Archive for August, 2006

‘SILENT HILL’: Disturbing yet Beautiful

Tuesday, August 22nd, 2006

Produksi: Tristar (2006)
Sutradara: Christophe Gans
Cast: Radha Mitchell, Laurie Holden, Sean Bean, Deborah Kara Unger, Tanya Allen, Jodelle Ferland, Kim Coates, Alice Krige

Genre: Horor
Durasi: 125"
Release Date: 21 April 2006
My Grade: 4 out 5

Silent_hillIn his ‘Silent Hil’s review, Rober Ebert said "Perhaps those who have played the game will understand the movie, and enjoy it". Well, I never played the game and I understand the movie and I totally enjoy it. Sejujurnya ‘Silent Hill’ adalah salah satu film horor yang bagus yang pernah saya tonton akhir-akhir ini! ‘Silent Hill’ diangkat berdasarkan video game dan syukurlah Uwe Boll tidak ‘kepikiran’ untuk menggarapnya.

Sharon Da Silva (Jodelle Ferland) mengalami gangguan tidur dan suka berjalan dalam tidurnya sembari mengucapkan ‘Silent Hill’. Walaupun suaminya, Chris (Sean Bean), merasa keberatan, namun sang Ibu, Rose (Radha Mitchell), diam-diam membawa sang putri ke kota Silent Hill tersebut. Kota itu sendiri sekarang adalah kota mati, karena pernah terjadi kebakaran pada 30 tahun yang lalu. Silent Hill terlihat terlantar dan penuh dengan rahasia, yang mana harus segera diungkap oleh Rose jika ingin menyelamatkan nyawa diri dan putrinya.

‘Silent Hil’l bercerita tentang misteri dan bagaimana upaya karakter utama dan kita sebagai penonton untuk mengungkapnya. Penggambaran adegan dipenuhi dengan gambar-gambar yang disturbing dan mengerikan. The mystery is so captivating and never let our attention wander around. ‘Silent Hill’ sendiri tidak sekedar menjual kengerian, bahkan menurut pendapat saya, ‘Silent Hill’ tidak begitu menakutkan. Hanya saja suasana mencekam dan mood gelapnya tetap terjaga, berkat teror psikologis yang dibeberkan di layar. Ceritanya memang sedikit sureal dan mempunyai beberapa lobang, namun film horor mana sih yang tidak mempunyai lubang di ceritanya? Setidaknya lubang di ‘Silent Hill’ tidak begitu mengganggu dan masih bisa ditoleransi.

Ini film ketiga dari Christophe Gans, setelah ‘The Crying Freeman’ dan ‘Brotherhood of the Wolf’. sekali lagi ia menunjukan talentanya dalam gambar dan setting yang terlihat indah dalam segi visual. Dia pun tetap mampu mempertahankan unsur atmospheric dari gamenya dan saya bahkan bisa mengatakan ia mengambil mood yang setipe dengan film-film J-Horror. Saya tidak terganggu sama sekali, sejak hasilnya menjadi sangat memuaskan.

Dari segi akting, dari film-film yang pernah saya tonton dengan Radha Mitchell, Sean Bean atau Deborah Kara Unger didalamnya, mereka selalu tampil maksimal, begitu juga dengan film ini, sehingga menambah keasyikan dalam menontonnya. Akting mereka memberikan penampilan yang solid untuk membawa susana yang dibutuhkan oleh film ini.

Kesimpulannya, ‘Silent Hill’ adalah film horor berkelas dan wajib tonton, baik untuk penonton umum, maupun pecinta gamenya atau yang mencintai film horor.


‘WELCOME TO DONGMAKGOL’: Perjalanan Luar Biasa Menuju Damai

Monday, August 14th, 2006

Produksi: Showbox (2005)
Sutradara: Park Kwang-hyeon
Cast: Sin Ha-gyoon, Jeong Jae-yeong, Kang Hye-jeong, Seo Jae-kyeong, Im Ha-ryong,  Jo Deok-hyeon

Genre: Komedi/Drama/Perang
Durasi: 95"
Release Date: 4 Agustus 2005 (Korea)
My Grade: 5 out 5

