‘TENTANG DIA’: Sebuah Karya Yang Tergesa-gesa
Thursday, February 17th, 2005Produksi: Sinemart (2005)
Sutradara: Rudi Sudjarwo
Cast: Sigi Wimala, Ardinia Wirasti, Fauzi Baadila, Donna Agnesia, Didi Petet
"Harapan Datang Saat Ia Kehilangan"
Dari team yang pernah menghasilkan Ada Apa Dengan Cinta?, Rudi Sudjarwo dan Melly Goeslaw, lahir film terbaru yang beredar untuk menyambut Valentine 2005, Tentang Dia. Berdasarkan salah satu cerpen Melly, Tentang Dia bercerita tentang hubungan antara dua orang perempuan muda, prasangka dan rasa kehilangan serta mencintai……
Gadis (Sigi Wimala) yang baru saja dikhianati oleh sang pacar yang berselingkuh dengan sahabat karibnya sendiri, merasa hidupnya sudah hampa. Padahal ada Randu (Fauzi Baadilla) yang selalu mendukung dan menghiburnya, karena Randu sangat mencintai Gadis. Namun, karena merasa sangat kecewa dengan pengalaman hidupnya, ia menjadi menutup diri. Sampai ia berjumpa dengan Rudi (Ardinia Wirasti) seorang gadis tomboy. Mereka langsung menjadi akrab. Dari Randu, ia belajar mengenai arti kasih sayang dan kehilangan sebenarnya. Sampai dia kemudian mencurigai motif Rudi mendekati dirinya, sehingga akhirnya Gadis berada dikebimbangan kembali.
Entang mengapa dengan Rudi Sudjarwo. Ia adalah seorang sutradara yang kredibel dan talented, akan tetapi ternyata persiapan yang matang dan perencanaan yang jelas merupakan syarat utama baginya untuk menghasilkan sebuah film yang baik. Sebagai contoh Ada Apa Dengan CInta (2002) dan Mengejar Matahari (2004). Diantara kedua film tersebut ada Rumah Ketujuh (2003) yang gagal total menurut saya. Begitu juga dengan Tentang Dia ini. Tentang Dia mengalami berbagai issue yang menimpa Rumah Ketujuh, mulai dari treatment yang lebih mirip FTV, pengembangan karakter yang dangkal, serta monoton. Mungkin jeda dua tahun sekali penting bagi Rudi.
Film ini memang dimaksudkan untuk menjadi mellow, yang diamini dengan warna biru yang mendominasi layar. Sayangnya, tampil terlalu berlarat-larat, terlalu lambat, sehingga melelahkan penonton, sehingga kebosanan menjadi hasil akhirnya. Padahal, menurut hemat saya untuk menjadi mellow tapi mengesankan tidak perlu seperti itu.
Hal ini ditambah lagi dengan Sigi Wimala yang berakting dengan payah. Setelah ‘ditelikung’ adikknya untuk bermain dalam karya Rudi sebelumnya, Mengejar Matahari, akhirnya Sigi berhasil juga. Sayangnya ia tidak mengimbangi dengan akting yang baik. Sangat mentah, menjemukan dan unmemorable. Ardinia Wirasti yang kembali setelah Ada Apa Dengan Cinta? serta Fauzi Baadilla, menunjukkan perkembangan bakat akting yang besar. Merekalah penyelamat film ini. Selain itu tata sinematografi yang indah patut diacungi jempol. Score dari Anto Hoed is good as always.Yang patut diberingi jempol juga adalah skrip yang penuh dengan dialog yang jenial dan memorable. Semoga karya cipta Titin Watimena bisa semakin baik di proyek selanjutnya.
Latar belakang pembuatan film ini adalah untuk merayakan eksistensi Melly di dunia hiburan selama 10 tahun, yang ditindaklanjuti tidak hanya dengan pembuatan film, melainkan sebuah kumpulan cerpen yang berjudul 10 Arrrghhhh. Terus terang, kumpulan cerpennya kurang menarik untuk dibaca, selain kurang persiapan juga dangkal dan kekanak-kanakan. Akan tetapi, dengan nama besar Rudi Sudjarwo, tentunya harapan besar sangat dipikulkan kepada mereka berdua. Sayang sekali hasilya tidak seperti yang diinginkan. Semoga ini menjadi pembelajaran untuk karya selanjutnya.
