Konsumersime Dan Gaya Hidup Remaja
Latar Belakang
Bagi produsen, kelompok usia remaja adalah salah satu pasar yang potensial. Alasannya antara lain karena pola konsumsi seseorang terbentuk pada usia remaja. Di samping itu, remaja biasanya mudah terbujuk rayuan iklan, suka ikut-ikutan teman, tidak realistis, dan cenderung boros dalam menggunakan uangnya. Sifat-sifat remaja inilah yang dimanfaatkan oleh sebagian produsen untuk memasuki pasar remaja. Di kalangan remaja rasa ingin menunjukkan bahwa mereka juga dapat mengikuti mode yang sedang beredar sangatlah besar, padahal mode itu sendiri selalu berubah sehingga para remaja tidak pernah puas dengan apa yang dimilikinya, sehingga muncullah perilaku yang konsumtif tersebut.
Pada mulanya belanja hanya merupakan suatu konsep untuk menunjukkan suatu sikap untuk mendapatkan barang yang menjadi keperluan untuk sehari-harinya dengan jalan menukarkan sejumlah uang sebagai pengganti barang tersebut. Pada saat ini konsep belanja itu sendiri telah berkembang sebagai sebuah cerminan gaya hidup dan rekreasi di kalangan masyarakat. Belanja adalah suatu gaya hidup tersendiri, dimana bahkan telah menjadi suatu kegemaran bagi sejumlah orang.
Belanja menjadi alat pemuas keinginan mereka akan barang-barang yang sebenarnya tidak mereka butuhkan, akan tetapi karena pengaruh trend atau mode yang tengah berlaku, maka mereka merasa akan suatu keharusan untuk membeli barang-barang tersebut. Perilaku berlebihan inilah yang disebut dengan perilaku konsumtif (http://www.freewebs.com/kolektifbunga/konsumerisme.htm).
Ironisnya, gaya hidup yang konsumeristis ini semakin besar tuntutannya, sehingga apa yang sudah ada akan tidak mencukupi. Pola hidup yang konsumtif juga menampakkan kesenjangan yang semakin besar pada masyarakat, sehingga kalangan yang sebenarnya tidak mampu atau tidak memerlukan perilaku konsumtif ini turut mempraktekannya, dan kemudian ia bisa saja melakukan segala upaya dalam memenuhi keinginannya, sehingga bisa menyebabkan terjadinya hal-hal yang devian (Kusmin, dalam Waspada, Kamis, 31 Juli 1997).
Bagi produsen, kelompok usia remaja adalah salah satu pasar yang potensial. Alasannya antara lain karena pola konsumsi seseorang terbentuk pada usia remaja. Di samping itu, remaja biasanya mudah terbujuk rayuan iklan, suka ikut-ikutan teman, tidak realistis, dan cenderung boros dalam menggunakan uangnya. Sifat-sifat remaja inilah yang dimanfaatkan oleh sebagian produsen untuk memasuki pasar remaja Tambunan, dalam http://www.e-psikologi.com/remaja/191101.htm).
Di kalangan remaja yang memiliki orang tua dengan kelas ekonomi yang cukup berada, terutama di kota-kota besar, mall sudah menjadi rumah kedua. Mereka ingin menunjukkan bahwa mereka juga dapat mengikuti mode yang sedang beredar. Padahal mode itu sendiri selalu berubah sehingga para remaja tidak pernah puas dengan apa yang dimilikinya. Alhasil, muncullah perilaku yang konsumtif.
Remaja adalah suatu fase dalam kehidupan manusia, dimana ia tengah mencari jatidirnya, dan biasanya dalam upaya pencarian jatidiri tersebut, ia mudah untuk terikut atau terimbas hal-hal yang tengah terjadi disekitarnya, sehingga turut membentuk sikap dan pribadi mereka.
