Archive for October, 2005

‘MIRROR’: Antara Cinta dan Kematian

Monday, October 31st, 2005

Produksi: Sinemart Pictures (2005)
Sutradara: Hany R. Saputra
Cast: Nirina Zubir, Jonathan Mulia, Henidar Amroe, Ichi Nuraini

Genre: Thriller/Horror/Drama
Durasi: 110"
Release Date: 27 Oktober 2005
My Grade: 2 out 5

MirrorIni film terbaru dari Nirina Zubir, mantan VJ yang hijrah ke dunia film. Jika sebelumnya dalam ‘30 Hari Mencari Cinta’ (2004), ia memulai debutnya dengan film bergenre komedi romantis, maka sekarang ia malah menjajal kemampuan aktingnya di sebuah film horror, ‘Mirror’.

Kikan (Nirina Zubir) adalah seorang gadis SMU yang jail, dan duka menganggu teman-temannya, sampai suatu hari ia mendapat ‘anugerah, yaitu penglihatan supernatural dan indera keenam. Uniknya, melalui cermin, ia bisa melihat orang-orang yang akan meninggal. Kemampuan barunya ini membuat Kikan dalam posisi yang tidak menyenangkan. Kikan yang ceria kini berubah menjadi pemurung. Hanya Doni (Jonathan Mulia),teman sekelasnya, yang tetap menemani Kikan, sementara teman-teman Kikan lainnya menjauhi dirinya, karena dianggap sebagai pembawa sial. Doni sangat mencintai Kikan, tapi Kikan menolaknya, karena pada suatu ketika, justru bayangan dirinya yang tidak dapat dilihatnya lagi di cermin…….

Dirilis seminggu setelah ‘Missing’ (2005), maka mau tidak mau kita menjadi memperbandingkan ke dua film ini, karena kebetulan kedua-duanya memakai judul berbahasa Inggris dengan awalan M, memiliki tema yang serupa, indera keenam dan juga dibalut dengan rangka drama psikologis dengan bumbu-bumbu horror. Namun, apakah kemudian ‘Mirror’ lebih baik dari ‘Missing"? Tidak juga.

Jika ‘Missing’ memakai karakter yang lebih dewasa, maka ‘Mirror’ memakai dunia remaja sebagai settingnya. Tapi sebenarnya apa yang ingin disampaikan ‘Mirror’ sebenarnya cukup universal dan dapat menimpa orang di segala usia. Sayangnya, ‘Mirror’ terlalu bertele-tele dalam menyampaikan maksudnya, karena terlalu banyak adegan drama yang, terus terang, tidak menarik. Setelah kita menontonnya, kita menjadi bertanya-tanya, sebenarnya ‘Mirror’ bercerita tentang kengerian yang dirasakan Kikan setelah mendapatkan kemampuannya, atau cerita cintanya dengan Doni, karena yang mendominasi memang yang kedua. Padahal, dari segi horrornya sudah lumayan ‘dapat’ feelnya, walau memang tidak terlalu seram, akan tetapi sudah cukup baik eksekusinya. Bukannya diberikan adegan-adegan yang bisa bikin jantung berdegup, ‘Mirror’ justru berlama-lama di adegan cinta-cintaan khas anak SMU. Belum lagi banyaknya adegan kebetulan dan lobang di cerita, ditulis oleh penulis skrip Armantono berdasarkan ide cerita oleh paranormal kondang Leo Lumanto, yang secara sosiologis sungguh mengganggu.

Mungkin lebih baik jika ‘Mirror’ memakai pendekatan yang dipakai oleh film ‘The Eye’ (2002), karena film tersebut berhasil membangun suasana kengerian dan drama dengan baik dan seimbang. Mencontoh untuk kebaikan menurut saya tidak ada salahnya. Karena tema yang diusung oleh film ini sudah cukup baik, yaitu tentang kematian dari sudut pandang orang yang bisa melihatnya.

