‘MISSING’: Worth Watching but Definitely Is Missing Something!


Produksi: Starvision (2005)
Sutradara: Chiska Doppert
Cast: Endhita, Restu Sinaga, Inong, Marcella Zaliyanti (Spec.App.)

Genre: Thriller/Horror
Durasi: 95"
Release Date: 20 Oktober 2005
My Grade: 2 out 5

Missing_1Dengan mengandalkan trailer yang provokatif, walau tanpa promosi yang gencar, maka saya tergerak untuk menonton ‘Missing’ di bioskop terdekat di kota saya. Dan terus terang, saya cukup puas dengan film ini, walau tentu ada beberapa hal yang menjadi catatan saya.

‘Missing’ adalah sebuah thriller psikologis dengan balutan horror yang kental dan bercerita  tentang Maya (Endhita) dan Steven (Restu Sinaga), pasangan suami istri yang tengah memasuki masa jenuh perkawinan mereka. Suasana rumah tangga yang kurang nyaman diperparah lagi dengan kenyataan bahwa Maya mempunyai kekuatan supernatural indera keenam dan mampu menjadi medium untuk orang-orang yang membutuhkan. Bagi Maya ini adalah kutukan, walau sahabatnya Dian (Inong) selalu menyemangatinya. Masalah baru datang saat Maya diminta polisi untuk membantu mencari anak hilang, Vega (Puji Essa Lestari), yang ternyata justru secara tidak sengaja berada di dalam bagasi Steven. Tidak ingin menambah masalah, Maya memutuskan untuk tidak memberitahu polisi dan memutuskan untuk mengembalikan sendiri Vega ke keluarganya. Malangnya, secara tidak sengaja Vega justru meninggal di rumah mereka. Panik, Maya dan Steven memutuskan untuk mengubur Vega. Akan tetapi masalah justru tidak berhenti begitu saja, karena kemudian arwah Vega malah menghantui dan mulai mengusik mereka serta memberi penderitaan batin untuk Steven dan Maya.

Menilik trailer-nya,Missing’ terlihat seperti sebuah shock-horror dengan gaya Asia yang kental. Namun ‘Missing’ sebenarnya adalah sebuah thriller psikologis dengan bumbu-bumbu horor. ‘Missing’ cukup berhasil dalam menyampaikan pesan film, dengan presentasi yang cukup menarik. Penggunaan visualisasi yang gelap dan lembab menambah kesan suram film namun tetap terlihat indah. Atmosfir menegangkan dan kengerian juga cukup baik ditampilkan dan menyimpan beberapa adegan yang cukup mengegetkan. Scoring-nya juga cukup baik dan membantu dalam membangun cerita. Mudah-mudahan bukan ‘kutipan’ lagi dari film-film lainnya!

Namun, jelas ada sesuatu yang hilang dari ‘Missing’. Ibarat untuk membuat sebuah baju, bahan-bahan yang dipakai untuk ‘Missing’ sudah cukup baik. Chiska Doppert, sang sutradara, sebagai penjahitnya juga sepertinya sudah cukup mengerti dengan apa yang ingin dikerjakannya. Kelemahan utama  film ini terletak pada skripnya, sebagai pola untuk membuat baju, oleh Ery Sofid, yang sebelumnya juga menggarap ‘12:00 AM’ (2005). Niat untuk membuat sebuah cerita yang cukup logis memang patut untuk dihargai. Hanya saja, plot yang terlalu sederhana membuat skripnya tidak mengelaborasi objek dari film ini dengan proporsional, sehingga ketika film berakhir kita tidak mengira film sudah berakhir, karena mengira akan ada lagi yang akan diceritakan. Ini menjadikan ‘Missing’ berakhir dengan anti-klimaks yang mungkin akan menyisakan kekecewaan bagi sebagian penontonnya. Skrip juga diisi dengan dialog-dialog puistis yang kadang tidak pada tempatnya serta karakterisasi yang lemah menjadi sebuah gangguan dalam menonton film ini. Karakter-karakter yang ada di dalam ‘Missing’ hadir seperti tempelan saja, bahkan untuk karakter utama seperti Maya dan Steven. Sementara karakter Vega tampil dengan sangat berlebihan, terutama saat ia merangkak keluar dari bagasi dan memasuki rumah dengan gaya yang misterius, terasa terlalu dipaksakan. Apalagi adegan-adegan Vega saat ia belum menemui ajalnya. Terlihat sekali dibangun untuk fear-factor belaka. Walau begitu, pengembangan kekalutan psikologis dari karakter Maya cukup baik ditampilkan.

Dari segi akting, Endhita sudah terlihat sudah cukup baik, walau masih kaku di beberapa adegan. Namun, ia terlihat ingin serius  didalam berakting. Ini adalah film ketiganya dan masih berkutat di genre horror, setelah Titik Hitam’ (2003) dan ‘Bangsal 13′ (2004). Ingin rasanya melihat Endhita di film dengan genre yang berbeda dengan karakter yang kuat. Sementara untuk Restu Sinaga, saya harus meralat ucapan saya saat mereview Cinta Silver’ (2005), karena Restu menunjukkan peningkatan dengan signifikansi yang kuat dari aktingnya. Mungkin yang diperlukannya hanya jam terbang yang cukup untuk benar-benar menjadi seorang aktor yang watak. Karakter yang dimainkan Inong sebenarnya terlalu dipaksakan untuk hadir, namun justru ia yang bermain dengan cukup baik. Sementara itu ada penampilan khusus oleh Marcella Zaliyanti, yang tetap berakting dengan ‘baik dan benar’, walau hanya untuk beberapa menit saja.

‘Missing’ adalah sebuah film dengan pesan moral yang cukup bagus. Dikemas dalam bentuk horror/thriller, ‘Missing menjadi sebuah film yang tetap terlihat stylish, walau masih terdapat kelemahan di sana-sini, namun terlepas dari itu film ini sudah cukup menghibur. Walaupun saya tidak akan merekomendasikan film ini dalam skala prioritas pertama, namun tentu saja ‘Missing’ masih lebih menarik dan bagus, bahkan dibandingkan ‘12:AM’ (2005) sekalipun.


Leave a Reply