Bagi tipe sosial kultural masyarakat Indonesia, penyesuaian pribadi dan sosial remaja banyak yang ditekankan dalam lingkup kelompok teman sebaya. Alasan pokoknya adalah bahwa kelompok teman sebaya merupakan lingkungan sosial pertama, dimana remaja belajar untuk hidup bersama orang lain yang bukan anggota keluarganya. Lingkungan teman ini merupakan suatu kelompok yang memiliki ciri, norma dan kebiasaan yang jauh berbeda dengan apa yang ada dalam lingkungan keluarga remaja. Dalam hal ini remaja dituntut memiliki kemampuan setelah itu baru menyesuaikan diri dan akhirnya dapat dijadikan dasar dalam hubungan sosial yang lebih luas (Mappiare, 1982 : 157).
Dalam pergaulannya, remaja biasanya mempunyai trend tersendiri yang dapat dilihat dalam perwujudan sikap mereka. Perwujudan sikap yang mencolok ini biasanya terjadi di masyarakat perkotaan, yang disebabkan karena kehidupan kota yang semakin kompleks dan penuh dengan dinamika.
Bagi produsen, kelompok usia remaja adalah salah satu pasar yang potensial. Alasannya antara lain karena pola konsumsi seseorang terbentuk pada usia remaja. Di samping itu, remaja biasanya mudah terbujuk rayuan iklan, suka ikut-ikutan teman, tidak realistis, dan cenderung boros dalam menggunakan uangnya. Sifat-sifat remaja inilah yang dimanfaatkan oleh sebagian produsen untuk memasuki pasar remaja.
Perilaku konsumtif pada remaja sebenarnya dapat dimengerti bila melihat usia remaja sebaga usia peralihan dalam mencari identitas diri. Remaja ingin diakui eksistensinya oleh lingkungan dengan berusaha menjadi bagian dari lingkungan itu. Kebutuhan untuk diterima dan menjadi sama dengan orang lain yang sebaya itu menyebabkan remaja berusaha untuk mengikuti berbagai atribut yang sedang in. Remaja dalam perkembangan kognitif dan emosinya masih memandang bahwa atribut yang superfisial itu sama penting (bahkan lebih penting) dengan substansi. Apa yang dikenakan oleh seorang artis yang menjadi idola para remaja menjadi lebih penting (untuk ditiru) dibandingkan dengan kerja keras dan usaha yang dilakukan artis idolanya itu untuk sampai pada kepopulerannya (Tambunan, dalam http://www.e-psikologi.com/remaja/191101.htm).
Menjadi suatu masalah ketika kecenderungan yang sebenarnya wajar pada remaja ini dilakukan mereka dengan secara berlebihan. Pepatah “lebih besar pasak daripada tiang” dapat terjadi di sini. Terkadang apa yang dituntut oleh remaja di luar kemampuan orang tuanya sebagai sumber dana, sehingga perilaku konsumtif tersebut telah menimbulkan masalah ekonomi pada keluarganya.
Saat ini kita hidup dan berada dalam alam komoditas yang sama sekali tidak memberikan kita pilihan lain selain mengkonsumsi dan mengkonsumsi, serta terus mengkonsumsi semua produk-produk pasar yang dikendalikan oleh sifat keserakahan akan properti dalam atmosfer kompetisi. Kita hidup di jaman modern, sebenarnya yang membuat jaman kita secara fundamental berbeda dari masyarakat yang pernah ada sebelumnya? Jawabnya adalah “konsumerisme”, atau lebih spesifik lagi biasa disebut dengan “komodifikasi”. Dalam masyarakat kita sekarang segala sesuatunya dibuat menjadi komoditas; barang atau jasa dapat diperjual-belikan dipasar. Tentu saja uang dan pasar telah ada sejak ribuan tahun, tapi mereka hanyalah bagian kecil dalam ehidupan masyarakat. Baru pada abad inilah ekonomi pasar menjadi gaya hidup yang dominan; dalam artian telah menguasai aspek kehidupan manusia (http://www.freewebs.com/kolektifbunga/konsumerisme.htm).
