‘KABHIE ALVIDA NAA KEHNA’: Karan Johar’s Love After Marriage


Produksi: Dharma Productions (2005)
Sutradara: Karan Johar
Cast: Shah Rukh Khan, Rani Mukherjee, Preity Zinta, Abhishek Bachchan, Kiron Kher, Amitabh Bachchan

Genre: Drama
Durasi: 180"
Release Date: 11 Agustus 2006
My Grade: 4 out 5

Kank_1
The long-waited-most-anticipated-movie from Karan Johar is finally coming. And in his thrid venture, he defies the expectation. Not in such a bad way though! Lupakan ‘Kuch Kuch Hota Hai’ (1998) atau ‘Kabhi Kushie Kabhi Gham’ (2001), yang penuh dengan warna, keceriaan dan tentu saja melodrama itu. Karan Johar kini mencoba gaya dan tema yang baru untuknya, lebih kelam dan dewasa. ‘Kabhi Alvida Naa Kehna’ (Never Say Goodbye) bukanlah sebuah hiburan untuk sebuah keluarga.

Maya (Rani Mukherjee) dan Dev (Shah Rukh Khan) mempunyai banyak persamaan. Masing-masing telah menikah dengan pasangan yang sangat mencintai mereka, Rishi (Abishek Bachchan) dan Rhea (Preity Zinta). Bedanya, Dev telah mempunyai anak dan Maya sama sekali akan tidak pernah mempunyai anak dalam hidupnya. Satu lagi yang mendekatkan mereka adalah hubungan perkawinan mereka tengah dilanda krisis, sehingga akhirnya mereka memutuskan untuk bekerjasama untuk mencari akar permasalahan dalam perkawinan mereka dan mencoba mencari solusinya. Namun, kenyataannya berbicara lain. Mereka justru terjebak dalam hubungan emosi penuh asmara, yang kemudian meragukan mereka akan cinta mereka kepada pasangan masing-masing.

‘Kabhi Alvida Na Kehna’ (KANK) bukanlah tipikal film yang biasa kita lihat dari Bollywood. Masih melodrama, tapi cerita lebih terfokus tanpa banyak subplot atau adegan-adegan tipikal yang sering muncul di film melodrama Bollywood. No college masti, no wedding dancing, no winning over family, etc. KANK just skipped those and goes straight to the main concern, love after marriage. Cerita yang ditawarkan oleh KANK sebenarnya cukup sederhana akan tetapi mudah untuk dicerna dan dipaparkan melalui pendekatan yang cukup realis.

Karan Johar mencoba untuk mempresentasikan filmnya dengan lebih subtil, sehingga kadang temponya terasa sedikit lambat, apalagi saat pra-intermission. Bahkan sebenarnya dia bisa saja memadatkan adegan di setengah jam terakhir, sehingga film dapat menjadi lebih ringkas. Namun, disinilah kelebihan Karan Johar. Ia tidak pernah membuat penonton bosan. Bagaikan seorang pesulap, ia berhasil membuat gambar-gambar yang indah dan catchy sehingga bagai magnet bagi mata penontonnya untuk tetap lekat ke layar. Lagu-lagu tetap mewarnai, namun ini adalah pakem film India. Mau bagaimana lagi? Walaupun penempatannya sudah cukup enak dan tidak mengganggu. New York sebagai latar belakang cerita pun cukup elaboratis terhadap integralitas plot secara keseluruhan. Dari segi teknis, KANK almost flawless, at least by Bollywood’s standart.

Dari segi akting, dengan penampilan dari bintang-bintang utama dari perfilman India, apalagi yang bisa dikomentari. Mereka tampil dengan sangat memikat dan meyakinkan. Hanya saja, sedikit yang mengganjal justru melihat sang King Khan. Lagi-lagi ia menampilkan akting yang sebenarnya cukup tipikal bagi dirinya. Namun, tetap saja ia bagus, hanya saja terlalu sering kita melihat Shah Rukh berakting seperti itu, sehingga menjadi standar bagi dirinya. Sungguh suatu keistimewaan tampaknya jika kita bisa melihatnya berakting seperti di ‘Veer-Zara’, ‘Paheli’ atau ‘Swades’ misalnya.

Isu yang ditawarkan oleh KANK memang cukup dilematis, apakah perselingkuhan itu boleh-boleh saja dilakukan, karena kita sepertinya justru menemukan soulmate kita saat telah menikah. Karan Johar mencoba menyikapi polemik ini dengan cukup bijak dan ia sebenarnya cukup berhasil untuk itu. Namun tidak berarti ia banyak dipuji dengan menarasikan tema yang sensitif seperti ini. Dari banyak komentar penonton, terutama di India sendiri, banyak yang memberikan respon negatif terhadap film ini. Bahkan ada yang cukup ekstrim dengan menyebutkan bahwa bagaimana Karan Johar memberikan ‘nasehat’ tentang perkawinan, jika dia saja belum menikah dan belum tentu menikah, because (rumor has it) that he is GAY! Seharusnya subjek yang personal seperti ini tidak menjadi sebuah halangan atau objektifitas dalam melihat sebuah film, karena film pada dasarnya adalah proses kreatif dan ide pemikiran seseorang yang harus kita hargai. Tampaknya isu perselingkuhan memang masalah yang sangat sensitif, karena menyerang ruang privat seseorang, yang mana merupakan hal yang sensitif sekali untuk di invasi oleh orang lain. Padahal sebagai sebuah karya sinema, KANK adalah sebuah tontonan yang menghibur sekaligus membuat kita memikirkan sesuatu. Sesuatu yang jarang dilakukan oleh sebuah film melodrama biasa.

More Poster

Kabhialvidanaakehnaposter1


Leave a Reply