Archive for December, 2006

‘PESAN DARI SURGA’: Sebuah Pesan Yang Kurang Tersampaikan

Thursday, December 21st, 2006

Produksi: MVP Pictures (2006)
Sutradara: Sekar Ayu Asmara
Cast: Luna Maya, Vino G. Bastian, Catherine Wilson, Lukman Sardi, Rianti Cartwright, Indah Kalalo, Ramon Y. Tungka, Sharifaa Danish, Davina, Dimas Setowardhana

Genre: Drama
Durasi: 93"
Release Date: 21 Desember 2006
My Grade: 2 out 5

Pesan_dari_surgaSetahun setelah ‘Belahan Jiwa’ (2005), Sekar Ayu Asmara kembali lagi dengan ‘Pesan dari Surga’. Melihat trailernya, seakan-akan saya melihat Belahan Jiwa bagian 2. Entah memang disengaja atau tidak, namun demikian impresi yang saya dapat setelah menyimak tayangan beberapa detik tersebut. Setelah kemudian berkesempatan menyimak filmnya secara utuh, bisa dikatakan Sekar Ayu Asmara sepertinya masih percaya dengan gaya penceritaan yang berkesan suspense-misterius seperti yang dipakainya dalam ‘Belahan Jiwa’. Persamaan lainnya adalah karakter-karakter yang sedikit surealis dengan latar belakang psikologis yang cukup kuat. Tapi apakah kemudian persamaan ini berkorelasi dengan tema utama dari ‘Pesan dari Surga’ yang jelas-jelas sangat berbeda dengan ‘Belahan Jiwa’?

Filmnya sendiri bercerita tentang lima anak muda yang tergabung dalam kumpulan musik yang bernama Topeng. Sesuai dengan namanya, maka kelima anak muda tersebut tidak akan pernah menutup-nutupi keadaan diri dan pribadi mereka terhadap satu sama lainnya. Ibaratnya, di dalam Topeng, mereka akan melepaskan Topeng dan menjadi diri mereka sendiri tanpa adanya kemunafikan. Lantas, apakah kemudian di kehidupan publik mereka tidak akan memakai topeng? Ternyata tidak! Canting (Luna Maya), vokalis temperamental yang slenge’an dan mengalami krisis kepercayaan terhadap kekasihnya (Dimas Setowardhana). Brazil (Catherine Wilson), basis yang mengalami trauma masa lalu sehingga selalu mempermainkan pacar-pacarnya, termasuk si kembar Oya dan Oyi (Ramon Y. Tungka). Veruska (Rianti Cartwright), kibordis yang hamil diluar nikah dan terinfeksi H.I.V. dari pacarnya yang dokter (Uli Herdinansyah), Prana (Vino G. Bastian), gitaris yang telah beristri seorang peramal -atau paranormal?- (Indah Kalalo) namun tidak bahagia walau pun sangat mencintai istrinya, karena sang istri tidak mau mempunyai anak karena percaya sang anak akan menderita jika lahir didunia dan oleh karena itu ia pun selingkuh dengan perempuan lain. Kuta (Lukman Sardi), drummer berpenampilan garang yang sekaligus seorang artis tato, namun malah berpacaran dengan suami orang (Ario Bayu). Karakter-karakter yang tidak biasa inilah yang mendominasi ‘Pesan dari Surga’. Lantas apa yang dimaksud dengan pesan dari surga? Ternyata sebuah pesan yang disampaikan seseorang yang bangun dari koma dan ditujukan untuk beberapa orang yang telah ditinggalkan oleh seseorang yang mencintai mereka.

Terus terang, setelah menyaksikan ‘Pesan dari Surga’ saya merasa sedikit kecewa, karena ekpektasi saya adalah untuk menyaksikan sebuah film psikologis yang kental dengan aura suspensenya. Sayangnya, yang ada justru sebuah film dengan tingkat inkonsistensi dan pengabaian logika yang cukup signifikan sehingga terasa cukup mengganggu, belum lagi epilog film yang terasa mengada-ngada ditambah kurang piawainya Sekar Ayu Asmara dalam merangkum cerita yang ingin dituturkannya ini. Saya kurang tahu ada apa dengan sutradara satu ini, apakah sedang bermain-main dengan kesabaran penontonnya atau malah tengah bereksperimen dengan daya nalar penonton. Entahlah, apakah saya yang terlalu cerdas untuk film ini atau memang tingkat intelegensia saya yang kurang tinggi untuk mencerna isi film, karena saya merasa gagal untuk mencerna maksud dan tujuan sebenarnya dari Sekar Ayu Asmara dalam membuat ‘Pesan dari Surga’. Bukan berarti saya tidak terhibur saat menyaksikan film ini. Sama sekali tidak. Filmnya berjalan dalam pace yang cukup cepat dan adegan-adegan mengalir dengan cukup lancar. Apalagi ditunjang oleh akting bintang-bintang di dalamnya yang bermain dengan cukup alami, termasuk untuk seukuran Catherine Wilson dan Davina sekalipun. Luna Maya sendiri makin menunjukkan tajinya sebagai aktris utama. Saya jadi penasaran, bagaimana caranya Sekar Ayu Asmara selalu bisa memperoleh bintang-bintang tenar untuk bermain di film-filmnya.