DongmakgolSekelompok prajurit Korea Utara disergap dan hanya menyisakan 3 orang, Komandan Lee (Jeong Jae-young) dan dua orang prajurit, Jang (Im Ha-ryong) serta remaja Taeg Ki (Ryoo Deok-hwon). Dalam pelarian, mereka bertemu seorang gadis ‘aneh’ Yeo Il (Kang Hye-jeong) yang kemduian menuntun mereka ke Dongmakgol, sebuah desa terpencil disebuah pegunungan, yang penduduknya sama sekali tidak menyadari jika saat itu tengah terjadi perang anatar dua Korea. Ternyata, di desa yang penduduknya terasa sangat ramah dan naif tersebut, terdapat dua orang disersi dari Korea Selatan, Letnan Pyo (shin Ha-kyun) dan paramedis Moon Sang-sang (Seo Jae-gyong), yang juuga ‘nyasar’ ke desa tersebut. Selain mereka, juga terdapoat seorang pilot Amerika yang pesawatnya terjatuh, smith (Steve Taschler). Pada mulanya ketegangan terjadi, namun akhirnya mereka mengkesampingkan permusuhan mereka untuk sementara, karena tanpa sengaja telah meledakkan lumbung makanan desa, sehingga mereka harus membuat lumbung baru dan mengisinya kembali dengan bekerja di ladang. Lama kelamaan, timbul hubungan persahabatan yang tulus diantara orang-orang ini di desa terasing tersebut. Namun, akhirnya kekejaman perang memaksa mereka kembali untuk mengangkat senjata, namun kali ini dengan alasan yang sama sekali berbeda!

‘Dongmakgol’ adalah sebuah fenomena untuk perfilman Korea Selatan pada tahun 2005 kemarin, karena berhasil mengumpulkan lebih dari 6 juta penonton, walau kemudian di akhir tahun rekor tersebut dipatahkan oleh ‘The King and Clown’. Tapi dibandingkan dengan judul terakhir, ‘Dongmakgol’ bagi saya justru lebih menarik dan mengesankan, baik dari segi sinematis, visual dan plot.

Disutradarai oleh seorang debutan, Park Kwang-hyeon, kita tidak akan pernah mengira ini adalah film pertamanya. Ia menjalin ‘Dongmakgol’ sebagai sebuah perpaduan yang unik dari drama serius, komedi humanis dan fantasi yang lebih membumi. Pengaruh yang besar dari anime Jepang sangat kental terasa, terutama dari karya-karya Hayao Miyazaki. Apalagi Park menggandeng Hisaishi Jo, yang biasa bekerjasama dengan Miyazaki. Akibatnya, kita seperti melihat sebuah anime yang tampil secara live action feature. Ini bukan berarti buruk, apabila Anda tidak menyukai anime. ‘Dongmakgol’ tetap saja merupakan sebuah pencapaian sinema yang menakjubkan. Bohong saja jika Anda tidak tersedot dalam pusaran ceritanya.

Kekuatan ‘Dongmakgol’ tidak hanya dari segi visual dan cerita saja, namun juga karakterisasi yang kuat, dipertegas dengan akting yang fokus, dimana semua pemain menunjukkan kimiawi yang kental, sehingga kita bisa merelasikan diri dengan satu atau beberapa karakter sekaligus. Walau bergaya anime, namun hampir semua karakter disini ditampilkan secara realitis, meski karakter yang dimainkan oleh Kang Hye-jeong (dari ‘Oldboy’) yang terasa sangat anime. Dan itu bukan masalah besar!

Walau ‘Dongmakgol’ berseting dan bercerita di saat perang Korea terjadi (periode tahun 50an), namun ‘Dongmakgol’ bukanlah epik, walau proporsi untuk itu tetap ada. Film ini lebih kepada pendekatan personal terhadap perspektif perang itu dan mengajak penontonnya untuk mendapatkan pencerahan diri pada inti perdamaian itu sendiri, yang mana dieksekusi melalui sebuah bentuk naratif yang jenial, menghibur sekaligus aspiratif.


‘KABHIE ALVIDA NAA KEHNA’: Karan Johar’s Love After Marriage

Friday, August 11th, 2006

Produksi: Dharma Productions (2005)
Sutradara: Karan Johar
Cast: Shah Rukh Khan, Rani Mukherjee, Preity Zinta, Abhishek Bachchan, Kiron Kher, Amitabh Bachchan

Genre: Drama
Durasi: 180"
Release Date: 11 Agustus 2006
My Grade: 4 out 5

Kank_1
The long-waited-most-anticipated-movie from Karan Johar is finally coming. And in his thrid venture, he defies the expectation. Not in such a bad way though! Lupakan ‘Kuch Kuch Hota Hai’ (1998) atau ‘Kabhi Kushie Kabhi Gham’ (2001), yang penuh dengan warna, keceriaan dan tentu saja melodrama itu. Karan Johar kini mencoba gaya dan tema yang baru untuknya, lebih kelam dan dewasa. ‘Kabhi Alvida Naa Kehna’ (Never Say Goodbye) bukanlah sebuah hiburan untuk sebuah keluarga.