Kegelisahan Kikan seharusnya bisa lebih mengena, namun entah mengapa Nirina bermain tidak terlalu meyakinkan. Bagi saya ia terlihat terpaksa untuk murung dan sedih, dari pada menjadi seorang yang bernama Kikan yang tersiksa. Yang ada ialah Nirina yang mencoba untuk murung. Sayang sekali, karena menurut saya Nirina sudah cukup berbakat. Kasus yang sama juga menimpa pemain pendukungnya, Jonathan Mulia. Ini film kedua Jonatahan, setelah sebelumnya menjadi Gie remaja di film yang berjudul sama. Jonathan terlihat mencoba bermain semampunya, namun masih kurang meyakinkan.

Ini juga merupakan karya layar lebar kedua bagi Hany R. Saputra setelah ‘Virgin’ (2004). Seperti yang telah saya sebutkan tadi, Hany sudah cukup baik mengeksekusi adegan-adegan horrornya, namun entah mengapa ia justru lebih berlama-lama di drama, yang sayangnya terasa datar-datar saja. Walau Virgin lemah dicerita, akan tetapi Hany bisa dengan baik menjadikannya sebuah film yang lumayan enak untuk dinikmati. Apa mungkin Hany menjadi tidak fokus, karena harus berhadapan dengan dua issue sekaligus, drama dan horror? Entahlah, tapi semoga lain kali ia bisa menghasilkan karya yang lebih baik, karena menurut saya ia salah satu sutradara muda berbakat Indonesia.


‘MISSING’: Worth Watching but Definitely Is Missing Something!

Wednesday, October 26th, 2005

Produksi: Starvision (2005)
Sutradara: Chiska Doppert
Cast: Endhita, Restu Sinaga, Inong, Marcella Zaliyanti (Spec.App.)

Genre: Thriller/Horror
Durasi: 95"
Release Date: 20 Oktober 2005
My Grade: 2 out 5

Missing_1Dengan mengandalkan trailer yang provokatif, walau tanpa promosi yang gencar, maka saya tergerak untuk menonton ‘Missing’ di bioskop terdekat di kota saya. Dan terus terang, saya cukup puas dengan film ini, walau tentu ada beberapa hal yang menjadi catatan saya.

‘Missing’ adalah sebuah thriller psikologis dengan balutan horror yang kental dan bercerita  tentang Maya (Endhita) dan Steven (Restu Sinaga), pasangan suami istri yang tengah memasuki masa jenuh perkawinan mereka. Suasana rumah tangga yang kurang nyaman diperparah lagi dengan kenyataan bahwa Maya mempunyai kekuatan supernatural indera keenam dan mampu menjadi medium untuk orang-orang yang membutuhkan. Bagi Maya ini adalah kutukan, walau sahabatnya Dian (Inong) selalu menyemangatinya. Masalah baru datang saat Maya diminta polisi untuk membantu mencari anak hilang, Vega (Puji Essa Lestari), yang ternyata justru secara tidak sengaja berada di dalam bagasi Steven. Tidak ingin menambah masalah, Maya memutuskan untuk tidak memberitahu polisi dan memutuskan untuk mengembalikan sendiri Vega ke keluarganya. Malangnya, secara tidak sengaja Vega justru meninggal di rumah mereka. Panik, Maya dan Steven memutuskan untuk mengubur Vega. Akan tetapi masalah justru tidak berhenti begitu saja, karena kemudian arwah Vega malah menghantui dan mulai mengusik mereka serta memberi penderitaan batin untuk Steven dan Maya.

Menilik trailer-nya,Missing’ terlihat seperti sebuah shock-horror dengan gaya Asia yang kental. Namun ‘Missing’ sebenarnya adalah sebuah thriller psikologis dengan bumbu-bumbu horor. ‘Missing’ cukup berhasil dalam menyampaikan pesan film, dengan presentasi yang cukup menarik. Penggunaan visualisasi yang gelap dan lembab menambah kesan suram film namun tetap terlihat indah. Atmosfir menegangkan dan kengerian juga cukup baik ditampilkan dan menyimpan beberapa adegan yang cukup mengegetkan. Scoring-nya juga cukup baik dan membantu dalam membangun cerita. Mudah-mudahan bukan ‘kutipan’ lagi dari film-film lainnya!