LONG ROAD TO HEAVEN Akhirnya Lolos Sensor

Wednesday, December 20th, 2006

Long_road_to_heaven

Entah mengapa, akhir-akhir ini LSF (LEmbaga Sensor Film) di Indonesia seperti menjadi momok yang mengerikan bagi sineas-sineas Indonesia. Ini mungkin imbas dari tidak-lolos-sensor-nya ‘Pocong’ karya Rudi Soedjarwo, dengan alasan memakai kekerasan yang nyata serta upaya pembalasan dendam yang detil, sehingga ditakutkan dapat meng-’inspirasi’ penontonnya. Tapi, yang paling utama adalah dimana latar belakang politis dari film tersebut yang memakai situasi kerusuhan massal yang terjadi pada tahun 1998. Bagaimana dengan  ‘Long Road to Heaven’? Karya perdana Enison Sinaro yang diproduksi oleh Kalyana Sira Film ini  mengambil peristiwa Bom Bali I sebagai latar belakang ceritanya. Apalagi menampilkan karakter Hambali yang disini diperankan oleh Surya Saputra.  Secara latar belakang cerita yang sensisitf seperti ini bisa saja menjadi sentimen negatif bagi LSF untuk menolak ‘Long Road to Heaven’. Akan tetapi, filmmaker dari film ini bisa bernapas lega, karena akhirnya ‘Long Road to Heaven’ akan siap ditayangkan pada 25 Januari 2007 nanti.

Berikut sinopsis film, yang dikutip dari blog resminya (http://lrth-movie.blogspot.com):

"It is a movie about people in the searching for peace and “heaven” in life, here
on earth and after. In their quest, sometimes people have to go through the
worst experience. Using the October 2002 Bali Bombing tragedy as the setting,
the movie tells the stories from different point of views.

Hannah
Catrelle (Mirrah Foulkes), an American woman is living in Bali when the
explosion occurred. In the midst of the chaos she meets Hajj Ismail (Joshua
Pandelaki), a Balinese moslem. Through this encounter, Hannah learns more about
the real Islam and how prejudice can lead to terrible
misunderstandings.

Meanwhile, Liz Thompson (Raelee Hill), an Australian
reporter arrived in Bali seven months later. Accompanied by Wayan Diya (Alex
Komang); a Balinese who lost a relative in the tragedy; Liz went through a
journey where she finds a new understanding about the Balinese
philosophy.

The story itself is based on factual research which brought
us to a better perspective upon humanity. It is a lesson in life of how a
tragedy can create stronger bonds and better solidarity regardless people’s
nationality, race and religion. A real long journey for a true
understanding.

Furthermore, Long Road to Heaven is also simply answering
one of a big question in life: “Is there a short cut to heaven?”.

Pajak, Bikin Susah Film Indonesia

Tuesday, December 19th, 2006

TaxFilm Indonesia sudah mulai bangkit. Ini diungkapkan Produser Film, Chand Parwez Servia, pada workshop wartawan film di Hotel Puncak Raya, Selasa (12/12).

Tapi, Parwez mengakui bangkitnya perfileman tidak diiringi perkembangan usaha jasa teknik perfileman nasional. "Karena enggak ada studio di sini, film Virgin terpaksa dibikin di Hong Kong," katanya.
Padahal, undang-undang nomor 8 tahun 1990 tentang perfileman, khususnya pasal 11, dan PP no.6 tahun 1994 tentang penyelenggaraan usaha perfilemen, menentukan bahwa dalam melakukan kegiatan, perusahaan perfileman wajib menggunakan kemampuan nasional yang telah tersedia.

