BASIC INSTINCT: Provocative, Sensual, Wickedly Classic Thriller.

Basic_instinct_001_1

Genre: Drama/Thriller/Erotic
My Grade: 4 out 5
Produksi:
Tristar Pictures (1992)
Sutradara: Paul Verhoeven
Cast: Michael Douglas, Sharon Stone, George Dzundza, Jeanne Tripplehorn

DVD Distributor: Artisan Entertainment (2002)
Durasi: 128" (Unrated)
Format: Widescreen (2.35:1)
DVD Grade: 4 out 5
Special Feature (region 3):
  • "Blonde Poison" - Documentary On the Making of the Film
  • "Cleaning Up Basic Instinct" a Montage Comparing the TV Version to the Theatrical Version
  • Photo Gallery
  • Storyboard Comparisons
  • Theatrical Trailer
  • Cast and Crew Information
  • Production Notes

Basic Instinct, pada zamannya, adalah film yang benar-benar menjadi sebuah sensasi. Bagaimana sebuah over sexually thriller menjadi sebuah cult-classic tidak terlepas dari dari berbagai protes stigmatis yang ditudingkan kaum feminis sampai kaum gay dan lesbian, hingga kontroversi akan adegan-adegan erotis yang terdapat di dalam film ini, yang mana hal  tersebut malah menambah antusiasme orang untuk menyaksikan film ini dan menyebabkan film ini menjadi salah satu thriller yang mampu menjadi mesin pengeruk uang.

Catherine Tramell (Sharon Stone) dituduh melakukan pembunuhan terhadap pacarnya, seorang pengusaha dan mantan rocker. Ia menjadi tertuduh karena kematian sang korban mirip dengan cerita yang terdapat dalam novel Catherine. Penyelidikan terhadap kasus ini dilakukan oleh Det. Nick Curran (Michael Douglas). Aura sensualitas Catherine ternyata terlalu kuat untuk dinafikan oleh Nick, sehingga ia bagai terjaring dalam sarang laba-laba yang dijalin oleh Catherine yang misterius. Berbagai kejutan dialami oleh Nick, hingga ia harus bisa memakai akal sehatnya untuk dapat menuntaskan kasus ini.

Basic Instinct secara keseluruhan adalah sebuah thriller bergaya Hitchcockian yang berhasil dalam menyampaikan esensinya. Basic Instinct jelas-jelas sangat mengandalkan adegan-adegan panas karena erotisme dan sensualitas adalah kemasan dari film ini. Basic Instinct seakan-akan memprovokasi penonton untuk kembali ke insting dasar manusia, yaitu nafsu. Begitu berkuasanya nafsu, sehingga dapat mencelakakan seseorang. Namun demikian, tidak lantas Basic Instinct berleha-leha hanya pada sensualitas atau erotisme murahan semata. Adegan-adegannya berjalan dengan rapi dan ciamik. Thriller yang dibangun dari awal pun tetap terjaga hingga klimaks. Ini menjadikan Basic Instinct sebuah thriller yang efektif, baik untuk membangun rasa penasaran penontonnya, maupun sebagai jalinan cerita yang solid.

Kelemahan Basic Instinct mungkin adalah pada elaborasi beberapa adegan yang sedikit berlebihan (terutama sex scenes) dan repetitif dari film lain, juga penampilan beberapa karakter yang cukup streotipikal. Namun, terlepas dari itu, Basic Instinct justru menampilkan salah satu karakter yang terkuat dalam sejarah film, yaitu Catherine Trimell yang mampu mengisi film ini dengan aura sensualitas dan misteriusnya yang kental. Selain itu, untuk menjadi film yang ‘berhasil’, sebuah film juga harus mempunyai banyak adegan yang memorable dan kemudian menjadi klasik. Basic Instinct mempunyai beberapa. Diantaranya yang paling terkenal adalah adegan interogasi di kantor polisi (Phew!) dan tidak lupa pula adegan pembunuhan dengan menggunakan ice pick, yang membuat Basic Instinct menjadi sangat memorable, sebanding dengan adegan pembunuhan di shower pada film Psycho-nya Alfred Hitchcock.

Sebenarnya kredit yang diberikan terhadap Basic Instinct tidak hanya tergantung kepada adegan-adegan erotisnya, namun Basic Instinct secara keseluruhan adalah sebuah thriller bergaya Hitchcockian yang berhasil dalam menyampaikan esensinya. Dan film ini bisa bekerja dengan baik berkat pengarahan yang brilian dari Paul Verhoeven (Total Recall, RoboCop) dan skrip yang jenial oleh Joe Ezsterhas (Sliver). Yang patut dicatat juga adalah penanganan kamera yang istimewa oleh Jan de Bont (Speed) dan hauntingly score yang komposisikan oleh Jerry Goldsmith (Kingdom of Heaven).

Basic Instinct didukung pula oleh aktor yang sangat kredibel pula dalam reputasinya, Michael Douglas. Siapa yang meragukan talenta dan kualitas akting bintang senior ini? Namun, tidak bisa dibantah bahwa jiwa dari film ini adalah Sharon Stone yang tampil dengan gemilang sebagai si penulis yang misterius dan sensual, Catherine Tramell. Berkat film ini karirnyanya pun melonjak menjadi bintang kelas A. Stone membuktikan bahwa ia tidak hanya bermodalkan tubuh molek dan keberanian untuk buka-bukaan saja, namun juga memiliki kemampuan akting yang prima. Hal ini terbukti dengan diganjarnya ia dengan nominasi Golden Globe untuk film ini dan Oscar untuk film Casino karya Martin Scorsese beberapa tahun kemudian.

Jika anda mengira Basic Instinct versi R-ratednya sudah cukup panas, maka Anda harus menonton versi Unratednya, karena versi ini lebih punya banyak violence and sex. Penambahan adegan sex scene-nya jauh lebih panas dan relatif lebih baik dibandingkan versi R-ratednya, walaupun, pada hasil akhirnya, tujuannya tetap saja sama. Untunglah sekarang sudah tersedia DVD versi Unrated, yang selain menampilkan versi extended dari filmnya, namun juga menampilkan feature-feature yang tak kalah menarik, terutama  Blonde Poison - sebuah film dokumetar tentang proses pembuatan film ini serta kontroversi yang mengikutinya.

DVD ini cukup pantas untuk dikoleksi, walaupun tidak terdapat feature director’s comentary, seperti Region 1-nya, namun sudah cukup memuaskan. However, terlepas dari kekurangannya, saya sangat merekomendaikan film yang terlahir untuk menjadi klasik ini, baik bagi Anda yang menggemari film thriller, erotis maupun film klasik.

Quotes:
Nick: "What did Manny Vasquez call you?"
Catherine: "Bitch mostly, but he meant it affectionately."


John Correli: "Were you ever engaged in any sadomasochistic activity?"
Catherine: "Exactly what did you have in mind, Mr. Correli? "


Leave a Reply