Archive for July, 2005

‘GIE’: Ada yang Salah Dengannya!

Wednesday, July 27th, 2005

Produksi: Miles Film (2005)
Sutradara: Riri Riza
Cast: Nicholas Saputra, Sita, Wulan Guritno, Thomas Nawilis, Indra Birowo, Surya Saputra


Genre: Drama/Biopic
Durasi: 150"
My Grade: 3 out 5


Gie_1Menonton Gie seakan kembali lagi ke momento saat masih menjadi seorang mahasiswa era 98-an yang dengan penuh semangat menjadi demonstran yang menentang Orde Baru. Entah karena ikut-ikutan atau memang tergerak oleh permasalahan yang terjadi pada saat itu, yang jelas saat-saat tersebut merupakan pengalaman yang tak terlupakan.  Diwaktu itulah pertama kali saya merasakan apa yang disebut dengan gas airmata dan kemudian bersumpah untuk tidak akan mau lagi berkenalan dengan namanya gas air mata tersebut.

Gie seakan sebuah mesin waktu yang menghentak lagi, bahwa dulu saya pernah menjadi mahasiswa, dan yang terpenting pernah merasakan berteriak lantang menentang penindasan. Gie adalah semangat pemberontakan demi kebenaran. Gie seharusnya menjadi patron untuk kalangan muda. Gie seharusnya idola. Demikianlah yang mungkin terbenak dipikiran Riri Riza dan Mira Lemana untuk kemudian menginterprestasikan Catatan Seorang Demonstran-nya Soe Hok Gie ke dalam bentuk hambar hidup. Harus diakui, sosok Gie adalah sosok yang sangat kuat, sehingga tidak mengherankan jika duo Riri dan Mira berniat untuk mengenalkan Gie secara lebih luas. Dan cara yang efektif serta sangat mereka kuasai adalah media film.

Ekspektasi jelas tinggi disampirkan ke bahu Gie, mengingat kredibilitas duo Riri dan Mira. Pemakaian Nicholas Saputra, terlepas cocok atau tidak, menunjukkan jika mereka memang menginginkan agar Gie masuk dengan cepat ke dalam kalangan muda, yang jelas tentu sangat mengenal Nicholas dibandingkan dengan Gie sendiri. Tapi apakah kemudian misi mereka tercapai?

Bagi saya tidak. Gie jelas-jelas terjangkiti penyakit biopic, yaitu ingin menyampaikan banyak hal dalam waktu yang sangat sempit. Begitu banyak yang ingin disampaikan oleh Riri Riza dalam Gie, dengan memakai durasi kurang lebih 2,5 jam. Namun, sayangnya waktu sedemikian ternyata masih kurang efektif, sehingga dilayar kita hanya melihat Gie dari sisi luarnya saja. Hanya kulitnya, tanpa pernah mengetahui dengan pasti jeroan Gie itu sebenarnya apa? Ya memang, sepanjang film Gie secara terus menerus memberikan pemikiran-pemikirannya. Oke, kami mengerti Gie itu pintar. Tapi Gie sebagai motivator? rasanya tidak tertangkap. Tidak adanya konsistensi dan banyaknya sub-plot membuat Gie menjadi membosankan (Saya mencatat, saat menonton film ini memang gedung bioskop tempat saya menonton dipenuhi oleh penonton. Tapi saya ragu apa mereka tertarik menonton dikarenakan penasaran dengan Gie atau karena di film ini ada Nicholas Saputranya. Catatan lagi, lebih dari 20 orang saya perhatikan keluar dari gedung pertunjukan, bahkan saat film masih jauh dari selesai).

