‘ZATôICHI’: A Brilliant Chambara with Twisted Narative


Produksi: Shochiku (2003)
Sutradara: Takashi Kitano
Cast: Takashi Kitano, Tadanobu Asano, Michiyo Ookusu, Gadarukanaru Taka, Yuuko Daike, Daigoro Tachibana

Genre: Chambara/Drama
Release date: 6 September 2003 (Japan)
Durasi: 116"
My Grade: 4 out 5

Blind_swordsman_zatoichiSebelum membahas filmnya lebih lanjut, chambara adalah sebuah genre film di Jepang yang menceritakan tentang seluk beluk serta problematikanya dunia samurai di jaman dahulu kala. Kalau anda mengenal istilah Wu Xia untuk perfilman Mandarin, maka chambara ada saingannya. Dalam dunia chambara, Zatôichi adalah salah satu samurai yang paling terkenal. Karakter yang mulai dikenalkan pada film pertamanya, ‘Zatôichi Monogatari’ (1962), kini kembali ke layar lebar, berpetualang menumpas kebatilan dengan sabetan katananya yang sangat cepat.

Alkisah, sebuah kota kecil dikuasai oleh beberapa clan, dengan clan yang terkenal adalah Ginzo, dengan pimpinanannya yang misterius. Kesewenang-wenangan merajalela di kota tersebut, tanpa ada keberanian dari penduduk untuk melawan. Suatu hari, tibalah seorang pria buta berambut putih, berjalan tertatih-tatih memasuki kota. Atas kebaikan hati bibi O-Ume (Michiyo Ookusu), maka si pria tua pengelana tersebut bermalam. Tiada yang mengetahui kalau dia adalah si samurai legendaris Zatôichi (Takashi Kitano). Kesenangan sang masseur adalah berjudi, maka ditemani oleh keponakan bibi O-Ume yang kocak, Shinkichi (Gadarukanaru Taka), mereka terus menerus memenangi pertaruhan. Sampai kemudian sang bandar berniat untuk melakukan kecurangan, yang diendus oleh sang masseur. Maka, secepat kilat katana keluar dari sarungnya dan seluruh penghuni rumah judi bersimbah darah dan berubah menjadi mayat. Hal ini tentu saja menggusarkan clan Ginzo, sebagai penguasa rumah judi. Maka diutuslah seorang ronin yang bernama Hattori Genosuke (Tadanobu Asano) untuk memburu sang masseur buta!

Terus terang, ini film pertama Takashi Kitano yang pernah saya tonton, sehingga tidak bisa membandingkan film ini dengan karya-karyanya yang lain. Tapi Mr. Kitano, yang juga bermain sebagai si samurai buta, benar-benar seorang sutradara yang sangat mengerti dengan apa yang ingin dilakukanya. Kekerasan sangat mendominasi dalam adegan-adegannya. Pertarungannya berkelabat dengan sangat cepat, namun tetap dapat dinikmati keindahannya, walau bagi yang berjantung lemah tidak dianjurkan untuk menyaksikan adegan-adegan pertarungan penuh darah ini. Dari yang pernah saya baca, Mr. Kitano menginginkan pertarungan yang realistis, namun ia juga menginginkan hamburan darah yang berlebihan. Mungkin untuk menegaskan batasan kekejaman atas kekerasan tadi. {SPOILER: Walau sangat jelas sekali darah-darah tersebut adalah hasil kreasi CGI. Hal ini memang disengaja, untuk "memperhalus’" rasa ngeri penonton, akibat tingginya tingkat pembantaian disini}

‘Zatôichi’ bukan chambara biasa, karena Mr. Kitano sangat menekankan pada segi drama dalam film yang mempunyai pendekatan ala novel ini. Selain karakter-karakter diatas, juga ada karakter dua Geisha yang berniat untuk balas dendam (salah seorang geisha bukanlah seperti apa yang terlihat), kisah ronin Hattori beserta istrinya yang sakit-sakitan, serta misteri siapa sebenarnya pimpinan clan Ginzo. Elaborasi Mr. Kitano terhadap sub-plot ini ditampilkan secara tidak berlebihan, namun menyatu secara padu dengan struktur ceritanya. Selain itu, ia juga memaparkan latar belakang para karakternya, entah antagonis maupun protagonis, melalui teknik flashback, sebagai dasar informasi bagi penonton untuk memahami karakter-karakter film ini, bahwa mereka semua adalah manusia dengan segala dinamikanya, bukan hanya sekedar alat atau korban dalam konflik.

‘Zatôichi’ sebenarnya menawarkan cerita yang sederhana, namun tujuan Mr. Kitano disini adalah untuk mengenang kembali si antihero yang misterius. Dengan segala keterbatasanya, Zatôichi mempunyai idealisme tersendiri yang mungkin tidak masuk akal bagi orang lain. Dengan menampilkan karakter-karakter yang penuh warna, ‘Zatôichi’ berubah menjadi sebuah studi karakter yang lugas tanpa pretensi, namun kemudian menyisakan kengerian dan kesedihan, walau diakhir kegembiraan akan datang. Ini disimbolkan dengan sebuah adegan tarian massal yang sangat kontemporer, perpaduan tari-tari tradisonal Jepang dengan ‘the latest African-American tap style‘. Oh ya, tampaknya Mr. Kitano sangat menyukai tari-tarian atau musikalitas, karena beberapa segmen menampilkan adegan-adegan yang penuh tari dan musik tadi. Dan semua menjalin menjadi tontonan yang sangat memikat. Very captivating!


Leave a Reply