‘MIRROR’: Antara Cinta dan Kematian
Produksi: Sinemart Pictures (2005)
Sutradara: Hany R. Saputra
Cast: Nirina Zubir, Jonathan Mulia, Henidar Amroe, Ichi Nuraini
Genre: Thriller/Horror/Drama
Durasi: 110"
Release Date: 27 Oktober 2005
Release Date: 27 Oktober 2005
My Grade: 2 out 5
Ini film terbaru dari Nirina Zubir, mantan VJ yang hijrah ke dunia film. Jika sebelumnya dalam ‘30 Hari Mencari Cinta’ (2004), ia memulai debutnya dengan film bergenre komedi romantis, maka sekarang ia malah menjajal kemampuan aktingnya di sebuah film horror, ‘Mirror’.
Kikan (Nirina Zubir) adalah seorang gadis SMU yang jail, dan duka menganggu teman-temannya, sampai suatu hari ia mendapat ‘anugerah, yaitu penglihatan supernatural dan indera keenam. Uniknya, melalui cermin, ia bisa melihat orang-orang yang akan meninggal. Kemampuan barunya ini membuat Kikan dalam posisi yang tidak menyenangkan. Kikan yang ceria kini berubah menjadi pemurung. Hanya Doni (Jonathan Mulia),teman sekelasnya, yang tetap menemani Kikan, sementara teman-teman Kikan lainnya menjauhi dirinya, karena dianggap sebagai pembawa sial. Doni sangat mencintai Kikan, tapi Kikan menolaknya, karena pada suatu ketika, justru bayangan dirinya yang tidak dapat dilihatnya lagi di cermin…….
Dirilis seminggu setelah ‘Missing’ (2005), maka mau tidak mau kita menjadi memperbandingkan ke dua film ini, karena kebetulan kedua-duanya memakai judul berbahasa Inggris dengan awalan M, memiliki tema yang serupa, indera keenam dan juga dibalut dengan rangka drama psikologis dengan bumbu-bumbu horror. Namun, apakah kemudian ‘Mirror’ lebih baik dari ‘Missing"? Tidak juga.
Jika ‘Missing’ memakai karakter yang lebih dewasa, maka ‘Mirror’ memakai dunia remaja sebagai settingnya. Tapi sebenarnya apa yang ingin disampaikan ‘Mirror’ sebenarnya cukup universal dan dapat menimpa orang di segala usia. Sayangnya, ‘Mirror’ terlalu bertele-tele dalam menyampaikan maksudnya, karena terlalu banyak adegan drama yang, terus terang, tidak menarik. Setelah kita menontonnya, kita menjadi bertanya-tanya, sebenarnya ‘Mirror’ bercerita tentang kengerian yang dirasakan Kikan setelah mendapatkan kemampuannya, atau cerita cintanya dengan Doni, karena yang mendominasi memang yang kedua. Padahal, dari segi horrornya sudah lumayan ‘dapat’ feelnya, walau memang tidak terlalu seram, akan tetapi sudah cukup baik eksekusinya. Bukannya diberikan adegan-adegan yang bisa bikin jantung berdegup, ‘Mirror’ justru berlama-lama di adegan cinta-cintaan khas anak SMU. Belum lagi banyaknya adegan kebetulan dan lobang di cerita, ditulis oleh penulis skrip Armantono berdasarkan ide cerita oleh paranormal kondang Leo Lumanto, yang secara sosiologis sungguh mengganggu.
Mungkin lebih baik jika ‘Mirror’ memakai pendekatan yang dipakai oleh film ‘The Eye’ (2002), karena film tersebut berhasil membangun suasana kengerian dan drama dengan baik dan seimbang. Mencontoh untuk kebaikan menurut saya tidak ada salahnya. Karena tema yang diusung oleh film ini sudah cukup baik, yaitu tentang kematian dari sudut pandang orang yang bisa melihatnya.