Permasalahan ini menjadi penting, karena remaja merupakan asset untuk kelangsungan masa depan bangsa. Untuk mengetahui bagaimana persepsi mereka mengenai konsumersime ini, kita akan mengetahui sampai sejauhmana konsumersime ini menggejala di tengah mereka, sehingga kita bisa mengambil sikap-sikap yang dapat mengantisipasinya lebih lanjut.
Perilaku Konsumerisme
Saat ini kita hidup dan berada dalam alam komoditas yang sama sekali tidak memberikan kita pilihan lain selain mengkonsumsi dan mengkonsumsi, serta terus mengkonsumsi semua produk-produk pasar yang dikendalikan oleh sifat keserakahan akan properti dalam atmosfer kompetisi. Kita hidup di jaman modern, sebenarnya yang membuat jaman kita secara fundamental berbeda dari masyarakat yang pernah ada sebelumnya? Jawabnya adalah “konsumerisme”, atau lebih spesifik lagi biasa disebut dengan “komodifikasi”. Dalam masyarakat kita sekarang segala sesuatunya dibuat menjadi komoditas; barang atau jasa dapat diperjual-belikan dipasar. Tentu saja uang dan pasar telah ada sejak ribuan tahun, tapi mereka hanyalah bagian kecil dalam ehidupan masyarakat. Baru pada abad inilah ekonomi pasar menjadi gaya hidup yang dominan; dalam artian telah menguasai aspek kehidupan manusia.
Tidak ada lagi hubungan yang jelas antara barang produksi dengan kegunaannya. Penimbunan fungsi akibat tinggi-rendahnya nilai kejeniusan artistik semu-lah yang membuat sifat konsumerisme manusia tidak mudah dihilangkan. Nilai kegunaan sebuah produk sudah tidak menjadi nilai dominan lagi dalam kehidupan manusia jaman sekarang, yang ada dibenak manusia saat ini hanyalah pencarian identitas diri dengan pengakuan yang dibuat-buatnya sendiri dengan senantiasa mengkonsumsi produk terbaru dari jaman ke jaman, seperti contoh: seseorang yang membeli barang yang lebih baru dan lebih bagus dari barang yang sama yang telah ia miliki sebelumnya, seperti: pakaian, sepatu, atau properti hidup lainnya.
Sifat konsumerisime semacam ini akan menimbun nilai fungsi atau kegunaan terhadap suatu barang yang telah ada dan ia miliki sebelumnya. Sifat seperti contoh diatas melukiskan tentang seseorang yang ingin mendapat identitas atau penghargaan yang dibuat-buat sendiri oleh dirinya, dengan membeli barang yang lebih baru dari yang pernah ada sebelumnya mempunyai harapan untuk adanya orang lain disekitarnya menilai atau memujinya dengan sepatah kalimat kagum: “baju kamu bagus”. Penghargaan semacam itu sangatlah tidak berguna sama sekali dan membuang-buang waktu untuk mengenakannya atau memamerkan agar banyak kalayak/orang melihat dan mengaguminya (http://www.freewebs.com/kolektifbunga/konsumerisme.htm).
Iklan merupakan budaya bentukkan kapitalis yang paling sering melakukan tindakan sexist. Tujuan utamanya adalah untuk menjual produk, karenanya para pembuat iklan menggunakan 1001 macam metode persuasif agar terciptanya kegunaan-kegunaan semu bagi produk-produk busuk mereka tersebut. Iklan selalu berusaha meyakinkan kita, bahwa kita membutuhkan sesuatu untuk menyempurnakan hidup kita, mendorong kita dan merayu kita agar kita jatuh hanyut dalam buaian belaian kepuasan semu dengan mongkonsumsi barang-barang yang mereka produksi.
