Archive for November, 2006

‘CASINO ROYALE’: When Mr. Bond Going Though! (Or Mellow?)

Monday, November 27th, 2006

Produksi: MGM (2006)
Sutradara: Martin Campbell
Cast: Daniel Craig, Eva Green, Mads Mikkelsen, Giancarlo Giannini, Jefrey Wright, Judi Dench

Genre: Aksi/Thriller/Drama
Durasi: 144"
Release Date: 17November 2006 (USA)
My Grade: 3 out 5

Casino_royaleDisaat hampir semua orang berpolemik tentang pantas-tidak-pantas atau cocok-tidak-cocok-nya Daniel Craig (Munich) sebagai James Bond terbaru, saya sama sekali tidak mempunyai opini apapun, karena jujur saja, saya bukanlah seorang fanatik agen 007 ini. Oleh karenya disaat berkesempatan untuk menyaksikan ‘Casino Royale’, ekspektasi saya biasa-biasa saja. Hanya saja, setelah menyimak  filmnya, terus terang perasaan saya sedikit  tercampur baur-antara suka dan tidak suka.

Setelah diseri-seri terakhir sebelumnya, franchise 007 tidak lagi dikembangkan dari novel asli Ian Flemming, maka ditahun 2006 ini justru di instalmen ini film dimulai dengan misi perdana James Bond sebagai seorang Double 0, yang tentu saja berdasarkan novel karya Mr. Flemming yang berjudul sama. Uniknya novel ini tidak pernah diangkat menjadi seri Bond. Memang pernah ada film yang berjudul ‘Casino Royale’ ditahun 1967, hanya saja berjenis komedi. Tampaknya film yang dibintangi oleh Peter Seller tersebut bermaksud untuk memparodikan seri Bond belaka. Tidak bisa dianggap serius.

Kembali ke ‘Casino Royale’ tahun 2006, dimana dikisahkan James Bond dipromosikan oleh M (Judi Dench) menjadi agen 00, setelah sebelumnya hanya menjadi agen lapangan M16 biasa. Hanya saja, disini Bond masih harus berkutat antara egonya dan misi yang harus diembannya. Kali ini ia harus menghentikan seorang Bankir, Le Chiffre (Mads Mikkelsen), yang berusaha memenangkan sebuah turnamen kartu di sebuah kasino yang mana uangnya akan digunakan untuk mendanai upaya terorisme. Terus terang, tidak ada yang istimewa dengan jalinan ceritanya. Cukup tipikal untuk kelas 007.

Pemilihan sosok Daniel Craig yang ‘macho’ menjadikan adegan-adegan aksi yang ditampilkan oleh ‘Casino Royale’ terlihat lebih kasar dan keras. Seru dan menegangkan merupakan kesan yang tertangkap setelah menyaksikan adegan-adegan aksinya. Namun ternyata Martin Campbell (Golden Eye) tidak mau terjebak dalam monotonisme aksi belaka, karena ia pun membuat dramatisasi yang kental dari dinamika pribadi karakter Bond itu sendiri. Sayangnya dramatisasi tersebut berjalan sedikit bertele dan terlalu terfokus pada romansa antara Bond dengan Vesper Lynd (Eva Green, Kingdom of Heaven), sehingga pada beberapa adegan film ini terlihat bagai sebuah film roman yang mellow dibandingkan sebuah film aksi yang solid. Ini membuat ritme ‘Casino Royale’ tidak begitu konsisten. Kadang kita seperti melihat dua jenis film yang berbeda pada saat bersamaan. Martin Campbell sepertinya kurang begitu fasih dalam memadukan antara drama dan aksi ini, sehingga mungkin saja bagi sebagian penonton ‘Casino Royale’ akan terasa sedikit membosankan. Durasinya yang cukup panjang berjalan kurang efektif, karena film tidak menjadi padat. Apalagi ternyata asal-usul Mr. Bond itu sendiri tidak dipaparkan secara lebih mendetil.

Daniel Craig sendiri ternyata cukup mumpuni dalam menjalani perannya sebagai James Bond paling mutakhir. Ditangannya, ia berhasil mengaktualisasikan James Bond menjadi sosok baru yang lebih jantan dan menyegarkan, serta lebih meng-anak-muda, yang tentunya sesuai dengan selera penonton masa kini. Boleh ditunggu, selanjutnya Daniel Craig akan melanjutkan perannya sebagai Mr. Bond dalam ‘Bond22′ yang siap edar pada tahun 2008 nanti. Nampaknya ia semakin memantapkan posisinya sebagai salah satu pemeran Bond favorit.


‘KUNTILANAK’: Saat Mitos Lokal Menjadi Kloning Sadako

Wednesday, November 1st, 2006

Produksi:  MVP Pictures(2006)
Sutradara: Rizal Mantovani
Cast: Julie Estelle, Evan Sanders, Ratu Felisha

Genre: Horror/Thriller
Durasi: 91"
Release Date: 27 Oktober 2006
My Grade: 2 out 5

KuntilanakSetelah cukup lama tidak menggarap tema yang menjadi favoritnya, akhirnya setelah ‘Jelangkung’ (2001), Rizal Mantovani kembali dengan ‘Kuntilanak’. Dengan membawa nama besar mitos makhluk gaib yang sangat terkenal di Indonesia, jelas ‘Kuntilanak’ menyedot perhatian banyak penonton.

