Archive for March, 2006

‘ZATôICHI’: A Brilliant Chambara with Twisted Narative

Monday, March 27th, 2006

Produksi: Shochiku (2003)
Sutradara: Takashi Kitano
Cast: Takashi Kitano, Tadanobu Asano, Michiyo Ookusu, Gadarukanaru Taka, Yuuko Daike, Daigoro Tachibana

Genre: Chambara/Drama
Release date: 6 September 2003 (Japan)
Durasi: 116"
My Grade: 4 out 5

Blind_swordsman_zatoichiSebelum membahas filmnya lebih lanjut, chambara adalah sebuah genre film di Jepang yang menceritakan tentang seluk beluk serta problematikanya dunia samurai di jaman dahulu kala. Kalau anda mengenal istilah Wu Xia untuk perfilman Mandarin, maka chambara ada saingannya. Dalam dunia chambara, Zatôichi adalah salah satu samurai yang paling terkenal. Karakter yang mulai dikenalkan pada film pertamanya, ‘Zatôichi Monogatari’ (1962), kini kembali ke layar lebar, berpetualang menumpas kebatilan dengan sabetan katananya yang sangat cepat.

Alkisah, sebuah kota kecil dikuasai oleh beberapa clan, dengan clan yang terkenal adalah Ginzo, dengan pimpinanannya yang misterius. Kesewenang-wenangan merajalela di kota tersebut, tanpa ada keberanian dari penduduk untuk melawan. Suatu hari, tibalah seorang pria buta berambut putih, berjalan tertatih-tatih memasuki kota. Atas kebaikan hati bibi O-Ume (Michiyo Ookusu), maka si pria tua pengelana tersebut bermalam. Tiada yang mengetahui kalau dia adalah si samurai legendaris Zatôichi (Takashi Kitano). Kesenangan sang masseur adalah berjudi, maka ditemani oleh keponakan bibi O-Ume yang kocak, Shinkichi (Gadarukanaru Taka), mereka terus menerus memenangi pertaruhan. Sampai kemudian sang bandar berniat untuk melakukan kecurangan, yang diendus oleh sang masseur. Maka, secepat kilat katana keluar dari sarungnya dan seluruh penghuni rumah judi bersimbah darah dan berubah menjadi mayat. Hal ini tentu saja menggusarkan clan Ginzo, sebagai penguasa rumah judi. Maka diutuslah seorang ronin yang bernama Hattori Genosuke (Tadanobu Asano) untuk memburu sang masseur buta!

Terus terang, ini film pertama Takashi Kitano yang pernah saya tonton, sehingga tidak bisa membandingkan film ini dengan karya-karyanya yang lain. Tapi Mr. Kitano, yang juga bermain sebagai si samurai buta, benar-benar seorang sutradara yang sangat mengerti dengan apa yang ingin dilakukanya. Kekerasan sangat mendominasi dalam adegan-adegannya. Pertarungannya berkelabat dengan sangat cepat, namun tetap dapat dinikmati keindahannya, walau bagi yang berjantung lemah tidak dianjurkan untuk menyaksikan adegan-adegan pertarungan penuh darah ini. Dari yang pernah saya baca, Mr. Kitano menginginkan pertarungan yang realistis, namun ia juga menginginkan hamburan darah yang berlebihan. Mungkin untuk menegaskan batasan kekejaman atas kekerasan tadi. {SPOILER: Walau sangat jelas sekali darah-darah tersebut adalah hasil kreasi CGI. Hal ini memang disengaja, untuk "memperhalus’" rasa ngeri penonton, akibat tingginya tingkat pembantaian disini}

‘Zatôichi’ bukan chambara biasa, karena Mr. Kitano sangat menekankan pada segi drama dalam film yang mempunyai pendekatan ala novel ini. Selain karakter-karakter diatas, juga ada karakter dua Geisha yang berniat untuk balas dendam (salah seorang geisha bukanlah seperti apa yang terlihat), kisah ronin Hattori beserta istrinya yang sakit-sakitan, serta misteri siapa sebenarnya pimpinan clan Ginzo. Elaborasi Mr. Kitano terhadap sub-plot ini ditampilkan secara tidak berlebihan, namun menyatu secara padu dengan struktur ceritanya. Selain itu, ia juga memaparkan latar belakang para karakternya, entah antagonis maupun protagonis, melalui teknik flashback, sebagai dasar informasi bagi penonton untuk memahami karakter-karakter film ini, bahwa mereka semua adalah manusia dengan segala dinamikanya, bukan hanya sekedar alat atau korban dalam konflik.

