Archive for February, 2006

‘REALITA, CINTA DAN ROCK N’ ROLL’: Not Your Average Teen Movie

Tuesday, February 21st, 2006

Produksi: Virgo Putra Film (2006)
Sutradara: Upi Avianto
Cast: Vino G. Bastian, Herjunot Ali, Nadine Chandrawinata, Barry Prima, Sandy Harun, Frans Tumbuan

Genre: Drama/Komedi/Remaja
Durasi: 105"
Release Date: 02 Februari 2006
My Grade: 3.5 out 5

Realita_cinta_dan_rock_n_rollDua laki-laki usia remaja, Nugi (Herjunot Ali) dan Ipang (Vino G. Bastian) bersahabat dan sama tergila-gilanya akan musik roll n’ roll. Bermain band bagi mereka bukanlah hobi melainkan jati diri dan cita-cita yang tengah di rintis. Keduanya bengal, badung, impulsif, melakukan apa saja yang mereka inginkan dan berteman dengan si cantik Sandra (Nadine Chandrawinata), pemilik distro, yang sama slengeannya. Ipang adalah anak pertama dari sebuah keluarga kecil yang sebenarnya bahagia, sementara Nugi tinggal berdua saja bersama dengan ibunya (Sandy Harun) yang eksentrik, penganut new-age yang bergaya hippi. Setengah jam pertama dari ‘Realita, Cinta dan Rock N’ Roll’ (RCR) adalah pengenalan karakter, sampai kemudian film memasuki konfliknya. Karena keasyikan nge-band, nilai-nilai Ipang menjadi jelek sekali dan di tengah kemarahan orangtuanya, terungkap jati dirinya sebagai anak adopsi. Nugi yang tidak nyaman dengan kehidupan ibunya akhirnya berkesempatan untuk menemui sang ayah yang telah lama tidak pernah ditemuinya dalam sosok seorang transeksual yang bernama Mariana (Barry Prima).

‘RCR’ adalah film remaja, namun apa yang di proposisikan dalam narasinya jelas bukan tipikal cerita remaja yang biasa kita saksikan. Upi Avianto menohok dengan realitas mengenai dunia remaja saat ini dan dibalut dengan konflik yang cukup berat untuk ukuran pemikiran remaja dan ditambah dengan dialog-dialog yang cerdas sekaligus memorable. Namun, Upi mempresentasikan isue yang ditawarkannya dengan pendekatan yang lebih populis dan ringan sehingga mudah untuk dicerna. Sayangnya pendekatan ini, yang dilakukakan agar penonton awam lebih gampang untuk menikmati film, justru menjadi kelemahan terbesar dari film ini. Upi tidak mengelaborasi secara lebih maksimal isue-isue yang ada dalam film ini, sehingga terkesan menampilkan kulitnya saja. Kemudian ia seperti terjebak untuk ’setia’ pada pola-pola formula klise, seperti konflik cinta segitiga Nugi-Ipang-Sandra (Nugi tanpa sengaja melihat Ipang dan Sandra berciuman), konflik anak adopsi Ipang (Ipang tanpa sengaja mencuri dengar perdebatan orangtuanya mengenai statusnya), sampai kepada ending dengan resolusi yang terlalu sederhana (kalau tidak mau dikatakan ‘gampangan’), walau klimaks film yang cukup jenial dapat menyelamatkan film ini. 

Terlepas dari itu, Upi menunjukkan progresi yang signifikan sebagai seorang sutradara ‘yang-baik-dan-benar’. Setelah film pertamanya ‘30 Hari Mencari Cinta (2004)’ yang colourful dan girlie sekali, maka kini ia memaparkan dunia laki-laki dengan cara yang laki-laki (berani, lugas, tegas) dan tanpa beban. Berbanding terbalik dengan seorang sutradara laki-laki saat menggarap film tentang laki-laki dengan gaya yang malah terkesan cengeng .

