‘VIRGIN’: Deskripsi Kasar Dunia Remaja Masa Kini
Produksi: Starvision (2004)
Sutradara: Hanny R. Saputra
Cast: Laudya Chintya Bella, Ardina Rasti, Angie, Ayu Azhari
Release Date: 11 November 2004
Satu lagi film yang mengundang kontroversi di tahun 2004, setelah kasus Buruan Cium Gue (2004). Untunglah film ini kemudian tidak mendapat perlakuan serupa, karena sampai saat akhir tahun 2004 film ini masih tetap mampu untuk menjaring penonton, sehingga film ini termasuk film hit di tahun 2004.
Virgin menceritakan tentang 3 orang gadis remaja, Biyan (Ladya Cynthia Bella), Stella (Ardina Rasti) dan Ketie (Angie). Sama halnya dengan remaja umumnya, mereka adalah tipe pemberontak dan senang mencoba hal-hal yang ekstrim sebagai tantangan. Hal ini diperparah karena mereka adalah produk rumah tangga yang berantakan. Ketika kemudian keperawanan menjadi suatu hal yang mudah untuk dilepaskan bagi teman-temannya dan bahkan menjadi barang ekonomi yang menguntungkan, Biyan yang berprinsip berbeda, mulai menemukan ketidakcocokan dengan teman-temannya dan akhirnya berujung pada konflik yang memisahkan mereka.
Diatas kertas, konsep cerita Virgin mungkin melodramatis sekali, namun eksekusi Hany R. Saputra berhasil membuat Virgin menjadi tontonan yang menarik dan tak membosankan. Didukung pula oleh akting meyakinkan oleh bintang-bintang muda berbakat seperti Ladya Cynthia Bella, Ardina Rasti dan Angie. Kekuatan akting mereka sangat besar dan mempunyai potensi menjadi aktris yang baik. Kelemahan pada segi cerita yang kadang terasa lemah pada beberapa bagian dan adegan-adegan klise yang tak terhindarkan berhasil dialihkan berkat kekuatan akting mereka. Ditambah lagi dengan cameo-cameo yang tampil seperti Tio Pakusadewo, Ari Sihasale, Ayu AzhariUnique Priscillia, yang walau hanya tampil dengan porsi kecil namun tetap menunjukkan kemampuan akting yang prima sebagai senior-senior pemain utama. Sementara Henidar Amroe yang berperan sebagai ibunya Biyan, tampil dengan miskin dialog tapi kaya mimik walau terlihat sedikit dibuat-buat, namun cukup lumayan sebagai seorang perempuan yang depresi.
Virgin adalah film ke-6 dari Starvision dalam tempo kurang lebih 2 tahun saja, setelah sebelumnya banyak bermain di serial televisi. Produksi Starvision adalah produk-produk instan yang tidak dibarengi dengan kualitas produksi yang baik dan perencanaan yang matang. Sungguh disayangkan, karena kepercayaan publik yang baru dibangun lama kelamaan akan hancur kembali jika dibarengi dengan iklim produksi film yang tidak sehat ini. Untunglah Virgin menjadi suatu titik balik bagi Starvision, karena secara kualitas jauh melampaui film-film sebelumnya dan bahkan Burun Cium Gue (2004) atau BCG, produksi MultiVision yang jelas-jelas adalah produk manufaktur untuk diperdagangkan tanpa memperhatikan kualitas produk.
Mau tidak mau, penonton pasti membanding-bandingkan film ini dengan BCG mengingat menampilkan sisi dunia remaja yang hedon dan vulgaritas yang tak bisa dihindarkan sebagai konsekuensinya. Pengaruh Thirteen kelihatannya juga cukup besar kontribusinya dan beberapa adegan tampil secara berlebihan. Namun untunglah film ini mampu tampil dengan cukup baik, walau cukup riskan karena mempunyai rating Dewasa namun banyak ditonton oleh remaja. Virgin setidaknya lebih mempunyai makna dan esensi cerita, ketimbang hanya ingin menunjukkan sisi liar remaja namun hanya di permukaannya saja guna mengeruk keuntungan saja. Dan itu yang penting!
December 23rd, 2008 at 5:55 am
Nice Article. Keep up The Good work.
Thanks for the information!!