‘Zatôichi’ sebenarnya menawarkan cerita yang sederhana, namun tujuan Mr. Kitano disini adalah untuk mengenang kembali si antihero yang misterius. Dengan segala keterbatasanya, Zatôichi mempunyai idealisme tersendiri yang mungkin tidak masuk akal bagi orang lain. Dengan menampilkan karakter-karakter yang penuh warna, ‘Zatôichi’ berubah menjadi sebuah studi karakter yang lugas tanpa pretensi, namun kemudian menyisakan kengerian dan kesedihan, walau diakhir kegembiraan akan datang. Ini disimbolkan dengan sebuah adegan tarian massal yang sangat kontemporer, perpaduan tari-tari tradisonal Jepang dengan ‘the latest African-American tap style‘. Oh ya, tampaknya Mr. Kitano sangat menyukai tari-tarian atau musikalitas, karena beberapa segmen menampilkan adegan-adegan yang penuh tari dan musik tadi. Dan semua menjalin menjadi tontonan yang sangat memikat. Very captivating!


‘SYMPATHY FOR LADY VENGEANCE’: Balas Dendam Itu Indah

Thursday, March 23rd, 2006

Produksi: CJ Entertainment (2005)
Sutradara: Park Chan-Wook
Cast: Lee Young-ae, Choi Min-Sik, Oh Kwang-rok, Oh Dal-soo

Genre: Drama/Thriller
Release date: 29 July 2005 (Korea)
Durasi: 112"
My Grade: 4 out 5

Lady_vegeance_2Akhirnya, "Revenge Trilogy" milik Park Chan-wook terlengkapi dengan hadirnya ‘Sympathy for Lady Vengeance’ atau ‘Chin-jeol-han Geum-ja-ssi’ dalam bahasa Koreanya. Mr. Park kembali menghadirkan sebuah dinamika balas dendam dan konsekuensinya, dalam cara-cara yang (masih) vulgar, keras sekaligus subtil. Ohya, bagi yang belum menyaksikan seri ‘Vegeance’ sebelumnya tidak usah takut ketinggalan, karena ketiga film ini, ‘Sympathy for Mr. Vengeance’, ‘Oldboy‘ dan akhirnya ‘Sympathy for Lady Vengeance’ sama sekali tidak berhubungan, selain tentu saja tema tentang balas dendamnya.

Jika sebelumnya tokoh sentral yang berniat membalas dendam adalah laki-laki, maka dalam penutup trilogy in adalah giliran kaum hawa. Alkisah Geum-ja (Lee Young-ae) sangat berniat sekali ingin membalas dendam kepada Mr. Baek (Choi Min-sik), karena ia menjadi korban kelicikan Mr. Baek, sehingga menjadi tersangka pelaku penculikan dan pembunuhan  seorang anak. Setelah belasan tahun, ia pun keluar dari penjara. Dengan bantuan rekan-rekan semasa ia di sel, maka dimulailah rencana balas dendam terhadap Mr. Baek.

Jika, pada ‘Sympathy for Mr. Vengeance’ dan ‘Oldboy’ kekerasan dieksploitasi lebih dari segi fisik yang ekstrim, maka dalam ‘Sympathy for Lady Vengeance’, balas dendam lebih kepada cara bagaimana pembalasan dendam itu bisa terlaksana. Karena Geum-ja adalah seorang perempuan, maka ia menggunakan kelembutan seorang perempuan untuk menarik hati orang lain. Rencana pembalasan dendam telah disusun semenjak ia pertama sekali memijakkan kakainya di penjara. Dengan menjadi orang yang sangat baik hati, maka di penjara ia dikenal sebagai ’si baik hati Geum-ja’, dan tidak sedikit orang yang telah memakan budi kepada Geum-ja. Padahal dibalik senyumannya yang ramah, Geum-ja menyimpan kesumat, dan dengan bermodalkan kebaikan hatinya tadi, ia melaksanakan dendamnya.