Herjunot Ali dan Vino G. Bastian menunjukkan kekuatan akting yang luar biasa, terutama untuk aktor pemula. Chemistry mereka demikian kental, sehingga bahasa tubuh, gerak dan vokal menjadi kekuatan akting mereka. Ini film ke-2 bagi Junot dan ke-3 bagi Vino, namun jika mereka fokus dengn akting mereka, saya yakin mereka here to stay! Aktor-aktor pendukung lainnya pun bermain dengan baik dan santai sehingga terkesan cukup natural, terutama untuk pendatang baru seperti Nadine Chandrawinata. Putri Indonesia tahun 2005 ini berhasil dengan cukup baik untuk tampil sexy, sassy, witty but honest. All I have to say about her is…whoa, whoa,…..Nadine…she’s drop dead gorgeus, sensual and can act too!

Yang paling mengejutkan justru datang dari bintang laga kawakan Barry Prima, yang berperan sebagai seorang transeksual. Seorang Barry Prima yang biasanya berakting standar untuk film-film laganya, berubah menjadi seorang Mariana yang lembut, sensitif, dan maternal sekali (walau tetap jago berkelahi tentunya!). Ini membuktikan jika beliau hanya membutuhkan skrip dan karakter yang menonjol saja untuk tampil sebagai seorang aktor sebenarnya.

‘RCR’  jelas menawarkan sesuatu yang berbeda dan dapat dinikmati dengan baik pula. Kemudian, apakah Ipang dan Nugi menjadi anak yang berbeda? Mungkin tidak, namun setidaknya mereka telah belajar untuk menjadi lebih dewasa dan mampu untuk menyelesaikan masalah mereka. Ohya, ini bukan film tentang Rock N’ Roll,mwngutip Upi, tetapi tentang dua anak bengal yang menyikapi kehidupannya. One thing bother me is what happen with female director with two male in kiss. Apakah ini adalah objek fantasi mereka. We’ll figure it out, I guess.


‘INTO THE BLUE/FOG, THE/CAVE, THE/VENOM’: The Review!

Friday, February 17th, 2006

Mulai bulan ini saya akan mulai memberikan sebuah fitur review yang dinamakan COMBO HITS!, yaitu review terhadap beberapa film sekaligus yang dianggap memiliki kualitas yang sama. Untuk edisi ini adalah beberapa film thriller yang cukup menghibur dengan rating yang sama. Ini dilakukan karena saya sudah menyaksikan banyak film, baik yang berkelas A maupun tidak. Untuk film-film kelas B ini, menurut saya juga harus diberi review, walaupun mungkin hanya sederhana saja, namun setidaknya sudah ‘menyuarakan’ isi kepala saya setelah menontonnya.


IntotheblueINTO THE BLUE  (MGM/Columbia/30 September 2005)
Aksi/Petualangan/Thriller
Sutradara: John Stockwell
Cast: Paul Walker, Jessica Alba, Josh Brolin, Scott Caan, Ashley Scott
Durasi: 110"
My Grade: 2.5 out 5

Samudera, laut biru, pemuda-pemudi seksi, harta karun dan petualangan. Itulah sentral utama dari Into the Blue, karya terbaru dari sutradara John Stockwell. Berkisah tentang sekelompok anak muda yang diperankan oleh Paul Walker, Jessica Alba, Scott Caan dan Ashley Scott,
yang sangat mencintai laut. Dalam suatu ekspedisi mencari harta karun,
mereka malah menemukan narkotika milik bandar yang hilang di laut, saat
pesaway carriernya jatuh kesamudera. Petualangan berubah menjadi
berbahay, saat ketamakan merasuki salah seorang dari mereka dan
kemudian bahaya mulai mengancam jiwa mereka.

