Archive for January, 2005

‘BANGSAL 13′: Kengerian Relatif dari Sebuah Prequel

Friday, January 28th, 2005

Produksi: reXinema (2004)
Sutradara: Ody C. Harahap

Penulis: Ody C. Harahap, Gunnar Nimpuno, Erwin Arnada
Cast: Endhita, Luna Maya, Lia Chandra, Andhika, Bayu Wahyudi


Genre: Horror/Thriller/Misteri
Durasi: 90 Menit
My Grade: 3 dari 5

 

Bangsal_13_1"Somethings Are Better Kept Inside!"

Pada akhir tahun 2004, ReXinema mempersembahkan film horror terakhirnya, Bangsal 13, yang diakui sebagai  prequel dari film-film hit, Jelangkung (2001)  dan Tusuk Jelangkung (2003). Bangsal 13 adalah sebuah bangsal yang sudah tidak terpakai lagi di sebuah rumah sakit kecil. Ketika Nat (Endhita) dan Mina (Luna Maya) mengalami kecelakaan, mereka harus menginap di bangsal tersebut karena  kamar lainnya sudah penuh. Walau luka Nat tidak parah, namun ia tidak segera pulang dan memilih untuk menemani Mina, karena sebenarnya mereka telah menabrak seorang gadis yang kemudian mereka akui sebagai teman mereka, Hera, guna menghindari kecurigaan pihak rumah sakit. Ternyata bangsal tersebut menyimpan rahasia ketukan, dimana sangat pantang sekali untuk mengetuk pintu dari dalam. Ketika Nat tanpa sengaja  membuka sebuah lubang di kamar mandi bangsal tersebut, maka dimulailah teror mengerikan dari sosok suster yang misterius.

Teori Relativitas dari Einstein mungkin  bisa digunakan untuk mengomentari film ini. Sebagai sebuah film, Bangsal 13 bisa dibilang bagus atau tidak tergantung dari sudut pandang penontonnya itu sendiri. Dengan setting yang itu-itu saja, memang cenderung meresahkan penonton yang terbiasa dengan penampilan setting yang lebih beragam, ditambah lagi dengan unsur full-terror yang dipertontonkan film, sehingga mereka hanya bisa ketakutan tanpa bisa bernafas lega. Sementara, untuk sebahagian lagi, termasuk saya yang die-hard-fan of scary movies, Bangsal 13 adalah film yang sukses. Sukses disini dalam arti sang sutradara, Ody C. Harahap, yang telah berpengalaman sebagai assisten sutradara dalam Tusuk Jelangkung, berhasil membangun nuansa atmospheric horror yang mencekam. Saya berhasil ditakut-takuti tanpa harus merasa terkagetkan. Suasana seram dibangun melalui setting dan "penampakan" berhasil di jaga. Salut untuk Adrianto Sinaga, sebagai art-director, yang mengatur set dengan sedemikian rupa. Ruang bangsal diperlihatkan sebaga entity khusus yang tak kalah menyeramkan dari sang hantu itu sendiri. Design suara dan musik score juga lumayan menarik. Secara hasil akhir produksi, Bangsal 13 jauh melampaui kualitas Jelangkung maupun Tusuk Jelangkung yang lebih bergaya pop-style.

Dari segi akting, Luna Maya bersinar terang. Setelah mendapatkan peran-peran kecil dalam film-film 30 Hari Mencari Cinta (2004) dan Brownies (2004), Luna kini naik pangkat menjadi pemeran utama disamping Endhita, yang juga sesama model. Karakter Mina yang pada awalnya merupakan karakter yang lemah dan kemudian menjadi yang paling mampu bertahan, dimainkan cukup berhasil oleh Luna. Tidak mengherankan jika ia diramalkan sebagai salah satu the-next-big-thing dalam dunia entertainment Indonesia. Pernyataan Luna bahwa ia akan lebih serius mendalami akting dibuktikan dengan dilibatkannya Luna pada beberapa produksi sinetron dan film. Sementara itu Endhita, yang telah bermain dalam Titik Hitam (2002) dan beberapa sinetron, kurang bermain maksimal. Terlihat sedikit kaku dan over-acting di beberapa adegan, sehingga terasa cukup mengganjal. Jika saja Endhita berniat meningkatkan kualitas aktingnya, dijamin ia pun bisa menjadi besar.