Ketidak jelasan konsep Gie membuat film ini seakan kehilangan arah. Apakah untuk memperlihatkan Gie sebagai sosok yang kharismatis atau ingin menceritakan Gie sebagai seorang pemikir ulung, yang mana kedua-duanya tidak berhasil saya tangkap. Mungkin Riri harus melihat The Motorcycle Diaries-nya Walter Salles, yang secara jenial memperlihatkan transformasi Ernesto Guevara, seorang pemuda  happy-go-lucky menjadi seorang Che, salah satu karakter ulung yang pernah ada di dunia. Salles secara konsisten hanya memperlihatkan perkembangan karakter Ernesto, tanpa harus diembel-embeli dengan berbagai sub-plot yang sebenarnya tidak perlu.

Mungkin pihak Cannes benar menolak film ini dengan alasan terlalu akademis, karena pada kenyataanya tokoh Gie terlalu banyak berbicara jargon dan konsep, yang mungkin hanya dimengerti oleh mereka yang kuliah saja misalnya. Sementara target Riri dan Mira adalah umum. Kita tidak merasakan empathi terhadap karakter Gie, karena skrip tidak mengizinkannya. Pada akhirnya, pilihan penonton hanya menunggu adegan-adegan populis, seperti kisah cinta Gie dengan beberapa perempuan. Sementara semangat perjuangan Gie nyaris tidak tertangkap, selain kesan Gie adalah orang yang (maaf) cerewet. Nicholas Saputra sendiri kurang berhasil membangun karakter Gie, karena aktingnya cenderung monoton. Kita, sebagai penonton melihat Nicholas sebagai aktor yang mencoba berakting menjadi seseorang daripada meyakinkan penonton kalau ia itu Gie.

Saya bukannya tidak menyukai Gie sebagai sebuah tontonan sekaligus tuntunan. Hanya saja, saya rasa misi yang ingin disampaikan kurang berhasil disampaikan. Sebagai sebuah karya sinema ia cukup membanggakan (terkecuali dengan scorenya yang kurang bisa untuk dinikmati-untuk tidak mengatakan mengganggu). Hanya saja ekspektasi saya yang besar tidak terbayarkan secara penuh olehnya. Walau begitu, Gie masih merupakan salah satu karya yang baik pernah dilahirkan oleh sineas kita.


Wallpaper:

Gie_wallpaper

 


Is Michael Bay Loosing His Charm on The Island?

Monday, July 25th, 2005

Sungguh mengejutkan melihat hasil awal yang di dapat oleh The Island, film terbaru oleh Michael Bay, hanya mendapatkan sekitar $ 12.100.000, dalam masa edar minggu pertamanya (22 -24 Juli 2005). Mengingat kredibilitas Bay yang sebelumnya telah menghasilkan super hit seperti Armageddon, Pearl Harbour atau serial Bad Boys, maka ini sangat mengecewakan. Apakah The Island begitu jeleknya sehingga ‘cuma’ bisa menangguk dolar dalam jumlah yang relatif kecil tersebut, mengingat pula The Island, yang tentunya ber-ujet besar ini, di edarkan pada musim panas. Kenyataanya The Island justru sudah ‘keok’ di minggu perdananya, dimana posisi jawara masih dipegang oleh Johnny Depp dengan Charlie and Chocolate  Factory-nya.

Lincoln Six-Echo (McGregor) dan Jordan Two-Delta (Johansson) adalah dua orang yang tinggal di sebuah fasilitas canggih yang menampung warga yang selamat dari pencemaran. Fasilitas tersebut terlihat sangat sophisticated dan menampung ribuan warga, yang sama halnya dengan Lincoln dan Jordan, menunggu kesempatan untuk di pindahkan ke sebuah lokasi yang bernama The Island, yang konon merupakan satu-satunya kawasan di Bumi yang tidak tercemar. Ketika Jordan terpilih untuk ditransfer menuju The Island, bertepatan pula Lincoln menemukan rahasia mengerikan dari tempat mereka bernaung tersebut. Maka, bersama dengan Jordan, ia merencanakan untuk melarikan diri dari tempat tersebut, yang tentu saja tidak mudah dan merupakan alasan bagi Michael Bay, sang sutradara untuk mengeksekusi adegan-adegan aksi yang mendebarkan!