Kecintaan Stockwell
akan laut terlihat sekali dalam menggambarkan film ini; penuh dengan
panorama air yang menarik dan menakjubkan. Seting laut juga merupakan
alasan yang tepat baginya untuk memperlihatkan tubuh-tubuh indah
pemerannya dalam balutan busana yang minim. Sayangnya ia kurang
konsentrasi pada menjaga ritme dan dramatisasi cerita. Film serasa
berjalan dengan autopilot dan kita seperti bisa menebak kemana arah
film selanjutnya. Tempo yang sedikit lambat pada paruh pertama bisa
menjebak penonton pada kebosanan. Untunglah menjelang klimaks,
adegan-adegan bergerak dengan lebih cepat dan aksi yang ditawarkan
cukup menarik untuk dinikmati. Paul Walker dan Jessica Alba bermain dengan cukup baik. Begitu juga dengan Scott Caan. Hanya saja Ashley Scott yang sedikit kurang maksimal. Secara keseluruhan, sebagai film yang ringan Into the Blue cukup menghibur, walau dengan mudah kita dapat melupakannya setelah menontonnya.


ThefogTHE FOG  (Columbia/Revolution/14 Oktober 2005)
Horror/Thriller
Sutradara: Rupert Wainwright
Cast: Tom Welling, Maggie Grace, Selma Blair
Durasi: 100"
My Grade: 2.5 out 5

Hollywood kembali melakukan remake terhadap film-film horror klasik. Kali ini adalah salah satu karya master horror John Carpenter di tahun 1980, The Fog.
Cerita film berkisah tentang sebuah kota kecil di pulau Antonio Bay.
Suatu hari segumpal kabut yang sangat tebal datang dari lautan dan
menyelimuti seisi kota. Tanpa penduduk kota sadari, di dalam kabut
tersebut terdapat kekuatan supernatural yang penuh dendam. Kini seluruh
kota terancam akan bahaya maut.

Entah kenapa Hollywood tidak
membiarkan saja film-film horor klasik mereka sebagaimana adanya, tanpa
harus dilakukan proses remake, yang pasti ditujukan untuk penonton
sekarang yang mungkin kurang bisa menikmati film aslinya yang memiliki
teknologi terbatas. Memang, dengan teknologi terbaru, spesial efek
dalam The Fog dapat ditingkatkan. Namun,
apakah demikian juga dengan tingkat ketegangan dan keseraman film ini?
Sayangnya tidak. Atmosfir kengerian yang dibangun oleh film ini serasa
tanggung, sehingga The Fog seperti parade
semua unsur mistis namun tidak dalam rupa yang sesungguhnya. Walau
begitu tempo film ini berjalan dengan cukup cepat, sehingga bagi yang
ingin merasa terhibur, maka The Fog cukup lumayan menarik, apalagi jika dibandingkan dengan remake The Amityville Horror (2005)
yang sutradaranya sama sekali gagal dalam mengekplorasi horor yang
‘baik-dan-benar’. Namun, jika Anda mengharapkan sebuah film horor yang
mencekam, buang jauh-jauh pikiran anda dan nikmati saja aksi yang cukup
baik dari Tom Welling (Smallville), Maggie Grace (LOST) dan Selma Blair (Hellboys).


The_caveTHE CAVE  (Screen Gems/Cineranta/26 Agustus 2005)
Aksi/Petualangan/Thriller/Horor
Sutradara: Bruce Hunt
Cast: Cole Hauser, Morris Chestnut, Eddie Cibrian, Daniel Dae Kim, Rick Ravanello, Marcel Lures, Lena Headey, Piper Perabo
Durasi: 97"

My Grade: 2.5 out 5

Sekelompok penyelam profesional disewa untuk melakukan penjelajahan di sebuah gua bawah tanah di sebuah relik di pegunungan Romania.  Apa yang mereka temukan di gua tersebut sama sekali diluar dugaan mereka, karena lingkungan gua tersebut bukan saja sebuah ekosistem baru yang tak dikenal, akan tetapi juga dihuni oleh sekelompok mahluk yang berasal dari spesies yang tak dikenal pula. Maka satu persatu anggota tim tersebut menemui ajalnya, sementara jalan keluar satu-satunya dari gua tersebut telah tertutup reruntuhan.

