‘RUANG’: Cinta Itu Tak Terbatas Ruang Waktu


Produksi: Parama Entertainment (2006)
Sutradara: Teddy Soeriaatmadja
Cast: Winky Wiryawan, Luna Maya, Adinia Wirasti, Slamet Rahardjo, Reggi Lawalata, Nungki Kusumastuti

Genre: Drama/Roman
Durasi: 90"
Release Date: 16 Maret 2006
My Grade: 3 out 5

RuangSetelah setahun lalu Teddy Soeriaatmadja menghentak dengan karyanya yang unik ‘Banyu Biru’ (2005), maka kini ia hadir kembali dengan sebuah karya yang sama uniknya, ‘Ruang’.

Ruang bercerita tentang kenangan masa lalu dan sebuah rahasia yang dibawanya. Alkisah, dua orang kakak beradik Rais (Slamet Rahardjo) dan Rima (Reggi Lawalata), yang mempunyai tempat tinggal berjauhan, bertemu untuk membuka sebuah kotak, warisan ibu mereka yang baru saja meninggal.  Hubungan mereka tampaknya tidak hangat, walaupun dari penuturan mereka menunjukkan jika semasa muda mereka sebenarnya sangat akrab. Sang ibu berpesan agar Rais dan Rima bersama-sama untuk membuka sang kotak. Kemudian dibukalah kotak itu, yang berisi sebuah buku berjudul Ruang, beberapa foto orang yang tak mereka kena, dan sebuah surat yang ditulis oleh ibu mereka. Dari isi surat tersebutlah, terbuka sebuah rahasia yang telah lama terpendam, sekaligus bercerita tentang kisah cinta ayah mereka dengan seorang gadis bernama Kinasih (Luna Maya).

Saat pertama kali sang ayah, Chairil (Winky Wiryawan) memijakkan kakinya di pulau tempat Flori (Adinia Wirasti) ibu mereka disaat gadis yang menetap bersama sang ayah, maka disaat itulah Flori merasakan cinta. Sayangnya, Chairil yang kemudian bekerja di perkebunan milik tuan Gustav (Kaharudin Syah), justru jatuh cinta kepada Kinasih (Luna Maya), anak sang tuan tanah. Chairil yang sangat suka menulis menjadikan Kinasih sebagai insipirasi tulisannya. Percintaan pun kemudian berkembang diantara mereka. Namun, sebagaimana kebiasaan di perkebunan dengan sistem patron-klien feodalistik yang sangat mendominasi, maka sangat tidak mungkin bagi Chairil untuk dapat bersatu dengan Kinasih!

Setelah menyaksikan ‘Ruang’ dan kemudian membandingkannya dengan ‘Banyu
Biru’ (2005), barulah terbaca bagaimana sebenarnya gaya penceritaan
Teddy Soeriaatmadja sebenarnya. Lambat, subtil serta sangat tidak
emosional, sementara konflik yang ditampilkan sebenarnya cukup intens
dan mempunyai tendensi untuk meledak-ledak. Permainan warna pun masih sangat mendominasi. Saat film bersetting masa kini, maka nuansa biru tampil di layar, sementara saat masa lalu warna layar berubah menjadi sepia. Yang sangat diacungin jempol adalah landscape yang ditangkap oleh ‘Ruang’. Sangat indah dan sangat cocok untuk gambar-gambar di kartu pos pariwisata. Sangat memanjakan mata.

Akan tetapi, dalam menikmati sebuah film, visual saja belum cukup. Narasi dan karakter itu juga penting. Teddy belum benar-benar mengeksplorasi cerita film ini menjadi benar-benar solid dan padat. Ceritanya sebenarnya sangat sederhana, apalagi untuk roman flashbacknya, sangat-sangat mengingatkan film-film jaman dahulu kala. Sayangnya cerita yang sederhana itu ditangani dengan sederhana pula, dalam artian kurang greget. Sebagai contoh, karakter Flori yang dimainkan oleh Adinia Wirasti, merupakan penghubung antara masa kini dan masa lalu, namun sama sekali tidak mempunyai pengembangan karakter yang cukup. Begitu juga dengan karakter-karakter lainnya, kurang kuat untuk meninggalkan kesan di benak penontonnya, sehingga secara keseluruhan terasa kurang menyentuh. Berbeda dengan film-film era 70-an dengan tema yang sama. Terasa emosional dan menyentuh perasaan. Mungkin Teddy memang ingin menghindari kesan cengeng, dengan menampilkan karakter-karakter dengan emosi yang cukup datar tersebut. Akan tetapi, terlepas dari itu,  esensi yang ingin ditampilkannya cukup inspiratif. Sayangnya, Teddy terlalu memaksakan diri untuk tampil puitis, sehingga kadang terasa berlebihan dan membosankan, walaupun kisah cinta antara karakter yang dimainkan Winky Wiryawan dan Luna Maya cukup romantis. Apalagi didukung dengan kekuatan visual yang kuat tadi. Saya juga sama sekali tidak merasa keberatan dengan pace film ini, karena untuk tema-tema seperti ini justru memerlukan pace yang lambat seperti ini.

Dari segi akting, Winky terlihat agak kedodoran aktingnya. Ia yang tampil bagus di dalam ‘Mengejar Matahari’ (2004), disini harus mampu menahan emosi dan mengekspresikan dirinya secara lebih subtil. Sayangya ia tampil kurang meyakinkan. Luna Maya sendiri masih tampil standar, tapi setidaknya kekuatan aktingnya mulai menunjukkan bentuknya.  Adinia Wirasti sendiri menurut saya adalah salah satu aktris muda yang berbakat. Sayangnya, skenario hanya mengizinkan dia beberapa menit saja. Slamet Rahardjo dan Reggi Lawalata juga tampil biasa-biasa saja. Perbedaan kualitas akting juga menunjukkan ‘taringnya’, saat aktor-aktris masa kini bermain dengan seting masa lalu, juatru mereka masih tampak seperti orang sekarang dengan dandanan masa lalu saja. Ekplorasi dan pendalaman karakter tidak melulu harus secara psikologis, namun situasi dan kondisi serta waktu karakter tersebut hendaknya juga dipelajari.

Secara keseluruhan, ‘Ruang’ adalah film yang menarik. Beberapa kelemahan teknis juga masih jelas terlihat di film ini. Namun, Teddy Soeraatmadja masih salah satu sutradara muda berbakat yang harus dinantikan karya terbarunya, dan mudah-mudahan terus belajar dari pengalaman untuk menghasilkan karya yang terbaik.


2 Responses to “‘RUANG’: Cinta Itu Tak Terbatas Ruang Waktu”

  1. Kevin Says:

    Ah…film yang INDAH BANGET…sumpah… gambar2 buatan rief Pribadi setingkat dg gambar Yadi Sugandi dlm Pasir Berbisik,ato ipung dlm Mengejar Matahari…..

    Heran gw kenapa bisa kalah dari Yudi atau (Denias) did FFI 2006….

    tapi bodo ah..FFI emang aneh…

  2. hARIs Says:

    yup

Leave a Reply