Aura feminitas sangat terasa sekali pada ‘Sympathy for Lady Vengeance’, dibandingkan dengan dua pendahulunya yang lebih maskulin dan keras. Tentu saja masih banyak terdapat adegan-adegan penuh darah, namun Mr. Park merangkainya menjadi lebih subtil dan lembut, sehingga kita tidak merasa ngeri melihat darah yang belepotan disana-sini.

Dari segi cerita, sebenarnya dalam pendapat saya ‘Sympathy for Lady Vengeance’ adalah yang terlemah, karena ceritanya sangat sederhana, dan bisa saja selesai dalam durasi waktu setengah jam saja. Namun untuk mengelaborasi karakter Geum-ja yang kompleks, maka dimasukkan beberapa sub-plot, termasuk saat ia mencari putri kandungnya dan affairnya dengan seorang anak remaja. Karakter Mr. Baek sendiri masih kurang bengis, dibandingkan villain pada dua film sebelumnya, sehingga pada akhirnya Geum-ja berhadap-hadapan kembali dengan Mr. Baek dan melampiaskan dendamnya, terasa kurang gregetnya, walau cara Geum-ja mengakhiri riwayat Mr. Baek sangat inventif sekali.

Lee Young-ae dari serial ‘Jewel in the Palace’ memainkan karakter yang jauh berbeda dibandingkan saat ia menjadi Jang-geum di serial tersebut. Sebagai Geum-ja (lihat kemiripan nama karakter ini), ia adalah seorang perempuan penuh dendam, namun sekaligus merasakan bahwa kekerasan adalah jalan terakhir yang bisa ia tempuh, karena ia mengingat akan putrinya yang telah lama terpisah darinya. Dan ia berhasil untuk itu. Tidak ada Jang-geum yang manis. Melainkan Geum-ja yang sebenarnya lemah, namun berkemauan kuat. Sementara Choi Min-sik kali ini kebagian menjadi antagonis, setelah pada ‘Oldboy‘ menjadi orang yang dipenuhi kesumat dendam. Dan ia juga bermain dengan sangat gemilang dan meyakinkan.

Di seri terakhir ini, fantasi Park Chan-wook masih berkeliaran dengan liar. Ia mengisi layar dengan gambar-gambar yang kadang absurd, namun tetap terlihat indah. Plot berjalan dengan tempo yang tepat, tidak terlalu cepat atau terlalu lambat. Mr. Park berhasil menjadikan ‘Sympathy for Lady Vengeance’ sebagai penutup yang manis dari trilogy-nya dan membuktikan bahwa terlepas dari segala ironinya, balas dendam itu hakikatnya indah. 

More Poster

Sympathy_for_lady_vengeance_xlg    Lady_vegeance_yellow


‘PARADISE NOW’: Surga Itu Harus Diperjuangkan!

Wednesday, March 22nd, 2006

Distribusi: Warner Independent Pictures (2005)
Sutradara: Hany Abu-Assad
Cast: Kais Nashef, Ali Sulaiman, Lubna Azabal, Amer Hlehel

Genre: Drama
Durasi: 90" 
My Grade: 4 out 5

Paradise_now‘Paradise Now’ jelas merupakan salah satu film yang wajib tonton untuk 2005. Menjadi pemenang film berbahasa asing terbaik untuk Golden Globe 2006 serta mendapatkan nominasi dalam kategori yang sama dalam Academy Award 2006, bukanlah alasan utama untuk menyaksikannya, karena ‘Paradise Now’ adalah kekuatan akting dan cerita yang menjalin menjadi suatu entiti emosionil yang kuat.

