Venus dan Mars
duhai Venus,
berkelip terang di kelam langit,
menambah aura raga kirana dunia,
dawai sitar di tangan,
takluk segenap alam,
sedetik ia menembang;
‘adakah pelita sebagai penerang hatiku ?”,
sedetik ia meresah;
‘adakah hangat penawar beku jiwaku ?”,
gulana merajai sang Venus,
karena jawab tak kunjung datang pula.
duhai Mars,
membusung bagai panglima angkasa,
membara membakar asa,
pedang baja di pelukan,
terbitkan iri gugusan bintang,
sedetik ia berteriak;
“adakah teman sejati akan datang ?”,
sedetik ia bergumam;
“aku sepi di keramaian !”,
gulana merajai sang Mars,
karena jawab tak kunjung datang pula.
dibalik mega-mega, Putra Bumi mengintip,
sungguh iba hatinya;
“sejoli bagaikan orang asing.
tiba saatnya sang Nasib bermain.
bukan sa’atnya hanya bertanya.”
dalam cinta adalah perjuangan,
demikian pikir Putra Bumi,
tak perduli balas apa yang ada.
pada suatu ketika,
dalam meriahnya arakan, takdir menentukan,
dalam indahnya tarian, takdir menjumpakan,
gairah jiwa tersenyum,
pesta untuk cinta telah terlaksana.
Mars lirih berbisik;
“adakah ruang untuk sukmaku ?”,
Venus gemuruh di dada;
“biarlah jiwamu sebagai tuntunan.”
dalam rentang sang Waktu kemudian,
insan dunia menjaring kasmaran,
mencari sama dalam beda,
menyatukan sepasang hati.
“biarlah ini abadi !”, seru mereka,
adakah belahan jwa ditemukan ?
duhai Nasib,
tega mengumbar iba hati pecinta,
ujian sebagai cobaan,
uji tegarnya karang hati.
sampai bahagia dijelang.
dalam singgasana emas, sang Surya,
sang raja dunia, sang pengasuh bintang-bintang,
menggeram dalam amarah, ia bertitah;
“sang Venus adalah mempelaiku, takdirnya ada disampingku !’.
kala amarah meruak, emosi jauh untuk dipendam,
tega pula sang Surya mendekap berlian dunia.
duhai Venus,
dalam jeruji pualam, tangis tak berguna,
berharap pujaan datang menghela iba.
duhai Mars,
amarah penuhi dada, dendam telah bertahta,
berharap pujaan didekap menghela resah.
duka Venus, dalam genggaman Surya,
apa kuasa sang hamba atas penguasa ?
murka Mars, dalam cengkraman Surya,
apa kuasa sang bakti atas darma ?
dibalik mega-mega, Putra Bumi menangis,
sungguh iba hatinya;
‘dari dulu cinta ada untuk diuji.
tiba saatnya sang Nasib bermain,
bukan sa’atnya hanya berduka.”
dalam cinta adalah perjuangan,
demikian pikir Putra Bumi,
tak perduli balas apa yang ada.
dalam dukanya cinta, takdir menentukan,
dalam nestapanya rindu, takdir menjumpakan,
Putra Bumi tersenyum,
persuaan untuk cinta telah terencana.
jeruji pualam, indah bukan nian,
tapi jiwa terkungkung bagai sangkar,
tak rela hati untuk menetap.
betapa ria hati bersorak,
kekasih tiba, dalam buaian cinta,
bagaikan ksatria dari kayangan,
datang untuk lepaskan belenggu,
menentang daya kuasa.
sayang, tetapi sayang,
langit adalah wahana bagi sang penyanjung cinta,
juga,
langit adalah wahana bagi sang porosnya angkasa.
apa daya tangan tak sampai,
atas jalan nasib, sejoli adalah satu
atas jalan takdir, sejoli bukanlah satu,
sudah galibya, sang Surya sebagai sang raja,
sudah galibnya, sang Venus sebagai sang dayang.
permainan dunia adalah milik Sang Abadi,
sebuah rahasia yang takkan terungkap,
jika tiba saatnya,
jika memang ruhnya,
kelak,
Venus dan Mars adalah satu
dibalik mega-mega, Putra Bumi mengerti,
sungguh iba hatinya;
‘kehendak bukan untuk dipaksakan,
mengalurkan cinta bukanlah wajib,
tiba jua sa’atnya untuk mengerti.”
dalam cinta adalah pengorbanan,
demikian pikir Putra Bumi,
tak perduli balas apa yang ada.