Kegelisahan Kikan seharusnya bisa lebih mengena, namun entah mengapa Nirina bermain tidak terlalu meyakinkan. Bagi saya ia terlihat terpaksa untuk murung dan sedih, dari pada menjadi seorang yang bernama Kikan yang tersiksa. Yang ada ialah Nirina yang mencoba untuk murung. Sayang sekali, karena menurut saya Nirina sudah cukup berbakat. Kasus yang sama juga menimpa pemain pendukungnya, Jonathan Mulia. Ini film kedua Jonatahan, setelah sebelumnya menjadi Gie remaja di film yang berjudul sama. Jonathan terlihat mencoba bermain semampunya, namun masih kurang meyakinkan.
Ini juga merupakan karya layar lebar kedua bagi Hany R. Saputra setelah ‘Virgin’ (2004). Seperti yang telah saya sebutkan tadi, Hany sudah cukup baik mengeksekusi adegan-adegan horrornya, namun entah mengapa ia justru lebih berlama-lama di drama, yang sayangnya terasa datar-datar saja. Walau Virgin lemah dicerita, akan tetapi Hany bisa dengan baik menjadikannya sebuah film yang lumayan enak untuk dinikmati. Apa mungkin Hany menjadi tidak fokus, karena harus berhadapan dengan dua issue sekaligus, drama dan horror? Entahlah, tapi semoga lain kali ia bisa menghasilkan karya yang lebih baik, karena menurut saya ia salah satu sutradara muda berbakat Indonesia.
Ini film terbaru dari Nirina Zubir, mantan VJ yang hijrah ke dunia film. Jika sebelumnya dalam ‘30 Hari Mencari Cinta’ (2004), ia memulai debutnya dengan film bergenre komedi romantis, maka sekarang ia malah menjajal kemampuan aktingnya di sebuah film horror, ‘Mirror’.
Kikan (Nirina Zubir) adalah seorang gadis SMU yang jail, dan duka menganggu teman-temannya, sampai suatu hari ia mendapat ‘anugerah, yaitu penglihatan supernatural dan indera keenam. Uniknya, melalui cermin, ia bisa melihat orang-orang yang akan meninggal. Kemampuan barunya ini membuat Kikan dalam posisi yang tidak menyenangkan. Kikan yang ceria kini berubah menjadi pemurung. Hanya Doni (Jonathan Mulia),teman sekelasnya, yang tetap menemani Kikan, sementara teman-teman Kikan lainnya menjauhi dirinya, karena dianggap sebagai pembawa sial. Doni sangat mencintai Kikan, tapi Kikan menolaknya, karena pada suatu ketika, justru bayangan dirinya yang tidak dapat dilihatnya lagi di cermin…….
Dirilis seminggu setelah ‘Missing’ (2005), maka mau tidak mau kita menjadi memperbandingkan ke dua film ini, karena kebetulan kedua-duanya memakai judul berbahasa Inggris dengan awalan M, memiliki tema yang serupa, indera keenam dan juga dibalut dengan rangka drama psikologis dengan bumbu-bumbu horror. Namun, apakah kemudian ‘Mirror’ lebih baik dari ‘Missing"? Tidak juga.
Jika ‘Missing’ memakai karakter yang lebih dewasa, maka ‘Mirror’ memakai dunia remaja sebagai settingnya. Tapi sebenarnya apa yang ingin disampaikan ‘Mirror’ sebenarnya cukup universal dan dapat menimpa orang di segala usia. Sayangnya, ‘Mirror’ terlalu bertele-tele dalam menyampaikan maksudnya, karena terlalu banyak adegan drama yang, terus terang, tidak menarik. Setelah kita menontonnya, kita menjadi bertanya-tanya, sebenarnya ‘Mirror’ bercerita tentang kengerian yang dirasakan Kikan setelah mendapatkan kemampuannya, atau cerita cintanya dengan Doni, karena yang mendominasi memang yang kedua. Padahal, dari segi horrornya sudah lumayan ‘dapat’ feelnya, walau memang tidak terlalu seram, akan tetapi sudah cukup baik eksekusinya. Bukannya diberikan adegan-adegan yang bisa bikin jantung berdegup, ‘Mirror’ justru berlama-lama di adegan cinta-cintaan khas anak SMU. Belum lagi banyaknya adegan kebetulan dan lobang di cerita, ditulis oleh penulis skrip Armantono berdasarkan ide cerita oleh paranormal kondang Leo Lumanto, yang secara sosiologis sungguh mengganggu.