Film harus diproduksi di dalam negeri karena mendorong gairah investasi baru, menambah pengalaman kerja dan meningkatkan kualitas, menyambung nyawa perusahaan jasa teknik perfileman nasional, yang merupakan penyedia jasa tenaga profesi dan peralatan yang diperlukan dalam proses pembuatan film.

Namun, ketentuan yang ada dalam UU Pajak No 8 tahun 1983 tentang PPN dan PpnBM–terakhir diubah dengan UU No 18 tahun 2000–dan telah melahirkan PP No 144 tahun 2000.

Perubahan ini merugikan perkembangan jasa teknik dalam negeri, karena semua barang dan jasa yang tidak terkena pajak disebutkan, sehingga yang tidak disebutkan –tanpa ampun–dianggap barang dan jasa kena pajak (bayar PPN). Dalam hal ini, produser film wajib membayar PPN atas jasa teknik film dalam negeri yang digunakan dari sejak produksi hingga paska produksi.

Sementara, film yang diproses di luar negeri, yang kena pajak hanya release copynya saja. Akibatnya, PPN yang dibayar produser film atau importir film yang memproses film di luar negeri adalah lebih kecil daripada yang memproses filmnya di dalam negeri. Demikian papar Sekjen Gabungan Studio Film Indonesia (GASFI), Rudy S Sanyoto, di Hotel Puncak Raya, Senin (11/12).

Rudy memberikan ilustrasi tabel perbandingan pajak yang harus dibayar oleh produser film untuk memproduksi film nasional dan pajak yang harus dibayar importir untuk impor satu judul film impor. "Setiap komponen jasa teknik ada kandungan pajak yang kalau dikumpulin, jumlah totalnya lebih besar daripada pajak film impor, dan ini memprihatinkan, " ujar Rudy.

Syuting dengan video dan proses dengan film di dalam negeri dikenai pajak bahan baku, peralatan, artis, dan karyawan. Total pajak berjumlah Rp 85 juta untuk beaya film seharga Rp 1, 925 miliar. Syuting dengan film proses dengan video dikenai pajak bahan baku, peralatan, artis, karyawan, telecine (proses film ke video), dan post production. Untuk beaya produksi film seharga Rp 4,51 miliar, pajaknya mencapai Rp 259 juta. Syuting dengan video, proses dengan video dikenakan pajak bahan baku, peralatan, artis, karyawan, post production, teledine (mengubah format film dari video ke negatif). Untuk produksi film senilai Rp 1,76 miliar, pajaknya Rp 99 juta.

Ini semua baru biaya untuk 18 kopi per-judul film. Sementara, pajak yang harus dibayar untuk impor satu judul film impor seharga Rp 40,5 juta. Bisa dihitung, bedanya sangat jauh.

"Berbagi Suami biaya produksinya lebih rendah 50 persen, karena diproduksi di Thailand. Jasa teknik luar negeri lebih maju karena sudah bebas pajak alat dan biaya bahan baku," kata Rudy. Film Harry Potter diproduksi di Thailand dicetak 200 kopi untuk jumlah bioskop tidak lebih dari 400 layar. Sedangkan, di Indonesia, filmnya dicetak 60 kopi untuk 600 layar.

Apa pajak impor film yang rendah dan pajak produksi film nasional yang tinggi tidak bisa diperjuangkan agar jasa teknik film nasional maju, dan film Indonesia lebih berkembang? "Perjuangan kita sudah lama. Tentatifnya: pajak impor naik, pajak film nasional turun, jadi selevel. Atau, pajak film nasional turun lebih rendah, atau pajak impor film naik lebih tinggi," tutur Rudy.

Masalahnya sekarang, ini terkait dengan pebisnis bioskop yang harus mempertahankan kehidupannya. "Awalnya, film impor hanya pelengkap saat film nasional mati suri, dan akhirnya malah kebablasan. Bioskop merasa tergantung dengan impor karena masyarakat kita telanjur suka dengan film impor. Tapi tetap saja, ini harus diperjuangkan, karena seyogyanya, film impor harus mendukung perekonomian nasional seperti juga film nasional," paparnya.