Jujur saja, pada mulanya saya mengira film ini akan seperti film-film yang diangkat oleh karya Philip K. Dick, seperti Minority Report (2002), yang mempunyai atmosfir yang kelam dan misterius, namun saya lupa kalau sutradaranya adalah Michael Bay, yang terbiasa membuat popcorn movies, sehingga jadilah The Island salah satu roller coaster-thrill ride, yang biasa dibuatnya. Namun, apakah kemudian film ini menjadi lebih jelek?

Michael_bayMenurut saya, kelemahan Bay dalam membuat film adalah dalam hal elaborasi cerita. Coba lihat saja Armageddon atau Pearl Harbour, yang sangat lemah dalam plot (terutama Peral Harbour), sehingga kita cukup terkesan hanya dengan adegan-adegan yang luar biasa thrillingnya. Hal tersebut terulang kembali di The Island ini. Pada awalnya cerita The Island memang terlihat menjanjikan, dengan nuansa yang cukup memancing rasa penasaran penontonnya. Namun, memasuki adegan dimana Lincoln dan Jordan melarikan diri, maka dimulailah adegan-adegan aksi yang terus terang sangat meremehkan intelenjensia penontonnya, dengan menampilkan banyak adegan-adegan yang tidak masuk akal, demi memuaskan adrenalin yang menonton film ini. Bagi saya, adegan-adegan aksi tersebut sudah cukup memuaskan, namun film ini seharusnya bisa lebih baik daripada sekedar aksi ledak-ledakan atau kebut-kebutan. Film ini mungkin akan berbeda jika digarap oleh Gore Verbinski, misalnya.

Saya sangat menghargai jika Michael Bay berusaha membuat film aksi yang cerdas, namun sayangnya ia kurang berani melepaskan image-nya sebagai sutradara handal dalam membuat popcorn movies. Film ini menjadi repetitif, padahal premisnya sudah menjanjikan sesuatu yang berbeda. Dari segi akting sendiri, sudah sangat terbantu oleh duet Ewan McGregor dan Scarlet Johansson, yang sayangnya di ujung film, karakter mereka pun berubah menjadi konyol dengan melakukan tindakan yang biasanya dilakukan oleh karakter-karakter film B.

Jadi, apakah Michael Bay sudah kehilangan ’sentuhannya’? Jawabannya mungkin tidak atau mungkin belum. Akan tetapi, ditengah kemonotonan kreatifitas film-maker di Hollywood, maka Bay seharusnya berpikir inventif dan berusaha keluar dari streotipikal film-filmnya dan mencoba yang baru. The Island pada dasarnya adalah film yang memenuhi standar yang baik untuk film yang menghibur. Akan tetapi, pada saat ini kita justru mempunyai ekspektasi yang lebih dari itu dari seorang Michael Bay.

Enigmatic Korean Poster Art

Thursday, July 21st, 2005

Perfilm Korea tidak saja menunjukkan indikasi sebagai pusat perfilman dengan kreatifitas yang tinggi dalam film-filmnya. Ternyata kreatifitas tidak hanya ada dalam membuat film, akan tetapi juga dalam membuat poster film.

Poster film dipandang sebagai suatu alat untuk menangkap target penonton yang ingin dicapai sekaligus sebagai first impression yang catchy bagi calon penonton, sehingga poster pun dibikn dengan semenarik dan artistik mungkin. Ini beberapa contohnya:
 

   Mokdugi_1

Sympathy

Mokdugi / Sympathy For Lady Vegeance

  Redshoes

Liberame

Red Shoes/ Libera Me

  Ilmare  Ditto

Il Mare / Ditto


Momentomori  Failan

Momento Mori / Failan

Untuk lebih jelasnya bagaimana poster menjadi suatu strategi tersendiri dalam menyukseskan filmnya, dapat diketahui dari kutipan berikut ini:

Film Posters in the Context of Marketing and Design
14 Jul 2005
[ Korean Cinema News | Posted By: magic8 ] Source: joongangdaily 

 
With
the film industry growing so big, there are dozens of festivals and
award ceremonies in Korea, let alone globally. While artistic elements
and filming techniques have been discussed as important factors in the
industry, posters have rarely made it into the limelight and are
usually dismissed as commercial works, not art.

