Archive for October, 2006

‘THE TIGER AND THE SNOW’: Pengalaman Sinema Yang Tak Terlupakan

Thursday, October 12th, 2006

Judul Asli: La Tigre e la neve
Produksi: Focus Features/Melampo Cinematografica (2005)
Sutradara: Roberto Benigni
Cast: Roberto Benigni, Jean Reno, Nicoletta Braschi, Tom Waits

Genre: Komedi/Romantis/Drama/Perang
Durasi: 114"
Release Date: 14 Oktober 2005 (Itali)
My Grade: 4 out 5

Tiger_and_the_snowEkspektasi saya begitu rendah saat menyaksikan ‘The Tiger And The Snow’ (TTATS). Bukan apa-apa, pada awalnya saya kurang menyenangi Roberto Benigni. Figur dan gesturnya yang komikal memaksa saya untuk menafikan jika ia mampu berakting atau bahkan menyutradarai dengan baik. Padahal saya pernah nyaris menitikkan air mata saat menyaksikan preview salah satu adegan ‘Life is Beautiful’ (1997) atau ‘La Vita è bella’ di televisi. Namun, dengan alasan yang disebutkan diatas, saya merasa ragu-ragu untuk menyaksikan film tersebut. Jika kemudian saya memutuskan untuk menontonnya, karena ada Jean Reno, aktor Perancis favorit saya didalamnya. Dengan segan-segan saya pun menyaksikan TTAS. Dan saya harus mengaku kalau saya salah. Roberto Benigni adalah persona yang hebat dan mengalahkan semua ekpektasi saya.

Saat itu adalah 2003. Attilio de Giovanni (Roberto Benigni) adalah seorang penyair sekaligus staf pengajar sastra di sebuah universitas. Ia adalah seorang duda cerai dengan dua orang anak perempuan yang tengah beranjak remaja. Pada akhir minggu ia akan menghabiskan waktunya untuk bersenang-senang dengan kedua anaknya. Walaupun seorang dosen dari Inggris, Nancy Brown (Emillia Fox) secara terus terang menyatakan rasa suka terhadap Attilio, namun sebenarnya hati Attilio telah tertambat kepada seorang perempuan yang terus-menerus hadir di setiap mimpinya. Ia bagaikan terobsesi dengan perempuan tersebut, yang kemudian diketahui bernama Vittoria (Nicoletta Braschi). Sayangnya Vittoria tidak pernah memperdulikan Attilio. Attilio sendiri mempunyai seorang teman karib, Fuad (Jean Reano), seorang penyair asal Baghdad, Irak. Fuad mengasingkan diri di Perancis karena konflik yang terjadi di daerah asalnya. Suatu ketika Attilio menerima kabar dari Fuad yang telah kembali ke Baghdad. Vittoria mengalami kecelakaan. Ternyata Vittoria yang juga teman Fuad ini turut beserta dengan Fuad pula untuk pergi ke Baghdad. Attilio tanpa pikir panjang pergi menyusul ke Baghdad. Dengan menumpang sebuah organisasi kemanusiaan yang bergerak di bidang kesehatan, akhirnya ia tiba di Bahgdad dan berhasil menemui Vittoria yang terbaring tidak sadar di rumah sakit. Karena keaadaan yang sulit, maka rumah sakit kekurangan pasokan obat yang diperlukan. Maka dimulailah petualangan kocak tapi menyentuh dari Attilio di Baghdad untuk menemukan obat-obatan yang diperlukan oleh idaman hatinya tersebut.

