Archive for June, 2005

BASIC INSTINCT: Provocative, Sensual, Wickedly Classic Thriller.

Wednesday, June 29th, 2005
Basic_instinct_001_1

Genre: Drama/Thriller/Erotic
My Grade: 4 out 5
Produksi:
Tristar Pictures (1992)
Sutradara: Paul Verhoeven
Cast: Michael Douglas, Sharon Stone, George Dzundza, Jeanne Tripplehorn

DVD Distributor: Artisan Entertainment (2002)
Durasi: 128" (Unrated)
Format: Widescreen (2.35:1)
DVD Grade: 4 out 5
Special Feature (region 3):
  • "Blonde Poison" - Documentary On the Making of the Film
  • "Cleaning Up Basic Instinct" a Montage Comparing the TV Version to the Theatrical Version
  • Photo Gallery
  • Storyboard Comparisons
  • Theatrical Trailer
  • Cast and Crew Information
  • Production Notes

Basic Instinct, pada zamannya, adalah film yang benar-benar menjadi sebuah sensasi. Bagaimana sebuah over sexually thriller menjadi sebuah cult-classic tidak terlepas dari dari berbagai protes stigmatis yang ditudingkan kaum feminis sampai kaum gay dan lesbian, hingga kontroversi akan adegan-adegan erotis yang terdapat di dalam film ini, yang mana hal  tersebut malah menambah antusiasme orang untuk menyaksikan film ini dan menyebabkan film ini menjadi salah satu thriller yang mampu menjadi mesin pengeruk uang.

Catherine Tramell (Sharon Stone) dituduh melakukan pembunuhan terhadap pacarnya, seorang pengusaha dan mantan rocker. Ia menjadi tertuduh karena kematian sang korban mirip dengan cerita yang terdapat dalam novel Catherine. Penyelidikan terhadap kasus ini dilakukan oleh Det. Nick Curran (Michael Douglas). Aura sensualitas Catherine ternyata terlalu kuat untuk dinafikan oleh Nick, sehingga ia bagai terjaring dalam sarang laba-laba yang dijalin oleh Catherine yang misterius. Berbagai kejutan dialami oleh Nick, hingga ia harus bisa memakai akal sehatnya untuk dapat menuntaskan kasus ini.

Basic Instinct secara keseluruhan adalah sebuah thriller bergaya Hitchcockian yang berhasil dalam menyampaikan esensinya. Basic Instinct jelas-jelas sangat mengandalkan adegan-adegan panas karena erotisme dan sensualitas adalah kemasan dari film ini. Basic Instinct seakan-akan memprovokasi penonton untuk kembali ke insting dasar manusia, yaitu nafsu. Begitu berkuasanya nafsu, sehingga dapat mencelakakan seseorang. Namun demikian, tidak lantas Basic Instinct berleha-leha hanya pada sensualitas atau erotisme murahan semata. Adegan-adegannya berjalan dengan rapi dan ciamik. Thriller yang dibangun dari awal pun tetap terjaga hingga klimaks. Ini menjadikan Basic Instinct sebuah thriller yang efektif, baik untuk membangun rasa penasaran penontonnya, maupun sebagai jalinan cerita yang solid.

Kelemahan Basic Instinct mungkin adalah pada elaborasi beberapa adegan yang sedikit berlebihan (terutama sex scenes) dan repetitif dari film lain, juga penampilan beberapa karakter yang cukup streotipikal. Namun, terlepas dari itu, Basic Instinct justru menampilkan salah satu karakter yang terkuat dalam sejarah film, yaitu Catherine Trimell yang mampu mengisi film ini dengan aura sensualitas dan misteriusnya yang kental. Selain itu, untuk menjadi film yang ‘berhasil’, sebuah film juga harus mempunyai banyak adegan yang memorable dan kemudian menjadi klasik. Basic Instinct mempunyai beberapa. Diantaranya yang paling terkenal adalah adegan interogasi di kantor polisi (Phew!) dan tidak lupa pula adegan pembunuhan dengan menggunakan ice pick, yang membuat Basic Instinct menjadi sangat memorable, sebanding dengan adegan pembunuhan di shower pada film Psycho-nya Alfred Hitchcock.

Sebenarnya kredit yang diberikan terhadap Basic Instinct tidak hanya tergantung kepada adegan-adegan erotisnya, namun Basic Instinct secara keseluruhan adalah sebuah thriller bergaya Hitchcockian yang berhasil dalam menyampaikan esensinya. Dan film ini bisa bekerja dengan baik berkat pengarahan yang brilian dari Paul Verhoeven (Total Recall, RoboCop) dan skrip yang jenial oleh Joe Ezsterhas (Sliver). Yang patut dicatat juga adalah penanganan kamera yang istimewa oleh Jan de Bont (Speed) dan hauntingly score yang komposisikan oleh Jerry Goldsmith (Kingdom of Heaven).

Basic Instinct didukung pula oleh aktor yang sangat kredibel pula dalam reputasinya, Michael Douglas. Siapa yang meragukan talenta dan kualitas akting bintang senior ini? Namun, tidak bisa dibantah bahwa jiwa dari film ini adalah Sharon Stone yang tampil dengan gemilang sebagai si penulis yang misterius dan sensual, Catherine Tramell. Berkat film ini karirnyanya pun melonjak menjadi bintang kelas A. Stone membuktikan bahwa ia tidak hanya bermodalkan tubuh molek dan keberanian untuk buka-bukaan saja, namun juga memiliki kemampuan akting yang prima. Hal ini terbukti dengan diganjarnya ia dengan nominasi Golden Globe untuk film ini dan Oscar untuk film Casino karya Martin Scorsese beberapa tahun kemudian.

Jika anda mengira Basic Instinct versi R-ratednya sudah cukup panas, maka Anda harus menonton versi Unratednya, karena versi ini lebih punya banyak violence and sex. Penambahan adegan sex scene-nya jauh lebih panas dan relatif lebih baik dibandingkan versi R-ratednya, walaupun, pada hasil akhirnya, tujuannya tetap saja sama. Untunglah sekarang sudah tersedia DVD versi Unrated, yang selain menampilkan versi extended dari filmnya, namun juga menampilkan feature-feature yang tak kalah menarik, terutama  Blonde Poison - sebuah film dokumetar tentang proses pembuatan film ini serta kontroversi yang mengikutinya.

DVD ini cukup pantas untuk dikoleksi, walaupun tidak terdapat feature director’s comentary, seperti Region 1-nya, namun sudah cukup memuaskan. However, terlepas dari kekurangannya, saya sangat merekomendaikan film yang terlahir untuk menjadi klasik ini, baik bagi Anda yang menggemari film thriller, erotis maupun film klasik.

Quotes:
Nick: "What did Manny Vasquez call you?"
Catherine: "Bitch mostly, but he meant it affectionately."


John Correli: "Were you ever engaged in any sadomasochistic activity?"
Catherine: "Exactly what did you have in mind, Mr. Correli? "


CURSED: Better Watch This Unrated Version

Sunday, June 26th, 2005

Cursed_dvd_1Genre: Komedi/Horror
Film Grade: 2 out 5
Produksi:
Dimension Films (2005)
Sutradara: Wes Craven
Cast: Christina Ricci, Joshua Jackson, Jesse Eisenberg, Judy Greer

DVD Distributor: Dimension Home Video (2005)
Durasi:
99" (unrated)
Format: Widescreen
DVD Grade:
3 out 5

Special Features:

  • Behind the scenes featurette
  • "The Cursed Effects" featurette
  • "Creature Edting 101" featurette
  • "Becoming a Werewolf" featurette

Semenjak Scream, saya jadi menggilai Wes Craven, karena menurut saya Craven sangat mengerti seluk beluk dunia horror yang sudah lama digelutinya. Semenjak itu saya mengubek-ubek film-film lamanya, termasuk the cult-classic A  Nightmare On Elm Street. Sementara itu, Kevin Williamson-lah yang menyebabkan saya cinta mati kepada film horror setelah menonton I Know What You Did Last Summer. Sebagai die hard fan of horror movies, Williamson pun sangat mengerti apa yang diinginkannya. Kerjasama mereka kemudian menghasilkan trilogi Scream, yang membelokkan plot bahwa film horor juga bisa menjadi cerdas. Keberhasilan Scream segera diikuti oleh banyak epigon-epigonnya, yang sayangnya hanya ikut-ikutan tanpa dapat mengambil esensi kejenialan dan kecerdasan script dan pengarahan dari duo Craven-Williamson.