Namun, jelas ada sesuatu yang hilang dari ‘Missing’. Ibarat untuk membuat sebuah baju, bahan-bahan yang dipakai untuk ‘Missing’ sudah cukup baik. Chiska Doppert, sang sutradara, sebagai penjahitnya juga sepertinya sudah cukup mengerti dengan apa yang ingin dikerjakannya. Kelemahan utama  film ini terletak pada skripnya, sebagai pola untuk membuat baju, oleh Ery Sofid, yang sebelumnya juga menggarap ‘12:00 AM’ (2005). Niat untuk membuat sebuah cerita yang cukup logis memang patut untuk dihargai. Hanya saja, plot yang terlalu sederhana membuat skripnya tidak mengelaborasi objek dari film ini dengan proporsional, sehingga ketika film berakhir kita tidak mengira film sudah berakhir, karena mengira akan ada lagi yang akan diceritakan. Ini menjadikan ‘Missing’ berakhir dengan anti-klimaks yang mungkin akan menyisakan kekecewaan bagi sebagian penontonnya. Skrip juga diisi dengan dialog-dialog puistis yang kadang tidak pada tempatnya serta karakterisasi yang lemah menjadi sebuah gangguan dalam menonton film ini. Karakter-karakter yang ada di dalam ‘Missing’ hadir seperti tempelan saja, bahkan untuk karakter utama seperti Maya dan Steven. Sementara karakter Vega tampil dengan sangat berlebihan, terutama saat ia merangkak keluar dari bagasi dan memasuki rumah dengan gaya yang misterius, terasa terlalu dipaksakan. Apalagi adegan-adegan Vega saat ia belum menemui ajalnya. Terlihat sekali dibangun untuk fear-factor belaka. Walau begitu, pengembangan kekalutan psikologis dari karakter Maya cukup baik ditampilkan.

Dari segi akting, Endhita sudah terlihat sudah cukup baik, walau masih kaku di beberapa adegan. Namun, ia terlihat ingin serius  didalam berakting. Ini adalah film ketiganya dan masih berkutat di genre horror, setelah Titik Hitam’ (2003) dan ‘Bangsal 13′ (2004). Ingin rasanya melihat Endhita di film dengan genre yang berbeda dengan karakter yang kuat. Sementara untuk Restu Sinaga, saya harus meralat ucapan saya saat mereview Cinta Silver’ (2005), karena Restu menunjukkan peningkatan dengan signifikansi yang kuat dari aktingnya. Mungkin yang diperlukannya hanya jam terbang yang cukup untuk benar-benar menjadi seorang aktor yang watak. Karakter yang dimainkan Inong sebenarnya terlalu dipaksakan untuk hadir, namun justru ia yang bermain dengan cukup baik. Sementara itu ada penampilan khusus oleh Marcella Zaliyanti, yang tetap berakting dengan ‘baik dan benar’, walau hanya untuk beberapa menit saja.

‘Missing’ adalah sebuah film dengan pesan moral yang cukup bagus. Dikemas dalam bentuk horror/thriller, ‘Missing menjadi sebuah film yang tetap terlihat stylish, walau masih terdapat kelemahan di sana-sini, namun terlepas dari itu film ini sudah cukup menghibur. Walaupun saya tidak akan merekomendasikan film ini dalam skala prioritas pertama, namun tentu saja ‘Missing’ masih lebih menarik dan bagus, bahkan dibandingkan ‘12:AM’ (2005) sekalipun.