TTATS adalah pengalaman sinema yang tak terlupakan. Roberto Benigni dengan piawai mempermainkan perasaan penonton dengan memaparkan adegan-adegan yang terkadang konyol dan melodramatis namun menyentuh. Adegan paling menarik adalah saat Attilio dan Fuad memandang langit malam di Baghdad yang bertabur bintang dan bercahaya bulan namun juga dipenuhi oleh luncuran roket-roket. Adegan yang seharusnya kacau tersebut, malah terlihat indah, diimbangi dengan dialog mereka yang menyebutkan bahwa mereka (para peluncur roket) tengah menembaki malaikat di langit. Konflik perang ini juga merupakan sarana yang efektif bagi Roberto Benigni untuk kemudian menjadi satiris. Saat ia yang tengah membawa obat-obatan dengan mengendarai sebuah sepeda motor dan kemudian dicurigai sebagai pelaku bom bunuh diri atau saat ia terjebak ditengah serbuan tentara Amerika Serikat terhadap prajurit Irak dan kemudian ditangkap di sebuah barak. Sebenarnya itu semua bisa menjadi sangat mengerikan, namun Roberto Benigni memutuskan untuk mengeksekusi adegan-adegan tersebut dengan begitu subtilnya. Ini menjadikan TTATS menjadi sebuah film dengan latar belakang perang yang menarik.

Kekuatan akting yang menawan ditampilkan oleh tiga pemain utamanya, Roberto Benigni, Jean Reno dan Nicoletta Braschi yang notabene adalah juga istri Benigni di kehidupan nyata. Jean Reno sendiri terlihat cukup meyakinkan sebagai seorang Iraq. Walau akses Perancisnya tetap terasa, namun bahasa Italianya bagus sekali. Sementara itu Ny. Benigni alias Nicoletta Braschi terlihat sangat cantik, bahkan untuk perempuan seusianya. Sebagian besar adegannya di film adalah terbaring tak sadar di tempat tidur, akan tetapi tetap memberi pengaruh yang besar untuk dinamika film secara keseluruhan.

Secara aspek sinematis, sebenarnya tidak ada yang istimewa dengan TTAS. Yang menjadi andalan utama dari film ini justru kekuatan cerita dan karakterisasi. Roberto Benigni sepertinya sangat mengetahui apa yang ingin disampaikan kepada penontonnya. Beberapa adegan di tengah-tengah cerita mungkin sedikit lambat dan membosankan, namun menjelang akhir plot menjadi lebih dinamis (dan melodramatis, namun untuk alasan yang bagus!) dan nantikan untuk sedikit kejutan di akhir ceritanya. Setelah menyaksikan film ini, saya menjadi tidak sabar untuk segera menyaksikan ‘Life is Beautiful’.


‘SNAKES ON A PLANE’: Alasan Untuk Kembali Menonton Bioskop

Monday, October 9th, 2006

Produksi:  New Line Cinema (2006)
Sutradara: David R. Elis
Cast: Samuel L. Jackson, Julianna Margulies, Nathan Phillips, Rachel Blancard

Genre: Thriller/Horror/Aksi
Durasi: 105"
Release Date: 18 Agustus 2006 (USA)
My Grade: 4 out 5

Snakes_on_a_plane‘Snakes On A Plane’ (SoaP) merupakan salah satu fenomena internet pada awalnya. Jauh sebelum dirilis, film ini menjadi ajang perdebatan dan diskusi yang cukup hangat. Dan ternyata, trik ini cukup berhasil. ‘SoaP’ berhasil menduduki peringkat pertama Box Office saat dirilis.

Seorang anak muda, Sean (Nathan Phillips) menjadi saksi pembunuhan yang dilakukan oleh seorang mafia di kepulauan Hawaii. Seorang agen F.B.I., Neville Flyn (Samuel L. Jackson) bertugas untuk melindunginya dalam penerbangan red-eye dari Honolulu menuju Los Angeles. Akan tetapi rupanya si gembong mafia sudah menyiapkan ratusan ular-ular di pesawat yang akan mereka naiki. Selanjutnya dengan mudah bisa ditebak, ketika akhirnya ular-ular tersebut lepas dan menteror seisi pesawat.

Menilik judulnya yang terlalu harafiah dan sedikit kacangan, kita akan langsung merasa under estimate akan kualitas filmnya. Namun, pepatah "jangan nilai buku dari sampulnya" berlaku pula untuk film ini. Ya, ini memang film kelas B tapi ia tidak berpura-pura menjadi film kelas atas. Tujuan utama dari ‘SoaP’ adalah menghibur dan ia sangat berhasil untuk itu. Seluruh adegan murni untuk konsumsi hiburan dan yang menyegarkan, sama sekali tidak ada adegan yang membosankan. Lupakan ekspektasi Anda untuk segi artistik atau bolong-bolong yang ada di ceritanya. Siapkan saja diri Anda untuk mengalami petualanganya. Mungkin demikian tujuan utama dari ‘SoaP’.

