‘GIE’: Ada yang Salah Dengannya!


Produksi: Miles Film (2005)
Sutradara: Riri Riza
Cast: Nicholas Saputra, Sita, Wulan Guritno, Thomas Nawilis, Indra Birowo, Surya Saputra


Genre: Drama/Biopic
Durasi: 150"
My Grade: 3 out 5


Gie_1Menonton Gie seakan kembali lagi ke momento saat masih menjadi seorang mahasiswa era 98-an yang dengan penuh semangat menjadi demonstran yang menentang Orde Baru. Entah karena ikut-ikutan atau memang tergerak oleh permasalahan yang terjadi pada saat itu, yang jelas saat-saat tersebut merupakan pengalaman yang tak terlupakan.  Diwaktu itulah pertama kali saya merasakan apa yang disebut dengan gas airmata dan kemudian bersumpah untuk tidak akan mau lagi berkenalan dengan namanya gas air mata tersebut.

Gie seakan sebuah mesin waktu yang menghentak lagi, bahwa dulu saya pernah menjadi mahasiswa, dan yang terpenting pernah merasakan berteriak lantang menentang penindasan. Gie adalah semangat pemberontakan demi kebenaran. Gie seharusnya menjadi patron untuk kalangan muda. Gie seharusnya idola. Demikianlah yang mungkin terbenak dipikiran Riri Riza dan Mira Lemana untuk kemudian menginterprestasikan Catatan Seorang Demonstran-nya Soe Hok Gie ke dalam bentuk hambar hidup. Harus diakui, sosok Gie adalah sosok yang sangat kuat, sehingga tidak mengherankan jika duo Riri dan Mira berniat untuk mengenalkan Gie secara lebih luas. Dan cara yang efektif serta sangat mereka kuasai adalah media film.

Ekspektasi jelas tinggi disampirkan ke bahu Gie, mengingat kredibilitas duo Riri dan Mira. Pemakaian Nicholas Saputra, terlepas cocok atau tidak, menunjukkan jika mereka memang menginginkan agar Gie masuk dengan cepat ke dalam kalangan muda, yang jelas tentu sangat mengenal Nicholas dibandingkan dengan Gie sendiri. Tapi apakah kemudian misi mereka tercapai?

Bagi saya tidak. Gie jelas-jelas terjangkiti penyakit biopic, yaitu ingin menyampaikan banyak hal dalam waktu yang sangat sempit. Begitu banyak yang ingin disampaikan oleh Riri Riza dalam Gie, dengan memakai durasi kurang lebih 2,5 jam. Namun, sayangnya waktu sedemikian ternyata masih kurang efektif, sehingga dilayar kita hanya melihat Gie dari sisi luarnya saja. Hanya kulitnya, tanpa pernah mengetahui dengan pasti jeroan Gie itu sebenarnya apa? Ya memang, sepanjang film Gie secara terus menerus memberikan pemikiran-pemikirannya. Oke, kami mengerti Gie itu pintar. Tapi Gie sebagai motivator? rasanya tidak tertangkap. Tidak adanya konsistensi dan banyaknya sub-plot membuat Gie menjadi membosankan (Saya mencatat, saat menonton film ini memang gedung bioskop tempat saya menonton dipenuhi oleh penonton. Tapi saya ragu apa mereka tertarik menonton dikarenakan penasaran dengan Gie atau karena di film ini ada Nicholas Saputranya. Catatan lagi, lebih dari 20 orang saya perhatikan keluar dari gedung pertunjukan, bahkan saat film masih jauh dari selesai).

Ketidak jelasan konsep Gie membuat film ini seakan kehilangan arah. Apakah untuk memperlihatkan Gie sebagai sosok yang kharismatis atau ingin menceritakan Gie sebagai seorang pemikir ulung, yang mana kedua-duanya tidak berhasil saya tangkap. Mungkin Riri harus melihat The Motorcycle Diaries-nya Walter Salles, yang secara jenial memperlihatkan transformasi Ernesto Guevara, seorang pemuda  happy-go-lucky menjadi seorang Che, salah satu karakter ulung yang pernah ada di dunia. Salles secara konsisten hanya memperlihatkan perkembangan karakter Ernesto, tanpa harus diembel-embeli dengan berbagai sub-plot yang sebenarnya tidak perlu.

Mungkin pihak Cannes benar menolak film ini dengan alasan terlalu akademis, karena pada kenyataanya tokoh Gie terlalu banyak berbicara jargon dan konsep, yang mungkin hanya dimengerti oleh mereka yang kuliah saja misalnya. Sementara target Riri dan Mira adalah umum. Kita tidak merasakan empathi terhadap karakter Gie, karena skrip tidak mengizinkannya. Pada akhirnya, pilihan penonton hanya menunggu adegan-adegan populis, seperti kisah cinta Gie dengan beberapa perempuan. Sementara semangat perjuangan Gie nyaris tidak tertangkap, selain kesan Gie adalah orang yang (maaf) cerewet. Nicholas Saputra sendiri kurang berhasil membangun karakter Gie, karena aktingnya cenderung monoton. Kita, sebagai penonton melihat Nicholas sebagai aktor yang mencoba berakting menjadi seseorang daripada meyakinkan penonton kalau ia itu Gie.

Saya bukannya tidak menyukai Gie sebagai sebuah tontonan sekaligus tuntunan. Hanya saja, saya rasa misi yang ingin disampaikan kurang berhasil disampaikan. Sebagai sebuah karya sinema ia cukup membanggakan (terkecuali dengan scorenya yang kurang bisa untuk dinikmati-untuk tidak mengatakan mengganggu). Hanya saja ekspektasi saya yang besar tidak terbayarkan secara penuh olehnya. Walau begitu, Gie masih merupakan salah satu karya yang baik pernah dilahirkan oleh sineas kita.


Wallpaper:

Gie_wallpaper

 


One Response to “‘GIE’: Ada yang Salah Dengannya!”

  1. Bayu Says:

    Di sini ada cerita
    Tentang cinta
    Tentang air mata
    Tentang tetesan darah

    Disini ada cerita
    Tentang kesetiaan
    Juga pengkhianatan

    Disini ada cerita
    Tentang mimpi yang indah
    Tentang negeri penuh bunga
    Cinta dan gelak tawa

    Disini ada cerita
    Tentang sebuah negeri tanpa senjata
    Tanpa tentara
    Tanpa penjara
    Tanpa darah dan air mata

    Disini ada cerita tentang kami yang tersisa
    Yang bertahan walau terluka
    Yang tak lari walau sendiri
    Yang terus melawan ditengah ketakutan!

    Kami ada disini
    http://www.pena-98.com
    http://www.adiannapitupulu.blogspot.com

Leave a Reply