‘UNGU VIOLET’: Smell Like 70’s Spirit……and Fairly Good


Produksi: Sinemart (2005)
Sutradara: Rako Prijanto
Cast: Dian Sastrowardoyo, Rizky Hanggono, Rima Melati


Genre: Drama/Roman
Durasi: 120"
My Grade: 3 out 5


Ungu_violet_1Ungu Violet adalah film Indonesia terbaru yang bergenre romantis. Namun, apa yang ditawarkan olehnya, sekedar romansa cinta populer atau film puitis yang nyeni? Sedikit campuran dari keduanyalah yang menjadikan Ungu Violet, sebuah drama romantis dari Rako Prijanto, layak untuk dinikmati.

Kalin (Dian Sastrowardoyo) adalah seorang gadis sederhana penjual tiket busway, sampai Lando (Rizky Hanggono), seorang fotografer, menjadikannya seorang model. Kalin dan Lando kemudian sepertinya saling mencintai, akan tetapi Lando tiba-tiba menolak kehadiran Kalin. Terluka, Kalin pun meninggalkan Lando. Beberapa waktu kemudian Lando menjadi seorang yang putus asa dan seakan teralienasi dari lingkungannya, sementara Kalin menjelma menjadi seorang model terkenal.  Apakah kemudian sang nasib akan berpihak kepada mereka dan menyadarkan mereka akan tulusnya cinta dalam waktu yang kian menipis? Inilah yang akan coba dijawab Ungu Violet, yang tak lain adalah warna perlambang dari rasa romantis anak manusia.

Kita mungkin akan kurang percaya kalau ternyata film ini adalah karya perdana Rako Prijanto sebagai seorang sutradara. Namun dengan kredit resume filmnya yang cukup beragam dan jam terbang yang juga cukup tinggi, maka tidak mengherankan jika Rako tahu betul dengan apa yang hendak dikerjakannya.

Film ini diarahkan pada setiap aspeknya yang tepat, sehingga menghasilkan romansa yang menggigit. Semua elemen yang diperlukan untuk membangun melodrama yang baik, dimasukkan tanpa ragu-ragu oleh Rako. Minat Rako yang tinggi terhadap puisi menjadikan film ini bertutur dengan lebih subtil, lembut tapi mempunyai bara di dalamnya. Ia mencoba menjadikan Ungu Violet sebagai sebuah sinema yang ‘nge-pop’ namun sekaligus artistik, dan dibuktikannya dengan tata artistik yang istimewa dengan sedikit merubah kota Jakarta menjadi lebih indah namun sekaligus dingin.

Ungu Violet mau tidak mau juga mengingatkan pada kejayaan melodrama di era tahun 70-an. Apalagi dengan dilibatkannya aktris senior Rima Melati sebagai salah satu artis pendukung.  Semangat revivalitas ini sebenarnya bukanlah baru, karena sebelumnya Rudi Sudjarwo sudah mencoba dengan Tentang Dia (2005) yang sayangnya kurang berhasil. Malangnya, niat ini sepertinya menjebak Ungu Violet menjadi film yang cenderung terlalu mellow. Nyaris hampir semua adegan dimaksudkan untuk menghanyutkan hati penontonnya, sehingga konsekuensinya film ini sedikit cengeng dan berlebihan.

Kadar mellow semakin ditubuhkan dengan score yang digarap oleh Piyu Padi. Rangkaian musiknya yang indah benar-benar berhasil menjadi ruh yang membuat film ini terasa berjiwa. Ya, setidaknya film ini mempunyai jiwa, suatu yang penting dalam sebuah film untuk berkomunikasi dengan penontonnya.

Sementara itu, chemistry, yang merupakan unsur penting dalam film jenis ini,  sangat kuat diberikan oleh duet Dian Sastrowardoyo dan Rizky Hanggono. Dian semakin menunjukkan kematangan kemampuan aktingnya. Imej Cinta habis dikikisnya dan diganti dengan Kalin yang sederhana, lugu dan insecure. Sementara Rizky Hanggono, terlepas dari kekurangannya,  bermain dengan sangat baik, mengingat ini adalah debut perdana berakting bagi pemuda yang pada awalnya terlibat hanya sebagai penggambar storyboard untuk film ini.

Ungu Violet tidak bisa dikatakan sebagai roman yang biasa-biasa saja. Walaupun plotnya sangat formula untuk jenis film ini, namun makna yang terkandung didalamnya dicoba untuk dieloborasi dengan baik dan memang cukup mengesankan hasil akhirnya. And despite the flaws, I really love this movie!


Leave a Reply