Mungkin lebih baik jika ‘Mirror’ memakai pendekatan yang dipakai oleh film ‘The Eye’ (2002), karena film tersebut berhasil membangun suasana kengerian dan drama dengan baik dan seimbang. Mencontoh untuk kebaikan menurut saya tidak ada salahnya. Karena tema yang diusung oleh film ini sudah cukup baik, yaitu tentang kematian dari sudut pandang orang yang bisa melihatnya.
Kegelisahan Kikan seharusnya bisa lebih mengena, namun entah mengapa Nirina bermain tidak terlalu meyakinkan. Bagi saya ia terlihat terpaksa untuk murung dan sedih, dari pada menjadi seorang yang bernama Kikan yang tersiksa. Yang ada ialah Nirina yang mencoba untuk murung. Sayang sekali, karena menurut saya Nirina sudah cukup berbakat. Kasus yang sama juga menimpa pemain pendukungnya, Jonathan Mulia. Ini film kedua Jonatahan, setelah sebelumnya menjadi Gie remaja di film yang berjudul sama. Jonathan terlihat mencoba bermain semampunya, namun masih kurang meyakinkan.
Ini juga merupakan karya layar lebar kedua bagi Hany R. Saputra setelah ‘Virgin’ (2004). Seperti yang telah saya sebutkan tadi, Hany sudah cukup baik mengeksekusi adegan-adegan horrornya, namun entah mengapa ia justru lebih berlama-lama di drama, yang sayangnya terasa datar-datar saja. Walau Virgin lemah dicerita, akan tetapi Hany bisa dengan baik menjadikannya sebuah film yang lumayan enak untuk dinikmati. Apa mungkin Hany menjadi tidak fokus, karena harus berhadapan dengan dua issue sekaligus, drama dan horror? Entahlah, tapi semoga lain kali ia bisa menghasilkan karya yang lebih baik, karena menurut saya ia salah satu sutradara muda berbakat Indonesia.
November 23rd, 2007 at 4:46 am
Waw….Actingnya K’na baGuS BgT.
GiMaNa SiCh RaSaNya MaKan CabE BaNyaK BAnGwet KaYa Gitu??…
GooD Luck DeCh BwT K’Na…. Quw KaGum Bgt Ma K’Na. Quw.. TunGgU FiLm T’BaRunYa YaWh….
November 25th, 2007 at 9:51 pm
@nickyta
akting nirina di mirror bagus?…. LOL
:D 
can’t talk much yet… ;p
heran aja nirina bisa menang best actress di hampir smua festival film waktu meranin dirinya karakter yg gak jauh darinya sendiri di film drama menye-menye super kancut “heart”….padahal di tahun yg sama jelas2 ada aktris2 ciamik dengan akting super brilian dari “berbagi suami”…
sungguh aneh…
peace!
April 16th, 2008 at 12:31 am
NIRINA AKTINGNYA BAGUS BANGET GUE SUKA SEMUA FILM YANG DIA PERANKAN
April 16th, 2008 at 12:34 am
NIRINA AKTINGNYA BAGUS BANGET GUE SUKA SEMUA FILM YANG DIA PERANKAN GUE MINTA POSTERNYA DONG SERTA ALAMAT RUMAH + NOMOR HP DARI GITA
April 17th, 2008 at 4:58 am
wah..maaf kalau itu engga bisa bantu mba’ rianna :))
September 22nd, 2008 at 8:31 pm
film’x kak nirina
BAGUUUSSSS bUANGGGET…..
sumpah deh.. kagum aku..
kak,klo leh tau, pda wktu ada yg ska di flm’x miror tau kan..??
nah yg du2k 1 bngku yg ska sma kakak, tu cpa nma asli’x????
INGET !!! BKN YG SKA sma kakak lo ya..
ksh tau dongggggg..
pernah di iklan INDOMIE kok