‘THE SKELETON KEY’: Misteri dan Kengerian Sebuah Rahasia

Monday, October 17th, 2005

Produksi: Universal Pictures (2005)
Sutradara: Iain Softley
Cast: Kate Hudson, Gena Rowlands, Peter Sarsgaard, John Hurt, Joy Bryant

Genre: Thriller
Durasi: 104"
Release Date: 12 Agustus 2005
My Grade: 3 out 5

Skeleton_keyEhren Kruger, penulis yang telah dengan gemilang mengadaptasi ‘Ringu’, kembali dengan thriller baru yang sama sekali bukan adaptasi, ‘The Skeleton Key’, walaupun masih berbau supernatural. Yang menarik, film ini didukung oleh Kate Hudson, yang biasanya tampil manis dalam film-film romantis. Tampaknya ia ingin mencoba teritori baru dalam khazanah aktingnya, dan ia pun tampil dengan cukup baik di film misteri thriller ini.

Caroline (Kate Hudson) adalah seorang perawat yang baru bekerja di sebuah rumah perkebunan di daerah rawa-rawa Lousiana Selatan. Tugasnya adalah untuk merawat  Ben Devereux (John Hurt) yang mengalami stroke. Ia hanya tinggal berdua saja dengan istrinya Violet (Gena Rowlands). Mula-mulanya Violet menolak kehadiran Caroline, tapi pengacaranya, Luke (Peter Sarsgaard), berhasil meyakinkan Violet untuk menerima Caroline. Pada hari pertama saja Caroline mulai merasakan keanehan dirumah itu, yang hanya mempunyai satu kunci untuk setiap pintu, kecuali untuk pintu di loteng. Anehnya, menurut Violet, Ben mengalami stroke-nya juga di loteng tersebut. Rasa penasaran yang besar untuk menolong Ben, ditambah lagi dengan seolah-olah Ben meminta pertolongannya. Maka dimulailah misi Caroline untuk menguak rahasia yang terpendam di rumah tersebut.
 
‘The Skeleton Key’ adalah film yang sangat mengandalkan akan unsur-unsur kejutan dalam pengembangan plotnya. Tentu saja, sebagai sebuah thriller, ia juga menyimpan adegan-adegan yang berguna sebagai faktor-kejut bagi penonton guna menambah kenikmatan menontonnya. Sayangnya, Ehren Kruger justru terjebak dengan formula dan klise film thriller pada umumnya, sehingga bagi yang telah mempunyai jam terbang tinggi untuk film-film seperti ini akan sudah menebak misteri dari film dan endingnya, bahkan dari setengah jam pertama. Pintu berderit, gemuruh, hujan, dan semua unsur yang diperlukan untuk membuat sebuah thriller yang efektif ada di film ini. Karakter-karakternya ternyata juga ditampilkan dengan cukup jelas, sehingga kita dapat dengan gampang menebak siapa sebenaranya antagonis dalam film ini. Entah ini disengaja atau tidak, yang jelas mengurangi nilai lebih film ini. Ending film ini juga relatif, menurut perspektif orang yang menontonya, apakah bagus atau tidak sama sekali.

Untungnya, Iain Softley, sutradara Inggris yang sebelumnya telah menggarap ‘K-PAX’ (2001) dan the ‘Wings of the Dove’ (1997), cukup berhasil membangun ‘The Skeleton Key’ menjadi thriller yanhg menarik untuk tetap dinikmati dari awal hingga akhir.

Kate Hudson sendiri bermain dengan cukup baik dan berhasil meninggalkan kesan gadis romantisnya. Yang hadir adalah Caroline yang mempunyai rasa tanggung jawab yang besar untuk menyelamatkan seseorang, bahkan untuk menentang bahaya sekalipun. Ms. Hudson jelas memberikan kontribusi positif untuk film ini.

Terlepas dari kelemahannya, ‘The Skeleton Key’ adalah thriller yang menghibur dan cukup berhasil dalam membangun kengerian yang ingin ditampilkan. ‘The Skeleton Key’ tidak hanya bercerita tentang misteri supernatural, akan tetapi juga latar belakang psikologis yang ada dibalik misteri itu. Dengan adanya pesan moral tersebut, ‘The Skeleton Key’ cukup pantas untuk ditonton, setidaknya sekali atau untuk versi DVDnya.