Dunia periklanan adalah salah satu aspek yang tak terhindarkan dari keglamouran dunia media. Sebuah dunia yang hanya memiliki tujuan tunggal yakni mempertahankan sistem yang ada. Sistem ini adalah sebuah sistem opresif yang dikuasai oleh kaum elit-kelas dominan yang memecah-belah kita, membeda-bedakan kita lewat kategori-kategori seperti: gender, ras, agama atau kepercayaan. Mereka menghegemoni masyarakat dengan propaganda yang disebarluaskan melalui kebudayaan, media dan iklan, agar kita tidak lagi memiliki kebebasan sebagai individu. Kamu tidak punya apa-apa kecuali kamu melakukan hal-hal yang seharusnya kamu lakukan. Kamu sendirian, tidaka akan ada yang menerimamu, kamu butuh seseorang, kamu butuh sesuatu.
Tidak ada yang tersedia di dalam kebudayaan konsumerisme kecuali untuk membelinya, hal ini juga berlaku dalam bersosialisasi. Iklan dan sistem menjalin hubungan mutualisme yang sangat romantis. Dunia periklanan dan juga sistem yang melahirkannya merupakan anjing-anjing penjaga faham sexisme. Tidak terhitung jumlah iklan yang menempatkan wanita sebagai makhluk yang berpuas diri jika ia bisa tampil menarik aau semakin disayang suami karena menjadi perawat rumah tangga yang baik. Para wanita dalam iklan-iklan peralatan dapur, perawatan bayi, pemutih kulit atau jamu perapet vagina digambarkan sebagai orang-orang yang terobsesi dengan peran domestik mereka. Mereka begitu gembira saat deterjen mampu menghilangkan noda-noda dari kerah kemeja suaminya ataupun saat sebuah shampo membuat ketombenya tidak ketahuan sang pacar. Iklan-iklan tersebut mengatakan bahwa membeli produk sama dengan membeli kesuksesan, menciptakan metafor bagi arti “kesuksesan” dalam kehidupan seorang wanita dimana kesuksesan diukur menurut kemampuan seorang wanita dalam memuaskan serta melayani kaum pria (http://www.freewebs.com/kolektifbunga/konsumerisme.htm).
Kebutuhan kita telah dikontaminasikan dengan kebutuhan-kebutuhan artifisial, yaitu kebutuhan yang sebenarnya tidak kita butuhkan, sementara kebutuhan kita yang otentik justru tak terpenuhi. Para konsumen pada kenyataannya telah dikonsumsi oleh pasar, suatu barang menjadi kebutuhan semata-mata karena ia ingin menjaga simbol status, yang berkat industrialisasi sistem komoditas telah menjadi wajib atau keharusan bagi semua orang. Dunia yang gila konsumsi merupakan sebuah dunia yang spektakuler, dimana semua orang hidup terpisah dalam keterasingan dan ke-non-partisipasian mereka. Iklan dari berbagai media merupakan salah satu dari sekian banyak penyaluran tawaran produk melalui media, baik media elektronik maupun media cetak yang tengah berkembangan dewasa ini.
Penutup
Belanja, adalah kata yang sering digunakan sehari-hari dalam konteks perekonomian, baik di dunia usaha maupun di dalam rumah tangga. Namun kata yang sama telah berkembang artinya sebagai suatu cerminan gaya hidup dan rekreasi pada masyarakat kelas ekonomi tertentu. Belanja juga punya arti tersendiri bagi remaja.
Remaja adalah sebuah kelompok umur yang mempunyai dinamika yang unik. Dalam masa remaja, seseorang akan belajar untuk mengenal dirinya sendiri serta mengalami proses sosialisasi dengan lingkungan sosialnya. Tidak jarang, masa hidup remaja merupakan suatu masa yang krusial, karena merupakan masa pembentukan seseorang saat ia dewasa nanti. Jadi, jika pada masa remaja ia tidak mendapatkan sosialisasi berbagai kebiasaan dan norma masyarakat, maka pada saat dewasa ia akan cenderung bersikap yang kurang baik.
