Archive for May, 2005

MALE SEXUALITY: Are We Still Virgin?

Friday, May 27th, 2005

Pertanyaan yang sering menghantui saya adalah, saya masih "virgin" gak
ya? Jika saya peermpuan mungkin pertanyaan tersebut krusial banget,
karena pada struktur masyarakat kita yang patriarkhi, keperawanan
seorang perempuan adalah "Maha Penting". Ingat, kualitas seorang
perempuan diukur dengan keperawanannya.

Nah
yang menjadi masalah sekarang adalah, saya ada;ah seorang laki-laki.
Penting ‘gak sih pertanyaan virgin atau tidak virgin lagi itu? Secara
pribadi menurut saya sebenarnya, baik laki-laki maupun perempuan
seharusnya menjaga diri mereka, biar tidak terjebak dengan ‘perangkap
nafsu’. Virginitas bagi saya hanya sebuahmasalah konsep dan hegemoni
saja. Semua orang pasti pernah melakukan kesalahan.

Ok, back to my origin point, kita masih perawan (or perjaka perhaps?) gak sih, after we’ve ‘molesting’ our self for years! Kok kesannya rancu, setelah having sex we entitled "not-virgin", but if we don’t we are Virgin. Menurut saya, swa-service itu kan termasuk having sex
juga kan, jadi secara deduktif, disimpulkan jika kita semua sudah tidak
virgin lagi? Apakah penetrasi penis ke vagina yang disebut Virgin,
sepertinya bukan. My point is, laki-laki tidak sesuai untuk mendapat pelabelan virgin atau tidak itu. Ya itulah subordinasi pria daripada perempuan.
Mungkin
ini hanya masalah psikologis aja. Mau merasa masih virgin atau engga
terlepas dari persepsi masing-masing kita, bukankah seperti itu?

Maksud
saya disini adalah, sebaiknya kita tidak menjustifikasi seseorang dari
Virginitasnya. Bukankah ada jenis orang, dimana kalau ada teman kita
yang sudah tidak virgin lagi, lantas mendapat prejudice dan streotype (especially for the woman).
Hei, for you guys, hidup dibawah bayang-bayang prejudice dan streotype
itu ‘gak nyaman loh. I can tell! Mungkin orang pernah khilaf, sekali
dua kali, tapi mudah-mudahan engga terlalu bodoh untuk melakukannya
untuk kesekian kalinya.

So guys, are we still virgin? I guess it depend on your heart.

May God Damned America (because I love it so passionately)

Friday, May 27th, 2005

Morrissey_1“America is not the world”, demikian kata Morrisey dalam lagu yang
berjudul sama. Entah kenapa, akhir-akhir ini semakin banyak saja yang
tidak menyukai Amerika. Gampangnya saja dapat kita lihat saja pada
banyaknya artis, baik musik maupun film yang mengekspresikan
ketidaksukaanya terhadap Amerika melalui aspirasi seni mereka tersebut.
Para artis tersebut ternyata tidak hanya artis yang berasal dari luar
Amerika, akan tetapi bahkan yang berasal dari negeri mereka sendiri,
seperti Green Day yang mengeluarkan album terbaru mereka yang dinamai
dengan “American Idiot” yang secara harafiah adalah satire akan
keberadaan negera mereka yang Super Power tersebut. Belum lagi dengan
kehebohan film dokumenter yang dikeluarkan oleh sutradara berbakat
Michael Moore, “Fahrenheit 9/11”. Kenapa sih kita mesti membenci
Amerika?

Sebelum
menjawab pertanyaan tersebut, sepertinya kita harus memahami dulu pameo
bahwa antara benci dan suka tersebut sangat tipis batasnya. Kita
membenci Amerika adalah sama halnya dengan kita menyukai (baca: memuja)
Amerika. Amerika adalah tanah impian, dimana disana terdapat kebebasan
dan harapan yang besar sebagai seorang manusia seutuhnya. Setidaknya,
walau kita tidak bisa tinggal secara permanen disana, akan tetapi
Amerika menawarkan gaya hidup atau lebih tepatnya konsep hidup mereka
dalam segenap aspek terhadap berbagai masyarakat (atau Negara) lain
yang ada di dunia. McDonalisasi, MTV, sampai Hollywood adalah bentuk
gampangnya dari hegemoni Amerika tersebut.