Said (Kais Nashef) dan Khaled (Ali Sulaiman) adalah sepasang pemuda Palestina yang biasa-biasa saja. Bersahabat semenjak lama dan keduanya bekerja di sebuah bengkel yang sama. Sebagaimana pemuda yang tinggal di daerah konflik, semangat patriotisme memenuhi dada mereka. Kesempatan untuk membuktikan rasa kepahlawanan mereka kemudian tiba, saat Jamal  (Amer Hlehel), teman mereka dari kelompok bawah tanah, menginformasikan bahwa telah tiba waktunya bagi Said dan Khaled untuk melakukan bom bunuh diri di Tel Aviv, Israel. Pada mulanya semua  berjalan dengan baik, sampai saat tiba di daerah perbatasan, mereka hampir ketahuan oleh tentara perbatasan Israel dan harus kembali ke, Nablus, Jalur Barat, Palestina. Sayangnya, Said dan Khaled terpisah. Khaled kembali ke markas dan berusaha menjelaskan kepada pimpinan mereka bahwa Ali tidak mungkin untuk berkhianat. Sementara justru Said kembali lagi ke perbatasan dan memasuki wilayah Israel. Namun, keraguan merasuki dirinya dan ia kemudian membatalkan rencananya dan kembali ke Nablus. Disaat Said kembali ke markas yang sudah kosong, justru Khaled, keliling kota mencari Said. Akhirnya, dengan dibantu oleh Suha (Lubna Azabal), gadis yang dicintai oleh Said, mereka bertemu kembali. Apakah kemudian Said dan Khaled melanjutkan kembali rencana mereka?

Tidak mengira, dari sebuah wilayah konflik seperti Palestina, akan lahir sebuah film seperti Paradise Now. Narasi, yang berputar selama 48 jam terakhir kehidupan pelaku bom bunuh diri, berjalan dengan sangat lancar dan padat. Bercerita dengan sangat subtil dan puitis tentang sebuah topik yang sebenarnya sangat eksplosif. Pada setengah jam pertama adalah pengenalan karakter-karakter, Said dan Khaled, keluarga mereka dan perkenalan Said dengan Suha, gadis yang berpikiran moderat dengan aksen Perancis yang kental. Selanjutnya masuk adegan persiapan dan rencana eksekusi yang ternyata gagal. Setengah jam terakhir di film diisi dengan proses kebimbangan, baik Said dan Khaled.

Misi yang ditawarkan oleh ‘Paradise Now’ sebenarnya sangat jelas, apakah kekerasan bisa menyelesaikan masalah dan bukannya akan menimbulkan masalah yang baru? Kebimbangan inilah yang kemudian ditampilkan oleh kedua pemuda, yang pada mulanya sangat bersemangat itu. Apalagi saat masuk Suha, gadis yang sebenarnya sangat menginginkan perubahan di Palestina, namun menganggap kekerasan bukanlah jawabannya.

Gaya penyutradaraan Hany Abu-Assad sebenarnya standar saja. Tidak ada yang istimewa. Namun, ia terampil dalam merangkai emosi dalam cerita dan juga sangat informatif mengenai pelaku bom bunuh diri ini. Apalagi didukung oleh akting yang sangat menarik dari trio Kais Nashef, Ali Sulaima dan Lubna Azabal, yang bermain dengan sangat alami. Konflik moral inilah yang menjadi komoditas bagi Hany Abu-Assad dalam memfluktuasi emosi, baik dalam narasi maupun penontonnya. Terlepas dari apakah mereka di manipulasi dengan nama agama atas kepentingan kelompok (Jamal mengakatakan bahwa dua malaikat akan langsung menjemput mereka ke surga setelah mereka mati nantinya - kata lain untuk menyatakan kalau mereka akan suhada atas perjuangan mereka), kemudian kita akan menyadari bahwa sebenarnya Said dan Khaled adalah
dua pemuda biasa dengan latar belakang dan alasan yang berbeda saat
ingin melakukan bom bunuh diri tersebut. Dan bagi  mereka surga itu, entah di dunia atau di akhirat nanti, layak untuk diperjuangkan. FIlm juga diisi dengan dialog-dialog yang bernas, sehingga walaupun tanpa iringan musik skoring, kita sama sekali tidak akan merasa bosan. Secara sederhananya, Hany Abu-Assad dalam ‘Paradise Now’ ingin menunjukkan bahwa pelaku bom-bunuh diri juga manusia lho. Dan dia berhasil untuk itu.


