‘KUNTILANAK’: Saat Mitos Lokal Menjadi Kloning Sadako


Produksi:  MVP Pictures(2006)
Sutradara: Rizal Mantovani
Cast: Julie Estelle, Evan Sanders, Ratu Felisha

Genre: Horror/Thriller
Durasi: 91"
Release Date: 27 Oktober 2006
My Grade: 2 out 5

KuntilanakSetelah cukup lama tidak menggarap tema yang menjadi favoritnya, akhirnya setelah ‘Jelangkung’ (2001), Rizal Mantovani kembali dengan ‘Kuntilanak’. Dengan membawa nama besar mitos makhluk gaib yang sangat terkenal di Indonesia, jelas ‘Kuntilanak’ menyedot perhatian banyak penonton.

Sam (Julie Estelle, DeaLova, Alexandria) adalah seorang mahasiswi yang tengah mempunyai masalah dengan ayah tirinya. Sam sendiri sebenarnya juga tengah bermasalah dengan Agung (Evan Sanders, DeaLova), pacarnya. Lantas ia kemudian ia memilih untuk tinggal secara kost di sebuah rumah tua yang besar. Konon rumah besar tersebut angker, karena ada ‘ditunggui’ oleh Kuntilanak. Tapi ibu kost menepis rumor tersebut dan malah menembangkan sebuah durmo untuk memanggil Kuntilanak di depan Sam. Ternyata alam bawah sadar Sam justru menyerap tembang tersebut dan saat seseorang mengancamnya, maka secara tidak sadar ia akan menembang durmo tersebut. Yang anehnya lagi, orang yang ditembangi durmo oleh Sam akan hilang secara misterius dan kemudian ditemukan tewas dengan kepala terputar kebelakang. Situasi diperparah saat Agung menghilang. Maka dari itu Sam bertekad untuk menguak misteri yang terjadi!

Konon sosok Kuntilanak di film ini adalah hasil audisi Rizal Mantovani terhadap berbagai jenis Kuntilanak yanga ada di Indonesia. Akhirnya ia pun memilih sosok Kuntilanak yang cukup unik dan diluar gambaran yang ada di benak kita selama ini. Sayangnya, sebagai seorang yang mencandu genre horor, Rizal Mantovani sendiri tidak menunjukkan daya imajinasi atau kreasi yang tinggi, dimana pada akhirnya di layar yang terlihat justru adalah sosok Sadako, karakter hantu legendaris dari ‘Ringu’ (1998) karya Hideo Nakata. Hanya saja, disini tampang Sadako lebih mirip karakter Leak dihibrida dengan Suster Ngesot di ‘Bangsal 13′ (2004). Selain itu, ya sama saja, terutama untuk adegan merangkak (baru kali ini rasanya saya bisa membayangkan ada Kuntilanak yang merangkak). Untuk adegan merangkak ini terasa sangat dipaksakan, sebagai contoh adalah disalah satu adegan dimana Kuntilanak yang tengah berjalan menuju sebuah karakter, tiba-tiba entah bagaimana menjadi merangkak. Gimmick yang digunakan untuk penampakan Kuntilanak pun terasa sangat dimirip-miripkan. Jika Sadako merangkak keluar dari televisi, maka Kuntilanak merangkak keluar dari cermin!

Secara visual, sebenarnya ‘Kuntilanak’ cukup mengecewakan, dimana atmosfir gotik yang sepertinya ingin diperlihatkan oleh Rizal Mantovani terasa kurang masksimal. Apalagi transfer filmnya dari digital menjadi seluloid terasa kasar, sehingga kurang nyaman saat melihatnya di layar bioskop yang besar. Unsur keseramannya sendiri kurang terjaga, dimana dibeberapa adegan memang cukup terasa seram, namun disisi lain terlihat cukup kedodoran sehingga terasa komikal dan menggelikan.

Nuansa komikal ini juga sangat terasa oleh akting pemain-pemainnya. Terutama Evan Sanders. Pada beberapa bagian dialog, ia malah terlihat seperti sedang menjadi seorang presenter daripada sedang berbicara dengan wajar. Ratu Felisha masih sangat sinetron. Julie Estelle sendiri sebenarnya sudah terlihat berakting dengan baik, terutama saat adegan menembang atau tengah kesurupan, ia terlihat cukup meyakinkan. Sayangnya, dibeberapa adegan juga masih terlihat kaku.

Kelemahan lain yang cukup besar dari ‘Kuntilanak’ adalah begitu banyaknya lubang-lubang yang harus ditambal dari ceritanya. Apalagi narasi filmnya itu sendiri kurang menggigit, sehingga terasa sekali.Yang juga cukup mengganggu adalah eksplanasi mengenai keberadaan mitologi Kuntilanak itu sendiri yang sepertinya kurang meyakinkan. Namun, terlepas dari semua kelemahannya tersebut sebenarnya ‘Kuntilanak’ cukup menghibur dan setidaknya secara kualitas tidak begitu ‘mengerikan’ seperti ‘Rumah Pondok Indah’ (2006) yang merupakan mimpi buruk untuk penggemar film horor. Sayang sekali, karena sebenarnya Rizal Mantovani sudah cukup berbakat untuk menggarap temah horor, karena beliau mempunyai sense yang kuat untuk genre nini. Hanya saja ia kurang berani mengekplorasi daya imajinasi dirinya sendiri, sehingga belum menghasilkan karya yang inovatif dan ground-breaking.


4 Responses to “‘KUNTILANAK’: Saat Mitos Lokal Menjadi Kloning Sadako”

  1. GHY Says:

    iya! jadi ga begitu serem! image kunti yang sebenarnya jadi ilang waktu liat kunti yang beda dari persepsi orang awam

  2. hARIs Says:

    apalagi BELIAU sering bgt munculnya….ilfil jadinya

  3. toan Says:

    ya kliatanya filmnya memang bagus jadi perlu ditonton nih.

  4. toan Says:

    hello dah liat filmnya lom?

    add aq ya!thebohabiz@yahoo.com
    toyaabiz@yahoo.com
    toyatoya@rocketmail.com ,
    supers_boys@yahoo.com
    http://www.toyaabiz.blogspot.com
    wwwtoyatoya.blogspot.com
    http://www.geocities.com/thebohabiz/h3llO/html

Leave a Reply