‘RED EYE’: Teror Psikologis Di Ketinggian 30,000 Kaki

Thursday, October 13th, 2005

Produksi: Dreamworks (2005)
Sutradara: Wes Craven
Cast: Rachel McAdams, Cillian Murphy, Brian Cox, Jack Scalia

Genre: Thriller
Durasi: 85"
Release Date: 19 Agustus 2005
My Grade: 3.5 out 5

Red_eye_2Surprise, surprise! Tanpa banyak pemberitaan, tiba-tiba Wes Craven hadir kembali di tahun 2005 ini dengan ‘Red Eye’, setelah ‘Cursed’ (2005) yang kurang berhasil, baik dalam pemasaran maupun produksi.

Red Eye adalah istilah untuk perjalanan larut malam, yang kali ini adalah penerbangan yang harus dilakukan oleh Lisa Reisert (Rachel McAdams). Lisa sangat tidak menyukai terbang dengan pesawat, namun teror yang dialaminya sama sekali tidak ada hubungannya dengan turbulensi, melainkan teman sebangkunya Jackson Ripner (Cillian Murphy). Mula-mula Jack tampil sebagai pria menawan, namun sesaat setelah pesawat terbang landas, agenda sebenarnya dari Jack terkuak, dan kini Lisa adalah tawanan di ketinggian 30.000 kaki sementara nyawa ayahnya (Brian Cox) menjadi jaminan. Apa sebenarnya motif Jackson Ripner?

Film dimulai dengan menunjukkan betapa efisiennya Lisa sebagai seorang manajer hotel, hubungannya dengan sang ayah dan kemudian pertemuanya yang ditampilkan dengan manis ala komedi romantis dengan Jackson Ripner. Namun, atmosfir film kemudian berubah menjadi thriller psikologis yang menegangkan saat Lisa menjadi sandera Jackson. Di dalam pesawat yang tidak begitu besar tersebut, Lisa memainkan permainan tikus dan kucing bersama dengan Jackson. Ketegangannya hadir dengan intensitas yang tinggi, membuat penonton duduk tercekam. Selanjutnya, saat pesawat mendarat ketegangan meningkat menjadi thriller pria-dengan-pisau-besar-mengejarmu ala Wes Craven. Disini film berubah lagi menjadi aksi-thriller yang seru.

Sang master kembali mengarahkan sebuah film thriller, namun kali ini ia seperti menantang dirinya sendiri untuk membuat thriller dalam jenis yang berbeda. ‘Red Eye’ adalah sebuah thriller cat-and-mouse dengan unsur psikologis yang kuat. Adegan yang menegangkan lebih ditekankan pada situasi dengan seting yang claustrophobic, bukan kengerian atau darah semata. Dan salut untuknya, karena berhasil membangun sebuah film yang menarik. Wes Craven sepertinya memang sudah tahu benar dengan genre thriller yang dipilihnya, bahkan ketika ia berganti gaya, seperti ‘Red Eye’ yang lebih psikologis, dibandingkan dengan ‘Scream’ atau ‘A Nightmare on Elm Street’ yang lebih berdarah-darah, ia tetap dapat memuaskan penontonnya. ‘Cursed’ mungkin sebuah kegagalan, namun Wes Craven tidak berlama-lama membiarkan kegagalan dalam resumenya. Salut untuk sang master.

Rachel McAdams dan Cillian Murphy menunjukkan kapasitas yang nyaris sempurna dan mengindikasikan kalau mereka adalah calon bintang di masa depan. Rachel McAdams semakin bersinar setelah ‘The Notebook’ dan ‘Mean Girl’, sementara ini peran antagonis kedua yang saya tahu dari Cillian Murphy setelah ‘Batman Begins‘, setelah menjadi protagonis yang impresif dalam ‘28 Days Later’. Kimia diantara keduanya demikian kental, sehingga kadang kita berharap mereka bermain di film romantis saja. Namun, mereka sangat berbakat sehingga menghasilkan permainan yang dinamis.