Kini, setelah beberapa tahun kemudian, genre horor mulai mengalami kejenuhan, sama halnya pada saat Scream pertama sekali dirilis. Sang duo pun memutuskan untuk kembali bekerja sama untuk menghasilkan sebuah film horor, yang mudah-mudahan, bisa mengulangi sukses Scream. Jika dulu Craven dan Williamson habis mengubek-ubek film-film slasher sebagai referensi ceritanya, maka sekarang giliran kisah serigala jadi-jadian alias Werewolf yang menjadi sumber cerita. Maka jadilah Cursed, sebagai karya mutakhir mereka.

Cursed bercerita tentang dua orang kakak beradik (Ricci dan Eisenberg) yang tanpa sengaja mengalami kecelakaan dan terluka oleh cakaran Werewolf. Ketika fisik mereka mulai mengalami perubahan, maka kedua kakak beradik tersebut berusaha memutuskan ketukan yang mereka terima dengan cara mencari serigala jadi-jadian yang melukai mereka dan membunuhnya, karena cara itulah satu-satunya yang bisa memutuskan kutukan sang serigala.

Entah kenapa terasa ada yang salah dengan skrip yang ditulis Williamson. Dia seakan kehilangan sentuhan ajaibnya dalam merangkai cerita. Cursed ditampilkan secara datar bahkan cenderung ringan-ringan saja. Mau tidak mau kita akan membandingkan dengan Scream, yang terus terang lebih mempunyai kompleksitas dan ‘berisi’ dalam ceritanya. Sementara Craven sendiri juga seakan ikut-ikutan terpengaruh menjadi lemah dalam menuturkan plot yang dirangkai Williamson. Dia nyaris tidak menyisakan trade-marknya sebagai Mpu Horor, terutama dalam bidang darah dan gore. Entah apa yang menjadi keputusan mereka untuk merilis Cursed dalam rating PG-13 yang jelas-jelas sangat membatasi ruang gerak film berjenis ini.

Secara umum, Cursed menyisakan beberapa adegan yang cukup menegangkan ala Wes Craven, namun secara keseluruhan Cursed sama sekali bukanlah film horor yang menakutkan atau mengerikan. Atau mungkin karena dalam sejarah film Werewolf memang jarang sekali ada yang menyeramkan, sehingga Cursed pun ikut-ikutan tidak menyeramkan? Namun, terlepas dari itu, Cursed masih merupakan tontonan yang menyenangkan dan menghibur untuk ditonton.

Untunglah kemudian dirilis DVD Unrated Version ini, yang menyisakan sedikit pelepas dahaga bagi penggemar Craven, karena menampilkan beberapa menit yang tidak ada di versi layar lebarnya. Yang pasti versi Unrated ini lebih bloodier and gory dibandingkan theatrical releasenya. Paket DVD-nya juga menampilkan beberapa feature yang menarik. Selain featurette making of-nya, sebuah film dokumenter yang dibuat oleh Jesse Eisenberg dengan judul Becoming  a Werewolf juga cukup menarik untuk ditonton dengan ending yang ‘mengejutkan’. Pada intinya, versi DVD ini cukup memuaskan bagi penggemar Craven secara khusus atau horor secara umum dan juga mengobati kekecewaan menyaksikan Cursed versi editingnya.


BATMAN BEGINS: Here Comes The Dark Knight!

Saturday, June 25th, 2005

Produksi: Warner Bros (2005)
Sutradara: Christopher Nolan
Cast: Christian Bale, Michael Caine, Liam Neeson, Katie Holmes, Gary Oldman, Cillian Murphy, Tom Wilkinson, Rutger Hauer, Ken Watanabe, Linus Roache, Morgan Freeman


Genre: Aksi/Petualangan/Fantasi/Drama
Durasi: 141"
My Grade: 4 out 5


Batmanbeginsinternationalbig Secara pribadi, saya menggilai Batman dan Batman Return, buah karya Tim Burton sebagai apresiasi komik dalam bentuk film terbaik yang pernah ada, bahkan beyond Superman The Movie! Sayangnya film-film Batman selanjutnya berubah menjadi film yang kekanak-kanakan dan kehilangan unsur misteriusnya yang merupakan ciri kuat dari karakter Batman itu sendiri. Rasa kecewa saya sedikit terobati dengan adanya film-film seperti X-Men atau Spiderman yang berhasil menjadi sebuah tontonan yang jenial sekaligus entertaining. Tapi saya tetap merindukan Batman di dalam layar lebar, karena saya sedari kecil memang tergila-gila pada si manusia kelelawar!

Mengetahui jika film Batman berikutnya akan diproduksi, saya sangat menyambut dengan gempita dan semakin girang lagi setelah mengetahui bahwa yang akan menggarap Batman Begin adalah Chris Nolan. Nama Nolan sendiri bagi saya sudah menjadi jaminan akan mutu film Batman yang baru ini. Saya sangat berharap Nolan akan meneruskan gaya gothic dan gelap dari film-filmnya Burton, karena pada dasarnya Batman itu adalah karakter yang gelap. Dan untunglah harapan saya terkabul, karena Batman Begin hadir sebagai film yang gelap, suram, namun sekaligus fantastik.

Mengambil seting cerita pada masa awal kehidupan Batman, sebagai alter-ego Bruce Wayne (Christian Bale), membuat film ini mampu untuk mengajak kita melupakan film-film Batman sebelumnya. Sebagai seorang anak yang menyaksikan orangtuanya terbunuh di depan matanya, menjadikan Bruce menjadi pria yang apatis terhadap kebenaran. Dia seakan hidup di dunianya sendiri dan melupakan masa lalunya. Rasa traumanya yang besar terhadap kelelawar semakin menambah komples masalahnya. Nasihat-nasihat dari pelayan keluarganya yang setia, Alfred (Michael Caine) pun tak berhasil mempengaruhinya. Dalam petualangannya ia berjumpa dengan Ducard (Liam Neeson), yang mengajaknya untuk bergabung disebuah kumpulan yang menentang kejahatan dengan caranya sendiri. League of Shadows demikian nama kelompok rahasia pimpinan Ra’s Al Ghul (Ken Watanabe) tersebut, yang mengaku telah selama berabad-abad memberikan "pelajaran" terhadap kejahatan yang terjadi di bumi ini. Selama berada di markas kumpulan tersebut, Ducard menjadi mentor sekaligus penasehat spritual bagi Bruce. Teknik berpedang, berkelahi sekaligus nilai-nilai moral kelompok tersebut diajarkan secara penuh oleh Ducard kepada Bruce. Setelah Bruce dirasa siap untuk ‘turun gunung’ maka untuk membutikan kesetiaanya, ia harus membunuh seorang penduduk setempat yang dituduh telah melakukan kejahatan. Bruce menentang hal ini dan sontak menjadi lawan bagi kumpulan League of Shadows. Dalam konfrontasi tersebut Bruce berhasil membunuh Ra’s Al Ghul dan membumihanguskan markas kumpulan. Selanjutnya Bruce kembali ke Gotham City. Mengetahui banyaknya kejahatan yang terjadi di kotanya tersebut, terutama kejahatan yang dilakukan oleh Carmine Falcone (Tom Wilkinson), maka Bruce memutuskan untuk melawannya. Namun ia menyadari kalau ia melawan kejahatan sebagai seorang Bruce Wayne, hal tersebut akan kurang efektif. Ia merasa kalau para penjahat di kota tersebut memerlukan sosok yang dapat menakutkan mereka dan ia memutuskan untuk memakai rasa takutnya, kelelawar, sebagai simbol rasa takut yang akan diberikannya kepada kejahatan. Maka, dibantu oleh Alfred dan Lucius Fox (Morgan Freeman), dimulailah aksi Bruce Wayne sebagai Batman dalam memberantas kejahatan. Falcone berhasil dibekuk, namun sayangnya masih ada plot jahat lain yang disimpan oleh psikiater terkenal Dr. Jonathan Crane (Cillian Murphy) untuk kota Gotham. Dengan memakai karakter Scarecrow sebagai alter-egonya, Crane akan memulai chaos yang mengerikan untuk Gotham City. Untunglah, Batman kemudian di bantu oleh Lt. Jim Gordon (Gary Oldman) dan Jaksa Wilayah Rachel Dawes (Katie Holmes) yang juga teman dari masa kecilnya. Bersama mereka berjuang melawan bencana besar yang akan mengancam Gotham.

