‘BROWNIES’: Romantisme Dalam Manisnya Cokelat


Produksi: Sinemart (2004)
Sutradara: Hanung Bramantyo
Cast: Marcella Zaliyanti, Bucek, Phillip Jusuf-Jauw, Arie K. Untung, Elmayana Sabrenia, Luna Maya, Ratna Riantiarno
Release Date: 09 Desember 2004


Genre: Drama/Roman
Durasi: 120"
My Grade: 3 out 5


Brownies_2Melihat judulnya, mau tidak mau penonton pasti segera mengasosiasikan Brownies  kepada film-film semisal Chocolat atau Woman On Top yang jelas-jelas memang berhubungan dengan makanan sebagai esensi cerita. Dan memang benar, Brownies bercerita tentang kue yang lezat dan legit itu, yang ternyata berasal dari kesalahan membuat kue, serta filosofi yang terkandung di dalamnya. Brownies, seperti kata sutradaranya, Hanung Bramantyo, adalah tentang prasangka, sebagaimana brownies yang bantat dan hitam ternyata mempunyai rasa yang berbeda dengan fisiknya, dan tentu saja pencarian akan cinta sejati.

Mel (Marcella) adalah seorang creative director periklanan yang cukup sukses. Cantik, modern, smart dan suka sekali membuat kue brownies, walau sering gagal. Tunangannya Joe (Phillip Jusuf-Jauw), tampan dan sukses pula. Dunia Mel seakan runtuh ketika ia menemukan Joe berselingkuh di depan matanya. Disaat keresahannya, ia bertemu dengan Are (Bucek)  yang memiliki sebuah toko buku dan ternyata pembuat brownies yang handal. Are mempunyai penampilan fisik yang bertolak belakang dengan Mel dan mempunyai visi hidup yang cukup aspiratif. Singkat kata, hati dan dunia Mel kemudian mulai berubah. Dan disaat semua menjadi lebih baik, Joe kembali memaksa masuk kedunianya.

Sebagai sebuah drama-romantis, Brownies termasuk berhasil. Dengan dialog yang kuat dan akting yang solid, Brownies pantas dipilih untuk pilihan tontonan. Hanung Bramantyo adalah salah satu sutradara yang berbakat. Terbukti, ia mendapat nominasi sebagai sutradara terbaik untuk piala Vidya pada FFI 2004 lalu melalui FTV Do’a Bilik Santri. Ia mampu menampilkan gambar-gambar yang menarik dengan pace cerita yang mampu terjaga intensitasnya. Yah mungkin pada awal-awal film editingnya terasa sangat cepat, sehingga kita sedikit terengah-engah karena merasa tertinggal. Penggunaan kamera High Definition memang setingkat lebih baik daripada DV dan mampu menghasilkan gambar yang menarik untuk membingkai ceritanya yang sebenarnya sederhana. Boleh ditunggu film berikutnya Catatan Akhir Sekolah (2005) dari rumah produksi reXinema.

Penataan musik oleh Dewa Budjana dan soundtrack dari Gigi cukup simbiosis dengan struktur cerita secara keseluruhan. Tidak berkesan gampangan dan ditempatkan dengan cukup baik. Gigi menunjukkan kalau mereka merupakan salah satu grup musik terbaik di Indonesia.

Marcella Zaliyanti sebenarnya cukup berbakat dan berakting dengan cukup baik. Hanya saja, sama  halnyadengan film-filmnya terdahulu (Bintang Jatuh, Tragedy, Tusuk Jelangkung, The Soul), dia bermain terlalu staging tanpa berkesan alami, sehingga nampak dibuat-buat. Justru Bucek yang bersinar di film ini dengan menunjukkan kualitas akting yang signifikan. Dari aktor kelas ecek-ecek dalam debutnya Pengantin Remaja (1990-kalau tidak salah) hingga saat ini. Phillip Jusuf, seorang model yang terkenal bermain datar. Cukup wajar mengingat apologinya adalah ini film perdananya. Karakter yang diperankan oleh mantan VJ MTV, Arie Untung sepertinya mirip sekali dengan dirinya Ini film pertamanya setelah Ada Hantu di Sekolah (2004) yang justru lebih dulu keluar namun dengan karakter yang sama (sic!). Elmayana Sabrenia terlihat bermain dengan sangat emosional, sesuai dengan karakter yang harus dimainkannya. Mungkin ia harus bermain dengan sedikit santai, biar tidak terlihat terlalu emosi seperti itu. Ditampilkan juga beberapa cameo, yang rata-rata adalah pemain di Sinemart.

Brownies adalah film ke-3 dari Sinemart dan kedepannya tampak makin serius untuk memproduksi film-film yang bermutu dengan menggandeng nama-nama yang potensial. Kita harap saja ini tidak menjadi euphoria dan tentatif semata, agar film Indonesia dapat menjadi lebih semarak lagi. 


Leave a Reply