Archive for April, 2006

‘HOSTEL’: Disturbing Yet Fiendishly Fun. PS: But Only For The Genre’s Fans

Thursday, April 27th, 2006

Produksi: Lions Gate Releasing (2005)
Sutradara: Eli Roth
Cast: Jay Hernandez, Derek Richardson, Eythor Gudjonsson, Barbara Nedeljakova, Jan Vlasák, Jana Kaderabkova, Jennifer Lim, Keiko Seiko   

Genre: Horror/Thriller
Durasi: 95"
Release Date: 6 Januari 2006 (USA)
My Grade: 3.5 out 5

Hostel<<<<POSSIBLY CONTAIN SPOILERS!>>>>

Apa jadinya jika dua pemikiran yang sama-sama ‘menggilai’ sadisme bertemu? Maka jadilah sebuah film horror baru yang benar-benar mengumbar darah dalam S&M tingkat tinggi. Siapa yang tidak kenal dengan Quentin Tarantino? Pakar film-film alternatif yang senang dengan darah dan kekerasan sebagai menu dalam film-filmnya. Bagaimana dengan ELi Roth? Untuk yang belum kenal, dia adalah sutradara ‘Cabin Fever’ (2002), juga sebuah film horror kecil namun menegangkan dan belepotan dengan darah. Nah, kemudian mereka bekerja sama sebagai produser dan sutradara untuk ‘Hostel’, sebuah film horror yang hanya bisa dinikmati oleh yang benar-benar mengaku fans genre ini, terutama untuk gore movies.

Paxton (Jay Hernandez) dan Josh (Derek Richardson) adalah dua turis Amerika yang tengah berlibur di Eropa. Ditemani teman baru mereka dari Islandia, Oli (Eythor Gudjonsson), hari-hari mereka diisi dengan bersenang-senang. Sampaisuatu hari mereka direkomendasikan intik pergi ke sebuha Jostel di daerah Slovakia, yang dijamin akan mendatangkan banyak ‘kesenangan’, karena akan banyaknya gadis-gadis yang bersedia tidur dengan mereka nantinya. Tergiur oleh hal tersebut, maka berangkatlah trio Paxton, Josh dan Oli. Dan, apa yang mereka dengar menjadi kenyataan, saat mereka bertemu gadis-gadis cantik Natalya (Barbara Nedeljakova) dan Svetlana (Jana Kaderabkova), yang bersedia menemani mereka bersenang-senang. Akan tetapi, masa bersenang-senang mulai berubah saat Oli menghilang bersama dengan seorang gadis Jepang,  Yuki (Keiko Seiko). Selanjutnya Josh juga tidak kelihatan lagi. Apa yang tengah terjadi? Kini giliran Paxton untuk menemukan sebuah kengerian dibalik surga yang ditawarkan oleh Hostel tersebut. Ia dan teman-temannya ternyata adalah korban dari sebuah kelompok rahasia yang mempunyai kesenangan ganjil, yaitu membunuh manusia! Bisakah Paxton menyelamatkan dirinya, juga Kana (Jennifer Lim), temannya Keiko, yang juga tengah didekap oleh kelompok tersebut.

Di poster film ini, ada tercantum kalimat ‘Inspired by True Event’. Kejadian nyata disini adalah dimana sutradara Eli Roth menemukan sebuah website Thailand yang menawarkan jasa ‘murder vacation’. Entah keberadaan website tersebut adalah benar atau tidak, namun yang pasti menarik perhatian Eli yang kemudian mengajak Quentin untuk bekerjasama dalam menggarap film ini.

Lokasi Eropa timur yang terkesan ‘misterius’ dan ‘tak terjamah’ menjadi seting yang sesuai. Pada awalnya film berjalan seperti sebuah komedi remaja ala ‘Eurotrip’ (2004), yang penuh dengan nudity dan terkesan tidak serius. Ini mungkin ganjalan utama dalam menonton film ini, karena terkesan menjadi film yang tidak horror sama sekali! Namun, saat atmosfir mulai berubah menjadi kelam, maka blood and gore mulai mengambil alih. Terus terang, bagi yang tak terbiasa dengan film horror sejenis ini, lebih baik jauh-jauhkan diri untuk menonton film ini, karena Anda hanya akan merasa mual sekali saat melihatnya.