Kengerian yang ditumbulkan oleh ular-ular tersebut cukup efektif. Ditambah dengan beberapa adegan dan dialog yang konyol, ‘SoaP’ menjadi lebih ‘bertaring’. ‘SoaP’ juga mengadopsi beberapa gimmick yang sering muncul di film-film seperti; film monster, film horror, film aksi, film petualangan, film disaster, yang mana keseluruhan elemen-elemen yang telah kita kenal dari film-film tersebut dicampur-adukan oleh David R. Elis, sang sutradara menjadi satu kesatuan yang saling mendukung. Adegan di pesawat dimulai dengan pengenalan karakter yang sangat tipikal untuk film-film disaster, kemudian saat ketegangan mulai masuk, maka beberapa elemen horror pun dimasukan, barulah saat penyerangan berlangsung, film mengambil adegan-adegan dari berbagai film monster dan diakhiri dengan adegan-adegan penuh aksi. Setting yang tertutup dan terbatas, sama sekali tidak membatasi Mr. Elis untuk menggeber adegan-adegan penggedor jantung.

David R. Elis adalah mantan stuntman yang ganti profesi menjadi seorang sutradara. Film-film yang pernah diarahkanya adalah ‘Homeward Bound2: Lost In San Fransisco’ (1996), ‘Final Destination 2′ (2003) dan ‘Cellular’ (2004). Untuk dua judul terakhir adalah film-film berjenis thriller yang sama menegangkannya. Dari sini dapat disimpulkan jika Mr. Elis sangat terlatih dan juga berbakat untuk merangkum adegan-adegan yang menegangkan. Intinya, untuk sebuah popcorn-flick ia sangat mengerti apa yang ingin dilakukannya.

Rasanya sudah lama sekali untuk menonton bioskop dengan semangat antusiatik seperti ini. Dan mungkin begitu juga dengan perasaan penonton-penonton lain yang memadati ruang bisokop. Para penonton tercekam, menjerit, sedih, tertawa dan pada akhirnya memberikan applause. Yah, kalau difikir-fikir seperti naik roller-coaster saja. And I feel great about it.

More Poster

Snakes_on_a_plane2


‘THE BREAK-UP’: Pencerahan Setelah Putus? Count Me In

Sunday, October 8th, 2006

Produksi: Universal (2006)
Sutradara: Peyton Reed
Cast: Vince Vaughn, Jennifer Aniston

Genre: Komedi/Romantis/Drama
Durasi: 105"
Release Date: 02 Juni 2006
My Grade: 3 out 5

Break_up Dibintangi oleh real-life-couple Vince Vaughn dan Jennifer Aniston, ‘The Break-Up’ justru berawal disaat dimana umumnya film komedi romantis berakhir. Ya, ini adalah cerita tentang pasangan yang telah lama tinggal serumah, namun pada akhirnya friksi terjadi karena pola kebiasaan yang berbeda. Batas toleransi yang diberikan ternyata terpendam menjadi sebuah bom waktu ketidaksenangan akan prilakumu yang tidak mengerti aku. Bagi yang pernah pacaran atau mungkin menikah pasti akan mengenal sindrom seperti ini.