Sebenarnya yang menjadi bintang utama, selain Luna Maya dan Endhita, adalah Suster Ngesot (atau Suster 13 dalam flm ini) itu sendiri.  Suster ngesot menurut saya adalah hantu yang berkharisma, sama halnya seperti Sadako/Samara di film Ring atau Kayako di film Ju On/The Grudge. Penampilan fisiknya yang mengerikan ditambah lagi dengan pemunculannya yang menyeramkan, menambah keangkeran film ini. Saya sendiri merasa trauma akan Suster Ngesot semenjak film Jelangkung, sehingga yang biasanya tidur dengan lampu mati, "terpaksa" untuk menghidupkannya, hahahahaha.

Streotype, plot holes dan formulaic sulit untuk dapat dihindarkan dalam kasus film seperti ini. Namun secara keseluruhan, intensitas cerita yang berhasil di jaga dengan baik mengantar film ini menjadi "film yang benar". Setidaknya dalam pakem horror. Kemampuan teknis dan kualitas akting merupakan resep tepat untuk menghasilkan film yang menarik. Hal itu dapat dibuktikan pada Bangsal 13. Dibandingkan dengan film-film horror lain yang keluar pada tahun 2004 ini, Bangsal 13 adalah yang terbaik, karena mengerti akan konsep horror tersebut tanpa harus terjebak untuk tampil secara berlebihan dan mengulang gaya yang sama. Bagi penggemar horror gaya Asia ala J-Horror, film ini pantas untuk ditonton.

‘VIRGIN’: Deskripsi Kasar Dunia Remaja Masa Kini

Sunday, January 23rd, 2005

Produksi: Starvision (2004)
Sutradara: Hanny R. Saputra
Cast: Laudya Chintya Bella, Ardina Rasti, Angie, Ayu Azhari
Release Date: 11 November 2004


Genre: Drama/Remaja
Durasi: 120"
My Grade: 2.5 out 5


Virgin_1Satu lagi film yang mengundang kontroversi di tahun 2004, setelah kasus Buruan Cium Gue (2004). Untunglah film ini kemudian tidak mendapat perlakuan serupa, karena sampai saat akhir tahun 2004 film ini masih tetap mampu untuk menjaring penonton, sehingga film ini termasuk film hit di tahun 2004.

Virgin menceritakan tentang 3 orang gadis remaja, Biyan (Ladya Cynthia Bella), Stella (Ardina Rasti) dan Ketie (Angie). Sama halnya dengan remaja umumnya, mereka adalah tipe pemberontak dan senang mencoba hal-hal yang ekstrim sebagai tantangan. Hal ini diperparah karena mereka adalah produk rumah tangga yang berantakan. Ketika kemudian keperawanan menjadi suatu hal yang mudah untuk dilepaskan bagi teman-temannya dan bahkan menjadi barang ekonomi yang menguntungkan, Biyan yang berprinsip berbeda, mulai menemukan ketidakcocokan dengan teman-temannya dan akhirnya berujung pada konflik yang memisahkan mereka.

