‘JOMBLO’: Analisa Deskriptif Mahasiswa Jomblo yang Menghibur


Produksi: Sinemart (2006)
Sutradara: Hanung Bramantyo
Cast: Christian Sugiono, Rizky Hanggono, Dennis Adhiswara, Ringgo Agus Rahman, Rianti Cartwright, Nadia Shapira, Karenina (Spec. App.)

Genre: Drama/Komedi/Remaja
Durasi: 116"
Release Date: 09 Februari 2006
My Grade: 3 out 5

JombloPada saat membaca halaman-halaman awal novel ‘Jomblo’, karya Adhitya Mulya, terus terang saya sedikit under estimate, karena saya mengira akan membaca sebuah narasi yang sangat khas atau tipikal remaja. Yah, semisal soal-soal percintaan yang ringan-ringan saja. Akan tetapi, setelah memasuki halam-halaman selanjutnya, saya mulai tersedot masuk dalam dunia kejombloan ini. Betapa cerdas, jenial sekaligus konyol. Yang paling penting, Adhitya Mulya cukup berhasil dalam mengkonstruksikan realitas sosiologis mahasiswa laki-laki yang kebetulan mempunyai status jomblo.

Suatu saat terdengar kabar jika novel ini akan dilayar lebarkan. Tentu saja saya menyambut dengan sangat antusias. Namun kemudian muncul keraguan saya, apakah sineas kita cukup mampu menerjemahkan gaya penceritaan yang komikal dari Adhitya Mulya tersebut. Akhirnya diketahui jika Hanung Bramantyo (Brownies -2004) diberi tugas oleh Sinemart untuk menggarapnya.Walau begitu ekspektasi saya masih belum begitu tinggi. Sampai akhirnya kesempatan untuknya menyaksikan versi filmnya pun tiba.

Jomblo bercerita tentang empat mahasiswa laki-laki, Agus (Ringgo Agus Rahman), Doni (Christian Sugiono), Bimo (Dennis Adhiswara) dan Olip (Rizky Hanggono). Mereka adalah mahasiswa-mahasiswa jomblo yang tengah berjuang dengan idealisme masing-masing. Sampai suatu hari mereka menemukan gadis-gadis cantik yang menggoyahkan stabilitas kesendirian mereka. Maka dimulailah dinamika percintaan mereka yang justru kemudian mengancam eksistensi persahabatan mereka.

Demikianlah, ceritanya cukup sederhana, namun ‘Jomblo’ menyimpan kekuatan dalam peristiwa, dinamika dan kemudian konflik. Dan yang paling membahagiakan saya adalah Hanung berhasil dengan baik memvisualkan ‘Jomblo’ dalam bentuk gambar hidup, dengan bantuan animasi-animasi yang menarik. Bagi kita yang telah membaca bukunya jelas akan merasakan rendevouz visual yang menyenangkan. Hanya saja yang kemudian sedikit menggangu saya adalah inkonsistensi dalam struktur cerita. Pada paruh pertama, ‘Jomblo’ hadir sebagai komedi satir yang cerdas, dan sayangnya pada paruh akhir, cerita menjadi sangat melodrama. Tentu saja ada sedikit penyesuaian antara buku dengan filmnya dengan menghilangkan atau merubah beberapa bagian dari plotnya. Hanya saja narasi Hanung menjadi sedikit berpretensi karenanya. Seperti contoh, saat Agus (Ringgo Agus Rahman) akan membeli kondom karena melakukan hubungan seks dengan Lanny (Nadia Saphira), namun tidak jadi karena melihat pasangan yang religius. Padahal ini di novelnya sama sekali tidak ada serta Agus dan Lanny tetap melakukannya. Menurut saya apa yang terjadi di novel adalah realitas yang harus tetap dijaga, sementara untuk konsumsi film, ‘Jomblo’ menjadi terlalu arif untuk mencoba menjadi normatif. Dan juga ada beberapa adegan yang tidak kesampaian secara visual, padahal ekspektasi telah terbangun, sebagai misal adegan saat Agus mengajak Lanny melihat matahari terbit di bukit. Di buku adegan tersebut sangat romantis dan menyentuh, sementara saat menyaksikan adegannya di film terasa hambar dan tidak penting. Beberapa adegan yang seharusnya jenial di buku, saat menyaksikannya di film kadang menjadi terlalu berlebihan dan kadang norak dan dangkal. Tapi ini memang hambatan umum dalam memvisualkan sebuah novel. Terlepas dari itu ‘Jomblo’ hadir menjadi film yang menghibur dan tidak membosankan selama kurang lebih dua jam kita menyaksikannya.

Daris segi akting, justru pendatang baru Ringgo Agus Rahman yang tampil dengan sangat baik. Dia benar-benar pas saat menjadi Agus, dan sangat mewakili fantasi kita saat membaca bukunya. Sementara bintang-bintang lainnya terasa bermain dengan kurang maksimal, sehingga kita yang sudah berimajinasi dan mempunyai gambaran tentang karakter-karakter yang ada di noovel merasa kurang terwakili. Bukannya mereka tidak berakting dengan kurang baik, hanya saja masih standar dan repetitif dari peran-peran mereka sebelumnya, terutama untuk Rizky Hanggono yang tetap datar-datar saja dan mempunyai ekspresi yang sama untuk tiap filmnya. Mungkin ia harus belajar lagi, agar bisa tetap eksis dalam berakting.

Penggunaan teknik animasinya cukup menarik, walau kemudian akan membuat kita teringat akan ‘Janji Joni’ (2005). Namun terlepas dari kemiripan, penggunaan animasi dalam ‘Jomblo’ cukup komunikatif dan efektif. Secara teknis memang masih terdapat kekurangan, namun saya sudah cukup puas dengan visualisasi Hanung tentang deskripsi mahasiswa jomblo, walau pisau analisanya jelas masih kurang dalam dibandingkan dengan novelnya. Ohya, film ini mempunyai ending yang tidak terdapat dalam novelnya, sehingga bagi yang penasaran dengan akhir ‘Jomblo’ yang di dalam novelnya dibiarkan menggantung, maka disini akan dilihatkan bagaimana akhirnya karakter-karakter ini. Bisa jadi untuk sekuel mungkin? Mari kita berharap saja.


One Response to “‘JOMBLO’: Analisa Deskriptif Mahasiswa Jomblo yang Menghibur”

  1. I f i t Says:

    JOMBLO……
    Gak ada yang salah dengan jomblo. gak usah malu dengan jomblo…… Emang kita belum ketemu yang tepat aja. Yah semoga jomblonya gak keterusan ampe tua.

Leave a Reply