But
designers of movie posters and leaflets claim that film marketing
design is more than just an image, but an important media form that
speaks for public sentiment and cultural trends of the times. Posters, the Flower of Films
is an exhibition arranged by the Design Center of Kookmin University.
It does not focus on movie posters as a genre of pure art, but rather
in the context of commercial art and Korean film marketing design.

Recently,
promotional print materials for the film market are having more
influence on the success of the film since the contents that are used
for the posters are thought out in the context of the film’s story and
imagery,
said Yoon Sang-jin, an organizer of the exhibition. Even
though we are living in the digital age, movie fans still collect
posters and paraphernalia, which is very nostalgic and romantic.

The exhibition, which begins today, is not a prim
gallery filled with framed movie posters, although movie posters are
indeed on display. There are also press kits, scenario books,
photographs taken for poster images, and other types of promotional
material. Some of the posters and materials on display are of movies
including Peppermint Candy, Failan and Il Mare.

Semoga saja perilman Indonesia yang tengah berkembang dengan pesat bisa mengambil contoh positif dari kreatifitas perfilman Korea tersebut agar dinamika industri film kita semakin bagus lagi.

MTV Indonesia Movie Award 2004 in a Glance

Saturday, July 9th, 2005

Mima_2004MTV Movie Award adalah event tahunan MTV. Disaat perfilman Indonesia kembali bangkit, maka MTV Indonesia pun segera mengadakan acara penganugrahan sejenis terhadap insan perfilman Indonesia sebagar rasa apresiasi dan pendorong majunya industri film di Indonesia. Tentu saja dengan bergaya khas MTV. Beberapa bulan lagi MTV Indonesia akan mengadakan eventnyan yang kedua. Untuk itu, at a glance, let’s rewind the the very first fuss that happened last year.

Event yang pertama kali diadakan pada 2 Oktober 2004, di Jakarta Convention Centre (JCC). Dengan host mantan VJ MTV Sarah Sechan, kemeriahan berjalan lancar. Banyak sekali selebritis hadir di antaranya Dian Sastro, Nicholas Saputra, Cut Mini, Dina Olivia, El Manik, Rachel Maryam dan bahkan Meriem Bellina dan Onky Alexander (!) serta masih banyak lagi.

Unggulan dari award ini terbagi dua, yaitu pilihan juri dan penonton yang tentu saja berbeda karena dilakukan melalui sebuah proses penilaian yang dilakukan oleh orang-orang terpilih yang terwakili dari kalangan media cetak, pengamat dan praktisi film, artis, sutradara film dan tentu saja tim dari MTV Indonesia sendiri. Di antaranya ada nama-nama Noorca M. Massardi (pengamat film), Richard Buntario (sutradara), Indra Yudhistira (sutradara/praktisi film), Fathan Rangkuti (Pemimpin Redaksi Tabloid Bintang Milenia), Cornelia Agatha (artis), dan Haswati Handrazfil (Communication Manager MTV). Sementara pilihan penonton berdasarkan poling yang dilakukan sebelumnya terhadap film-film yang diputar mulai 1 Januari 2003 hingga 31 Juli 2004. Sesuai dengan konsep MTV, maka kategori pemilihannya juga unik danmenarik.

MTV Indonesian Movie Award 2004 memiliki slogan Finding MIMA dengan alasan, karena MTV berharap ajang ini bisa menjadi jalan untuk memacu kreatifitas dunia perfilman. Slogan ini terinspirasi pada film Finding Nemo.

