dengan penontonnya, karena film terasa lebih membumi. Bahkan, dibandingkan ‘Batman Begins’ film ini mengandung unsur realisme yang lebih kental.

Filmnya sendiri berjalan dengan suspensi yang terjaga, dengan kejutan-demi-kejutan yang membuat kita terhenyak di kursi kita. Skrip, yang ditangani secara duet Christoper dengan sudara laki-lakinya Jonathan, menghadrikan ritme yang dinamis, plot yang cerdas dan menghindarkan penyederhanaan konflik dan solusi yang biasa di film-film sejenis dan uniknya juga menyelipkan alegori puitis sarat makna.

Gotham adalah seting bagi pertikaian abadi antara kejahatan melawan kebaikan, yang dalam hal ini dipersonifikasi melalui simbol-simbol yang diusung oleh Batman dan his archenemy Joker! Kemunculan Joker sudah diindikasikan melalui akhir ‘Batman Begins’ sehingga memang sudah dapat diantisipasi kehadirannya.

Yang tidak diharapkan, ternyata Heath Ledger, pemeran Joker mutakhir, meniupkan ruh yang luar biasa untuk menghidupkan karakter Joker; cerdas, sadis, sekaligus menggelikan namun loveable. Lho, apakah karakter villain seperti Joker bisa dikatakan loveable? Bisa, Ledger membuktikannya. Dia memang kejam, namun Joker bukanlah karakter psikopat yang gampang dibenci, karena kita menyadari jika Joker sendiri dihadirkan Nolan dengan dimensi yang lebih luas, menghindari tipikal warna hitam dalam karakternya dan elaborasi latar belakang yang lebih subtil sekaligus humanis.

Gestur, mimik, intonasi, dan attitude Joker dimanifestasikan dengan sangat sempurna oleh Ledger, sehingga kita teryakinkan jika ia adalah Joker dan Joker itu adalah Ledger. Sayangnya ini menyebabkan jika karakter Joker terasa sangat mendominasi, menyebabkan Christian Bale dan Batmannya terasa termarginalkan, meskipun dia meneruskan dengan persistensi yang kuat sebagai Bruce Wayne yang flamboyan dan Batman yang kelam dan misterius.

Aaron Eckhart sendiri tak kalah gemilangnya dalam mencuri perhatian. Dan tentu saja, dengan nama-nama seperti Maggie Gyllenhaal, juga Michael Caine dan Morgan Freeman yang meneruskan peran merekan sebagai Alfred dan Lucios Fox adalah aktor-aktor kuat yang memberi nuasa kuat pula dalam membentuk narasi film ini menjadi lebih solid.

‘The Dark Knight’ adalah film Batman yang paling kelam sekaligus paling luar biasa. Ia menghadirkan pahlawan dan villain dengan trauma emosionil yang mendalam. Dengan kerangka "superhero" justru Christoper Nolan membawa konflik psikologis ini menjadi sarana dengan elemen fantastis untuk sebuah kontemplasi sederhana; kita hidup dipilihan yang mana?

5 out of 5
"THE DARK KNIGHT" (2008)/WarnerBros/Directed by Chris Nolan/Cast: Christian Bale, Heath Ledger, Aaron Eckhart, Maggie Gylenhall, Michael Caine, Morgan Freeman/Runtime: 152 min

This Blog is Moving Out

June 26th, 2008 by actualchaos

Fiksi’s review is the 200th thread for this blog and sadly I must say that was the last post for this blog because I want to concentrate posting in my Multiply. Well, this decision is not made in just one night, but after several contemplation :)). I must say that posted threads in two site is tiring. So, with keep posting in just one blog I think will more focus on my subject and hopefully wrote it more insightful. My Multiply has many advantages rather this Friendster Blog, because I also share my personal thougts, video, images and music, especially musics from my favorite soundtrack.  Enough talking. I just wanna say GOODBYE..and thank you for  all your attention for this blog and deep from  my heart I asked for your apology, if i said  wrong, intentionally or not.  So, the Multiply  site  is:

chaosisgreen.multiply.com

Findingmyneverland