‘THE TIGER AND THE SNOW’: Pengalaman Sinema Yang Tak Terlupakan


Judul Asli: La Tigre e la neve
Produksi: Focus Features/Melampo Cinematografica (2005)
Sutradara: Roberto Benigni
Cast: Roberto Benigni, Jean Reno, Nicoletta Braschi, Tom Waits

Genre: Komedi/Romantis/Drama/Perang
Durasi: 114"
Release Date: 14 Oktober 2005 (Itali)
My Grade: 4 out 5

Tiger_and_the_snowEkspektasi saya begitu rendah saat menyaksikan ‘The Tiger And The Snow’ (TTATS). Bukan apa-apa, pada awalnya saya kurang menyenangi Roberto Benigni. Figur dan gesturnya yang komikal memaksa saya untuk menafikan jika ia mampu berakting atau bahkan menyutradarai dengan baik. Padahal saya pernah nyaris menitikkan air mata saat menyaksikan preview salah satu adegan ‘Life is Beautiful’ (1997) atau ‘La Vita รจ bella’ di televisi. Namun, dengan alasan yang disebutkan diatas, saya merasa ragu-ragu untuk menyaksikan film tersebut. Jika kemudian saya memutuskan untuk menontonnya, karena ada Jean Reno, aktor Perancis favorit saya didalamnya. Dengan segan-segan saya pun menyaksikan TTAS. Dan saya harus mengaku kalau saya salah. Roberto Benigni adalah persona yang hebat dan mengalahkan semua ekpektasi saya.

Saat itu adalah 2003. Attilio de Giovanni (Roberto Benigni) adalah seorang penyair sekaligus staf pengajar sastra di sebuah universitas. Ia adalah seorang duda cerai dengan dua orang anak perempuan yang tengah beranjak remaja. Pada akhir minggu ia akan menghabiskan waktunya untuk bersenang-senang dengan kedua anaknya. Walaupun seorang dosen dari Inggris, Nancy Brown (Emillia Fox) secara terus terang menyatakan rasa suka terhadap Attilio, namun sebenarnya hati Attilio telah tertambat kepada seorang perempuan yang terus-menerus hadir di setiap mimpinya. Ia bagaikan terobsesi dengan perempuan tersebut, yang kemudian diketahui bernama Vittoria (Nicoletta Braschi). Sayangnya Vittoria tidak pernah memperdulikan Attilio. Attilio sendiri mempunyai seorang teman karib, Fuad (Jean Reano), seorang penyair asal Baghdad, Irak. Fuad mengasingkan diri di Perancis karena konflik yang terjadi di daerah asalnya. Suatu ketika Attilio menerima kabar dari Fuad yang telah kembali ke Baghdad. Vittoria mengalami kecelakaan. Ternyata Vittoria yang juga teman Fuad ini turut beserta dengan Fuad pula untuk pergi ke Baghdad. Attilio tanpa pikir panjang pergi menyusul ke Baghdad. Dengan menumpang sebuah organisasi kemanusiaan yang bergerak di bidang kesehatan, akhirnya ia tiba di Bahgdad dan berhasil menemui Vittoria yang terbaring tidak sadar di rumah sakit. Karena keaadaan yang sulit, maka rumah sakit kekurangan pasokan obat yang diperlukan. Maka dimulailah petualangan kocak tapi menyentuh dari Attilio di Baghdad untuk menemukan obat-obatan yang diperlukan oleh idaman hatinya tersebut.

TTATS adalah pengalaman sinema yang tak terlupakan. Roberto Benigni dengan piawai mempermainkan perasaan penonton dengan memaparkan adegan-adegan yang terkadang konyol dan melodramatis namun menyentuh. Adegan paling menarik adalah saat Attilio dan Fuad memandang langit malam di Baghdad yang bertabur bintang dan bercahaya bulan namun juga dipenuhi oleh luncuran roket-roket. Adegan yang seharusnya kacau tersebut, malah terlihat indah, diimbangi dengan dialog mereka yang menyebutkan bahwa mereka (para peluncur roket) tengah menembaki malaikat di langit. Konflik perang ini juga merupakan sarana yang efektif bagi Roberto Benigni untuk kemudian menjadi satiris. Saat ia yang tengah membawa obat-obatan dengan mengendarai sebuah sepeda motor dan kemudian dicurigai sebagai pelaku bom bunuh diri atau saat ia terjebak ditengah serbuan tentara Amerika Serikat terhadap prajurit Irak dan kemudian ditangkap di sebuah barak. Sebenarnya itu semua bisa menjadi sangat mengerikan, namun Roberto Benigni memutuskan untuk mengeksekusi adegan-adegan tersebut dengan begitu subtilnya. Ini menjadikan TTATS menjadi sebuah film dengan latar belakang perang yang menarik.

Kekuatan akting yang menawan ditampilkan oleh tiga pemain utamanya, Roberto Benigni, Jean Reno dan Nicoletta Braschi yang notabene adalah juga istri Benigni di kehidupan nyata. Jean Reno sendiri terlihat cukup meyakinkan sebagai seorang Iraq. Walau akses Perancisnya tetap terasa, namun bahasa Italianya bagus sekali. Sementara itu Ny. Benigni alias Nicoletta Braschi terlihat sangat cantik, bahkan untuk perempuan seusianya. Sebagian besar adegannya di film adalah terbaring tak sadar di tempat tidur, akan tetapi tetap memberi pengaruh yang besar untuk dinamika film secara keseluruhan.

Secara aspek sinematis, sebenarnya tidak ada yang istimewa dengan TTAS. Yang menjadi andalan utama dari film ini justru kekuatan cerita dan karakterisasi. Roberto Benigni sepertinya sangat mengetahui apa yang ingin disampaikan kepada penontonnya. Beberapa adegan di tengah-tengah cerita mungkin sedikit lambat dan membosankan, namun menjelang akhir plot menjadi lebih dinamis (dan melodramatis, namun untuk alasan yang bagus!) dan nantikan untuk sedikit kejutan di akhir ceritanya. Setelah menyaksikan film ini, saya menjadi tidak sabar untuk segera menyaksikan ‘Life is Beautiful’.


Leave a Reply