Usia remaja itu sendiri juga mempunyai kultur tersendiri, yang berbeda dengan kultur orang dewasa. Mereka mempunyai aturan dan norma tersendiri yang berlaku hanya di kalangan mereka. Biasanya, kultur tersebut merupakan perlambang dari pemberontakan mereka atas budaya atas yang menekan mereka.
Banyak juga yang mengatakan usia remaja merupakan usia yang labil, dimana ia sangat mudah terpengaruh oleh berbagai hal di sekitar dirinya, baik itu yang bersifat positif atau negatif.
Bagi produsen, kelompok usia remaja adalah salah satu pasar yang potensial. Alasannya antara lain karena pola konsumsi seseorang terbentuk pada usia remaja. Di samping itu, remaja biasanya mudah terbujuk rayuan iklan, suka ikut-ikutan teman, tidak realistis, dan cenderung boros dalam menggunakan uangnya. Sifat-sifat remaja inilah yang dimanfaatkan oleh sebagian produsen untuk memasuki pasar remaja. Berdasarkan tersebut, memang bisa dikatakan konsumersime telah menggejala didalam kehidupan atau kultur hidup remaja tersebut.
Gaya hidup yang dianut oleh masyarakat pada saat ini cenderung hanya mengikuti trend yang berlaku, sehingga bisa dikatakan gaya hidup yang dianut berdifat homogen dan tidak variatif. Dalam konteks ini tindakan yang dilakukan seorang individu bukanlah murni tindakan objektifnya akan tetapi termotivasi oleh unsur-unsur yang ada di luar individu, sehingga apa yang yang sedang berlaku umum disekitarnya, itulah yang menjadi dasar tindakannya.
Adorno menyebutkan perbedaan diantara ‘esensi’ dan ‘penampilan’ dalam rangka untuk menolak sifat dangkal dari penampilan masyarakat kapitalis moderen. Bagi Adorno penampilan dunia adalah dunia dari imaji atau tampilan dan tidak lain persamaan dari sebuah dunia dari relativisme (http://pratt.edu/~arch543p/help/Adorno.html).
Dengan demikian, kadang perilaku konsumerisme tersebut merupakan suatu hasil dari hegemoni kapitalis itu sendiri, sehingga masyarakat tergiring menjadi suatu masyarakat komoditas, dimana segala sesuatunya dipandang berdasarkan material atau kepemilikan barang.
Pada mulanya belanja adalah sebuah prosesi yang menjadi kebiasaan dalam masyarakat. Ia adalah bagian dari keseharian anggota masyarakat. Akan tetapi, pada saat ini akumulasi kapital mengalami kemandekan, sehingga para kapitalis mencoba cara baru agar peredaran barang produksi mereka bisa tetap berlangsung atau malah menghasilkan profit yang lebih baik. Belanja kemudian menjadi gaya hidup.
Umumnya para remaja mengetahui kalau konsumerisme tersebut merupakan suatu perilaku yang berlebihan dan sebaiknya tidak harus dilakukan dalam keseharian mereka, dan umumnya juga tidak menyetujui jika konsumerisme menjadi bagian dari sebuah gaya hidup. Harus diakui kalau memang terkadang sebagian dari mereka suka melakukan belanja dengan berlebihan, akan tetapi umumnya mereka mencoba untuk tidak mengulanginya kembali. Mereka berupaya agar selalu membeli barang-barang yang memang benar-benar mereka butuhkan.
Sementara itu, bagi remaja yang mempunyai kebiasaan belanja berlebih atau terjebak dalam perilaku konsumerisme ini, perilaku mereka sama sekali tidak dirasa mengganggu keseharian mereka. Mungkin karena mereka berasal dari kalangan remaja strata menengah-atas, sehingga mereka mempunyai akses untuk itu. Mereka juga mengatakan, kalau gaya hidup mereka tersebut sudah menjadi keseharian dari diri mereka, sehingga mereka tidak merasa kalau mereka sebenarnya telah melakukan perubahan sosial atas makna belanja itu sendiri.