Rudy mencontohkan industri film Perancis yang sudah mempraktekan sebagian pajak impor film dialokasikan untuk perkembangan film nasional, dan karenanya, film nasional Prancis maju pesat. "Ini urusan dirjen pajak dan menteri keuangan. Tapi harus di pressure oleh BP2N (Badan Pertimbangan Perfileman Nasional) dan Gasfi lewat Debudpar (Departemen Kebudayaan dan Pariwisata). Pernah ada pleno yang merumuskan agar usulan pajak ini masuk RUU Perfileman, tapi kuorumnya tidak memenuhi syarat pleno," kata Rudy.

Ketua BP2N,Djonny Syafruddin, mengakui di draft RUU Perfileman dari BP2N, pajak ini belum disinggung, tapi tetap akan diperjuangkan. Bagaimana tanggapan dirjen film Debudpar, Bakrie? "Bagaimana saya bisa menjawab sesuatu yang bukan wewenang saya," tangkis Bakri. Tapi, apa mau dikata, RUU Perfileman saja mandeg di meja Komisi X DPR-RI, bagaimana pajak ini mau diperjuangkan. (yus)

Sumber: Warta Kota

My Most Anticipating Movies Nowdays!

Monday, December 18th, 2006

Ada beberapa film yang menjadi film yang paling saya tunggu-tunggu dan rasaya tidak sabar untuk mendapatkan kesempatan untuk dapat menikmatinya. Film-film tersebut adalah Babel dan Pan’s Labyrinth.

BABEL

Babel_1Dari Alejandro González Iñárritu, sutradara yang telah membawa Amores Perros (2000) dan 21 Grams (2003). Tak dapat dipungkiri kalau nama Alejandro González Iñárritu sendiri sudah menjadi jaminan akan mutu dan kualitas sebuah film. Bercerita dengan gaya narasi yang pararel, Babel bercerita tentang sekelompok orang yang berasal dari latar belakang dan budaya serta lokasi yang berbeda, akan tetapi disatukan oleh hanya sebutir peluru! Dibintangi oleh Brad Pitt, Cate Blancett, Gael García Bernal, Kôji Yakusho dan nominasi Golden Globe 2006 untuk Aktris Pendukung Terbaik, Rinko Kikuchi.

Official Site: KLIK DISINI





PAN’S LABYRINTH

Pans_labyrinth Film yang aslinya berjudul El Laberinto del Fauno ini mendapat applaus sepanjang 22 menit setelah pemutaran film ini di Cannes Film Festival lalu. Merupakan karya terbaru dari Guillermo del Toro, yang sebelumnya mengarahkan Mimic (1997), Devil’s Backbone (2001), Blade 2 (2002) dan Hellboy (2004). Setelah menggarap beberapa film komersil Hollywood,  Guillermo del Toro  kembali ke akarnya, yaitu thriller-horror dengan sentuhan artistik dan dramatisasi yang tinggi. Tidak heran, diajang Golden Globe 2006 ini, Pan’s Labyrinth mendapatkan nominasi untuk Best Foreign Languange.

Official Site: KLIK DISINI

‘CINTA PERTAMA’: Melancholy and Infinite Sadness

Tuesday, December 12th, 2006

Produksi: Maxima Pictures/i-Sinema (2006)
Sutradara: Nayato Fio Nuola
Cast: Ben Joshua, Bunga Citra Lestari, Richard Kevin

Genre: Drama/Roman
Durasi: 90"
Release Date: 07 Desember 2006
My Grade: 2 out 5

Cinta_pertama
Cinta Pertama’ (First Love) adalah karya terbaru dari Nayato Fio Nuola (The Soul, Ekskul). Sejujurnya, saya tidak pernah tertarik untuk melihat karya-karyanya, karena bagi saya Nayato ini setali-tiga-uang dengan Koya Pagayo (Panggil Namaku 3x, 12:00 AM), yaitu terlalu memfokuskan pada visual (yang kadang terlalu berlebihan) dan benar-benar lemah pada penceritaan. Rumor yang beredar, pada dasarnya Nayato dan Koya adalah orang yang sama. Entah mengapa dia harus mempunyai dua nama seperti tersebut dan apapun alasannya biarlah dia yang tahu, sepanjang dia mampu membuat film yang kredibel dan dapat dipertanggungjawabkan.