Batman Begin memakai semua plot dasar dari cerita Batman, namun ia tidak mentah-mentah menerjemahkan cerita yang telah dikenal umum tersebut dengan begitu saja. Dengan menambah kedalaman cerita dan karakter-karakter yang kuat, maka ia mengekplorasi Batman dengan plot yang lebih membumi dan realistis, sehingga Batman Begin hadir berbeda dengan penggambaran superhero lainnya. Okay, untuk diluruskan, Batman bukan superhero, tapi orang biasa yang tergerak untuk melawan kejahatan dan inilah yang diperlihatkan oleh Nolan dan ia berhasil untuk itu. Nolan lebih memilih untuk menggambarkan perkembangan Batman dan dilema yang dihadapinya melalui drama yang pekat dan aksi yang lebih membumi. Namun, ide dimana kemampuan Bruce didapat dari kumpulan Ninja juga cukup inventif, karena memang pada dasarnya prinsip kerja Batman memang mirip dengan ninja.

Dari segi aksi itu sendiri sengaja tidak divisualisasi dengan jelas, bahkan untuk adegan perkelahian masih lebih bagus di film-film Star Wars. Hal ini mungkin karena Nolan tidak meniatkan film ini sebagai film aksi. Walau begitu dia masih menyisakan adegan-adegan fantastis yang menarik, khas film-film superhero.

Christian Bale sendiri sebagai sang Batman tampil dengan meyakinkan. Dan ia beruntung didukung oleh banyak aktor-aktor yang kuat yang memainkan karakter mereka dengan semestinya. Caine, Oldman, Neeson, Freeman, Wilkinson dan Watanabe? Apalagi yang bisa diharapkan dari sebuah film yang nyaris sempurna seperti ini. Murphy (dari horor hit 28 Days Later) bermain dengan mengesankan, sementara Holmes sepertinya belum mampu keluar dari Post-Dawson’s Creek-Syndrom-nya.

Sebagai hasil akhirnya, Batman Begin hadir sebagai film yang berjalan di trek yang semestinya. Beginilah film Batman seharusnya. Penekanan pada cerita daripada aksi ternyata tidak mengecewakan dan membuktikan bahwa cerita dan karakter yang kuat itu lebih penting bagi sebuah film, dari pada hanya mengejar sensasi belaka!


‘JANJI JONI’: Ringan Bukan Berarti Tak Berkualitas!

Monday, June 20th, 2005

Produksi: Kalyana Shira (2005)
Sutradara: Joko Anwar
Cast: Nicholas Saputra, Mariana Renata, Rachel Maryam, Surya Saputra


Genre: Komedi/Petualangan
Durasi: 85"
My Grade: 4 out 5


Janjijoni_2Apa yang bisa Joni janjikan? Hiburan yang menyenangkan atau petuah yang menggurui? Ternyata Joni lebih memilih yang pertama. Terus terang, secara moral, Joni nyaris tidak menawarkan esensi cerita yang solid kepada penontonnya, terkecuali hiburan yang menyenangkan tadi. Dan untunglah Joni berhasil dengan baik menepati janjinya.

Joni (Nicholas Saputra) adalah seorang pengantar rol film yang sangat berdedikasi terhadap pekerjaanya. Ia telah berjanji akan selalu tepat waktu dalam mengantar rol-rol film tersebut karena ia sangat menyadari jika ilusi film yang ditonton banyak orang tergantung kepada dirinya. Suatu hari, janji Joni berada dalam taruhan karena seorang perempuan cantik (Mariana Renata). Karena sangat tertarik kepadanya, Joni menjanjikan  untuk mengantar film dengan tepat waktu, dengan imbalan nama sang nona, walau ia tahu sang nona sudah mempunyai pacar yang temperamental (Surya Saputra). Namun, entah mengapa, hari itu sang nasib seakan melawan dirinya. Banyak sekali yang harus dia hadapi dalam tugas mengantar film tersebut. Apakah Joni berhasil menepati janjinya?

Terlepas dari logika cerita yang kurang dapat dipertanggungjawabkan, Janji Joni hadir dengan kualitas yang baik sebagai apologinya,  sehingga kita bisa menikmatinya tanpa harus terganggu oleh logika cerita. Kesan untuk menampilkan film yang vintage pun cukup berhasil ditampilkan dengan pemilihan warna dan setting. Animasi dan narasi pada awal film juga merupakan nilai tambah sebagai keistimewaan film ini, sehingga Janji Joni menjadi beda dengan film-film Indonesia lainnya. Tabik untuk Joko Anwar yang walau baru pertama sekali menyutradarai film, namun sangat mengerti apa yang diiginkannya, sehingga dapat menghasilkan film yang matang.

Film ini juga nyaris tanpa musical score, karena sebagai musik pengiring hanya menampilkan lagu-lagu dari soundtracknya, yang mana hal ini juga jarang dilakukan. Dengan menampilkan track-track dari band-band indie Jakarta, keputusan ini cukup berani, tapi ternyata cukup relevan sebagai pengiring film, walau kadang beberapa lagu sedikit bertabrakan dengan adegannya.

Nicholas Saputra lumayan berhasil keluar dari streotype perannya dan tampil dengan cukup kocak. Mariana Renata is absolutely gorgeous, tapi harus belajar akting lebih banyak lagi. Artis-artis pendukung, seperti Rachel Maryam, Sudjiwo Tejo, Gito Rollies, Ria Irawan serta penampilan banyak cameo menambah semarak film ini. Yang mengejutkan adalah munculnya kembali aktor laga senior Barry Prima dan berani tampil dengan karakter diluar yang biasa diperankannya. What a comeback!

Janji Joni jelas adalah film yang menarik. Tampil menghibur dan jenial dan yang pasti takkan tampil membosabkan walau kita menontonnya berulang-ulang. Sangat direkomendasikan!