The Cave adalah varian terbaru dari film klasik Alien (1979), karya Ridley Scott. Film tersebut sangat fenomenal, sehingga kemudian menjadi template bagi film-film sejenis. Jika Alien memakai seting ruang angkasa, maka The Cave memakai seting yang sama claustrophobianya, sebuah gua bawah tanah yang telah terblokir. Selanjutnya, The Cave kurang lebih sama saja. Hanya saja untuk menambah sedikit pembeda, ada sedikit twist di ceritanya, yang belum diberi penjelasan secara lebih detil, yang menurut saya sebenarnya cukup menarik. Mungkin untuk sequelnya mungkin? Cole Hauser (Paparazi)sendiri setelah Pitch Black (1999), kembali menghadapi monster-monster yang ganas, hanya saja kali ini ia tidak harus berbagi layar dengan Vin Diesel. Terus terang, bahkan dibandingkan Pitch Black saja, The Cave masih kalah jauh, apalagi dibandingkan Alien. Karena kengerian dan ketegangan yang ditawarkannya nyaris telah kita saksikan pada film-film sebelumnya. Namun, sebagai sebuah hiburan, The Cave masih cukup lumayan untuk disaksikan.


VenomVENOM (Dimension/Outerbanks/30 September 2005)
Horror/Thriller
Sutradara: Jim Gillespie
Cast: Agnes Bruckner, Method Man, Bijou Phillips, Jonathan Jackson, Meagan Good
Durasi: 87"
My Grade: 2.5 out 5

Dari sutradara I Know What You Did Last Summer (1997) dan produser yang sebelumnya sukses menulis Scream (1996), kini hadir Venom. Dengan mengambil Lousiana sebagai seting ceritanya, maka dimulailah kisah mengenai sebuah kotor yang berisi ular-ular. Hanya saja ular-ular tersebut bukan ular biasa, melainkan ular-ular yang mengandung roh dari pembunuh, pemerkosa dan sebagainya. Saat kemudian kotak tersebut terbuka dan memangsa seorang yang dianggap ‘aneh’ di sebuah kota kecil, maka dimulailah teror berdarah terhadap sekelompok remaja, saat ular-ular tersebut mencoba mengumpulkan jiwa-jiwanya kembali.

Venom jelas-jelas sangat terinspirasi oleh film-film horor klasik seperti Texas Chainsaw Massacre (1974) hanya saja dengan penambahan elemen Voodoo sebagai penyemarak cerita. Berbicara soal cerita, film ini tampil dengan jalinan kisah yang amat sederhana dengan karakter-karakter yang sebenarnya tampil hanya untuk sebagai korban bagi sang pembunuh. Adegan-adegan sadis yang cukup inventif memenuhi layar, walaupun pada paruh awal film terasa lambat dan sedikit bertele. Namun menjelang akhir, film berjalan dengan full-throtle dan membuat jantung berebar-debar. Terlepas dari itu Venom hanyalah film yang biasa-biasa saja. Sayang sekali padahal ini adalah kerjasama kedua kali Jim Gillespie dan Kevin Williamson setelah I Know What You Did Last Summer. Mungkin karena Kevin hanya menjabat sebagai produser, bukannya penulis cerita, sehingga Venom tampil dengan standar. Apalagi akting bintang-bintang muda pendukungnya masih sangat pas-pasan. Namun untuk penggemar film-film slasher yang sadis, film ini pantas untuk ditonton.


‘BAD EDUCATION’: How’s bad can you go?