Satu-satunya yang mengganggu saya adalah adegan di pesawat berlangsung dengan terlalu cepat, sehingga konflik yang terjadi terlihat kurang mendalam. Namun, terlepas dari itu ‘Red Eye’ adalah sebuah thriller yang dibuat dengan baik, solid, menegangkan dan yang pasti sangat menghibur, tanpa membuat penonton merasa seperti orang bodoh, dan itu yang penting.


More of Hollywood’s Asian Horror Remake

Wednesday, October 12th, 2005

Deman remake film horror dari Jepang sepertinya belum usai. Setelah The Ring, The Grudge dan Dark Water, yang merupakan film-film horror dari Jepang, maka Hollywood juga mulai ‘mengintip’ produksi dari  beberapa negara Asia lainnya, seperti Korea, Thailand dan Hong Kong. Berikut upcoming films yang diremake oleh Hollywood:


Kairocover_2Pulse (2006)

Berdasarkan Kairo (2001) yang merupakan karya dari Kiyoshi Kurosawa,yang merupakan master horror-surrealis Jepang, yang juga membuat Cure dan Charisma. Bercerita tentang sebuah website yang angker dan memakan korban dari orang-orang yang pernah login ke website tersebut.

Versi H’wood akan disutradarai oleh Jim Sonzero, seorang sutradara muda. Bintang-bintang yang akan bermain adalah Kristen Bell, Ian Somerhalder (Lost), Christina Milian (Be Cool)  dan  Jonathan Tucker (The Texas Chainsaw Massacre). Melihat deretan pemerannya, maka film ini akan lebih ke thriller remaja. Sementara distribusi film dilakukan oleh Dimension Film, yang juga telah mengedarkan film hit Scream (1996). Kabarnya si pakar horror Wes Craven sendiri yang tertarik untuk meremake film ini, namun perkembangannya malah diarahkan oleh seorang sutradara yang baru satu kali membuat feature film.


Eyecover_1The Eye (2006)

Sebuah film hit pada tahun 2002, yang merupaan kerjasama antara tiga negara, Thailand, Hong Kong dan Singapura, The Eye aka Jian Gui (2002), karya kakak beradik kembar Oxide Pang Chun dan Danny Pang. The Eye menceritakan tentang seorang gadis buta yang menerima transplantasi mata, yang anehnya kemudian mendapat penglihatan-penghilatan ganjil yang diketahuinya kemudian merupakan penampakan sosok hantu!
      
Uniknya, versi H’wood bukan disutradarai oleh Pang Bros, melainkan sutradara Jepang yang sebelumnya membuat Ringu, Dark Water dan juga The Ring TwoHideo Nakata, karena Pang Bros sendiri telah duluan mendapatkan kontrak untuk menggarap sebuah film horror Amerika, The Messenger, yang sama sekali bukan remake! Aktris kaliber Oscar, Renée Zellweger, positif bermain sebagai bintang utama, sementara untuk pendukungntya masih belum diketahui. Menilik kualitas Nakata dan aktris sekelas Zellweger, maka dipastikan The Eye akan menjadi film yang berkelas. Apalagi yang tertarik untuk meremake film ini adalah Tom Cruise dan mitranya Paula Wagner. FIlm ini sendiri akan didistribusikan oleh Paramount Pictures.


OnemissedcallcoverOne Missed Call (2007)

Chakushin ari  (2004) atau One Missed Call adalah horror Asia modern pertama karya Takashi Miike, seorang gore-meister yang sebelumnya telah mengejutkan dunia sinema dengan Auditionnya. Bercerita tentang sebuah panggilan tak terjawab dari nomor sipenerima itu sendiri yang uniknya datang dari tiga hari kedepan. Setelah tiga hari, sipenerima telepon akan menemui ajalnya dengan sangat mengerikan.

Chakusin ari segera menjadi hit di Jepang dan Asia, yang tentu saja membuat investor dari H’wood tertarik untuk meremakenya. Kali ini perusahaan Intermedia (Alexander) yang bekerjasama dengan Kudokawa Pictures yang akan meremakenya.