Theatrical Poster Art:

Janji_joni_big


OLDBOY : Love, Grudge, Violence

Monday, June 13th, 2005

Produksi: Tartan Films (2003)
Sutradara: Park Chan-Wook
Cast: Choi Min-Sik, Yoo Ji-tae, Gang Hye-Jung

Genre: Drama/Thriller/Aksi
Durasi: 120"
My Grade: 4 out 5

OldboyOh Dae-Su (Choi Min-Sik) sama sekali tidak mengerti mengapa ia disekap dalam sebuah kamar tertutup selama 15 tahun. Ia hanya pria biasa-biasa saja, bukan dari kalangan berada, dengan istri dan seorang anak perempuan yang masih kecil. Hanya satu masalahnya, alkohol telah merubahnya menjadi sosok yang nyaris tak berguna. Setelah membuat kekacauan disebuah kantor polisi, kemudian ia menghilang tanpa jejak dengan seketika. Ia sendiri disaat sadar telah berada di sebuah ruangan yang sangat jelas ditujukan agar Dae-Su tidak mempunyai kontak dengan dunia luar. Segala cara dilakukannya agar bisa terlepas dari ruangan tersebut, namun tidak pernah berhasil. Setelah menyadari bahwa ia tidak bisa keluar dari ruangan tersebut, maka ia memutuskan untuk melakukan bunuh diri, yang dilakukannya berkali-kali dan berkali-kali juga tidak berhasil! Akhirnya Dae-Su memilih untuk pasrah, menunggu kapan ia akan dibebaskan dari "penjaranya". Dendamnya semakin berkarat, karena dari televisi yang menjadi satu-satunya alat penunjuk waktunya, diketahui jika istrinya telah dibunuh dengan segala petunjuk mengarah kepada dirinya sebagai sang pembunuh. Waktu terus berjalan dan suatu hari ia kehilangan kesadarannya kembali. Saat siuman, ia telah berada di alam bebas. Dengan berbekal baju bagus, segepok uang di kantungnya dan ponsel, Dae-Su mulai menjalakan rencana balas dendamnya dan tentu saja itu dimulai dengan mencari siapa yang sebenarnya telah menyekapnya itu. Sesaat ponselnya berdering dan ternyata dari penyekapnya yang mengatakan kalau ia adalah seorang ilmuan dan yang tengah ditelitinya adalah Dae-Su. Suatu hal yang sebenarnya sulit untuk dipercayainya.

OLDBOY adalah thriller dengan aura kekerasan yang kental. Banyak adegan-adegan sadis yang mungkin sedikit ekstrim. Tapi itu diperlukan untuk menunjukkan kemarahan Dae-Su, dari seorang laki-laki ’sayur’ yang kemudian bermetamorfosa menjadi seorang petarung tangguh., hasil dari melatih dirinya sendiri selama masa penyekapan. Kekerasan dan aksi dari OLDBOY bukanlah esensi utama dari film ini, karena ia hanya sebuah lapisan untuk lapisan utamanya, cinta! Ini terjadi pada saat pencariannya, Dae-Su bertemu dengan Mido (Gang Hye-Jung), seorang gadis yang bekerja di sebuah restoran, dimana Dae-Su pertama sekali makan setelah keluar dari penyekapan. Mido menunjukkan afeksi yang besar sekali kepada Dae-Su dan ceritanya. Bahkan gadis tersebut bersedia membantu Dae-Su dalam pencariannya. Lika-liku pencarian Dae-Su dan Mido inilah yang kemudian menuju kepada pengungkapan yang sangat mengejutkan dan berujung pada tragedi yang tak dapat dielakkan.

Isu yang diangkat OLDBOY sebenarnya mungkin tidak bisa ditolerir oleh sebagian orang, terutama yang berfikiran konservatif. Akan tetapi, tanpa bermaksud menjadi subversif atau untuk nilai sensasi semata, obskuritas dalam OLDBOY diperlukan untuk memperlihatkan bagaimana cinta dapat mempermainkan manusia. Saat akhirnya, secara vis-à-vis, Dae-Su bertemu dengan penyekapnya, mula-mula ia penuh dengan kemarahan akan tetapi setelah mengetahui kebenarannya, ia harus bersikap sama sekali berbeda.

OLDBOY jelas-jelas adalah film tentang cinta. Hanya saja bukan cerita cinta yang subtil. Ia bermula sebagai thriller dan berakhir dengan drama yang pekat, yang bersandar dengan cerita dan pengadeganan yang kuat. Kadang komikal dan kadang menegangkan. Ini tidak mengherankan, karena OLDBOY sebenarnya diangkat dari manga Jepang yang ditulis oleh Tsuchiya Garon dan Minegishi Nobuaki.

Secara teknis, film yang telah menjadi  Runner-Up di Cannes Film Festival dan pemenang Film Asia Terbaik di Festival Film Hongkong, tentu sudah tidak diragukan. Saat ini perfilman Korea menjadi salah satu pusat perfilman yang kreatif dan dinamis, baik dari segi cerita dan teknis. Tidak heran banyak film-film dari negara ini yang kemudian dilirik oleh Hollywood untuk diremake. OLDBOY adalah salah satunya.

Bagi yang mencari tontonan alternatif yang menghibur sekaligus "berisi", film ini sangat  direkomendasikan.

More Poster

Oldboy2_3


DANNY THE DOG: Beauty of the Beast

Monday, June 13th, 2005

Produksi: Rogue Pictures (2005)
Sutradara: Louis Leterrier

Cast: Jet Li,  Morgan Freeman, Bob Hopkins, Kerry Condon


Genre: Drama/Thriller/Aksi
Durasi: 103"
My Grade: 3.5 out 5

Unleashed_ver2_1Tidak ada yang meragukan Luc Besson sebagai seorang kreator di bidang film. Rata-rata film yang dihasilkannya, baik sebagai sutradara, produser atau penulis cerita, menjanjikan sebagai produk yang berbeda dan menarik. La Femme Nikita, Leon, The Fifth Element atau Crimson Rivers adalah buktinya. Kali ini, untuk kesempatan  kedua, setelah Kiss of the Dragon, ia bekerjasama kembali dengan Jet Li. Secara pribadi, bagi saya Kiss of the Dragon adalah film berbahasa Inggris terbaik dari Jet Li, namun saya salah, karena justru film ini adalah film terbaiknya.

Dari segi cerita, Kiss of the Dragon cenderung biasa-biasa saja, tapi pengaruh Besso yang kentalah yang membuat film itu menjadi menarik, terutama untuk adegan aksi yang sedikit sadis dan realistik. Gaya pertarungan tersebut dibawa kembali oleh Besson sebagai penulis cerita di featurenya kali ini, Danny the Dog a.k.a. Unleashed (untuk versi Amerikanya), hanya saja kali ini dibarengi dengan cerita yang lebih subtil dan memikat.

Danny (Jet Li) dibesarkan seperti binatang oleh Bart (Bob Hopkins) seorang debt collector yang kejam. Danny berguna sebagai alat saat situasi mulai tak terkendali di lapangan. Bart sepertinya berhasil menjadikan Danny sebagai ‘anjingnya’ karena kepatuhan yang luar biasa ditunjukkan oleh Danny. Sebagaimana layaknya anjing, maka Danny memakai kalung, yang jika dilepas akan merubahnya dari sosok yang sangat tenang menjadi sangat buas. Semuanya berubah, disaat tanpa sengaja Danny berkenalan dengan seorang pengetem piano buta, Sam (Morgan Freeman). Ketertarikan Danny pada piano menunjukkan bahwa sebenarnya ia masih seorang manusia biasa. Sebuah peristiwa menyebabkan ia melarikan diri dari Sam dan memutuskan untuk tinggal bersama dengan Sam dan putri tirinya Victoria (Kerry Condon). Lama kelamaan sifat buas Danny mulai berubah dan mulai menjalani hidup secara lebih manusiawi dan beradab. Karakternya pun mulai berubah untuk menjadi manusia seutuhnya. Sayangnya, Bart tidak dengan begitu saja rela melepas Danny!