Maya (Rani Mukherjee) dan Dev (Shah Rukh Khan) mempunyai banyak persamaan. Masing-masing telah menikah dengan pasangan yang sangat mencintai mereka, Rishi (Abishek Bachchan) dan Rhea (Preity Zinta). Bedanya, Dev telah mempunyai anak dan Maya sama sekali akan tidak pernah mempunyai anak dalam hidupnya. Satu lagi yang mendekatkan mereka adalah hubungan perkawinan mereka tengah dilanda krisis, sehingga akhirnya mereka memutuskan untuk bekerjasama untuk mencari akar permasalahan dalam perkawinan mereka dan mencoba mencari solusinya. Namun, kenyataannya berbicara lain. Mereka justru terjebak dalam hubungan emosi penuh asmara, yang kemudian meragukan mereka akan cinta mereka kepada pasangan masing-masing.

‘Kabhi Alvida Na Kehna’ (KANK) bukanlah tipikal film yang biasa kita lihat dari Bollywood. Masih melodrama, tapi cerita lebih terfokus tanpa banyak subplot atau adegan-adegan tipikal yang sering muncul di film melodrama Bollywood. No college masti, no wedding dancing, no winning over family, etc. KANK just skipped those and goes straight to the main concern, love after marriage. Cerita yang ditawarkan oleh KANK sebenarnya cukup sederhana akan tetapi mudah untuk dicerna dan dipaparkan melalui pendekatan yang cukup realis.

Karan Johar mencoba untuk mempresentasikan filmnya dengan lebih subtil, sehingga kadang temponya terasa sedikit lambat, apalagi saat pra-intermission. Bahkan sebenarnya dia bisa saja memadatkan adegan di setengah jam terakhir, sehingga film dapat menjadi lebih ringkas. Namun, disinilah kelebihan Karan Johar. Ia tidak pernah membuat penonton bosan. Bagaikan seorang pesulap, ia berhasil membuat gambar-gambar yang indah dan catchy sehingga bagai magnet bagi mata penontonnya untuk tetap lekat ke layar. Lagu-lagu tetap mewarnai, namun ini adalah pakem film India. Mau bagaimana lagi? Walaupun penempatannya sudah cukup enak dan tidak mengganggu. New York sebagai latar belakang cerita pun cukup elaboratis terhadap integralitas plot secara keseluruhan. Dari segi teknis, KANK almost flawless, at least by Bollywood’s standart.

Dari segi akting, dengan penampilan dari bintang-bintang utama dari perfilman India, apalagi yang bisa dikomentari. Mereka tampil dengan sangat memikat dan meyakinkan. Hanya saja, sedikit yang mengganjal justru melihat sang King Khan. Lagi-lagi ia menampilkan akting yang sebenarnya cukup tipikal bagi dirinya. Namun, tetap saja ia bagus, hanya saja terlalu sering kita melihat Shah Rukh berakting seperti itu, sehingga menjadi standar bagi dirinya. Sungguh suatu keistimewaan tampaknya jika kita bisa melihatnya berakting seperti di ‘Veer-Zara’, ‘Paheli’ atau ‘Swades’ misalnya.

Isu yang ditawarkan oleh KANK memang cukup dilematis, apakah perselingkuhan itu boleh-boleh saja dilakukan, karena kita sepertinya justru menemukan soulmate kita saat telah menikah. Karan Johar mencoba menyikapi polemik ini dengan cukup bijak dan ia sebenarnya cukup berhasil untuk itu. Namun tidak berarti ia banyak dipuji dengan menarasikan tema yang sensitif seperti ini. Dari banyak komentar penonton, terutama di India sendiri, banyak yang memberikan respon negatif terhadap film ini. Bahkan ada yang cukup ekstrim dengan menyebutkan bahwa bagaimana Karan Johar memberikan ‘nasehat’ tentang perkawinan, jika dia saja belum menikah dan belum tentu menikah, because (rumor has it) that he is GAY! Seharusnya subjek yang personal seperti ini tidak menjadi sebuah halangan atau objektifitas dalam melihat sebuah film, karena film pada dasarnya adalah proses kreatif dan ide pemikiran seseorang yang harus kita hargai. Tampaknya isu perselingkuhan memang masalah yang sangat sensitif, karena menyerang ruang privat seseorang, yang mana merupakan hal yang sensitif sekali untuk di invasi oleh orang lain. Padahal sebagai sebuah karya sinema, KANK adalah sebuah tontonan yang menghibur sekaligus membuat kita memikirkan sesuatu. Sesuatu yang jarang dilakukan oleh sebuah film melodrama biasa.

More Poster

Kabhialvidanaakehnaposter1