‘BELAHAN JIWA’: Disoriented like a fresh new air.
Produksi: MVP Pictures (2005)
Sutradara: Sekar Ayu Asmara
Cast: Dian Sastro Wardoyo, Rachel Maryam, Marcella Zaliyanti, Nirina Zubir, Dinna Olivia, Alexander Wiguna, Indah Kalalo, Surya Saputra, Robby Tumewu, Endhita
Release Date: 17 November 2005
Aktris-aktris utama Indonesia bermain di satu film? Hm, terdengar sangat eksploitif. Ram Punjabi sebagai produsernya? Wah, jelas-jelas suatu bentuk ‘jualan ‘ terbaru dari si Raja Sinetron dan sudah bisa dibayangkan bagaimana kualitas film ini (‘Buruan Cium Gue‘‘, hallooo?). Tapi kemudian jangan biarkan emosi kita mengintervensi niat kita untuk menonton ‘Belahan Jiwa’ , karena ini sama sekali bukan film percintaan picisan ala sinetron yang biasa kita lihat di televisi. Terus terang, ekspektasi saya sangat rendah sekali terhadap film kedua Sekar Ayu Asmara ini setelah ‘Biola Tak Berdawai’ (2003). Jika pada karya pertamanya tersebut Ayu bermain-main dengan estetis rasa puitisnya, maka dalam ‘Belahan Jiwa’ Sekar mencoba untuk mengeksplorasi suatu tema, yang rasa-rasanya baru kali ini ada dalam sejarah film Indonesia (correct me if I’m wrong!).
‘Belahan Jiwa’ bercerita tentang empat orang sahabat yang mengaku masing-masing dari mereka adalah belahan jiwa dari yang lainnya. Cairo (Rachel Maryam), adalah seorang pelukis yang nyentrik. Arimbi (Marcela Zaliyanti), psikolog yang tengah menangani seorang perempuan, Katrina (Indah Kalalo), yang mengalami krisis kepribadian ganda. Baby Blue (Nirina) seorang arsitek yang masih mengalami trauma akibat kematian saudara kembarnya, Baby Pink (Nirina. Yang terakhir adalah Farlyna (Dinna Olivia), seorang perancang busana sexy yang tengah bermasalah dengan seorang pemuka agama (Ria Irawan). Persahabatan mereka sangat erat, bahkan berikrar sampai maut memisahkan mereka, mereka akan tetap bersahabat. Namun, kemudian ternyata mereka masing-masing tengah berhubungan dengan seorang pria yang bernama Bumi (Alexander Wiguna) dan tengah mengandung anak dari hasil hubungan mereka dengan Bumi. Dan pada saat yang bersamaan, seorang perempuan misterius, Cempaka (Dian Sastrowardoyo) juga tengah mengandung anak dari Bumi. Siapakah sebenarnya Bumi dan apa motivasi dibalik perbuatannya?
‘Belahan Jiwa’ bukanlah film yang dengan gampang dicerna. Berbanding terbalik dengan ‘Biola Tak Berdawai’ yang berjalan dengan lambat, maka tempo yang disajikan ‘Belahan Jiwa’ dijalankan dengan cukup cepat. Hanya saja, bagi penonton yang awam, akan sedikit kesulitan dan mungkin juga kebingungan untuk mengikuti plot yang bergulir dalam film ini, karena adegan-adegan dalam film serasa melompat-lompat dari satu titik ke titik lainnya. Belum lagi atmosfir yang dibangun Sekar Ayu Asmara sangat kental dengan nuansa thrillernya, bahkan mengarah ke horor. Ditambah pula dengan scoring Andi Rianto yang sangat mendukung nuansa horrornya. Tapi, saya pikir ini justru adalah aspek negatif film ini, karena film ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan kengerian. Namun, dalam konteks misteri masih bisa dikaitkan, karena inti dari film ini adalah tentang MPD (Multiple Personal Disorder) atau masalah kepribadian ganda. Ini adalah issue yang kompleks dan membutuhkan kepiawaian dari seorang sutradara jika ingin mengangkatnya menjadi sebuah film. Terus terang, Sekar Ayu Asmara mempresentasikan ide ini dengan kurang meyakinkan, karena ia masih terjebak pada lubang-lubang cerita dan konsistensi yang cukup menganggu, bagi yang memahami konteks yang ada di film ini. Misteri atas potongan puzzle yang ditawarkannya baru dapat dicerna setelah film menjelang klimaks, tidak dari awal film berjalan. Ini mungkin masalah set-up yang kurang matang saja. Namun demikian, keberaniannya untuk mengangkat tema seperti ini cukup membuat warna dalam film Indonesia.
Dari segi akting, Dinna Olivia sangat bersinar di film ini. Dengan logat Betawi yang kental, Dinna bermain dengan sangat natural sebagai desainer sexy yang slebor. Marcella Zaliyanti bermain aman, karena masih cukup baik memvisualkan seorang psikolog yang terobsesi dengan rambut. Sementara untuk Dian Sastrowardoyo dan Nirina Zubir malah menunjukkan kelemahan dari segi akting, karena terlihat hampir tidak ada perkembangan dari akting mereka di film-film sebelumnya. Yang paling parah justru adalah Alexander Wiguna, sebagai Bumi. Pria ini benar-benar membutuhkan usaha yang keras untuk berakting dengan baik dan benar. Setiap ada adegan dirinya, situasi berubah menjadi komikal dan menggelikan, sesuatu yang sama sekali tidak disengaja di film ini. Dari sisi bintang pendukung, Indah Kalalo bermain dengan sangat baik dan tidak takut untuk tampil jelek. Let’s cross our finger to her next time.
‘Belahan Jiwa’ adalah sebuah drama psikologis yang mencoba mengekplorasi kedalaman jiwa manusia. Jadi karakter-karakter yang ada di film ini memang terlihat ‘mengerikan’, karena jika kita sudah menonton film ini secara lebih mendetil, kita akan memaklumi keberadaan karakter-karakter tersebut. Terlepas dari berbagai kelemahannya, ‘Belahan Jiwa’ merupakan salah satu film yang jenial namun ditampilkan dengan narasi yang disorientasi namun dapat memberikan nuansa segar dalam khazanah film Indonesia.