Berikut daftar nominasi dan pemenangnya. Huruf berwarna merah mengindikasikan pemenangnya.

DAFTAR NOMINEE PILIHAN JURI

Best Crying Scene:
1. Shandy Aulia (Eiffel I’m In Love)
2. Cut Mini (Arisan)
3. Tora Sudiro (Arisan)
4. Winky Wiryawan (Mengejar Matahari )
5. Marcella Zalianty (Tusuk Jelangkung )

Best Director:
1. Nasry Cheppy (Eiffel I’m In Love )
2. Nia Dinata (Arisan )
3. Dimas Djayadiningrat (Tusuk Jelangkung )
4. Jose Poernomo (Tak Biasa )
5. Rudi Soedjarwo (Mengejar Matahari )

Best Theme Song
1. Pujaanku - Melly Goeslaw (Eiffel I’m In Love )
2. Mengejar Matahari - Ari Lasso (Mengejar Matahari)
3. Mimpi dan Rumah ke 7 - Indra Lesmana (Rumah ke 7 )
4. Melompat Lebih Tinggi - Sheila on 7 (30 Hari Mencari Cinta)
5. Cinta Terlarang - Ren Tobing (Arisan)

Best Movie
1. Arisan
2. Mengejar Matahari
3. Tusuk Jelangkung
4. Eiffel I’m In Love
5. Biola Tak Berdawai

•  DAFTAR UNGGULAN PILIHAN PENONTON

Most Favourite Actor:
1. Tora Sudiro (Arisan!)
2. Nicholas Saputra (Biola Tak Berdawai)
3. Samuel Rizal (Eiffel…I’m In Love)
4. Jeremias Nyangoen (Kanibal Soemanto)
5. Fauzi Baadilah (Mengejar Matahari)

Most Favourite Actress:
1. Rachel Maryam (Andai Ia Tahu)
2. Cut Mini (Arisan!)
3. Ria Irawan (Biola Tak Berdawai)
4. Shandy Aulia (Eiffel…I’m In Love)
5. Nirina Zubir (30 Hari Mencari Cinta)

Most Favourite Supporting Actor:
1. Surya Saputra (Arisan!)
2. El Manik (Biarkan Bintang Menari)
3. Dicky Lerbianto (Biola Tak Berdawai)
4. Ade Habibie (Mengejar Matahari)
5. Arief Rivai (Mengejar Matahari)

Most Favourite Supporting Actress:
1. Rachel Maryam (Arisan!)
2. Aida Nurmala (Arisan!)
3. Jajang C Noer (Biola Tak Berdawai)
4. Titi Kamal (Eiffel…I’m In Love)
5. Dinna Olivia (Tusuk Jelangkung)

Most Favourite Movie:
1. Arisan!
2. Eiffel…I’m In Love
3. Mengejar Matahari
4. 30 Hari Mencari Cinta
5. Tusuk Jelangkung

Most Favourite Romantic Moment:
1. Andai Ia Tahu
2. Biarkan Bintang Menari
3. Mengejar Matahari
4. 30 Hari Mencari Cinta
5. Eiffel…I’m In Love

‘UNGU VIOLET’: Smell Like 70’s Spirit……and Fairly Good

Wednesday, July 6th, 2005

Produksi: Sinemart (2005)
Sutradara: Rako Prijanto
Cast: Dian Sastrowardoyo, Rizky Hanggono, Rima Melati


Genre: Drama/Roman
Durasi: 120"
My Grade: 3 out 5


Ungu_violet_1Ungu Violet adalah film Indonesia terbaru yang bergenre romantis. Namun, apa yang ditawarkan olehnya, sekedar romansa cinta populer atau film puitis yang nyeni? Sedikit campuran dari keduanyalah yang menjadikan Ungu Violet, sebuah drama romantis dari Rako Prijanto, layak untuk dinikmati.