Danny the Dog masih menampilkan kekerasan, tapi kekerasan bukan inti dari film ini. Ada beberapa adegan aksi, yang digarap oleh Yuen Woo-Ping (The Matrix, Kill Bill, Crouching Tiger Hidden Dragon, Kungfu Hustle), dan pasti memuaskan para penggemar Jet Li. Namun, menu utamanya adalah drama humanis yang menyentuh tentang bagaimana seseorang yang telah terputuskan dari dunia luar mengalami proses dehumanisasi dan menjadi manusia yang lebih baik.

Film dengan tema seperti ini bisa menjadi bahan lelucon jika tidak digarap dengan baik dan kemampuan akting yang prima dari para pemainnya. Jet Li dan Bob Hopkins bermain sangat baik sekali dan sangat meyakinkan. Bagi saya, inilah film pertama bagi Jet Li dimana ia benar-benar berakting sebagai aktor semestinya, bukan hanya mengandalkan kehalian kungfu seperti biasanya. Menjadi sangat naif disaat pasif dan garang disaat aktif. Bahkan pada saat proses dehumanisasinya, ia bermain dengan sangat mengesankan, sehingga kita pun bisa berempati terhadap karakter yang dimainkannya. Sementara, bermain sebagai seorang preman tentu sudah tidak asing lagi bagi Bob Hopkins, sehingga kualitas atingnya tidak usah diragukan lagi. Sementara Morgan Freeman sendiri cenderung bermain tipikal, yang biasa kita lihat difilm-filmnya. Terlepas dari itu, sebagai buatan manusia, tentu saja ada lubang didalam ceritanya, namun dengan penggarapan yang solid, hal tersebut seperti dapat dinafikan.

Ambiguitas yang ditawarkan Besson dalam skripnya, cukup baik diterjemahkan oleh Louis Leterrier sebagai sutradara. Dengan mengandalkan warna-warna sephia sebagai tone filmnya, Danny the Dog menjadi sangat keras disaat adegan laga dan subtil di bagian drama. Terus terang, jika kita ingin menonton sebuah film yang full-aksi, Danny the Dog jelas bukan pilihan utama. Tapi jika berniat untuk menonton film aksi dengan cerita yang kuat dan karakterisasi (yang mana sangat jarang sekali akhir-akhir ini), maka Danny the Dog adalah solusinya.

More Poster

 Unleashed


Venus dan Mars

Wednesday, June 8th, 2005

Tvenusandmars_1_1

duhai Venus,
berkelip terang di kelam langit,
menambah aura raga kirana dunia,
dawai sitar di tangan,
takluk segenap alam,
sedetik ia menembang;
‘adakah pelita sebagai penerang hatiku ?”,
sedetik ia meresah;
‘adakah hangat penawar beku jiwaku ?”,
gulana merajai sang Venus,
karena jawab tak kunjung datang pula.

duhai Mars,
membusung bagai panglima angkasa,
membara membakar asa,
pedang baja di pelukan,
terbitkan iri gugusan bintang,
sedetik ia berteriak;
“adakah teman sejati akan datang ?”,
sedetik ia bergumam;
“aku sepi di keramaian !”,
gulana merajai sang Mars,
karena jawab tak kunjung datang pula.

dibalik mega-mega, Putra Bumi mengintip,
sungguh iba hatinya;
“sejoli bagaikan orang asing.
tiba saatnya sang Nasib bermain.
bukan sa’atnya hanya bertanya.”
dalam cinta adalah perjuangan,
demikian pikir Putra Bumi,
tak perduli balas apa yang ada.

pada suatu ketika,
dalam meriahnya arakan, takdir menentukan,
dalam indahnya tarian, takdir menjumpakan,
gairah jiwa tersenyum,
pesta untuk cinta telah terlaksana.

Mars lirih berbisik;
“adakah ruang untuk sukmaku ?”,
Venus gemuruh di dada;
“biarlah jiwamu sebagai tuntunan.”

dalam rentang sang Waktu kemudian,
insan dunia menjaring kasmaran,
mencari sama dalam beda,
menyatukan sepasang hati.
“biarlah ini abadi !”, seru mereka,
adakah belahan jwa ditemukan ?

duhai Nasib,
tega mengumbar iba hati pecinta,
ujian sebagai cobaan,
uji tegarnya karang hati.
sampai bahagia dijelang.

dalam singgasana emas, sang Surya,
sang raja dunia, sang pengasuh bintang-bintang,
menggeram dalam amarah, ia bertitah;
“sang Venus adalah mempelaiku, takdirnya ada disampingku !’.
kala amarah meruak, emosi jauh untuk dipendam,
tega pula sang Surya mendekap berlian dunia.

duhai Venus,
dalam jeruji pualam, tangis tak berguna,
berharap pujaan datang menghela iba.

duhai Mars,
amarah penuhi dada, dendam telah bertahta,
berharap pujaan didekap menghela resah.

duka Venus, dalam genggaman Surya,
apa kuasa sang hamba atas penguasa ?
murka Mars, dalam cengkraman Surya,
apa kuasa sang bakti atas darma ?

dibalik mega-mega, Putra Bumi menangis,
sungguh iba hatinya;
‘dari dulu cinta ada untuk diuji.
tiba saatnya sang Nasib bermain,
bukan sa’atnya hanya berduka.”
dalam cinta adalah perjuangan,
demikian pikir Putra Bumi,
tak perduli balas apa yang ada.

dalam dukanya cinta, takdir menentukan,
dalam nestapanya rindu, takdir menjumpakan,
Putra Bumi tersenyum,
persuaan untuk cinta telah terencana.

jeruji pualam, indah bukan nian,
tapi jiwa terkungkung bagai sangkar,
tak rela hati untuk menetap.
betapa ria hati bersorak,
kekasih tiba, dalam buaian cinta,
bagaikan ksatria dari kayangan,
datang untuk lepaskan belenggu,
menentang daya kuasa.

sayang, tetapi sayang,
langit adalah wahana bagi sang penyanjung cinta,
juga,
langit adalah wahana bagi sang porosnya angkasa.
apa daya tangan tak sampai,
atas jalan nasib, sejoli adalah satu
atas jalan takdir, sejoli bukanlah satu,
sudah galibya, sang Surya sebagai sang raja,
sudah galibnya, sang Venus sebagai sang dayang.

permainan dunia adalah milik Sang Abadi,
sebuah rahasia yang takkan terungkap,
jika tiba saatnya,
jika memang ruhnya,
kelak,
Venus dan Mars adalah satu

dibalik mega-mega, Putra Bumi mengerti,
sungguh iba hatinya;
‘kehendak bukan untuk dipaksakan,
mengalurkan cinta bukanlah wajib,
tiba jua sa’atnya untuk mengerti.”
dalam cinta adalah pengorbanan,
demikian pikir Putra Bumi,
tak perduli balas apa yang ada.