Sam (Julie Estelle, DeaLova, Alexandria) adalah seorang mahasiswi yang tengah mempunyai masalah dengan ayah tirinya. Sam sendiri sebenarnya juga tengah bermasalah dengan Agung (Evan Sanders, DeaLova), pacarnya. Lantas ia kemudian ia memilih untuk tinggal secara kost di sebuah rumah tua yang besar. Konon rumah besar tersebut angker, karena ada ‘ditunggui’ oleh Kuntilanak. Tapi ibu kost menepis rumor tersebut dan malah menembangkan sebuah durmo untuk memanggil Kuntilanak di depan Sam. Ternyata alam bawah sadar Sam justru menyerap tembang tersebut dan saat seseorang mengancamnya, maka secara tidak sadar ia akan menembang durmo tersebut. Yang anehnya lagi, orang yang ditembangi durmo oleh Sam akan hilang secara misterius dan kemudian ditemukan tewas dengan kepala terputar kebelakang. Situasi diperparah saat Agung menghilang. Maka dari itu Sam bertekad untuk menguak misteri yang terjadi!

Konon sosok Kuntilanak di film ini adalah hasil audisi Rizal Mantovani terhadap berbagai jenis Kuntilanak yanga ada di Indonesia. Akhirnya ia pun memilih sosok Kuntilanak yang cukup unik dan diluar gambaran yang ada di benak kita selama ini. Sayangnya, sebagai seorang yang mencandu genre horor, Rizal Mantovani sendiri tidak menunjukkan daya imajinasi atau kreasi yang tinggi, dimana pada akhirnya di layar yang terlihat justru adalah sosok Sadako, karakter hantu legendaris dari ‘Ringu’ (1998) karya Hideo Nakata. Hanya saja, disini tampang Sadako lebih mirip karakter Leak dihibrida dengan Suster Ngesot di ‘Bangsal 13′ (2004). Selain itu, ya sama saja, terutama untuk adegan merangkak (baru kali ini rasanya saya bisa membayangkan ada Kuntilanak yang merangkak). Untuk adegan merangkak ini terasa sangat dipaksakan, sebagai contoh adalah disalah satu adegan dimana Kuntilanak yang tengah berjalan menuju sebuah karakter, tiba-tiba entah bagaimana menjadi merangkak. Gimmick yang digunakan untuk penampakan Kuntilanak pun terasa sangat dimirip-miripkan. Jika Sadako merangkak keluar dari televisi, maka Kuntilanak merangkak keluar dari cermin!

Secara visual, sebenarnya ‘Kuntilanak’ cukup mengecewakan, dimana atmosfir gotik yang sepertinya ingin diperlihatkan oleh Rizal Mantovani terasa kurang masksimal. Apalagi transfer filmnya dari digital menjadi seluloid terasa kasar, sehingga kurang nyaman saat melihatnya di layar bioskop yang besar. Unsur keseramannya sendiri kurang terjaga, dimana dibeberapa adegan memang cukup terasa seram, namun disisi lain terlihat cukup kedodoran sehingga terasa komikal dan menggelikan.

Nuansa komikal ini juga sangat terasa oleh akting pemain-pemainnya. Terutama Evan Sanders. Pada beberapa bagian dialog, ia malah terlihat seperti sedang menjadi seorang presenter daripada sedang berbicara dengan wajar. Ratu Felisha masih sangat sinetron. Julie Estelle sendiri sebenarnya sudah terlihat berakting dengan baik, terutama saat adegan menembang atau tengah kesurupan, ia terlihat cukup meyakinkan. Sayangnya, dibeberapa adegan juga masih terlihat kaku.

Kelemahan lain yang cukup besar dari ‘Kuntilanak’ adalah begitu banyaknya lubang-lubang yang harus ditambal dari ceritanya. Apalagi narasi filmnya itu sendiri kurang menggigit, sehingga terasa sekali.Yang juga cukup mengganggu adalah eksplanasi mengenai keberadaan mitologi Kuntilanak itu sendiri yang sepertinya kurang meyakinkan. Namun, terlepas dari semua kelemahannya tersebut sebenarnya ‘Kuntilanak’ cukup menghibur dan setidaknya secara kualitas tidak begitu ‘mengerikan’ seperti ‘Rumah Pondok Indah’ (2006) yang merupakan mimpi buruk untuk penggemar film horor. Sayang sekali, karena sebenarnya Rizal Mantovani sudah cukup berbakat untuk menggarap temah horor, karena beliau mempunyai sense yang kuat untuk genre nini. Hanya saja ia kurang berani mengekplorasi daya imajinasi dirinya sendiri, sehingga belum menghasilkan karya yang inovatif dan ground-breaking.