OLDBOY : Love, Grudge, Violence


Produksi: Tartan Films (2003)
Sutradara: Park Chan-Wook
Cast: Choi Min-Sik, Yoo Ji-tae, Gang Hye-Jung

Genre: Drama/Thriller/Aksi
Durasi: 120"
My Grade: 4 out 5

OldboyOh Dae-Su (Choi Min-Sik) sama sekali tidak mengerti mengapa ia disekap dalam sebuah kamar tertutup selama 15 tahun. Ia hanya pria biasa-biasa saja, bukan dari kalangan berada, dengan istri dan seorang anak perempuan yang masih kecil. Hanya satu masalahnya, alkohol telah merubahnya menjadi sosok yang nyaris tak berguna. Setelah membuat kekacauan disebuah kantor polisi, kemudian ia menghilang tanpa jejak dengan seketika. Ia sendiri disaat sadar telah berada di sebuah ruangan yang sangat jelas ditujukan agar Dae-Su tidak mempunyai kontak dengan dunia luar. Segala cara dilakukannya agar bisa terlepas dari ruangan tersebut, namun tidak pernah berhasil. Setelah menyadari bahwa ia tidak bisa keluar dari ruangan tersebut, maka ia memutuskan untuk melakukan bunuh diri, yang dilakukannya berkali-kali dan berkali-kali juga tidak berhasil! Akhirnya Dae-Su memilih untuk pasrah, menunggu kapan ia akan dibebaskan dari "penjaranya". Dendamnya semakin berkarat, karena dari televisi yang menjadi satu-satunya alat penunjuk waktunya, diketahui jika istrinya telah dibunuh dengan segala petunjuk mengarah kepada dirinya sebagai sang pembunuh. Waktu terus berjalan dan suatu hari ia kehilangan kesadarannya kembali. Saat siuman, ia telah berada di alam bebas. Dengan berbekal baju bagus, segepok uang di kantungnya dan ponsel, Dae-Su mulai menjalakan rencana balas dendamnya dan tentu saja itu dimulai dengan mencari siapa yang sebenarnya telah menyekapnya itu. Sesaat ponselnya berdering dan ternyata dari penyekapnya yang mengatakan kalau ia adalah seorang ilmuan dan yang tengah ditelitinya adalah Dae-Su. Suatu hal yang sebenarnya sulit untuk dipercayainya.

OLDBOY adalah thriller dengan aura kekerasan yang kental. Banyak adegan-adegan sadis yang mungkin sedikit ekstrim. Tapi itu diperlukan untuk menunjukkan kemarahan Dae-Su, dari seorang laki-laki ’sayur’ yang kemudian bermetamorfosa menjadi seorang petarung tangguh., hasil dari melatih dirinya sendiri selama masa penyekapan. Kekerasan dan aksi dari OLDBOY bukanlah esensi utama dari film ini, karena ia hanya sebuah lapisan untuk lapisan utamanya, cinta! Ini terjadi pada saat pencariannya, Dae-Su bertemu dengan Mido (Gang Hye-Jung), seorang gadis yang bekerja di sebuah restoran, dimana Dae-Su pertama sekali makan setelah keluar dari penyekapan. Mido menunjukkan afeksi yang besar sekali kepada Dae-Su dan ceritanya. Bahkan gadis tersebut bersedia membantu Dae-Su dalam pencariannya. Lika-liku pencarian Dae-Su dan Mido inilah yang kemudian menuju kepada pengungkapan yang sangat mengejutkan dan berujung pada tragedi yang tak dapat dielakkan.

Isu yang diangkat OLDBOY sebenarnya mungkin tidak bisa ditolerir oleh sebagian orang, terutama yang berfikiran konservatif. Akan tetapi, tanpa bermaksud menjadi subversif atau untuk nilai sensasi semata, obskuritas dalam OLDBOY diperlukan untuk memperlihatkan bagaimana cinta dapat mempermainkan manusia. Saat akhirnya, secara vis-à-vis, Dae-Su bertemu dengan penyekapnya, mula-mula ia penuh dengan kemarahan akan tetapi setelah mengetahui kebenarannya, ia harus bersikap sama sekali berbeda.

OLDBOY jelas-jelas adalah film tentang cinta. Hanya saja bukan cerita cinta yang subtil. Ia bermula sebagai thriller dan berakhir dengan drama yang pekat, yang bersandar dengan cerita dan pengadeganan yang kuat. Kadang komikal dan kadang menegangkan. Ini tidak mengherankan, karena OLDBOY sebenarnya diangkat dari manga Jepang yang ditulis oleh Tsuchiya Garon dan Minegishi Nobuaki.

Secara teknis, film yang telah menjadi  Runner-Up di Cannes Film Festival dan pemenang Film Asia Terbaik di Festival Film Hongkong, tentu sudah tidak diragukan. Saat ini perfilman Korea menjadi salah satu pusat perfilman yang kreatif dan dinamis, baik dari segi cerita dan teknis. Tidak heran banyak film-film dari negara ini yang kemudian dilirik oleh Hollywood untuk diremake. OLDBOY adalah salah satunya.

Bagi yang mencari tontonan alternatif yang menghibur sekaligus "berisi", film ini sangat  direkomendasikan.

More Poster

Oldboy2_3


6 Responses to “OLDBOY : Love, Grudge, Violence”

  1. Budi Says:

    Pada waktu Dae-Su pertama kali bertemu dengan Mido, aku sudah bisa menebak siapa Mido itu. Dan ternyata benar… :P
    Mungkin itu salah satu sebab aku nggak begitu ‘click’ dengan film ini.

  2. -ThECHaoS- Says:

    Wah, Budi memang penonton sejati, hehehehe. Aku salut. Aku sendiri kurang ‘ngeh kalau Mido itu ………. Hebat bgt. Aku salut!

  3. Budi Says:

    BTW, ini sebuah review lagi tentang Oldboy.

    http://killerb.blogs.friendster.com/ulasan_film_mikael_dewabr/2005/03/oldboy_park_cha.html

  4. -ThECHaoS- Says:

    Yah, aku udah baca review di blog itu. Boleh juga, hehehehe. But everybody entitled for their own opinion and I respect it. Ngomong2 orijinalitas, sekarang ini mana ada sih film yang benar2 orisinil? Tapi bagaimana membuat film yang komunikatif dengan penontonnya itu penting dan itu yang aku rasakan dari menonton OLDBOY and that’s matter!

  5. aFiF Says:

    dr trilogi vengeance nya PCW, gw udah nonton mr vengeance,..trus terakhir yg satu ini. Kalo boleh kubilang beda banget style mr vengeance dgn oldboy.

    Mr vengeance cenderung realis dgn pace yg rada lambat, sedang oldboy lebih ke surreal dan pacenya juga berjalan cepat. Ga berasa aja klo 2 film ini besutan sutradara yg sama.

    Sayang yg lady vengeance sampe sekarang belum nemu.

  6. hARIs Says:

    wajat beda….karena Oldboy kan sebenarnya dar Manga

    sedangkan lady vegeance bahkan lebih surealis lagi, dengan memakai beberapa visual2 yang terkadang malah kayak anime, walau memang engga menyeluruh

    engga nemu ya? emang sekarang rada susyah….

    OLDboy aja aku nemu yang bootleg tapi memuaskan, karena animorphic, dan ada bonus trailer serta making ofnya

Leave a Reply