One Missed Call  sendiri masih dalam status announced, jadi belum ada konfirmasi sutradara atau pemerannya.


ShuttercoverShutter (2007)

Shutter (2004) adalah sebuah horror hit dari Thailand, karya duo sutradara Banjong Pisanthanakun & Parkpoom Wongpoom. Shutter menggunakan semua elemen yang diperlukan dalam pembuatan sebuah film horror Asia moderen, namun duo sutradaranya mampu membangun atmosfir yang diperlukan, sehingga film ini sukses. Bercerita tentang seorang fotografer yang diikuti oleh seorang hantu perempuan yang menampakkan diri melalui foto-fotonya.

Untuk versi Amerika, kita masih harus menunggu untuk tahun 2007, dimana Regency Enterprises sendiri belum mengkonfirmasi artis dan sutradaranya.


Film-film diatas hanya beberapa dari yang positif akan dan telah dibuat oleh Hollywood. Menurut kabar, masih akan ada beberapa film yang mengantri untuk di remake, seperti Loft dari Jepang, serta Phone dan Antartic Journal dari Korea. 

  1011loft_1

1011phone

1011antarctic

Loft/ Phone / Antartic Journal


Bollywood’s Oscar Contenders

Tuesday, October 11th, 2005

Bollywood adalah salah satu pusat perfilman terbesar di dunia, namun entah mengapa mereka nyaris tidak pernah memenangkan Oscar (duh). Berikut ini adalah kutipan dari artikel yang dimuat di situs www.planetbollywood.com, mengenai calon2 kuat Bollywood untuk Oscar tahun depan:

The Oscar Controversy

By:

What’s The Big Deal?

On Monday, September 26, 2005 a decision
was made by the Film Federation of India jury that causes a controversy
. . . what’s all the fuss about? Yes, it is official that India’s entry
for consideration for an OSCAR will be Amol Palekar’s Paheli (released in June 2005).

Paheli13pThe Privilege

In India’s history, there have been 3 films that have had the privilege of going to the Oscars: Mehmood Khan’s Mother India, Mira Nair’s Salaam Bombay, and Ashutosh Gowarikar’s Lagaan.
Unfortunately, India hasn’t won in the Foreign film category, the
biggest acclaim probably came in 1982 when Richard Attenborough’s
Gandhi won in some of the popular categories. I know that one day,
India will win the Oscar in this category, but it won’t be for Paheli.   

Aren’t all awards the same?

Does
it really matter? Nobody is ever happy with any selection ever made for
any awards show. Whether it is FILMFARE, SCREEN, ZEE CINE, STARDUST,
etc. there is always somebody who will not be content. What’s the big
deal about the Oscars? Its really an awards show to recognize
excellence in filmmaking in the United
States aka Hollywood. The FOREIGN FILM category gets about 60 seconds
of exposure and then they move on to the rest of the evening. Mind you,
how many people even watch the Oscars in India? Perhaps the last time,
2001, when Lagaan was part of the category, millions and millions of people were excited, but yet again, we lost.

Let’s
look at some past controversies. For instance in 2004, so many
categories and ridiculous winners and more controversies and rumours
like: “The Chopras bought the awards” or “Shah Rukh Khan always wins”.
Well, are these statements true? In my opinion, NO, because sometimes
even the best of them don’t win. Yash Chopra made a fine Veer Zaaraonly to have Kunal Kohli win BEST DIRECTOR at the Filmfare Awards.  AR Rahman produced the best soundtrack with Swades and Meenaxi (not even nominated), but Anu Malik walked away with the trophy for Main Hoon Na. Not only that, more recently we had the most preposterous announcement that Saif Ali Khan won a NATIONAL AWARD for Hum Tum. So let me ask this . . .doesn’t every award have its share of winners and nominees that don’t deserve the limelight?

What about 2003?  As much as Hritik Roshan was good in Koi Mil Gaya, both actor and film swept most of the awards leaving Kal Ho Na Ho and Shah Rukh Khan biting the dust. There was a big deal made then as well.