A Matter is Committed

Wednesday, June 8th, 2005

a matter is committed
never have knew that flame burns
torch this ardor inside
bloom my flowers away

the song that nightingale sing,
echoing my head so delight
breaking the silence deep inside
noticing the meant of you by me

I’m glance at the shining skylight
it marvels me how,
your very existence makes me real
your divine aura gets me strong
your porcelain soul keeps me alive

stay like this eternally, do my instance need
I yearning for God command now,
place our souls in the same jade
decease all sorrow that banned the future

Bukan Yang Sama

Wednesday, June 8th, 2005

werangan yang diberikan hidup
tidak cukup kuat bagiku
badai yang diberikan musim
tidak cukup ribut bagiku

aku adalah pemimpi dunia
takkan kubiarkan kau merusaknya
karena hanya ini yang kupunya
menjauhlah segera dariku

takkan pernah dahulu lagi
karena aku bukan yang sama
jangan pula coba ganggu lagi
karena semua hanya memudar

ingatlah apa yang kau perbuat dulu
baru kau akan tahu jawabnya
mengulang takkan hendak kembali
bagiku cukup hanya disitu

Konsumersime Dan Gaya Hidup Remaja

Wednesday, June 8th, 2005

Teenagers

Latar Belakang
Bagi produsen, kelompok usia remaja adalah salah satu pasar yang potensial. Alasannya antara lain karena pola konsumsi seseorang terbentuk pada usia remaja. Di samping itu, remaja biasanya mudah terbujuk rayuan iklan, suka ikut-ikutan teman, tidak realistis, dan cenderung boros dalam menggunakan uangnya. Sifat-sifat remaja inilah yang dimanfaatkan oleh sebagian produsen untuk memasuki pasar remaja. Di kalangan remaja rasa ingin menunjukkan bahwa mereka juga dapat mengikuti mode yang sedang beredar sangatlah besar, padahal mode itu sendiri selalu berubah sehingga para remaja tidak pernah puas dengan apa yang dimilikinya, sehingga muncullah perilaku yang konsumtif tersebut.

Pada mulanya belanja hanya merupakan suatu konsep untuk menunjukkan suatu sikap untuk mendapatkan barang yang menjadi keperluan untuk sehari-harinya dengan jalan menukarkan sejumlah uang sebagai pengganti barang tersebut. Pada saat ini konsep belanja itu sendiri telah berkembang sebagai sebuah cerminan gaya hidup dan rekreasi di kalangan masyarakat. Belanja adalah suatu gaya hidup tersendiri, dimana bahkan telah menjadi suatu kegemaran bagi sejumlah orang.

Belanja menjadi alat pemuas keinginan mereka akan barang-barang yang sebenarnya tidak mereka butuhkan, akan tetapi karena pengaruh trend atau mode yang tengah berlaku, maka mereka merasa akan suatu keharusan untuk membeli barang-barang tersebut. Perilaku berlebihan inilah yang disebut dengan perilaku konsumtif (http://www.freewebs.com/kolektifbunga/konsumerisme.htm).

Ironisnya, gaya hidup yang konsumeristis ini semakin besar tuntutannya, sehingga apa yang sudah ada akan tidak mencukupi. Pola hidup yang konsumtif juga menampakkan kesenjangan yang semakin besar pada masyarakat, sehingga kalangan yang sebenarnya tidak mampu atau tidak memerlukan perilaku konsumtif ini turut mempraktekannya, dan kemudian ia bisa saja melakukan segala upaya dalam memenuhi keinginannya, sehingga bisa menyebabkan terjadinya hal-hal yang devian (Kusmin, dalam Waspada, Kamis, 31 Juli 1997).

Bagi produsen, kelompok usia remaja adalah salah satu pasar yang potensial. Alasannya antara lain karena pola konsumsi seseorang terbentuk pada usia remaja. Di samping itu, remaja biasanya mudah terbujuk rayuan iklan, suka ikut-ikutan teman, tidak realistis, dan cenderung boros dalam menggunakan uangnya. Sifat-sifat remaja inilah yang dimanfaatkan oleh sebagian produsen untuk memasuki pasar remaja Tambunan, dalam http://www.e-psikologi.com/remaja/191101.htm).

Di kalangan remaja yang memiliki orang tua dengan kelas ekonomi yang cukup berada, terutama di kota-kota besar, mall sudah menjadi rumah kedua. Mereka ingin menunjukkan bahwa mereka juga dapat mengikuti mode yang sedang beredar. Padahal mode itu sendiri selalu berubah sehingga para remaja tidak pernah puas dengan apa yang dimilikinya. Alhasil, muncullah perilaku yang konsumtif.

Remaja adalah suatu fase dalam kehidupan manusia, dimana ia tengah mencari jatidirnya, dan biasanya dalam upaya pencarian jatidiri tersebut, ia mudah untuk terikut atau terimbas hal-hal yang tengah terjadi disekitarnya, sehingga turut membentuk sikap dan pribadi mereka.

Bagi tipe sosial kultural masyarakat Indonesia, penyesuaian pribadi dan sosial remaja banyak yang ditekankan dalam lingkup kelompok teman sebaya. Alasan pokoknya adalah bahwa kelompok teman sebaya merupakan lingkungan sosial pertama, dimana remaja belajar untuk hidup bersama orang lain yang bukan anggota keluarganya. Lingkungan teman ini merupakan suatu kelompok yang memiliki ciri, norma dan kebiasaan yang jauh berbeda dengan apa yang ada dalam lingkungan keluarga remaja. Dalam hal ini remaja dituntut memiliki kemampuan setelah itu baru menyesuaikan diri dan akhirnya dapat dijadikan dasar dalam hubungan sosial yang lebih luas (Mappiare, 1982 : 157).

Dalam pergaulannya, remaja biasanya mempunyai trend tersendiri yang dapat dilihat dalam perwujudan sikap mereka. Perwujudan sikap yang mencolok ini biasanya terjadi di masyarakat perkotaan, yang disebabkan karena kehidupan kota yang semakin kompleks dan penuh dengan dinamika.

Bagi produsen, kelompok usia remaja adalah salah satu pasar yang potensial. Alasannya antara lain karena pola konsumsi seseorang terbentuk pada usia remaja. Di samping itu, remaja biasanya mudah terbujuk rayuan iklan, suka ikut-ikutan teman, tidak realistis, dan cenderung boros dalam menggunakan uangnya. Sifat-sifat remaja inilah yang dimanfaatkan oleh sebagian produsen untuk memasuki pasar remaja.

Perilaku konsumtif pada remaja sebenarnya dapat dimengerti bila melihat usia remaja sebaga usia peralihan dalam mencari identitas diri. Remaja ingin diakui eksistensinya oleh lingkungan dengan berusaha menjadi bagian dari lingkungan itu. Kebutuhan untuk diterima dan menjadi sama dengan orang lain yang sebaya itu menyebabkan remaja berusaha untuk mengikuti berbagai atribut yang sedang in. Remaja dalam perkembangan kognitif dan emosinya masih memandang bahwa atribut yang superfisial itu sama penting (bahkan lebih penting) dengan substansi. Apa yang dikenakan oleh seorang artis yang menjadi idola para remaja menjadi lebih penting (untuk ditiru) dibandingkan dengan kerja keras dan usaha yang dilakukan artis idolanya itu untuk sampai pada kepopulerannya (Tambunan, dalam http://www.e-psikologi.com/remaja/191101.htm).

Menjadi suatu masalah ketika kecenderungan yang sebenarnya wajar pada remaja ini dilakukan mereka dengan secara berlebihan. Pepatah “lebih besar pasak daripada tiang” dapat terjadi di sini. Terkadang apa yang dituntut oleh remaja di luar kemampuan orang tuanya sebagai sumber dana, sehingga perilaku konsumtif tersebut telah menimbulkan masalah ekonomi pada keluarganya.

Saat ini kita hidup dan berada dalam alam komoditas yang sama sekali tidak memberikan kita pilihan lain selain mengkonsumsi dan mengkonsumsi, serta terus mengkonsumsi semua produk-produk pasar yang dikendalikan oleh sifat keserakahan akan properti dalam atmosfer kompetisi. Kita hidup di jaman modern, sebenarnya yang membuat jaman kita secara fundamental berbeda dari masyarakat yang pernah ada sebelumnya? Jawabnya adalah “konsumerisme”, atau lebih spesifik lagi biasa disebut dengan “komodifikasi”. Dalam masyarakat kita sekarang segala sesuatunya dibuat menjadi komoditas; barang atau jasa dapat diperjual-belikan dipasar. Tentu saja uang dan pasar telah ada sejak ribuan tahun, tapi mereka hanyalah bagian kecil dalam ehidupan masyarakat. Baru pada abad inilah ekonomi pasar menjadi gaya hidup yang dominan; dalam artian telah menguasai aspek kehidupan manusia (http://www.freewebs.com/kolektifbunga/konsumerisme.htm).