Diatas kertas, konsep cerita  Virgin mungkin melodramatis sekali, namun eksekusi Hany R. Saputra berhasil membuat Virgin menjadi tontonan yang menarik dan tak membosankan. Didukung pula oleh akting meyakinkan oleh bintang-bintang muda berbakat seperti Ladya Cynthia Bella, Ardina Rasti dan Angie. Kekuatan akting mereka sangat besar dan mempunyai potensi menjadi aktris yang baik. Kelemahan pada segi cerita yang kadang terasa lemah pada beberapa bagian dan adegan-adegan klise yang tak terhindarkan berhasil dialihkan berkat kekuatan akting mereka. Ditambah lagi dengan cameo-cameo yang tampil seperti Tio Pakusadewo, Ari Sihasale, Ayu AzhariUnique Priscillia, yang walau hanya tampil dengan porsi kecil namun tetap menunjukkan kemampuan akting yang prima sebagai senior-senior pemain utama. Sementara Henidar Amroe yang berperan sebagai ibunya Biyan, tampil dengan miskin dialog tapi kaya mimik walau terlihat sedikit dibuat-buat, namun cukup lumayan sebagai seorang perempuan yang depresi.

Virgin adalah film ke-6 dari Starvision dalam tempo kurang lebih 2 tahun saja, setelah sebelumnya banyak bermain di serial televisi. Produksi Starvision adalah produk-produk instan yang tidak dibarengi dengan kualitas produksi yang baik dan perencanaan yang matang. Sungguh disayangkan, karena kepercayaan publik yang baru dibangun lama kelamaan akan hancur kembali jika dibarengi dengan iklim produksi film yang tidak sehat ini. Untunglah Virgin menjadi suatu titik balik bagi Starvision, karena secara kualitas jauh melampaui film-film sebelumnya dan bahkan Burun Cium Gue (2004) atau BCG, produksi MultiVision yang jelas-jelas adalah produk manufaktur untuk diperdagangkan tanpa memperhatikan kualitas produk.

Mau tidak mau, penonton pasti membanding-bandingkan film ini dengan BCG mengingat menampilkan sisi dunia remaja yang hedon dan vulgaritas yang tak bisa dihindarkan sebagai konsekuensinya. Pengaruh Thirteen kelihatannya juga cukup besar kontribusinya dan beberapa adegan tampil secara berlebihan. Namun untunglah film ini mampu tampil dengan cukup baik, walau cukup riskan karena mempunyai rating Dewasa namun banyak ditonton oleh remaja.  Virgin setidaknya lebih mempunyai makna dan esensi cerita, ketimbang hanya ingin menunjukkan sisi liar remaja namun hanya di permukaannya saja guna mengeruk keuntungan saja. Dan itu yang penting!


‘ARISAN!’: An Instant Classic!

Sunday, January 23rd, 2005

Produksi: Kalyana Shira (2003)
Sutradara: Nia DiNata
Cast: Tora Sudiro, Cut Mini, Aida Nurmala, Rachel Maryam, Surya Saputra
Release Date: 10 Desember 2003


Genre: Komedi/Drama/Satir
Durasi: 129"
My Grade: 5 out 5


Arisan_4Arisan! menceritakan pada kita tentang tiga individu yang telah berteman semenjak SMU. Sekarang, diusia 30-an, mereka seharusnya telah cukup dewasa untuk memperoleh kehidupan prbadi mereka yang matang. Mereka menarik secara fisik, sukses, kaya dan bahagia, atau malah sebaliknya?

Memey (Cut Mini) adalah wanita karir yang sukses dan menikahi teman semasa sekolahnya yang tampan dan juga suskes, Ical (Nico Siahaan). Teman Memey, Sakti (Tora Sudiro) adalah rekan kerjanya dan disebut-sebut sebagai eligble bachelor. Sementara Andien (Aida Nurmala) adalah seorang istri yang sangat berbakti untuk suaminya yang ternyata jauh lebih tua namun kaya. Kehidupan mereka seakan sempurna, sampai ketika mereka mengikuti suatu pertemuan sosial yang bernama Arisan, rahasia-rahasia mereka pun terkuak dan pertemanan mereka pun diambang kehancuran.

