Is Michael Bay Loosing His Charm on The Island?

Sungguh mengejutkan melihat hasil awal yang di dapat oleh The Island, film terbaru oleh Michael Bay, hanya mendapatkan sekitar $ 12.100.000, dalam masa edar minggu pertamanya (22 -24 Juli 2005). Mengingat kredibilitas Bay yang sebelumnya telah menghasilkan super hit seperti Armageddon, Pearl Harbour atau serial Bad Boys, maka ini sangat mengecewakan. Apakah The Island begitu jeleknya sehingga ‘cuma’ bisa menangguk dolar dalam jumlah yang relatif kecil tersebut, mengingat pula The Island, yang tentunya ber-ujet besar ini, di edarkan pada musim panas. Kenyataanya The Island justru sudah ‘keok’ di minggu perdananya, dimana posisi jawara masih dipegang oleh Johnny Depp dengan Charlie and Chocolate Factory-nya.
Lincoln Six-Echo (McGregor) dan Jordan Two-Delta (Johansson) adalah dua orang yang tinggal di sebuah fasilitas canggih yang menampung warga yang selamat dari pencemaran. Fasilitas tersebut terlihat sangat sophisticated dan menampung ribuan warga, yang sama halnya dengan Lincoln dan Jordan, menunggu kesempatan untuk di pindahkan ke sebuah lokasi yang bernama The Island, yang konon merupakan satu-satunya kawasan di Bumi yang tidak tercemar. Ketika Jordan terpilih untuk ditransfer menuju The Island, bertepatan pula Lincoln menemukan rahasia mengerikan dari tempat mereka bernaung tersebut. Maka, bersama dengan Jordan, ia merencanakan untuk melarikan diri dari tempat tersebut, yang tentu saja tidak mudah dan merupakan alasan bagi Michael Bay, sang sutradara untuk mengeksekusi adegan-adegan aksi yang mendebarkan!
Jujur saja, pada mulanya saya mengira film ini akan seperti film-film yang diangkat oleh karya Philip K. Dick, seperti Minority Report (2002), yang mempunyai atmosfir yang kelam dan misterius, namun saya lupa kalau sutradaranya adalah Michael Bay, yang terbiasa membuat popcorn movies, sehingga jadilah The Island salah satu roller coaster-thrill ride, yang biasa dibuatnya. Namun, apakah kemudian film ini menjadi lebih jelek?
Menurut saya, kelemahan Bay dalam membuat film adalah dalam hal elaborasi cerita. Coba lihat saja Armageddon atau Pearl Harbour, yang sangat lemah dalam plot (terutama Peral Harbour), sehingga kita cukup terkesan hanya dengan adegan-adegan yang luar biasa thrillingnya. Hal tersebut terulang kembali di The Island ini. Pada awalnya cerita The Island memang terlihat menjanjikan, dengan nuansa yang cukup memancing rasa penasaran penontonnya. Namun, memasuki adegan dimana Lincoln dan Jordan melarikan diri, maka dimulailah adegan-adegan aksi yang terus terang sangat meremehkan intelenjensia penontonnya, dengan menampilkan banyak adegan-adegan yang tidak masuk akal, demi memuaskan adrenalin yang menonton film ini. Bagi saya, adegan-adegan aksi tersebut sudah cukup memuaskan, namun film ini seharusnya bisa lebih baik daripada sekedar aksi ledak-ledakan atau kebut-kebutan. Film ini mungkin akan berbeda jika digarap oleh Gore Verbinski, misalnya.
Saya sangat menghargai jika Michael Bay berusaha membuat film aksi yang cerdas, namun sayangnya ia kurang berani melepaskan image-nya sebagai sutradara handal dalam membuat popcorn movies. Film ini menjadi repetitif, padahal premisnya sudah menjanjikan sesuatu yang berbeda. Dari segi akting sendiri, sudah sangat terbantu oleh duet Ewan McGregor dan Scarlet Johansson, yang sayangnya di ujung film, karakter mereka pun berubah menjadi konyol dengan melakukan tindakan yang biasanya dilakukan oleh karakter-karakter film B.
Jadi, apakah Michael Bay sudah kehilangan ’sentuhannya’? Jawabannya mungkin tidak atau mungkin belum. Akan tetapi, ditengah kemonotonan kreatifitas film-maker di Hollywood, maka Bay seharusnya berpikir inventif dan berusaha keluar dari streotipikal film-filmnya dan mencoba yang baru. The Island pada dasarnya adalah film yang memenuhi standar yang baik untuk film yang menghibur. Akan tetapi, pada saat ini kita justru mempunyai ekspektasi yang lebih dari itu dari seorang Michael Bay.
December 4th, 2008 at 6:54 am
Nice Site layout for your blog. I am looking forward to reading more from you.