‘RUANG’: Cinta Itu Tak Terbatas Ruang Waktu

Wednesday, March 22nd, 2006

Produksi: Parama Entertainment (2006)
Sutradara: Teddy Soeriaatmadja
Cast: Winky Wiryawan, Luna Maya, Adinia Wirasti, Slamet Rahardjo, Reggi Lawalata, Nungki Kusumastuti

Genre: Drama/Roman
Durasi: 90"
Release Date: 16 Maret 2006
My Grade: 3 out 5

RuangSetelah setahun lalu Teddy Soeriaatmadja menghentak dengan karyanya yang unik ‘Banyu Biru’ (2005), maka kini ia hadir kembali dengan sebuah karya yang sama uniknya, ‘Ruang’.

Ruang bercerita tentang kenangan masa lalu dan sebuah rahasia yang dibawanya. Alkisah, dua orang kakak beradik Rais (Slamet Rahardjo) dan Rima (Reggi Lawalata), yang mempunyai tempat tinggal berjauhan, bertemu untuk membuka sebuah kotak, warisan ibu mereka yang baru saja meninggal.  Hubungan mereka tampaknya tidak hangat, walaupun dari penuturan mereka menunjukkan jika semasa muda mereka sebenarnya sangat akrab. Sang ibu berpesan agar Rais dan Rima bersama-sama untuk membuka sang kotak. Kemudian dibukalah kotak itu, yang berisi sebuah buku berjudul Ruang, beberapa foto orang yang tak mereka kena, dan sebuah surat yang ditulis oleh ibu mereka. Dari isi surat tersebutlah, terbuka sebuah rahasia yang telah lama terpendam, sekaligus bercerita tentang kisah cinta ayah mereka dengan seorang gadis bernama Kinasih (Luna Maya).

Saat pertama kali sang ayah, Chairil (Winky Wiryawan) memijakkan kakinya di pulau tempat Flori (Adinia Wirasti) ibu mereka disaat gadis yang menetap bersama sang ayah, maka disaat itulah Flori merasakan cinta. Sayangnya, Chairil yang kemudian bekerja di perkebunan milik tuan Gustav (Kaharudin Syah), justru jatuh cinta kepada Kinasih (Luna Maya), anak sang tuan tanah. Chairil yang sangat suka menulis menjadikan Kinasih sebagai insipirasi tulisannya. Percintaan pun kemudian berkembang diantara mereka. Namun, sebagaimana kebiasaan di perkebunan dengan sistem patron-klien feodalistik yang sangat mendominasi, maka sangat tidak mungkin bagi Chairil untuk dapat bersatu dengan Kinasih!

Setelah menyaksikan ‘Ruang’ dan kemudian membandingkannya dengan ‘Banyu
Biru’ (2005), barulah terbaca bagaimana sebenarnya gaya penceritaan
Teddy Soeriaatmadja sebenarnya. Lambat, subtil serta sangat tidak
emosional, sementara konflik yang ditampilkan sebenarnya cukup intens
dan mempunyai tendensi untuk meledak-ledak. Permainan warna pun masih sangat mendominasi. Saat film bersetting masa kini, maka nuansa biru tampil di layar, sementara saat masa lalu warna layar berubah menjadi sepia. Yang sangat diacungin jempol adalah landscape yang ditangkap oleh ‘Ruang’. Sangat indah dan sangat cocok untuk gambar-gambar di kartu pos pariwisata. Sangat memanjakan mata.

Akan tetapi, dalam menikmati sebuah film, visual saja belum cukup. Narasi dan karakter itu juga penting. Teddy belum benar-benar mengeksplorasi cerita film ini menjadi benar-benar solid dan padat. Ceritanya sebenarnya sangat sederhana, apalagi untuk roman flashbacknya, sangat-sangat mengingatkan film-film jaman dahulu kala. Sayangnya cerita yang sederhana itu ditangani dengan sederhana pula, dalam artian kurang greget. Sebagai contoh, karakter Flori yang dimainkan oleh Adinia Wirasti, merupakan penghubung antara masa kini dan masa lalu, namun sama sekali tidak mempunyai pengembangan karakter yang cukup. Begitu juga dengan karakter-karakter lainnya, kurang kuat untuk meninggalkan kesan di benak penontonnya, sehingga secara keseluruhan terasa kurang menyentuh. Berbeda dengan film-film era 70-an dengan tema yang sama. Terasa emosional dan menyentuh perasaan. Mungkin Teddy memang ingin menghindari kesan cengeng, dengan menampilkan karakter-karakter dengan emosi yang cukup datar tersebut. Akan tetapi, terlepas dari itu,  esensi yang ingin ditampilkannya cukup inspiratif. Sayangnya, Teddy terlalu memaksakan diri untuk tampil puitis, sehingga kadang terasa berlebihan dan membosankan, walaupun kisah cinta antara karakter yang dimainkan Winky Wiryawan dan Luna Maya cukup romantis. Apalagi didukung dengan kekuatan visual yang kuat tadi. Saya juga sama sekali tidak merasa keberatan dengan pace film ini, karena untuk tema-tema seperti ini justru memerlukan pace yang lambat seperti ini.