Eli Roth sendiri melampaui kapasitasnya saat menyutradarai ‘Cabin Fever’. Terus terang, baik ‘Hostel’ dan ‘Cabin Fever’ sama-sama menampilkan adegan-adegan yang menggiriskan, namun bedanya adalah ‘Hostel’ adalah sebuah feel good cinema, dibandingkan dengan ‘Cabin Fever’ yang hanya menjual darah dan kengerian, tanpa ada isi yang bisa diambil. ‘Hostel’ ini sendiri bercerita tentang insting dasar manusia saat berada dalam situasi yang menekannya. Juga dengan banyaknya ‘kegilaan’ yang ada di dunia ini. Atmosfir kengeriannya pun begitu ‘nyata’ sehingga kita dapat merasakan ‘pengalaman’ karakter utamanya dalam peristiwa mengerikan semacam ini. Sesuatu yang kini jarang terjadi dalam genre film horror akhir-akhir ini.

Yah, ‘Hostel’ mungkin memang bukan film horor yang elegan dan mempunyai banyak kekurangan. Tapi ia meningkatkan ekspektasi kita akan sebuah kengerian, dan itu yang penting. Ohya, film ini seakaan menjadi homage untuk gore-meister dari Jepang, Takahasi Miike, karena beliau tampil pula sebagai cameo di sebuah adegan.    


‘BERBAGI SUAMI’: Berbagi Narasi yang Ciamik

Thursday, April 20th, 2006

Produksi: Kalyana Shira Film (2006)
Sutradara: Nia Dinata
Cast: Jajang C. Noer, Shanty, Dominique,Winky Wiryawan, Rieke Diah Pitaloka, Tio Pakusadewo, Ira Maya Sopha, Ria Irawan, El Manik,Nungki Kusumastuti

Genre: Drama/Komedi/Satir
Durasi: 120"
Release Date: 23 Maret 2006
My Grade: 4 out 5

Berbagi_suami_1Kalyana Shira Film semakin memantapkan diri sebagai PH yang konsisten untuk menggarap film-film dengan teman-teman yang tidak biasa, serta memuaskan baik dari segi komerisil dan artistik. Setelah suskes luar biasa dengan ‘Arisan’ (2003), Nia Dinata kembali dengan film ketiganya, ‘Berbagi Suami’. Kisahnya mengambil inspirasi mengenai kehidupan poligami, yang dalam film ini diwakilkan dari strata kelas dan karakteristik pelaku yang berbeda. Karena ingin menceritakan beberapa orang sekaligus, maka Nia membagi film ini dalam 3 bagian, yang menceritakan tentang tiga perempuan, Salma (Jajang C. Noer), seorang dokter kandungan terkenal, Siti (Shanty), gadis lugu dari kampung dan Ming (Dominique), gadis remaja dari etnis Tiong Hoa. Ketiga-tiganya bercerita secara terpisah, namun yang menyatukan mereka dalam film ini adalah mereka "berbagi suami’ dengan wanita-wanita lain. Dari sinilah, Nia Dinata ingin menggambarkan bagaiman sebenarnya kehidupan perempuan yang menerima poligami dalam hodupnya.

Film dengan segmen begini memang bukan hal yang baru, namun jarang dilakukan dalam perfilman Indonesia. Nia Dinata semakin membuktikan kredibilitasnya sebagai sutradara yang mumpuni, karena ia cukup berhasil membangun film ini menjadi tontonan yang memikat. Tidak begitu berat, namun masih mempunyai kemampuan untuk membuat kita memikirkan ’sesuatu’. Apalagi didukung dengan akting-akting yang menarik, baik dari bintang-bintang utamanya, maupun dari barisan cameonya. Oh ya, satu lagi yang menarik adalah skoringnya. Dengan memakai unsur-unsur world music, ‘Berbagi Suami’ tampil dengan lebih segar.