Didalam pelbagai teori mengenai perubahan-perubahan dalam masyarakat, sering dipersoalkan mengenai perbedaan antara perubahan-perubahan sosial dengan perubahan-perubahan kebudayaan. Kingsley Davis mengatakan bahwa perubahan-perubahan sosial merupakan bagian dari perubahan-perubahan dalam kebudayaan. Sebenarnya dalam kehidupan sehari-hari acap kali tidak mudah untuk menentukan letaknya garis pemisah antara perubahan sosial dan perubahan kebudayaan, karena sukar untuk menentukan garis pemisah antara masyarakat dengan kebudayaan (Sismudjito, 2000: 39-40).
Perubahan nilai akan belanja itu sendiri bisa dikatakan sebagai perubahan sosial, akan tetapi terlalu dini untuk dikatakan sebagai sebuah perubahan kebudayaan, karena memang konsep konsumersime sepertinya telah menggejala di dalam keseharian masyarakat, akan tetapi sifatnya parsial, dalam artian, hanya menyentuh beberapa aspek dalam masyarakat, tidak sampai membentuk suatu kebudayaan baru yang mana harus dipatuhi oleh anggota masyarakat.
Meskipun kita telah tahu banyak tentang kondisi dan proses perubahan, kita belum menemukan adanya penjelasan yang memuaskan menyangkut pertanyaan mengapa perubahan itu muncul. Barangkali jawabannya adalah karena manusia pada dasarnya memiliki sifat bosan. Bisa juga karena perubahan terjadi sebagai sesuatu yang konstan dalam alam semesta ini. Pandangan ini tidak memerlukan jawaban, karena sesuatu yang konstan merupakan hal yang selalu ada.
Menurut Comte, ada tiga faktor yang mempengaruhi tingkat kemajuan manusia, pertama adalah rasa bosan, kedua adalah lamanya umur manusia, dan faktor ketiga yang mempengaruhi tingkat perubahan manusia adalah faktor demografi, yaitu pertumbuhan penduduk secara alamiah (Lauer,1993: 76).
Kadar dan arah perubahan suatu masyarakat banyak dipengaruhi oleh kebutuhan yang dianggap perlu oleh para anggota masyarakat itu. “Kebutuhan” itu bersifat subjektif. Kebutuhan dianggap nyata jika orang merasa bahwa kebutuhan itu memang nyata (Horton, 1992: 221).
Berdasarkan penjelasan diatas dapat diketahui bahwa perubahan akan selalu terjadi dalam dinamika masyarakat, karena akan selalu ada yang menyebabkan mereka (masyarakat) untuk selalu berubah.
Sampai saat ini, konsumersime dalam kehidupan remaja itu sendiri belum begitu menggejala, akan tetapi perilaku ini dapat terus mengakar di dalam gaya hidup sekelompok remaja. Dalam perkembangannya, mereka akan menjadi orang-orang dewasa dengan gaya hidup konsumtif. Gaya hidup konsumerisme ini harus didukung oleh kekuatan finansial yang memadai. Masalah lebih besar terjadi apabila pencapaian tingkat finansial itu dilakukan dengan segala macam cara yang tidak sehat. Mulai dari pola bekerja yang berlebihan sampai menggunakan cara instan seperti korupsi. Pada akhirnya perilaku konsumerisme bukan saja memiliki dampak ekonomi, tapi juga dampak psikologis, sosial bahkan etika.

November 8th, 2008 at 5:11 am
Hi there!
My first post at this great blog!
I wanna show u my dayly updated blog: Black Amateur Fuck Video
Have a nice day!
BB!
P.S. if you don’t want to see this message please write me to no.ads08@gmail.com with subject “NO ADS” and URL of your forum
Thank you for cooperation!