Even in 2002, when Devdas was selected as India’s entry for the Oscars, there were people who wanted RGV’s Company to be chosen.

Whether
you love him or hate him, Shah Rukh Khan is sellable as an actor and he
is recognized in North America more and more. Not only that, even
though Paheli
opened to mixed reviews, it was a success in the overseas market
playing for weeks. This could possibly be one of the reasons it was
selected. This Khan is always part of media stories, so this
controversy is only the beginning.

Don’t get me wrong readers, I am not defending Paheli as the perfect choice or supporting it, but what’s done is done.

What’s should’ve been chosen?

Hmm . . . the issue is deep.  So many people have claimed that Black
should’ve been selected. I believe that there were other selections
that would’ve made fine representations for India. Yes, despite the
fact Black
was mostly in english, it was an Indian film. I believe it deserved
recognition at the international level. However, I also find that Veer Zaara would’ve made a fine contender because with relations being better between Pakistan and India, the film showed a great love story. Parineeta
would’ve been a good selection as it showed human relationships, secret
relationships, and open relationships in a new light. Even Swades
would’ve been a decent selection as it shows one man’s journey to
return to his roots. The list can go on . . . everybody has their
favourites.

The official list of films that were considered this year were:

Veer Zaara, Swades, Page 3, Black, Hazaaron Khwaishein Aisi, Iqbal, Sachein (Tamil), Anniyan (Telugu), Mangal Pandey, Achuvante Anna (Malayalam), Graham (Telugu), Uttarayan (Marathi), and Kadal (Tamil).

Paheli
being chosen has made some people happy, and others shocked. So what’s
the big deal now? Whether the film was selected by lobbying by the
Rajasthan Tourism, or Palekar and Khan’s influence, what’s done is done!

Do you really care?

Paheli9pThis
story will stay in the news for a few weeks, die down, then when
nominations are made, it’ll be in the limelight again. Does Paheli
have a chance of getting nominated? No. Why? Because it is a fantasy
film made to enjoy like you are in a slow dream and just enjoying the
cinematography, the costumes, the music, the performances . . . it
doesn’t reflect Indian culture, it just shows the plight that a human
being can go through, whether its natural or supernatural.

I personally liked Paheli,
however, I would not select this film to represent India at the Oscars.
Amol Palekar is a fine actor and proved to be a good director,
but his film will unfortunately be mocked for months to come. The real
test has begun for them now. . . yet they don’t care because they’ve
won round 1. We’ll have to wait for the official Oscar nominations in
2006.

The remakes

Miracle worker . . . Duvidha . . . you get the picture?  The main news item is Black was robbed and Paheli has won. Everyone talks about how Black is a remake . . . well . . . even Sanjay Leela Bhansali has claimed that Black
has shades of Helen Keller’s story. But have people forgotten that
Paheli is also a remake of a 70s film called Duvidha? This controversy
has put everyone in a dilemma!

I don’t want people to begin hating Black because its now getting the recognition it deserved.  Dropping the issue is probably best.  I would rather Black gets INDIAN recognition at the regular awards than at the Oscars. Yes, because the Oscars are overrated!

Paheli . . . The Riddle

The
riddle is this: How can one movie cause so much controversy? Well, the
answer is simple . . . Bollywood has actually gotten bad recognition
throughout the years for churning out hundreds of films with over 90%
having no substance. However, since Diwali 2004, I can honestly say,
that filmmakers have began working on making some quality products,
entertaining and wholesome films. There were MUCH better films than Paheli
that had the aesthetics that would’ve made India proud at the Oscars.
The Hollywood Foreign Press, who ultimately has the final decision to
nominate, will not like the frills and colours of Paheli
because in the end, it’s a fairytale, a fantasy film. Hollywood wants
films that show humans fighting or overcoming all odds (like Lagaan did).  Unfortunately, it is clear that Paheli
will not get us an Oscar nomination, but the final decision is done. We
hold no power to appeal this ruling. So the final question is: what’s
the big deal?