Hubungan Gary (Vince Vaughn) dan Brooke (Jennifer Aniston) sepertinya telah mencapai titik kulminasinya. Pertengkaran demi pertengkaran menghiasi pasangan yang telah memiliki kondominium bersama ini. Brooke menganggap Gary sama sekali tidak pernah memahaminya begitu juga dengan Gary, walau dengan cara yang berbeda. Akhirnya kata putus diambil. Namun mereka tetap tinggal bersama, karena masing-masing tidak mau mengalah untuk meninggalkan kondo tersebut. Dari sinilah kelucuan demi kelucuan timbul dan kita sebenarnya dapat melihat jika Gary dan Brooke sebenarnya masih saling mencintai, namun keegoisan dan kekeras-kepalaan mereka mengalahkan rasa itu. Dalam proses putus ini, masing-masing menerima berbagai masukan dan nasehat dari teman-temannya. Sampai pada akhirnya seorang teman mereka yang juga agen real-estate menganjurkan untuk menjual kondo tersebut. Maka Brooke memutuskan untuk ‘berbaikan’ dengan  mengajal Gary menonton konser. Sayangnya Gary justru tidak datang! Kecewakah Brooke? Tentu saja. Bagaimana dengan Gary. Apa alasannya tidak datang? Semua terjawab di konklusi film yang mencerahkan, baik untuk karakternya maupun untuk para penonton yang mengamati mereka.  Kemudian, apakah mereka akan ‘rujuk’ kembali? Hm, tonton saja filmnya dan putuskan sendiri.

Salah satu unsur yang menarik dari film ini tentu saja duet Vince Vaughn dan Jennifer Aniston. Chemistry mereka begitu terasa nyata. Sama halnya dengan duet Brad Pitt dan Angelina Jolie di ‘Mr & Mrs. Smith’. Apakah film ini merupakan saran ‘balas dendam’ bagi Jennifer Aniston, hanya dia dan Tuhan yang tahu. Yang jelas aktris jebolan ‘Friends’ ini tetap tampil dengan prima, walau kadang repetitif. Begitu juga dengan Vince Vaughn yang bermain cukup tipikal.

Terus terang, ‘The Break-Up’ secara bebas mengadopsi konsep komedi situasi televisi ala ‘Friend’ atau sejenisnya. Hanya saja dengan durasi
yang lebih panjang. Secara konsep serta maksud dan tujuan sudah sering
dibahas di salah satu episode sitkom-sitkom tersebut. Komedi atau
kelucuan yang ditawarkan juga cukup segar dan menggelitik, jika Anda
tidak mengharapkan komedi vulgar atau slapstik. Dialog-dialognya cukup
mengena dan tidak terlihat konyol, melainkan terlihat cukup realistis.
Payton Reed cukup sukses menurut saya membangun ‘The Break-Up’ menjadi
komedi yang menghibur sekaligus memberikan sesuatu kepada para
penontonnya. Jadi ia tidak terjebak hanya untuk menjadi komedi romantis
yang sweet-as-saccharine atau cute-us-bug yang sering
mendominasi genre ini. ‘The Break-Up’ menimpilkan humanisme karakternya
secara realistik, sehingga para penonton dapat dengan mudah
mereferensikan diri mereka dengan salah satu karakter. Dengan ini,
menurut saya ‘The Break-Up’ adalah komedi yang berhasil.


‘I LOVE YOU, OM’: Cinta Tak Mengenal Usia? Hmmm!

Friday, October 6th, 2006

Produksi:  Gunja Film (2006)
Sutradara: Widi Wijaya
Cast: Rachel Amanda, Restu Sinaga, Karenina, Ira Wibowo

Genre: Drama/Roman
Durasi: 105"
Release Date: 07 September 2006
My Grade: 2.5 out 5

