‘HOSTEL’: Disturbing Yet Fiendishly Fun. PS: But Only For The Genre’s Fans
Produksi: Lions Gate Releasing (2005)
Sutradara: Eli Roth
Cast: Jay Hernandez, Derek Richardson, Eythor Gudjonsson, Barbara Nedeljakova, Jan Vlasák, Jana Kaderabkova, Jennifer Lim, Keiko Seiko
Release Date: 6 Januari 2006 (USA)
<<<<POSSIBLY CONTAIN SPOILERS!>>>>
Apa jadinya jika dua pemikiran yang sama-sama ‘menggilai’ sadisme bertemu? Maka jadilah sebuah film horror baru yang benar-benar mengumbar darah dalam S&M tingkat tinggi. Siapa yang tidak kenal dengan Quentin Tarantino? Pakar film-film alternatif yang senang dengan darah dan kekerasan sebagai menu dalam film-filmnya. Bagaimana dengan ELi Roth? Untuk yang belum kenal, dia adalah sutradara ‘Cabin Fever’ (2002), juga sebuah film horror kecil namun menegangkan dan belepotan dengan darah. Nah, kemudian mereka bekerja sama sebagai produser dan sutradara untuk ‘Hostel’, sebuah film horror yang hanya bisa dinikmati oleh yang benar-benar mengaku fans genre ini, terutama untuk gore movies.
Paxton (Jay Hernandez) dan Josh (Derek Richardson) adalah dua turis Amerika yang tengah berlibur di Eropa. Ditemani teman baru mereka dari Islandia, Oli (Eythor Gudjonsson), hari-hari mereka diisi dengan bersenang-senang. Sampaisuatu hari mereka direkomendasikan intik pergi ke sebuha Jostel di daerah Slovakia, yang dijamin akan mendatangkan banyak ‘kesenangan’, karena akan banyaknya gadis-gadis yang bersedia tidur dengan mereka nantinya. Tergiur oleh hal tersebut, maka berangkatlah trio Paxton, Josh dan Oli. Dan, apa yang mereka dengar menjadi kenyataan, saat mereka bertemu gadis-gadis cantik Natalya (Barbara Nedeljakova) dan Svetlana (Jana Kaderabkova), yang bersedia menemani mereka bersenang-senang. Akan tetapi, masa bersenang-senang mulai berubah saat Oli menghilang bersama dengan seorang gadis Jepang, Yuki (Keiko Seiko). Selanjutnya Josh juga tidak kelihatan lagi. Apa yang tengah terjadi? Kini giliran Paxton untuk menemukan sebuah kengerian dibalik surga yang ditawarkan oleh Hostel tersebut. Ia dan teman-temannya ternyata adalah korban dari sebuah kelompok rahasia yang mempunyai kesenangan ganjil, yaitu membunuh manusia! Bisakah Paxton menyelamatkan dirinya, juga Kana (Jennifer Lim), temannya Keiko, yang juga tengah didekap oleh kelompok tersebut.
Di poster film ini, ada tercantum kalimat ‘Inspired by True Event’. Kejadian nyata disini adalah dimana sutradara Eli Roth menemukan sebuah website Thailand yang menawarkan jasa ‘murder vacation’. Entah keberadaan website tersebut adalah benar atau tidak, namun yang pasti menarik perhatian Eli yang kemudian mengajak Quentin untuk bekerjasama dalam menggarap film ini.
Lokasi Eropa timur yang terkesan ‘misterius’ dan ‘tak terjamah’ menjadi seting yang sesuai. Pada awalnya film berjalan seperti sebuah komedi remaja ala ‘Eurotrip’ (2004), yang penuh dengan nudity dan terkesan tidak serius. Ini mungkin ganjalan utama dalam menonton film ini, karena terkesan menjadi film yang tidak horror sama sekali! Namun, saat atmosfir mulai berubah menjadi kelam, maka blood and gore mulai mengambil alih. Terus terang, bagi yang tak terbiasa dengan film horror sejenis ini, lebih baik jauh-jauhkan diri untuk menonton film ini, karena Anda hanya akan merasa mual sekali saat melihatnya.
Eli Roth sendiri melampaui kapasitasnya saat menyutradarai ‘Cabin Fever’. Terus terang, baik ‘Hostel’ dan ‘Cabin Fever’ sama-sama menampilkan adegan-adegan yang menggiriskan, namun bedanya adalah ‘Hostel’ adalah sebuah feel good cinema, dibandingkan dengan ‘Cabin Fever’ yang hanya menjual darah dan kengerian, tanpa ada isi yang bisa diambil. ‘Hostel’ ini sendiri bercerita tentang insting dasar manusia saat berada dalam situasi yang menekannya. Juga dengan banyaknya ‘kegilaan’ yang ada di dunia ini. Atmosfir kengeriannya pun begitu ‘nyata’ sehingga kita dapat merasakan ‘pengalaman’ karakter utamanya dalam peristiwa mengerikan semacam ini. Sesuatu yang kini jarang terjadi dalam genre film horror akhir-akhir ini.
Yah, ‘Hostel’ mungkin memang bukan film horor yang elegan dan mempunyai banyak kekurangan. Tapi ia meningkatkan ekspektasi kita akan sebuah kengerian, dan itu yang penting. Ohya, film ini seakaan menjadi homage untuk gore-meister dari Jepang, Takahasi Miike, karena beliau tampil pula sebagai cameo di sebuah adegan.