Permasalahan ini menjadi penting, karena remaja merupakan asset untuk kelangsungan masa depan bangsa. Untuk mengetahui bagaimana persepsi mereka mengenai konsumersime ini, kita akan mengetahui sampai sejauhmana konsumersime ini menggejala di tengah mereka, sehingga kita bisa mengambil sikap-sikap yang dapat mengantisipasinya lebih lanjut.

Perilaku Konsumerisme
Why_not Saat ini kita hidup dan berada dalam alam komoditas yang sama sekali tidak memberikan kita pilihan lain selain mengkonsumsi dan mengkonsumsi, serta terus mengkonsumsi semua produk-produk pasar yang dikendalikan oleh sifat keserakahan akan properti dalam atmosfer kompetisi. Kita hidup di jaman modern, sebenarnya yang membuat jaman kita secara fundamental berbeda dari masyarakat yang pernah ada sebelumnya? Jawabnya adalah “konsumerisme”, atau lebih spesifik lagi biasa disebut dengan “komodifikasi”. Dalam masyarakat kita sekarang segala sesuatunya dibuat menjadi komoditas; barang atau jasa dapat diperjual-belikan dipasar. Tentu saja uang dan pasar telah ada sejak ribuan tahun, tapi mereka hanyalah bagian kecil dalam ehidupan masyarakat. Baru pada abad inilah ekonomi pasar menjadi gaya hidup yang dominan; dalam artian telah menguasai aspek kehidupan manusia.
Tidak ada lagi hubungan yang jelas antara barang produksi dengan kegunaannya. Penimbunan fungsi akibat tinggi-rendahnya nilai kejeniusan artistik semu-lah yang membuat sifat konsumerisme manusia tidak mudah dihilangkan. Nilai kegunaan sebuah produk sudah tidak menjadi nilai dominan lagi dalam kehidupan manusia jaman sekarang, yang ada dibenak manusia saat ini hanyalah pencarian identitas diri dengan pengakuan yang dibuat-buatnya sendiri dengan senantiasa mengkonsumsi produk terbaru dari jaman ke jaman, seperti contoh: seseorang yang membeli barang yang lebih baru dan lebih bagus dari barang yang sama yang telah ia miliki sebelumnya, seperti: pakaian, sepatu, atau properti hidup lainnya.

Sifat konsumerisime semacam ini akan menimbun nilai fungsi atau kegunaan terhadap suatu barang yang telah ada dan ia miliki sebelumnya. Sifat seperti contoh diatas melukiskan tentang seseorang yang ingin mendapat identitas atau penghargaan yang dibuat-buat sendiri oleh dirinya, dengan membeli barang yang lebih baru dari yang pernah ada sebelumnya mempunyai harapan untuk adanya orang lain disekitarnya menilai atau memujinya dengan sepatah kalimat kagum: “baju kamu bagus”. Penghargaan semacam itu sangatlah tidak berguna sama sekali dan membuang-buang waktu untuk mengenakannya atau memamerkan agar banyak kalayak/orang melihat dan mengaguminya (http://www.freewebs.com/kolektifbunga/konsumerisme.htm).

Iklan merupakan budaya bentukkan kapitalis yang paling sering melakukan tindakan sexist. Tujuan utamanya adalah untuk menjual produk, karenanya para pembuat iklan menggunakan 1001 macam metode persuasif agar terciptanya kegunaan-kegunaan semu bagi produk-produk busuk mereka tersebut. Iklan selalu berusaha meyakinkan kita, bahwa kita membutuhkan sesuatu untuk menyempurnakan hidup kita, mendorong kita dan merayu kita agar kita jatuh hanyut dalam buaian belaian kepuasan semu dengan mongkonsumsi barang-barang yang mereka produksi.

Dunia periklanan adalah salah satu aspek yang tak terhindarkan dari keglamouran dunia media. Sebuah dunia yang hanya memiliki tujuan tunggal yakni mempertahankan sistem yang ada. Sistem ini adalah sebuah sistem opresif yang dikuasai oleh kaum elit-kelas dominan yang memecah-belah kita, membeda-bedakan kita lewat kategori-kategori seperti: gender, ras, agama atau kepercayaan. Mereka menghegemoni masyarakat dengan propaganda yang disebarluaskan melalui kebudayaan, media dan iklan, agar kita tidak lagi memiliki kebebasan sebagai individu. Kamu tidak punya apa-apa kecuali kamu melakukan hal-hal yang seharusnya kamu lakukan. Kamu sendirian, tidaka akan ada yang menerimamu, kamu butuh seseorang, kamu butuh sesuatu.
Tidak ada yang tersedia di dalam kebudayaan konsumerisme kecuali untuk membelinya, hal ini juga berlaku dalam bersosialisasi. Iklan dan sistem menjalin hubungan mutualisme yang sangat romantis. Dunia periklanan dan juga sistem yang melahirkannya merupakan anjing-anjing penjaga faham sexisme. Tidak terhitung jumlah iklan yang menempatkan wanita sebagai makhluk yang berpuas diri jika ia bisa tampil menarik aau semakin disayang suami karena menjadi perawat rumah tangga yang baik. Para wanita dalam iklan-iklan peralatan dapur, perawatan bayi, pemutih kulit atau jamu perapet vagina digambarkan sebagai orang-orang yang terobsesi dengan peran domestik mereka. Mereka begitu gembira saat deterjen mampu menghilangkan noda-noda dari kerah kemeja suaminya ataupun saat sebuah shampo membuat ketombenya tidak ketahuan sang pacar. Iklan-iklan tersebut mengatakan bahwa membeli produk sama dengan membeli kesuksesan, menciptakan metafor bagi arti “kesuksesan” dalam kehidupan seorang wanita dimana kesuksesan diukur menurut kemampuan seorang wanita dalam memuaskan serta melayani kaum pria (http://www.freewebs.com/kolektifbunga/konsumerisme.htm).

Kebutuhan kita telah dikontaminasikan dengan kebutuhan-kebutuhan artifisial, yaitu kebutuhan yang sebenarnya tidak kita butuhkan, sementara kebutuhan kita yang otentik justru tak terpenuhi. Para konsumen pada kenyataannya telah dikonsumsi oleh pasar, suatu barang menjadi kebutuhan semata-mata karena ia ingin menjaga simbol status, yang berkat industrialisasi sistem komoditas telah menjadi wajib atau keharusan bagi semua orang. Dunia yang gila konsumsi merupakan sebuah dunia yang spektakuler, dimana semua orang hidup terpisah dalam keterasingan dan ke-non-partisipasian mereka. Iklan dari berbagai media merupakan salah satu dari sekian banyak penyaluran tawaran produk melalui media, baik media elektronik maupun media cetak yang tengah berkembangan dewasa ini.

Penutup
Belanja, adalah kata yang sering digunakan sehari-hari dalam konteks perekonomian, baik di dunia usaha maupun di dalam rumah tangga. Namun kata yang sama telah berkembang artinya sebagai suatu cerminan gaya hidup dan rekreasi pada masyarakat kelas ekonomi tertentu. Belanja juga punya arti tersendiri bagi remaja.