Kita tidak perlu
menjadi American untuk menjadi seorang American. Secara kebangsaan kita
adalah bangsa Indonesia, akan tetapi dalam kesehariannya kita adalah
American. Rasanya ada yang salah saja jika kita tidak mengadopsi apa
yang menjadi the latest di sana. Kita seakan dimanjakan dengan gaya
hidup so-called modern ini. Rasanya tidak klop saja, karena Amerika
adalah patron.

Amerika adalah Amerika. Kita tidak bisa
membantahnya. Negara adi daya dan negara nomor 1 di dunia, if I might
say? Presiden Amerika adalah presiden di dunia. Pemimpin-pemimpin
negara lainnya adalah, let’s we say, as the governor and the other
country as their province, atau mungkin negara bagian seperti prinsip
Amerika. Memang, banyak negara-negara yang tidak mau begitu saja patuh
dan tunduk kepada Amerika, tapi let’s check the fact, America is still
everything. Mereka harus setidaknya campur tangan untuk internal affair
negara lain, dengan alasan world peace. Klise banget, karena motif
utamanya ya tetap untuk kepentingan Amerika juga. Kasus perang Iraq
misalnya. Ya dasarnya ya penguasaan emas hitam alias minyak.

Sebuah
kekuasaan yang luas cenderung akan menghasilkan absolutisme dan
arogantisme. Inilah yang banyak dikecam orang. Karena Amerika (baca:
pimpinannya!) cenderung ingin mencampuri urusan orang lain.

Kita
memang harus bersyukur, bahwa kita memang hidup lebih baik, setidaknya
secara way of life dalam terminologi globalisasi. Akan tetapi, secara
sosio-kultural, apakah memang menjadi lebih baik? Berubahnya
nilai-nilai masyarakat saat ini bisa dikatakan sebagai aspek negatif
dari Amerikanisasi, karena banyak dari nilai yang berubah itu bukan
untuki menjadi lebih baik. Secara tidak sadar kita telah dijajah secara
ekonomi dan budaya, karena kita-kita ini, orang-orang dunia ke-3,
adalah pembuangan hasil kapital Amerika (dan negara-negara maju
lainnya). Kita menjadi pasar potensial segala produk cutting-edge dan
the latest idea of way of life yang semuanya berujung pada akumulasi
kapital.

Saya bukan ingin mengatakan kita harus membenci
Amerika, karena tidak semua aspek dari Amerika adalah a**hole. Tapi
yang ingin saya ajukan disini, disaring-saring dululah. Being hedon
doesn’t mean being better. Bukan bermaksud cerewet atau sok tahu atau
sok menjadi provokator yang mengeluarkan propaganda untuk membenci
Amerika (I think I’m not that good). Saya cuma ingin kita tidak merasa
subordinat terhadap Amerika dan lantas dengan mentah-mentah menjadi
penjiplak no.1. Pada dasarnya kita membutuhkan Amerika, seperti Amerika
membutuhkan kita. Rasa itulah yang harus kita tanamkan. Kita bukanlah
inferior sebagaimana Amerika adalah bukan superior. Kita adalah sama.
Kita adalah struktur yang saling simbiosis agar menjadi fungsional
dalam hidup yang sebenarnya. Dan maunya sih, Amerika juga berpikiran
yang sama. Jika memang sudah demikian, niscaya saya pasti ingin God
Bless America!

Adore

Thursday, May 5th, 2005

for the love which returns blind man to me,
for the love which breaks my heart,
I would sacrifice my soul to achieve your desire,
I would die and buried with the bottom of the hell,
to adore you….

the worship of you is like adoring my individual,
loving you is like loving my individual,
bitter or sweet,
cold or heat,

really do not important,
and by the storm I shall walk,
to adore you.

The Thing That Hidden

Thursday, May 5th, 2005

    

what shall I do,
when my love is possessed by your life,
it’s surrounding all over me like an air’s embrace,
it’s intoxicate me like a liquor.

although it’s torture me also,
because your heart is deep like an abyss,
and I powerless to go down there.

on this moment time,
I’m at the end of my tether to reach your soul,
indicate your mark, please,
before you shows your true shape,
I’m spunk less to show mine.

what shall I do,
when my heart is like an vulnerable ivory,
and it’s prepares only for you.