Dari segi akting, Winky terlihat agak kedodoran aktingnya. Ia yang tampil bagus di dalam ‘Mengejar Matahari’ (2004), disini harus mampu menahan emosi dan mengekspresikan dirinya secara lebih subtil. Sayangya ia tampil kurang meyakinkan. Luna Maya sendiri masih tampil standar, tapi setidaknya kekuatan aktingnya mulai menunjukkan bentuknya.  Adinia Wirasti sendiri menurut saya adalah salah satu aktris muda yang berbakat. Sayangnya, skenario hanya mengizinkan dia beberapa menit saja. Slamet Rahardjo dan Reggi Lawalata juga tampil biasa-biasa saja. Perbedaan kualitas akting juga menunjukkan ‘taringnya’, saat aktor-aktris masa kini bermain dengan seting masa lalu, juatru mereka masih tampak seperti orang sekarang dengan dandanan masa lalu saja. Ekplorasi dan pendalaman karakter tidak melulu harus secara psikologis, namun situasi dan kondisi serta waktu karakter tersebut hendaknya juga dipelajari.

Secara keseluruhan, ‘Ruang’ adalah film yang menarik. Beberapa kelemahan teknis juga masih jelas terlihat di film ini. Namun, Teddy Soeraatmadja masih salah satu sutradara muda berbakat yang harus dinantikan karya terbarunya, dan mudah-mudahan terus belajar dari pengalaman untuk menghasilkan karya yang terbaik.


‘JOMBLO’: Analisa Deskriptif Mahasiswa Jomblo yang Menghibur

Thursday, March 9th, 2006

Produksi: Sinemart (2006)
Sutradara: Hanung Bramantyo
Cast: Christian Sugiono, Rizky Hanggono, Dennis Adhiswara, Ringgo Agus Rahman, Rianti Cartwright, Nadia Shapira, Karenina (Spec. App.)

Genre: Drama/Komedi/Remaja
Durasi: 116"
Release Date: 09 Februari 2006
My Grade: 3 out 5

JombloPada saat membaca halaman-halaman awal novel ‘Jomblo’, karya Adhitya Mulya, terus terang saya sedikit under estimate, karena saya mengira akan membaca sebuah narasi yang sangat khas atau tipikal remaja. Yah, semisal soal-soal percintaan yang ringan-ringan saja. Akan tetapi, setelah memasuki halam-halaman selanjutnya, saya mulai tersedot masuk dalam dunia kejombloan ini. Betapa cerdas, jenial sekaligus konyol. Yang paling penting, Adhitya Mulya cukup berhasil dalam mengkonstruksikan realitas sosiologis mahasiswa laki-laki yang kebetulan mempunyai status jomblo.

Suatu saat terdengar kabar jika novel ini akan dilayar lebarkan. Tentu saja saya menyambut dengan sangat antusias. Namun kemudian muncul keraguan saya, apakah sineas kita cukup mampu menerjemahkan gaya penceritaan yang komikal dari Adhitya Mulya tersebut. Akhirnya diketahui jika Hanung Bramantyo (Brownies -2004) diberi tugas oleh Sinemart untuk menggarapnya.Walau begitu ekspektasi saya masih belum begitu tinggi. Sampai akhirnya kesempatan untuknya menyaksikan versi filmnya pun tiba.