Kalin (Dian Sastrowardoyo) adalah seorang gadis sederhana penjual tiket busway, sampai Lando (Rizky Hanggono), seorang fotografer, menjadikannya seorang model. Kalin dan Lando kemudian sepertinya saling mencintai, akan tetapi Lando tiba-tiba menolak kehadiran Kalin. Terluka, Kalin pun meninggalkan Lando. Beberapa waktu kemudian Lando menjadi seorang yang putus asa dan seakan teralienasi dari lingkungannya, sementara Kalin menjelma menjadi seorang model terkenal.  Apakah kemudian sang nasib akan berpihak kepada mereka dan menyadarkan mereka akan tulusnya cinta dalam waktu yang kian menipis? Inilah yang akan coba dijawab Ungu Violet, yang tak lain adalah warna perlambang dari rasa romantis anak manusia.

Kita mungkin akan kurang percaya kalau ternyata film ini adalah karya perdana Rako Prijanto sebagai seorang sutradara. Namun dengan kredit resume filmnya yang cukup beragam dan jam terbang yang juga cukup tinggi, maka tidak mengherankan jika Rako tahu betul dengan apa yang hendak dikerjakannya.

Film ini diarahkan pada setiap aspeknya yang tepat, sehingga menghasilkan romansa yang menggigit. Semua elemen yang diperlukan untuk membangun melodrama yang baik, dimasukkan tanpa ragu-ragu oleh Rako. Minat Rako yang tinggi terhadap puisi menjadikan film ini bertutur dengan lebih subtil, lembut tapi mempunyai bara di dalamnya. Ia mencoba menjadikan Ungu Violet sebagai sebuah sinema yang ‘nge-pop’ namun sekaligus artistik, dan dibuktikannya dengan tata artistik yang istimewa dengan sedikit merubah kota Jakarta menjadi lebih indah namun sekaligus dingin.

Ungu Violet mau tidak mau juga mengingatkan pada kejayaan melodrama di era tahun 70-an. Apalagi dengan dilibatkannya aktris senior Rima Melati sebagai salah satu artis pendukung.  Semangat revivalitas ini sebenarnya bukanlah baru, karena sebelumnya Rudi Sudjarwo sudah mencoba dengan Tentang Dia (2005) yang sayangnya kurang berhasil. Malangnya, niat ini sepertinya menjebak Ungu Violet menjadi film yang cenderung terlalu mellow. Nyaris hampir semua adegan dimaksudkan untuk menghanyutkan hati penontonnya, sehingga konsekuensinya film ini sedikit cengeng dan berlebihan.

Kadar mellow semakin ditubuhkan dengan score yang digarap oleh Piyu Padi. Rangkaian musiknya yang indah benar-benar berhasil menjadi ruh yang membuat film ini terasa berjiwa. Ya, setidaknya film ini mempunyai jiwa, suatu yang penting dalam sebuah film untuk berkomunikasi dengan penontonnya.

Sementara itu, chemistry, yang merupakan unsur penting dalam film jenis ini,  sangat kuat diberikan oleh duet Dian Sastrowardoyo dan Rizky Hanggono. Dian semakin menunjukkan kematangan kemampuan aktingnya. Imej Cinta habis dikikisnya dan diganti dengan Kalin yang sederhana, lugu dan insecure. Sementara Rizky Hanggono, terlepas dari kekurangannya,  bermain dengan sangat baik, mengingat ini adalah debut perdana berakting bagi pemuda yang pada awalnya terlibat hanya sebagai penggambar storyboard untuk film ini.

Ungu Violet tidak bisa dikatakan sebagai roman yang biasa-biasa saja. Walaupun plotnya sangat formula untuk jenis film ini, namun makna yang terkandung didalamnya dicoba untuk dieloborasi dengan baik dan memang cukup mengesankan hasil akhirnya. And despite the flaws, I really love this movie!