Tuesday, February 7th, 2006

Produksi: 20th Century Fox (2004)
Sutradara: Pedro Almodóvar
Cast: Gael García Bernal, Fele Martínez

Genre: Drama/Thriller
Durasi: 106"
Release Date: 19 Maret 2004 (Spanyol)
My Grade: 4 out 5

Bad_education_ver1Pada mulanya saya mengira ‘Bad Education’ atau ‘La Mala Educación‘, menilik judulnya adalah sebuah film mengenai kritik sosial tentang sistem pendidikan di negara asalnya, Spanyol. Namun, ternyata saya salah. ‘Bad Education’ adalah film tentang cinta, ketidakjujuran dan identitas seksual, dan semua itu di presentasikan oleh Pedro Almodóvar , sang sutradara, dengan gemilang melalui kilas balik, imajinasi, visual yang kaya warna serta perubahan tema dengan secara akurat.

‘Bad Education’ dibuka dengan seorang transeksual  cantik yang bernama Zahara (Gael García Bernal) yang menemukan seorang pria yang ternyata adalah cinta pertamanya saat masih seorang pra-remaja disekolah katolik dulu. Ini juga membuka kenangan lama akan prilaku phedophilia yang dilakukan oleh mantan gurunya, Padre Manolo. Zahara kemudian memutuskan untuk melakukan rendezvouz ke sekolah lamanya tersebut dan berencana membalas dendam kepada Padre Manolo yang kini menjabat sebagai kepala sekolah. Cerita kemudian berpindah kepada Ángel (Gael García Bernal) yang menemui teman lamanya, yang kini menjabat sebagai seorang sutradara film, Enrique Godded (Fele Martínez), untuk menawarkan skenario yang dibuatnya. Pertemuan ini membangkitkan kembali kenangan lama mereka selama masih sekolah dulu. Namun kemudian Enrique mulai mencurigai kalau Ángel  tidaklah seperti yang diakuinya.

Sebenarnya ‘Bad Education’ masih menyimpan satu plot lagi, namun biarlah kita simpan plot tersebut sebagai elemen kejutan untuk Anda yang belum menontonnya. Dari keseluruhan plot tersebut, semuanya menampilkan Gael García Bernal yang bermain dalam karakter-karakter yang berbeda. Disini Bernal menunjukkan eksistensinya sebagai aktor muda yang watak dan berkharisma. Pemilihan film-film yang diperankannya semakin menunjukkan kalau ia adalah aktor yang serius. ‘Y tu mamá también’, ‘Amores Perros’, ‘El Crimen del padre Amaro’ dan ‘The Motorcycle Diaries’ adalah film-film penting yang pernah dimainkan oleh aktor kelahiran 30 November 1978 di Guadalajara, Jalisco, Meksiko ini. Sementara, Fele Martínez sebagai lawan main Bernal juga menampilkan akting yang gemilang, sehingga menambah warna film ini. Aktor ini belum seterkenal Bernal, namun dari film ini dapat terlihat jika ia adalah seorang aktor yang watak.

‘Bad Education’ sendiri cenderung berubah-ubah seperti bunglon, dari drama romantis akan cinta pertama berubah menjadi thriller ala Hitchcock. Pedro Almodóvar (All About My Mother), sebagai sutradara, memenuhi film ini dengan imajinasinya yang atraktif namun terkadang liar dan seduktif melalui visual yang kaya warna. Pada intinya, ‘Bad Education’ tidak berjalan secara linear, melainkan berupa beberapa garis sejajar yang kemudian bersunggingan dalam satu titik kulminasi. Bagi yang tidak terbiasa dengan tema homoseksualitas dalam film ini mungkin juga akan sedikit jengah, karena Almodóvar adalah seorang sutradara Eropa yang umumnya lebih liberal dalam mengeksplorasi seksualitas dalam film-filmnya. Hanya saja yang sedikit mengganjal dari ‘Bad Education’ adalah klimaks dari film ini, yang cenderung anti klimaks, sehingga terasa sedikit kurang memuaskan. Namun, terlepas dari itu ‘Bad Education’ adalah sebuah sinema dengan narasi yang mengikat sampai kita menyelesaikan menontonnya secara utuh. Direkomendasikan bagi penikmat film-film alternatif.