‘BANGSAL 13′: Kengerian Relatif dari Sebuah Prequel
Produksi: reXinema (2004)
Sutradara: Ody C. Harahap
Cast: Endhita, Luna Maya, Lia Chandra, Andhika, Bayu Wahyudi
"Somethings Are Better Kept Inside!"
Pada akhir tahun 2004, ReXinema mempersembahkan film horror terakhirnya, Bangsal 13, yang diakui sebagai prequel dari film-film hit, Jelangkung (2001) dan Tusuk Jelangkung (2003). Bangsal 13 adalah sebuah bangsal yang sudah tidak terpakai lagi di sebuah rumah sakit kecil. Ketika Nat (Endhita) dan Mina (Luna Maya) mengalami kecelakaan, mereka harus menginap di bangsal tersebut karena kamar lainnya sudah penuh. Walau luka Nat tidak parah, namun ia tidak segera pulang dan memilih untuk menemani Mina, karena sebenarnya mereka telah menabrak seorang gadis yang kemudian mereka akui sebagai teman mereka, Hera, guna menghindari kecurigaan pihak rumah sakit. Ternyata bangsal tersebut menyimpan rahasia ketukan, dimana sangat pantang sekali untuk mengetuk pintu dari dalam. Ketika Nat tanpa sengaja membuka sebuah lubang di kamar mandi bangsal tersebut, maka dimulailah teror mengerikan dari sosok suster yang misterius.
Teori Relativitas dari Einstein mungkin bisa digunakan untuk mengomentari film ini. Sebagai sebuah film, Bangsal 13 bisa dibilang bagus atau tidak tergantung dari sudut pandang penontonnya itu sendiri. Dengan setting yang itu-itu saja, memang cenderung meresahkan penonton yang terbiasa dengan penampilan setting yang lebih beragam, ditambah lagi dengan unsur full-terror yang dipertontonkan film, sehingga mereka hanya bisa ketakutan tanpa bisa bernafas lega. Sementara, untuk sebahagian lagi, termasuk saya yang die-hard-fan of scary movies, Bangsal 13 adalah film yang sukses. Sukses disini dalam arti sang sutradara, Ody C. Harahap, yang telah berpengalaman sebagai assisten sutradara dalam Tusuk Jelangkung, berhasil membangun nuansa atmospheric horror yang mencekam. Saya berhasil ditakut-takuti tanpa harus merasa terkagetkan. Suasana seram dibangun melalui setting dan "penampakan" berhasil di jaga. Salut untuk Adrianto Sinaga, sebagai art-director, yang mengatur set dengan sedemikian rupa. Ruang bangsal diperlihatkan sebaga entity khusus yang tak kalah menyeramkan dari sang hantu itu sendiri. Design suara dan musik score juga lumayan menarik. Secara hasil akhir produksi, Bangsal 13 jauh melampaui kualitas Jelangkung maupun Tusuk Jelangkung yang lebih bergaya pop-style.
Dari segi akting, Luna Maya bersinar terang. Setelah mendapatkan peran-peran kecil dalam film-film 30 Hari Mencari Cinta (2004) dan Brownies (2004), Luna kini naik pangkat menjadi pemeran utama disamping Endhita, yang juga sesama model. Karakter Mina yang pada awalnya merupakan karakter yang lemah dan kemudian menjadi yang paling mampu bertahan, dimainkan cukup berhasil oleh Luna. Tidak mengherankan jika ia diramalkan sebagai salah satu the-next-big-thing dalam dunia entertainment Indonesia. Pernyataan Luna bahwa ia akan lebih serius mendalami akting dibuktikan dengan dilibatkannya Luna pada beberapa produksi sinetron dan film. Sementara itu Endhita, yang telah bermain dalam Titik Hitam (2002) dan beberapa sinetron, kurang bermain maksimal. Terlihat sedikit kaku dan over-acting di beberapa adegan, sehingga terasa cukup mengganjal. Jika saja Endhita berniat meningkatkan kualitas aktingnya, dijamin ia pun bisa menjadi besar.
Sebenarnya yang menjadi bintang utama, selain Luna Maya dan Endhita, adalah Suster Ngesot (atau Suster 13 dalam flm ini) itu sendiri. Suster ngesot menurut saya adalah hantu yang berkharisma, sama halnya seperti Sadako/Samara di film Ring atau Kayako di film Ju On/The Grudge. Penampilan fisiknya yang mengerikan ditambah lagi dengan pemunculannya yang menyeramkan, menambah keangkeran film ini. Saya sendiri merasa trauma akan Suster Ngesot semenjak film Jelangkung, sehingga yang biasanya tidur dengan lampu mati, "terpaksa" untuk menghidupkannya, hahahahaha.
Streotype, plot holes dan formulaic sulit untuk dapat dihindarkan dalam kasus film seperti ini. Namun secara keseluruhan, intensitas cerita yang berhasil di jaga dengan baik mengantar film ini menjadi "film yang benar". Setidaknya dalam pakem horror. Kemampuan teknis dan kualitas akting merupakan resep tepat untuk menghasilkan film yang menarik. Hal itu dapat dibuktikan pada Bangsal 13. Dibandingkan dengan film-film horror lain yang keluar pada tahun 2004 ini, Bangsal 13 adalah yang terbaik, karena mengerti akan konsep horror tersebut tanpa harus terjebak untuk tampil secara berlebihan dan mengulang gaya yang sama. Bagi penggemar horror gaya Asia ala J-Horror, film ini pantas untuk ditonton.