IloveyouomCinta memang tak punya mata, tapi kita harus punya mata’, demikianlah isi tagline dari film ‘I Love You Om’ (ILYO), karya sutradara pemula Widi Wijaya. Tagline tersebut dengan gamblang menggambarkan isi dari film, dimana seorang pria 30-an yang bernama Gaza (Restu Sinaga, Cinta Silver) jatuh cinta kepada seorang gadis remaja yang baru berusia 12 tahun, Dion (Rachel Amanda, Heart). Tentu saja dalam etika masyarakat kita, hubungan asmara seperti ini akan ditentang karena dianggap sebagai perbuatan nista, walaupun hubungan mereka murni berdasarkan cinta kasih. Pada awalnya Gaza, yang petugas laundry keluarga Dion, hanya menyayangi Dion sebagaimana seorang yang lebih dewasa menyayangi seseorang yang dianggap anak kecil. Namun lani pula dengan  Dion. Anak perempuan yang selalu ditinggal kerja oeh mamanya yang sibuk ini (Ira Wibowo) serasa mendapat curahan kasih sayang. Apalagi untuk anak seusia dia mulai mengenenal pula yang disebut dengan cinta. Namun, jika teman-temannya lebih memilih rekan sebayanya, maka Dion memilih Gaza. Hubungan mereka semakin intens, dan pad akhirnya Gaza tidak bisa menafikan perasaanya sendiri, namun tetap merasa apa yang dirasakannya itu salah. Konflik psikologis inilah yang mendominasi paruh kedua film disamping juga konflik Gaza dengan mantan pacarnya Nayla (Karenina, Jomblo), yang berselingkuh dengan perempuan lain.

Secara tematis, ILYO menawarkan sesuatu yang baru di perfilman Indonesia, dan mungkin akan menimbulkan polemik yang berkepanjangan jika digarap secara vulgar. Bagaimanapun hubungan asmara antara anak dibawah umur dengan seseorang yang jauh berusia jauh diatasnya memang dapat menjadi topik yang menarik. Lihat saja ‘Lolita’ (1962), karya Stanley Kubrick. Dibandingkan karya klasik tersebut, tentu saja ILYO memiliki tingkat yang berbeda, terutama dalam penanganan isu sensitif seperti ini. Apakah kemudian karakter Dion seorang pedofil? Ternyata tidak, karena ia tidak mempunyai sejarah pedofilia. Hanya saja orang diluar dirinya akan mengira ia seperti itu. Dan ia sadar akan pelabelan masyarakat seperti itu. Jadi, memang inti dari ILYO adalah bagaimana upaya seseorang menyikapi dengan bijak jka ia menghadapi masalah seperti ini.

Bagian pertama dari film itu sendiri adalah pengenalan karakter, bagian tengah adalah konflik dan bagian akhir adalah konklusi. Pada bagian pertama, film sudah dengan cukup baik, hanya saja masih belum lepas dari penyakit film Indonesia umumnya, yaitu sedikit bertele-tele dimana seharusnya bisa lebih ringkas dan padat. Bagian konflik sudah cukup baik. Yang terparah justru dibagian akhir dengan ending yang sangat dipaksakan. Inilah aspek negatif terbesar di film. Selain itu, sub-plot karakter yang diperankan oleh Karenina seharusnya diedit atau kalau perlu ditiadakan saja, karena tidak mempunyai signifikansi yang jelas terhadap struktur film secara keseluruhan, selain menambah film menjadi lebih bertele-tele.

Namun, bukan berarti ILYO tidak menghibur. Film berjalan dengan pace yang medium dan bertutur dengan cukup jelas. Kita pun dengan gampang bisa mencerna isi film tanpa harus banyak mengerutkan kening. Aspek positif dari film ini adalah karakterisasi yang cukup kuat. Ditunjang pula dengan akting yang baik, terutama dari Rachel Amanda. Sungguh luar biasa, Amanda bisa menunjukkan transformasi yang nyaris sempurna dari seorang gadis cilik menjadi seorang perempuan yang tengah jatuh cinta. Akting Amanda dapat dengan mudah membuat kita berempati dengan karakternya. Restu Sinaga sendiri semakin menunjukkan gradasi akting yang semakin baik. Ini menunjukkan ia hanya membutuhakn jam terbang yang lebih tinggi lagi. Mungkin jam terbang yang cukup juga dibutuhkan oleh Karenina, karena sebenarnya ia terlihat mempunyai bakat yang cukup baik, hanya perlu sedikit pengasahan saja.

Secara keseluruhan, ILYO adalah film yang menarik. Terlepas dari kelemahan-kelemahannya, ILYO jelas setinggkat lebih baik dari beberapa film Indonesia yang beredar akhir-akhir ini.


