DANNY THE DOG: Beauty of the Beast
Produksi: Rogue Pictures (2005)
Sutradara: Louis Leterrier
Cast: Jet Li, Morgan Freeman, Bob Hopkins, Kerry Condon
Tidak ada yang meragukan Luc Besson sebagai seorang kreator di bidang film. Rata-rata film yang dihasilkannya, baik sebagai sutradara, produser atau penulis cerita, menjanjikan sebagai produk yang berbeda dan menarik. La Femme Nikita, Leon, The Fifth Element atau Crimson Rivers adalah buktinya. Kali ini, untuk kesempatan kedua, setelah Kiss of the Dragon, ia bekerjasama kembali dengan Jet Li. Secara pribadi, bagi saya Kiss of the Dragon adalah film berbahasa Inggris terbaik dari Jet Li, namun saya salah, karena justru film ini adalah film terbaiknya.
Dari segi cerita, Kiss of the Dragon cenderung biasa-biasa saja, tapi pengaruh Besso yang kentalah yang membuat film itu menjadi menarik, terutama untuk adegan aksi yang sedikit sadis dan realistik. Gaya pertarungan tersebut dibawa kembali oleh Besson sebagai penulis cerita di featurenya kali ini, Danny the Dog a.k.a. Unleashed (untuk versi Amerikanya), hanya saja kali ini dibarengi dengan cerita yang lebih subtil dan memikat.
Danny (Jet Li) dibesarkan seperti binatang oleh Bart (Bob Hopkins) seorang debt collector yang kejam. Danny berguna sebagai alat saat situasi mulai tak terkendali di lapangan. Bart sepertinya berhasil menjadikan Danny sebagai ‘anjingnya’ karena kepatuhan yang luar biasa ditunjukkan oleh Danny. Sebagaimana layaknya anjing, maka Danny memakai kalung, yang jika dilepas akan merubahnya dari sosok yang sangat tenang menjadi sangat buas. Semuanya berubah, disaat tanpa sengaja Danny berkenalan dengan seorang pengetem piano buta, Sam (Morgan Freeman). Ketertarikan Danny pada piano menunjukkan bahwa sebenarnya ia masih seorang manusia biasa. Sebuah peristiwa menyebabkan ia melarikan diri dari Sam dan memutuskan untuk tinggal bersama dengan Sam dan putri tirinya Victoria (Kerry Condon). Lama kelamaan sifat buas Danny mulai berubah dan mulai menjalani hidup secara lebih manusiawi dan beradab. Karakternya pun mulai berubah untuk menjadi manusia seutuhnya. Sayangnya, Bart tidak dengan begitu saja rela melepas Danny!
Danny the Dog masih menampilkan kekerasan, tapi kekerasan bukan inti dari film ini. Ada beberapa adegan aksi, yang digarap oleh Yuen Woo-Ping (The Matrix, Kill Bill, Crouching Tiger Hidden Dragon, Kungfu Hustle), dan pasti memuaskan para penggemar Jet Li. Namun, menu utamanya adalah drama humanis yang menyentuh tentang bagaimana seseorang yang telah terputuskan dari dunia luar mengalami proses dehumanisasi dan menjadi manusia yang lebih baik.
Film dengan tema seperti ini bisa menjadi bahan lelucon jika tidak digarap dengan baik dan kemampuan akting yang prima dari para pemainnya. Jet Li dan Bob Hopkins bermain sangat baik sekali dan sangat meyakinkan. Bagi saya, inilah film pertama bagi Jet Li dimana ia benar-benar berakting sebagai aktor semestinya, bukan hanya mengandalkan kehalian kungfu seperti biasanya. Menjadi sangat naif disaat pasif dan garang disaat aktif. Bahkan pada saat proses dehumanisasinya, ia bermain dengan sangat mengesankan, sehingga kita pun bisa berempati terhadap karakter yang dimainkannya. Sementara, bermain sebagai seorang preman tentu sudah tidak asing lagi bagi Bob Hopkins, sehingga kualitas atingnya tidak usah diragukan lagi. Sementara Morgan Freeman sendiri cenderung bermain tipikal, yang biasa kita lihat difilm-filmnya. Terlepas dari itu, sebagai buatan manusia, tentu saja ada lubang didalam ceritanya, namun dengan penggarapan yang solid, hal tersebut seperti dapat dinafikan.
Ambiguitas yang ditawarkan Besson dalam skripnya, cukup baik diterjemahkan oleh Louis Leterrier sebagai sutradara. Dengan mengandalkan warna-warna sephia sebagai tone filmnya, Danny the Dog menjadi sangat keras disaat adegan laga dan subtil di bagian drama. Terus terang, jika kita ingin menonton sebuah film yang full-aksi, Danny the Dog jelas bukan pilihan utama. Tapi jika berniat untuk menonton film aksi dengan cerita yang kuat dan karakterisasi (yang mana sangat jarang sekali akhir-akhir ini), maka Danny the Dog adalah solusinya.
More Poster