Remaja adalah sebuah kelompok umur yang mempunyai dinamika yang unik. Dalam masa remaja, seseorang akan belajar untuk mengenal dirinya sendiri serta mengalami proses sosialisasi dengan lingkungan sosialnya. Tidak jarang, masa hidup remaja merupakan suatu masa yang krusial, karena merupakan masa pembentukan seseorang saat ia dewasa nanti. Jadi, jika pada masa remaja ia tidak mendapatkan sosialisasi berbagai kebiasaan dan norma masyarakat, maka pada saat dewasa ia akan cenderung bersikap yang kurang baik.

Usia remaja itu sendiri juga mempunyai kultur tersendiri, yang berbeda dengan kultur orang dewasa. Mereka mempunyai aturan dan norma tersendiri yang berlaku hanya di kalangan mereka. Biasanya, kultur tersebut merupakan perlambang dari pemberontakan mereka atas budaya atas yang menekan mereka.

Banyak juga yang mengatakan usia remaja merupakan usia yang labil, dimana ia sangat mudah terpengaruh oleh berbagai hal di sekitar dirinya, baik itu yang bersifat positif atau negatif.

Bagi produsen, kelompok usia remaja adalah salah satu pasar yang potensial. Alasannya antara lain karena pola konsumsi seseorang terbentuk pada usia remaja. Di samping itu, remaja biasanya mudah terbujuk rayuan iklan, suka ikut-ikutan teman, tidak realistis, dan cenderung boros dalam menggunakan uangnya. Sifat-sifat remaja inilah yang dimanfaatkan oleh sebagian produsen untuk memasuki pasar remaja. Berdasarkan tersebut, memang bisa dikatakan konsumersime telah menggejala didalam kehidupan atau kultur hidup remaja tersebut.

Gaya hidup yang dianut oleh masyarakat pada saat ini cenderung hanya mengikuti trend yang berlaku, sehingga bisa dikatakan gaya hidup yang dianut berdifat homogen dan tidak variatif. Dalam konteks ini tindakan yang dilakukan seorang individu bukanlah murni tindakan objektifnya akan tetapi termotivasi oleh unsur-unsur yang ada di luar individu, sehingga apa yang yang sedang berlaku umum disekitarnya, itulah yang menjadi dasar tindakannya.

Adorno menyebutkan perbedaan diantara ‘esensi’ dan ‘penampilan’ dalam rangka untuk menolak sifat dangkal dari penampilan masyarakat kapitalis moderen. Bagi Adorno penampilan dunia adalah dunia dari imaji atau tampilan dan tidak lain persamaan dari sebuah dunia dari relativisme (http://pratt.edu/~arch543p/help/Adorno.html).

Dengan demikian, kadang perilaku konsumerisme tersebut merupakan suatu hasil dari hegemoni kapitalis itu sendiri, sehingga masyarakat tergiring menjadi suatu masyarakat komoditas, dimana segala sesuatunya dipandang berdasarkan material atau kepemilikan barang.

Pada mulanya belanja adalah sebuah prosesi yang menjadi kebiasaan dalam masyarakat. Ia adalah bagian dari keseharian anggota masyarakat. Akan tetapi, pada saat ini akumulasi kapital mengalami kemandekan, sehingga para kapitalis mencoba cara baru agar peredaran barang produksi mereka bisa tetap berlangsung atau malah menghasilkan profit yang lebih baik. Belanja kemudian menjadi gaya hidup.

Umumnya para remaja mengetahui kalau konsumerisme tersebut merupakan suatu perilaku yang berlebihan dan sebaiknya tidak harus dilakukan dalam keseharian mereka, dan umumnya juga tidak menyetujui jika konsumerisme menjadi bagian dari sebuah gaya hidup. Harus diakui kalau memang terkadang sebagian dari mereka suka melakukan belanja dengan berlebihan, akan tetapi umumnya mereka mencoba untuk tidak mengulanginya kembali. Mereka berupaya agar selalu membeli barang-barang yang memang benar-benar mereka butuhkan.

Sementara itu, bagi remaja yang mempunyai kebiasaan belanja berlebih atau terjebak dalam perilaku konsumerisme ini, perilaku mereka sama sekali tidak dirasa mengganggu keseharian mereka. Mungkin karena mereka berasal dari kalangan remaja strata menengah-atas, sehingga mereka mempunyai akses untuk itu. Mereka juga mengatakan, kalau gaya hidup mereka tersebut sudah menjadi keseharian dari diri mereka, sehingga mereka tidak merasa kalau mereka sebenarnya telah melakukan perubahan sosial atas makna belanja itu sendiri.

Didalam pelbagai teori mengenai perubahan-perubahan dalam masyarakat, sering dipersoalkan mengenai perbedaan antara perubahan-perubahan sosial dengan perubahan-perubahan kebudayaan. Kingsley Davis mengatakan bahwa perubahan-perubahan sosial merupakan bagian dari perubahan-perubahan dalam kebudayaan. Sebenarnya dalam kehidupan sehari-hari acap kali tidak mudah untuk menentukan letaknya garis pemisah antara perubahan sosial dan perubahan kebudayaan, karena sukar untuk menentukan garis pemisah antara masyarakat dengan kebudayaan (Sismudjito, 2000: 39-40).

Perubahan nilai akan belanja itu sendiri bisa dikatakan sebagai perubahan sosial, akan tetapi terlalu dini untuk dikatakan sebagai sebuah perubahan kebudayaan, karena memang konsep konsumersime sepertinya telah menggejala di dalam keseharian masyarakat, akan tetapi sifatnya parsial, dalam artian, hanya menyentuh beberapa aspek dalam masyarakat, tidak sampai membentuk suatu kebudayaan baru yang mana harus dipatuhi oleh anggota masyarakat.

Meskipun kita telah tahu banyak tentang kondisi dan proses perubahan, kita belum menemukan adanya penjelasan yang memuaskan menyangkut pertanyaan mengapa perubahan itu muncul. Barangkali jawabannya adalah karena manusia pada dasarnya memiliki sifat bosan. Bisa juga karena perubahan terjadi sebagai sesuatu yang konstan dalam alam semesta ini. Pandangan ini tidak memerlukan jawaban, karena sesuatu yang konstan merupakan hal yang selalu ada.

Menurut Comte, ada tiga faktor yang mempengaruhi tingkat kemajuan manusia, pertama adalah rasa bosan, kedua adalah lamanya umur manusia, dan faktor ketiga yang mempengaruhi tingkat perubahan manusia adalah faktor demografi, yaitu pertumbuhan penduduk secara alamiah (Lauer,1993: 76).

Kadar dan arah perubahan suatu masyarakat banyak dipengaruhi oleh kebutuhan yang dianggap perlu oleh para anggota masyarakat itu. “Kebutuhan” itu bersifat subjektif. Kebutuhan dianggap nyata jika orang merasa bahwa kebutuhan itu memang nyata (Horton, 1992: 221).

Berdasarkan penjelasan diatas dapat diketahui bahwa perubahan akan selalu terjadi dalam dinamika masyarakat, karena akan selalu ada yang menyebabkan mereka (masyarakat) untuk selalu berubah.

Sampai saat ini, konsumersime dalam kehidupan remaja itu sendiri belum begitu menggejala, akan tetapi perilaku ini dapat terus mengakar di dalam gaya hidup sekelompok remaja. Dalam perkembangannya, mereka akan menjadi orang-orang dewasa dengan gaya hidup konsumtif. Gaya hidup konsumerisme ini harus didukung oleh kekuatan finansial yang memadai. Masalah lebih besar terjadi apabila pencapaian tingkat finansial itu dilakukan dengan segala macam cara yang tidak sehat. Mulai dari pola bekerja yang berlebihan sampai menggunakan cara instan seperti korupsi. Pada akhirnya perilaku konsumerisme bukan saja memiliki dampak ekonomi, tapi juga dampak psikologis, sosial bahkan etika.