‘SHES’S THE MAN’: Dilema Sosiologis Remaja Yang Bertukar Kelamin

Sunday, October 1st, 2006

Produksi:  Dreamworks Pictures (2006)
Sutradara: Andy Fickman
Cast: Amanda Bynes, Channing Tatum, Laura Ramsey, James Kirk, Vinnie Jones

Genre: Drama/Komedi/Remaja
Durasi: 105"
Release Date: 17 Maret 2006 (USA)
My Grade: 3 out 5

Shes_the_man_1Viola (Amanda Bynes) adalah seorang gadis remaja yang sangat menyukai olahraga sepakbola. Akan tetapi saat sekolahnya menghentikan kegiatan ekskul sepakbola perempuan, Viola mencari akal untuk menunjukkan eksistensi dirinya sebagai seorang pesepakbola perempuan. Kesempatan terbuka saat saudara kembarnya, Sebastian (James Kirk), memilih pergi ke Eropa untuk bermusik daripada memasuki sekolah barunya. Dengan menyamar sebagai Sebastian, Viola berhasil memasuki kelab sepakbola di sekolah tersebut. Situasi menjadi tidak terkendali saat Viola mulai jatuh cinta kepada Duke (Channing Tatum), rekan sekamar dan setim sepakbolanya. Sementara, gadis populer di sekolah, Olivia (Laura Ramsey) juga menunjukkan perasaan yang sedikit lebih kepada Olivia yang menyamar sebagai laki-laki tersebut, sedangkan Duke justru sangat tergila-gila kepada Olivia.

Melihat plotnya, rasanya ‘She’s The Man’ sudah dapat ditebak bagaimana jalan ceritanya, karena variasi cerita seperti ini sudah banyak didapati dari berbagai komedi romantis yang ada. Uniknya film ini diangkat oleh sutradara Andy Fickman dari karya Shakespeare, ‘Twelfth Night’, jadi bisa dikatakan cukup orisinil, mengingat film ini berakar dari sebuah karya klasik.

Dari aspek sinematis, ‘She’s The Man’ tidak berbeda jauh dari banyak komedi romantis atau film remaja lainnya. Terlepas dari berbagai klise dan tipikal, yang pasti film ini pasti akan menghibur dan menyenangkan untuk ditonton. Sementara itu Amanda Bynes menurut saya sudah berakting dengan cukup baik. Gestur, mimik dan vokal dimainkan dengan cukup meyakinkan sebagai seorang laki-laki. Ia bisa saja merupakan salah satu bintang masa depan, sepantaran dengan Lindsay Lohan atau Hillary Duff, asal konsisten dan cerdas dalam memilih peran.

Tapi saya harus memberi sedikit kredit untuk film ini. Entah disengaja atau tidak, ‘She’s The Man’ banyak memebrikan indikasi akan karakteristik sosiologis yang cukup analitik. Seorang perempuan di ranah laki-laki yang patriarki (sepakbola), ditolak didalamnya, kemudian berusaha melakukan resistensi dengan menjadi salah satu dari mereka (laki-laki). Saat menjadi laki-laki inilah ia mengalami berbagai konflik, yang kemudian diselesaikan dengan manis, menurut film ini. Selain itu dengan penggambaran karakter Viola yang dipaksa untuk menjadi ’perempuan’ oleh ibunya dengan memasuki semacam kelas mannership untuk perempuan dan juga karakter Duke yang sebenarnya sensitif, namun mengingkarinya, karena tidak ingin ditertawakan oleh teman-temannya, dimana menurut saya adalah deskripsi yang sangat jelas bagaimana anak laki-laki atau perempuan seharusnya bersikap di masyarakat.  Dan ‘She’s The Man’ secara flamboyan memaparkan ini. Saya belum pernah membaca sumber aslinya, sehingga tidak mengetahui apakah hal ini memang sudah menjadi pakem dari cerita ini atau tidak. Namun yang jelas ini sebenarnya sangat menarik untuk dicermati, bagaimana kita, baik laki-laki maupun perempuan, dipaksa untuk menjadi ’bayangan’ masyarakat yang telah terpola dengan streotipe peran gender yang ada.