‘SHES’S THE MAN’: Dilema Sosiologis Remaja Yang Bertukar Kelamin


Produksi:  Dreamworks Pictures (2006)
Sutradara: Andy Fickman
Cast: Amanda Bynes, Channing Tatum, Laura Ramsey, James Kirk, Vinnie Jones

Genre: Drama/Komedi/Remaja
Durasi: 105"
Release Date: 17 Maret 2006 (USA)
My Grade: 3 out 5

Shes_the_man_1Viola (Amanda Bynes) adalah seorang gadis remaja yang sangat menyukai olahraga sepakbola. Akan tetapi saat sekolahnya menghentikan kegiatan ekskul sepakbola perempuan, Viola mencari akal untuk menunjukkan eksistensi dirinya sebagai seorang pesepakbola perempuan. Kesempatan terbuka saat saudara kembarnya, Sebastian (James Kirk), memilih pergi ke Eropa untuk bermusik daripada memasuki sekolah barunya. Dengan menyamar sebagai Sebastian, Viola berhasil memasuki kelab sepakbola di sekolah tersebut. Situasi menjadi tidak terkendali saat Viola mulai jatuh cinta kepada Duke (Channing Tatum), rekan sekamar dan setim sepakbolanya. Sementara, gadis populer di sekolah, Olivia (Laura Ramsey) juga menunjukkan perasaan yang sedikit lebih kepada Olivia yang menyamar sebagai laki-laki tersebut, sedangkan Duke justru sangat tergila-gila kepada Olivia.

Melihat plotnya, rasanya ‘She’s The Man’ sudah dapat ditebak bagaimana jalan ceritanya, karena variasi cerita seperti ini sudah banyak didapati dari berbagai komedi romantis yang ada. Uniknya film ini diangkat oleh sutradara Andy Fickman dari karya Shakespeare, ‘Twelfth Night’, jadi bisa dikatakan cukup orisinil, mengingat film ini berakar dari sebuah karya klasik.

Dari aspek sinematis, ‘She’s The Man’ tidak berbeda jauh dari banyak komedi romantis atau film remaja lainnya. Terlepas dari berbagai klise dan tipikal, yang pasti film ini pasti akan menghibur dan menyenangkan untuk ditonton. Sementara itu Amanda Bynes menurut saya sudah berakting dengan cukup baik. Gestur, mimik dan vokal dimainkan dengan cukup meyakinkan sebagai seorang laki-laki. Ia bisa saja merupakan salah satu bintang masa depan, sepantaran dengan Lindsay Lohan atau Hillary Duff, asal konsisten dan cerdas dalam memilih peran.

Tapi saya harus memberi sedikit kredit untuk film ini. Entah disengaja atau tidak, ‘She’s The Man’ banyak memebrikan indikasi akan karakteristik sosiologis yang cukup analitik. Seorang perempuan di ranah laki-laki yang patriarki (sepakbola), ditolak didalamnya, kemudian berusaha melakukan resistensi dengan menjadi salah satu dari mereka (laki-laki). Saat menjadi laki-laki inilah ia mengalami berbagai konflik, yang kemudian diselesaikan dengan manis, menurut film ini. Selain itu dengan penggambaran karakter Viola yang dipaksa untuk menjadi ’perempuan’ oleh ibunya dengan memasuki semacam kelas mannership untuk perempuan dan juga karakter Duke yang sebenarnya sensitif, namun mengingkarinya, karena tidak ingin ditertawakan oleh teman-temannya, dimana menurut saya adalah deskripsi yang sangat jelas bagaimana anak laki-laki atau perempuan seharusnya bersikap di masyarakat.  Dan ‘She’s The Man’ secara flamboyan memaparkan ini. Saya belum pernah membaca sumber aslinya, sehingga tidak mengetahui apakah hal ini memang sudah menjadi pakem dari cerita ini atau tidak. Namun yang jelas ini sebenarnya sangat menarik untuk dicermati, bagaimana kita, baik laki-laki maupun perempuan, dipaksa untuk menjadi ’bayangan’ masyarakat yang telah terpola dengan streotipe peran gender yang ada.


Leave a Reply