Arisan! adalah satir tentang masyarakat kelas "A" dan kemunafikan yang biasanya menyelubungi kehidupan mereka. Pengarahan dari Nia Dinata jauh melampaui Ca-Bau-Kan(2002) yang merupakan karya pertamanya. Ia berhasil menyajikan tontonan berkelas nyaris tanpa cela. Plot yang terbangun dengan baik dan pengembangan kaakter yang mengagumkan menambah kualitas film. Penampilan komedi dan drama cukup efisein dan mampu membuat suatu film yang subtil tanpa harus cengeng. Photografi film juga menarik, dengan angel-angel yang sebenarnya standar, akan tetapi disiasati agar terlihat menawan untuk menghasilkan gambar-gambar yang soft. Mood film pun berlangsung dengan konstan, sehingga tidak membosankan atau menjengkelkan. Arisan! berhasil sebagai film hiburan maupun artistik dengan nilai sosial yang tinggi. Hanya saja yang sedikit menggangu saya adalah film yang berjalan dengan cukup lamban, sehingga untuk saya yang terbiasa dengan tempo film yang cepat sedikit tisdak sabaran untuk menunggu adegan selanjutnya. Akan tetapi itu juga tidak begitu mengganggu lagi, semenjak saya sudah menontonnya berulang-ulang!

Keberhasilan Arisan! ditambah lagi dengan kemenagan film ini untuk beberapa kategori utama di Festival Film Indonesia 2004, seperti Best Film, Best Actor, Best Supporting Actor dan Best Supporting Actress. Luar Biasa!

Ensemble cast yang luar biasa juga menampilkan permainan akting yang menarik, baik dari jajaran pemain utama, pendukung hingga cameo. Tora Sudiro dan Aida Nurmala merupakan pemain baru di pentas akting sinema Indonesia, akan tetapi tidak menghalangi mereka untuk bermain prima. Bahkan Tora diganjar sebagai Best Actor. Padahal ia baru bermain di film independennya Rudi Sujarwo Tragedy, dan beberapa sinetron, seperti Malam Pertama bersama Marcella Zaliyanti.

Jika Anda mencari hiburan yang ringan, Anda mungkin berpikir dua kali untuk menonton Arisan!, akan tetapi sebenarnya Arisan! sangat direkomedasikan untuk anda nikmati dan yang pasti bukan film kelas-B. Ini adalah salah satu film penting Indonesia. 


Berawal Dari Titik Nol

Saturday, January 1st, 2005

Nol adalah kehampaan. Tanpa ada hampa takkan ada ruang atau waktu. Saya percaya semua berawal dari nol. Sebelum satu akan selalu ada nol. Seorang manusia berasal dari nol yang hampa hingga bermutasi menjadi darah dan daging. Bahkan, konon alam semesta berasal dari ledakan besar di ruang hampa angkasa luas.

Filosofi nol mengingatkan kita bahwa kita sebenarnya adalah kosong tanpa ada suatu apapun. Semua yang pernah kita ketahui dan pelajari adalah tidak berarti sampai kita sebagai manusia mempunyai apa-apa. Kita harus mengosongkan pemahaman kita yang telah ada untuk mengisinya dengan pembelajaran baru, "apa yang dikatakan oleh hati".

Hati kita diciptakan untuk mengontrol superego kita. Hati ada agar otak tidak berjalan sembarangan. Hati ada untuk kita percayai, sebagaimana untuk percaya pada diri sendiri. Ilmu pengetahuan bukanlah dewa, hanya sebuah konsep, sebagaimana konsep-konsep retoris manusia lainnya. Kita semua mampu memberikan konsep kita sendiri dan mengapa tidak?
Marilah kita lupakan apa yang pernah kita ketahui sebagai ilmu dan menceritakan apa yang kita inginkan. Kita adalah manusia bebas dengan kehendak yang bebas pula. Dari titik nol kita menuju milyaran mimpi dan harapan. Niscaya kita menuju kesana dan bersama……!