‘SYMPATHY FOR LADY VENGEANCE’: Balas Dendam Itu Indah


Produksi: CJ Entertainment (2005)
Sutradara: Park Chan-Wook
Cast: Lee Young-ae, Choi Min-Sik, Oh Kwang-rok, Oh Dal-soo

Genre: Drama/Thriller
Release date: 29 July 2005 (Korea)
Durasi: 112"
My Grade: 4 out 5

Lady_vegeance_2Akhirnya, "Revenge Trilogy" milik Park Chan-wook terlengkapi dengan hadirnya ‘Sympathy for Lady Vengeance’ atau ‘Chin-jeol-han Geum-ja-ssi’ dalam bahasa Koreanya. Mr. Park kembali menghadirkan sebuah dinamika balas dendam dan konsekuensinya, dalam cara-cara yang (masih) vulgar, keras sekaligus subtil. Ohya, bagi yang belum menyaksikan seri ‘Vegeance’ sebelumnya tidak usah takut ketinggalan, karena ketiga film ini, ‘Sympathy for Mr. Vengeance’, ‘Oldboy‘ dan akhirnya ‘Sympathy for Lady Vengeance’ sama sekali tidak berhubungan, selain tentu saja tema tentang balas dendamnya.

Jika sebelumnya tokoh sentral yang berniat membalas dendam adalah laki-laki, maka dalam penutup trilogy in adalah giliran kaum hawa. Alkisah Geum-ja (Lee Young-ae) sangat berniat sekali ingin membalas dendam kepada Mr. Baek (Choi Min-sik), karena ia menjadi korban kelicikan Mr. Baek, sehingga menjadi tersangka pelaku penculikan dan pembunuhan  seorang anak. Setelah belasan tahun, ia pun keluar dari penjara. Dengan bantuan rekan-rekan semasa ia di sel, maka dimulailah rencana balas dendam terhadap Mr. Baek.

Jika, pada ‘Sympathy for Mr. Vengeance’ dan ‘Oldboy’ kekerasan dieksploitasi lebih dari segi fisik yang ekstrim, maka dalam ‘Sympathy for Lady Vengeance’, balas dendam lebih kepada cara bagaimana pembalasan dendam itu bisa terlaksana. Karena Geum-ja adalah seorang perempuan, maka ia menggunakan kelembutan seorang perempuan untuk menarik hati orang lain. Rencana pembalasan dendam telah disusun semenjak ia pertama sekali memijakkan kakainya di penjara. Dengan menjadi orang yang sangat baik hati, maka di penjara ia dikenal sebagai ’si baik hati Geum-ja’, dan tidak sedikit orang yang telah memakan budi kepada Geum-ja. Padahal dibalik senyumannya yang ramah, Geum-ja menyimpan kesumat, dan dengan bermodalkan kebaikan hatinya tadi, ia melaksanakan dendamnya.

Aura feminitas sangat terasa sekali pada ‘Sympathy for Lady Vengeance’, dibandingkan dengan dua pendahulunya yang lebih maskulin dan keras. Tentu saja masih banyak terdapat adegan-adegan penuh darah, namun Mr. Park merangkainya menjadi lebih subtil dan lembut, sehingga kita tidak merasa ngeri melihat darah yang belepotan disana-sini.

Dari segi cerita, sebenarnya dalam pendapat saya ‘Sympathy for Lady Vengeance’ adalah yang terlemah, karena ceritanya sangat sederhana, dan bisa saja selesai dalam durasi waktu setengah jam saja. Namun untuk mengelaborasi karakter Geum-ja yang kompleks, maka dimasukkan beberapa sub-plot, termasuk saat ia mencari putri kandungnya dan affairnya dengan seorang anak remaja. Karakter Mr. Baek sendiri masih kurang bengis, dibandingkan villain pada dua film sebelumnya, sehingga pada akhirnya Geum-ja berhadap-hadapan kembali dengan Mr. Baek dan melampiaskan dendamnya, terasa kurang gregetnya, walau cara Geum-ja mengakhiri riwayat Mr. Baek sangat inventif sekali.

Lee Young-ae dari serial ‘Jewel in the Palace’ memainkan karakter yang jauh berbeda dibandingkan saat ia menjadi Jang-geum di serial tersebut. Sebagai Geum-ja (lihat kemiripan nama karakter ini), ia adalah seorang perempuan penuh dendam, namun sekaligus merasakan bahwa kekerasan adalah jalan terakhir yang bisa ia tempuh, karena ia mengingat akan putrinya yang telah lama terpisah darinya. Dan ia berhasil untuk itu. Tidak ada Jang-geum yang manis. Melainkan Geum-ja yang sebenarnya lemah, namun berkemauan kuat. Sementara Choi Min-sik kali ini kebagian menjadi antagonis, setelah pada ‘Oldboy‘ menjadi orang yang dipenuhi kesumat dendam. Dan ia juga bermain dengan sangat gemilang dan meyakinkan.

Di seri terakhir ini, fantasi Park Chan-wook masih berkeliaran dengan liar. Ia mengisi layar dengan gambar-gambar yang kadang absurd, namun tetap terlihat indah. Plot berjalan dengan tempo yang tepat, tidak terlalu cepat atau terlalu lambat. Mr. Park berhasil menjadikan ‘Sympathy for Lady Vengeance’ sebagai penutup yang manis dari trilogy-nya dan membuktikan bahwa terlepas dari segala ironinya, balas dendam itu hakikatnya indah. 

More Poster

Sympathy_for_lady_vengeance_xlg    Lady_vegeance_yellow


One Response to “‘SYMPATHY FOR LADY VENGEANCE’: Balas Dendam Itu Indah”

  1. Budi Says:

    Aku bbrp bulan yang lalu sudah nyewa film ini, tapi sayang setengah jalan, suaranya tiba-tiba hilang. Padahal bagus banget filmnya. Sudah nonton Three… Extremes? Di situ segment Cut punyanya Park Chan Wook juga thought provoking.

Leave a Reply