Terus terang, film ini tidak bisa dengan begitu saja dibandingkan dengan film-film yang mempunyai cara penceritaan multi angle seperti ini, seperti ‘Love Actually’, misalnya. Terus terang, ‘Berbagi Suami’ belum selancar itu berbicara. Tapi, setidaknya Nia Dinata berhasil dengan baik membagi perhatian penonton tanpa merasa kehilangan fokus. Dan itulah yang penting. Secara pribadi, film ini terus terang masih belum sebagus ‘Arisan’, karena tidak mempunyai impact yang cukup kuat, tapi setidaknya jauh lebih menarik dibandingkan dengan ‘Cau-Ba-Kan.


‘GOODBYE LENIN!’: Wickedly Fun Entertainment

Thursday, April 13th, 2006

Produksi: Sony Pictures Classic (2003)
Sutradara: Wolfgang Becker
Cast: Daniel Brüh, Katrin Saß, Chulpan Khamatova, Maria Simon, Florian Lukas, Alexander Beyer

Genre: Drama/Komedi/Satir
Durasi: 121"
Release Date: 13 Februari 2003 (Jerman)
My Grade: 4 out 5

Good_bye_lenin‘Goodbye Lenin!’ adalah komedi. Dan itu memang benar. Tapi tentu saja ini bukan komedi biasa. Kalau pernah menonton ‘Le Fabuleux destin d’Amélie Poulain’ (2001), maka film ini akan mengingatkan kita akan pengalaman menonton sebuah komedi yang menggelikan sekaligus menyentuh dan memberikan sesuatu untuk diambil oleh penontonnya.

Alex (Daniel Brüh) dan saudarinya Ariane (Maria Simon) tinggal bersama ibu mereka (Katrin Saß) yang aktivis pemerintah. Saat itu tahun 1989 dan Berlin masih terpisah oleh sebuah tembok yang membatasi antara wilayah barat dan timur. Suatu hari sang ibu mengalami koma dan sadar beberapa bulan kemudian. Tanpa sepengetahuan sang Ibu, keadaan telah berubah dan kedua Jerman dalam proses unifikasi. Sayangnya, kondisi sang ibu masih lemah dan tidak boleh menerima sesuatu yang mengejutkan. Oleh karena itu, Alex dan Ariane kemudian menciptakan dunia semu untuk ibu mereka, dimana mereka masih hidup di sebuah apartemen yang bernuansa komunis, sementara diluar jendela mereka kapitalis mulai memasuki kehidupan masyarakat. Kelucuan demi kelucuan timbul saat Alex mencoba untuk menutup-nutupi keadaan sebenarnya. Tapi, sepandai-pandainya tupai melompat pasti jatuh juga bukan? Demikian juga dengan situasi yang dilakoni Alex dan ibunya.

‘Goodbye Lenin!’ adalah sebuah satire sosial mengenai kehidupan Jerman pada saat itu, namun daripada berbicara soal politik, yang menjadi inti utama dari film ini menurut saya adalah tentang betapa berbaktinya seorang anak terhadap ibunya sampai menciptakan kebohongan! Tentu saja dengan bumbu-bumbu kehidupan sosial politik masyarakat Jerman pada saat itu. Karakter-karakter dalam film ini sangat membumi sekali dan reaksi mereka terhadap keadaan adalah reaksi yang wajar dan walau memang sedikit tidak masuk akal, namun inilah penggambaran yang dicoba untuk realis untuk sejenis peristiwa seperti itu.

Wolfgang Becker sebagai perangkai cerita, dengan bernas menjalin sebuah cerita yang sebenarnya terlihat absurd, namun dengan presentasi yang masuk akal. Apalagi didukung dengan kekuatan akting dari barisan pemainnya. Inilah yang membuat ‘Goodbye Lenin’ terasa tidak mempunyai jarak dengan penontonnya. Mungkin perbedaan budaya akan menyebabkan kebingungan penonton Non-Jerman akan referensi yang terdapat di film ini, namun secara umum film ini cukup gampang untuk dimengerti.

Referensi akan ‘Le Fabuleux destin d’Amélie Poulain’ semakin terasa, karena film ini bahkan memakai satu skoring milik ‘Amélie’ sebagai pengiringnya. Yah, selama bukan ‘bajakan’, dan mempunyai izin, hal ini tidak begitu mengganggu, malah menambah nikmatnya menonton film ini.

PS:
Trims Yuri for borrowing me the DVD. This review is dedicated for you :)