May God Damned America (because I love it so passionately)

Morrissey_1“America is not the world”, demikian kata Morrisey dalam lagu yang
berjudul sama. Entah kenapa, akhir-akhir ini semakin banyak saja yang
tidak menyukai Amerika. Gampangnya saja dapat kita lihat saja pada
banyaknya artis, baik musik maupun film yang mengekspresikan
ketidaksukaanya terhadap Amerika melalui aspirasi seni mereka tersebut.
Para artis tersebut ternyata tidak hanya artis yang berasal dari luar
Amerika, akan tetapi bahkan yang berasal dari negeri mereka sendiri,
seperti Green Day yang mengeluarkan album terbaru mereka yang dinamai
dengan “American Idiot” yang secara harafiah adalah satire akan
keberadaan negera mereka yang Super Power tersebut. Belum lagi dengan
kehebohan film dokumenter yang dikeluarkan oleh sutradara berbakat
Michael Moore, “Fahrenheit 9/11”. Kenapa sih kita mesti membenci
Amerika?

Sebelum
menjawab pertanyaan tersebut, sepertinya kita harus memahami dulu pameo
bahwa antara benci dan suka tersebut sangat tipis batasnya. Kita
membenci Amerika adalah sama halnya dengan kita menyukai (baca: memuja)
Amerika. Amerika adalah tanah impian, dimana disana terdapat kebebasan
dan harapan yang besar sebagai seorang manusia seutuhnya. Setidaknya,
walau kita tidak bisa tinggal secara permanen disana, akan tetapi
Amerika menawarkan gaya hidup atau lebih tepatnya konsep hidup mereka
dalam segenap aspek terhadap berbagai masyarakat (atau Negara) lain
yang ada di dunia. McDonalisasi, MTV, sampai Hollywood adalah bentuk
gampangnya dari hegemoni Amerika tersebut.

Kita tidak perlu
menjadi American untuk menjadi seorang American. Secara kebangsaan kita
adalah bangsa Indonesia, akan tetapi dalam kesehariannya kita adalah
American. Rasanya ada yang salah saja jika kita tidak mengadopsi apa
yang menjadi the latest di sana. Kita seakan dimanjakan dengan gaya
hidup so-called modern ini. Rasanya tidak klop saja, karena Amerika
adalah patron.

Amerika adalah Amerika. Kita tidak bisa
membantahnya. Negara adi daya dan negara nomor 1 di dunia, if I might
say? Presiden Amerika adalah presiden di dunia. Pemimpin-pemimpin
negara lainnya adalah, let’s we say, as the governor and the other
country as their province, atau mungkin negara bagian seperti prinsip
Amerika. Memang, banyak negara-negara yang tidak mau begitu saja patuh
dan tunduk kepada Amerika, tapi let’s check the fact, America is still
everything. Mereka harus setidaknya campur tangan untuk internal affair
negara lain, dengan alasan world peace. Klise banget, karena motif
utamanya ya tetap untuk kepentingan Amerika juga. Kasus perang Iraq
misalnya. Ya dasarnya ya penguasaan emas hitam alias minyak.

Sebuah
kekuasaan yang luas cenderung akan menghasilkan absolutisme dan
arogantisme. Inilah yang banyak dikecam orang. Karena Amerika (baca:
pimpinannya!) cenderung ingin mencampuri urusan orang lain.

Kita
memang harus bersyukur, bahwa kita memang hidup lebih baik, setidaknya
secara way of life dalam terminologi globalisasi. Akan tetapi, secara
sosio-kultural, apakah memang menjadi lebih baik? Berubahnya
nilai-nilai masyarakat saat ini bisa dikatakan sebagai aspek negatif
dari Amerikanisasi, karena banyak dari nilai yang berubah itu bukan
untuki menjadi lebih baik. Secara tidak sadar kita telah dijajah secara
ekonomi dan budaya, karena kita-kita ini, orang-orang dunia ke-3,
adalah pembuangan hasil kapital Amerika (dan negara-negara maju
lainnya). Kita menjadi pasar potensial segala produk cutting-edge dan
the latest idea of way of life yang semuanya berujung pada akumulasi
kapital.

Saya bukan ingin mengatakan kita harus membenci
Amerika, karena tidak semua aspek dari Amerika adalah a**hole. Tapi
yang ingin saya ajukan disini, disaring-saring dululah. Being hedon
doesn’t mean being better. Bukan bermaksud cerewet atau sok tahu atau
sok menjadi provokator yang mengeluarkan propaganda untuk membenci
Amerika (I think I’m not that good). Saya cuma ingin kita tidak merasa
subordinat terhadap Amerika dan lantas dengan mentah-mentah menjadi
penjiplak no.1. Pada dasarnya kita membutuhkan Amerika, seperti Amerika
membutuhkan kita. Rasa itulah yang harus kita tanamkan. Kita bukanlah
inferior sebagaimana Amerika adalah bukan superior. Kita adalah sama.
Kita adalah struktur yang saling simbiosis agar menjadi fungsional
dalam hidup yang sebenarnya. Dan maunya sih, Amerika juga berpikiran
yang sama. Jika memang sudah demikian, niscaya saya pasti ingin God
Bless America!

Leave a Reply