Jomblo bercerita tentang empat mahasiswa laki-laki, Agus (Ringgo Agus Rahman), Doni (Christian Sugiono), Bimo (Dennis Adhiswara) dan Olip (Rizky Hanggono). Mereka adalah mahasiswa-mahasiswa jomblo yang tengah berjuang dengan idealisme masing-masing. Sampai suatu hari mereka menemukan gadis-gadis cantik yang menggoyahkan stabilitas kesendirian mereka. Maka dimulailah dinamika percintaan mereka yang justru kemudian mengancam eksistensi persahabatan mereka.

Demikianlah, ceritanya cukup sederhana, namun ‘Jomblo’ menyimpan kekuatan dalam peristiwa, dinamika dan kemudian konflik. Dan yang paling membahagiakan saya adalah Hanung berhasil dengan baik memvisualkan ‘Jomblo’ dalam bentuk gambar hidup, dengan bantuan animasi-animasi yang menarik. Bagi kita yang telah membaca bukunya jelas akan merasakan rendevouz visual yang menyenangkan. Hanya saja yang kemudian sedikit menggangu saya adalah inkonsistensi dalam struktur cerita. Pada paruh pertama, ‘Jomblo’ hadir sebagai komedi satir yang cerdas, dan sayangnya pada paruh akhir, cerita menjadi sangat melodrama. Tentu saja ada sedikit penyesuaian antara buku dengan filmnya dengan menghilangkan atau merubah beberapa bagian dari plotnya. Hanya saja narasi Hanung menjadi sedikit berpretensi karenanya. Seperti contoh, saat Agus (Ringgo Agus Rahman) akan membeli kondom karena melakukan hubungan seks dengan Lanny (Nadia Saphira), namun tidak jadi karena melihat pasangan yang religius. Padahal ini di novelnya sama sekali tidak ada serta Agus dan Lanny tetap melakukannya. Menurut saya apa yang terjadi di novel adalah realitas yang harus tetap dijaga, sementara untuk konsumsi film, ‘Jomblo’ menjadi terlalu arif untuk mencoba menjadi normatif. Dan juga ada beberapa adegan yang tidak kesampaian secara visual, padahal ekspektasi telah terbangun, sebagai misal adegan saat Agus mengajak Lanny melihat matahari terbit di bukit. Di buku adegan tersebut sangat romantis dan menyentuh, sementara saat menyaksikan adegannya di film terasa hambar dan tidak penting. Beberapa adegan yang seharusnya jenial di buku, saat menyaksikannya di film kadang menjadi terlalu berlebihan dan kadang norak dan dangkal. Tapi ini memang hambatan umum dalam memvisualkan sebuah novel. Terlepas dari itu ‘Jomblo’ hadir menjadi film yang menghibur dan tidak membosankan selama kurang lebih dua jam kita menyaksikannya.

Daris segi akting, justru pendatang baru Ringgo Agus Rahman yang tampil dengan sangat baik. Dia benar-benar pas saat menjadi Agus, dan sangat mewakili fantasi kita saat membaca bukunya. Sementara bintang-bintang lainnya terasa bermain dengan kurang maksimal, sehingga kita yang sudah berimajinasi dan mempunyai gambaran tentang karakter-karakter yang ada di noovel merasa kurang terwakili. Bukannya mereka tidak berakting dengan kurang baik, hanya saja masih standar dan repetitif dari peran-peran mereka sebelumnya, terutama untuk Rizky Hanggono yang tetap datar-datar saja dan mempunyai ekspresi yang sama untuk tiap filmnya. Mungkin ia harus belajar lagi, agar bisa tetap eksis dalam berakting.

Penggunaan teknik animasinya cukup menarik, walau kemudian akan membuat kita teringat akan ‘Janji Joni’ (2005). Namun terlepas dari kemiripan, penggunaan animasi dalam ‘Jomblo’ cukup komunikatif dan efektif. Secara teknis memang masih terdapat kekurangan, namun saya sudah cukup puas dengan visualisasi Hanung tentang deskripsi mahasiswa jomblo, walau pisau analisanya jelas masih kurang dalam dibandingkan dengan novelnya. Ohya, film ini mempunyai ending yang tidak terdapat dalam novelnya, sehingga bagi yang penasaran dengan akhir ‘Jomblo’ yang di dalam novelnya dibiarkan menggantung, maka disini akan dilihatkan bagaimana akhirnya karakter-karakter ini. Bisa jadi untuk sekuel mungkin? Mari kita berharap saja.