‘I LOVE YOU, OM’: Cinta Tak Mengenal Usia? Hmmm!


Produksi:  Gunja Film (2006)
Sutradara: Widi Wijaya
Cast: Rachel Amanda, Restu Sinaga, Karenina, Ira Wibowo

Genre: Drama/Roman
Durasi: 105"
Release Date: 07 September 2006
My Grade: 2.5 out 5

IloveyouomCinta memang tak punya mata, tapi kita harus punya mata’, demikianlah isi tagline dari film ‘I Love You Om’ (ILYO), karya sutradara pemula Widi Wijaya. Tagline tersebut dengan gamblang menggambarkan isi dari film, dimana seorang pria 30-an yang bernama Gaza (Restu Sinaga, Cinta Silver) jatuh cinta kepada seorang gadis remaja yang baru berusia 12 tahun, Dion (Rachel Amanda, Heart). Tentu saja dalam etika masyarakat kita, hubungan asmara seperti ini akan ditentang karena dianggap sebagai perbuatan nista, walaupun hubungan mereka murni berdasarkan cinta kasih. Pada awalnya Gaza, yang petugas laundry keluarga Dion, hanya menyayangi Dion sebagaimana seorang yang lebih dewasa menyayangi seseorang yang dianggap anak kecil. Namun lani pula dengan  Dion. Anak perempuan yang selalu ditinggal kerja oeh mamanya yang sibuk ini (Ira Wibowo) serasa mendapat curahan kasih sayang. Apalagi untuk anak seusia dia mulai mengenenal pula yang disebut dengan cinta. Namun, jika teman-temannya lebih memilih rekan sebayanya, maka Dion memilih Gaza. Hubungan mereka semakin intens, dan pad akhirnya Gaza tidak bisa menafikan perasaanya sendiri, namun tetap merasa apa yang dirasakannya itu salah. Konflik psikologis inilah yang mendominasi paruh kedua film disamping juga konflik Gaza dengan mantan pacarnya Nayla (Karenina, Jomblo), yang berselingkuh dengan perempuan lain.

Secara tematis, ILYO menawarkan sesuatu yang baru di perfilman Indonesia, dan mungkin akan menimbulkan polemik yang berkepanjangan jika digarap secara vulgar. Bagaimanapun hubungan asmara antara anak dibawah umur dengan seseorang yang jauh berusia jauh diatasnya memang dapat menjadi topik yang menarik. Lihat saja ‘Lolita’ (1962), karya Stanley Kubrick. Dibandingkan karya klasik tersebut, tentu saja ILYO memiliki tingkat yang berbeda, terutama dalam penanganan isu sensitif seperti ini. Apakah kemudian karakter Dion seorang pedofil? Ternyata tidak, karena ia tidak mempunyai sejarah pedofilia. Hanya saja orang diluar dirinya akan mengira ia seperti itu. Dan ia sadar akan pelabelan masyarakat seperti itu. Jadi, memang inti dari ILYO adalah bagaimana upaya seseorang menyikapi dengan bijak jka ia menghadapi masalah seperti ini.

Bagian pertama dari film itu sendiri adalah pengenalan karakter, bagian tengah adalah konflik dan bagian akhir adalah konklusi. Pada bagian pertama, film sudah dengan cukup baik, hanya saja masih belum lepas dari penyakit film Indonesia umumnya, yaitu sedikit bertele-tele dimana seharusnya bisa lebih ringkas dan padat. Bagian konflik sudah cukup baik. Yang terparah justru dibagian akhir dengan ending yang sangat dipaksakan. Inilah aspek negatif terbesar di film. Selain itu, sub-plot karakter yang diperankan oleh Karenina seharusnya diedit atau kalau perlu ditiadakan saja, karena tidak mempunyai signifikansi yang jelas terhadap struktur film secara keseluruhan, selain menambah film menjadi lebih bertele-tele.

Namun, bukan berarti ILYO tidak menghibur. Film berjalan dengan pace yang medium dan bertutur dengan cukup jelas. Kita pun dengan gampang bisa mencerna isi film tanpa harus banyak mengerutkan kening. Aspek positif dari film ini adalah karakterisasi yang cukup kuat. Ditunjang pula dengan akting yang baik, terutama dari Rachel Amanda. Sungguh luar biasa, Amanda bisa menunjukkan transformasi yang nyaris sempurna dari seorang gadis cilik menjadi seorang perempuan yang tengah jatuh cinta. Akting Amanda dapat dengan mudah membuat kita berempati dengan karakternya. Restu Sinaga sendiri semakin menunjukkan gradasi akting yang semakin baik. Ini menunjukkan ia hanya membutuhakn jam terbang yang lebih tinggi lagi. Mungkin jam terbang yang cukup juga dibutuhkan oleh Karenina, karena sebenarnya ia terlihat mempunyai bakat yang cukup baik, hanya perlu sedikit pengasahan saja.

Secara keseluruhan, ILYO adalah film yang menarik. Terlepas dari kelemahan-kelemahannya, ILYO jelas setinggkat lebih baik dari beberapa film Indonesia yang beredar akhir-akhir ini.


Leave a Reply