Kembali ke ‘Cinta Pertama’. Nayato kali ini mencoba mengekplorasi genre drama-romantik, genre yang diyakini di Indonesia banyak peminatnya. ‘Cinta Pertama’ bercerita tentang Alia (Bunga Citra Lestari), seorang perempuan usia 20-an yang baru saja melangsungkan acara pertunangan dengan Abi (Richard Kevin), yang kelihatannya adalah seorang eksekutif muda yang berhasil. Keesokan harinya, Abi menemukan Alia tergeletak tidak sadarkan diri dengan darah mengucur dari hidungnya. Sepertinya Alia mengidap penyakit yang mematikan. Maka, tentu saja Alia dilarikan ke Rumah Sakit. Sayangnya, Alia kini tergelatak koma. Sementara itu Abi menemukan buku diari Alia disaat ia juga menemukan Alia yang tengah tak sadarkan diri. Sembari menjaga Alia, maka Abi mulai membaca isi diari tersebut. Begitu terkejutnya ia setelah membaca jika Alia sebenarnya memendam cinta yang mendalam terhadap Sunny (Ben Joshua, DeaLova). Siapa Sunny? Ternyata dia adalah teman sekolah Alia semasa SMA yang diakui Alia sebagai cinta pertamanya. Sayangnya, sampai mereka menyelesaikan pendidikan di bangku SMA-nya, baik Sunny dan Alia tidak pernah menyatakan perasaan mereka. Sampai kemudian mereka terpisah, karena Sunny memilih untuk meneruskan sekolah di luar Jakarta. Membaca itu, maka Abi memutuskan untuk mencari Sunny dan mengajaknya untuk menjenguk Alia. Sayangnya, Sunny ternyata telah berumah tangga. Namun, ia setuju untuk menjenguk Alia. Dari sini ia kembali terkenang akan perasaanya yang mendalam terhadap Alia. Dan ia pun mengakui pada dirinya sendiri kalau Alia pun adalah cinta pertamanya.

Terus terang, melihat plotnya, sebenarnya tidak ada yang baru ditawarkan oleh ‘Cinta Pertama’. Rasanya kita sudah sering mendengar atau menyaksikan roman dengan unsur naratif yang setipe. Memang, siapa sih yang tidak pernah mengalami cinta pertama. Apalagi jika dialami pada saat masih duduk di bangku SMA. Walau bagi banyak orang akan terlihat sepele, namun bagi yang mengalaminya akan terasa sangat indah dan membekas di hati selamanya. Demikian juga sepertinya yang coba ditawarkan oleh ‘Cinta Pertama’. Bisa dibilang, cerita dalam skrip yang digarap oleh Titien Wattimena (Mengejar Matahari, Tentang Dia) terlalu sederhana dan terkesan menggunakan banyak trik-trik klise (hujan yang terus-menerus rasanya cukup menganggu). Namun, sebenarnya bisa menarik dan membuat orang akan merasa relate to the story jika saja Nayato lebih menekankan pada cerita dan dramatisasi yang kuat. Disini film berjalan lambat dan cenderung monoton karena jalan ceritanya yang datar. Tidak ada riak-riak atau ritme yang bisa menaik-turunkan emosi penontonnya, karena konflik yang ditawarkan juga tidak jelas. Ceritanya sendiri terlalu dipaksakan untuk berlarat-larat dalam melankolis kesedihan yang berkepanjangan. Ditunjang lagi oleh penataan musik oleh Addie MS. yang sangat mellow. Pada beberapa bagian memang menarik, namun secara keseluruhan terasa dipaksakan sehingga membuat lelah secara emosi bagi yang menontonnya. Akan tetapi patut dihargai usaha Nayato untuk memakai penata musik yang sebenarnya, dibandingkan dengan mencatut skoring dari berbagai film yang sering dilakukannya dalam film-film sebelumnya.

Bunga Citra Lestari sebenarnya sudah bermain dengan cukup meyakinkan dalam film pertamanya ini. Aktingnya juga tidak terlalu sinetron, secara Bunga sebenarnya lebih banyak bermain di sinetron. Ben Joshua tidak menunjukkan pengembangan yang berarti semenjak film pertamanya, DeaLova (2005). Sementara Richard Kevin terasa datar dan kaku di beberapa adegan, sehingga seperti terlihat membaca daripada mengucapkan dialog secara wajar. Akan tetapi sebenarnya Richard hanya butuh latihan dan jam terbang yang tinggi, karena jika ditilik lagi ia terlihat cukup berbakat dan mampu untuk bermain dengan lebih wajar. Berikan saja ia sutradara yang lebih baik dan skenario film yang lebih bermutu dan saya yakin ia bisa menjadi besar nantinya.

Sebenarnya, dari segi visual, sinematographi ‘Cinta Pertama’ yang digarap oleh Dimas Aji termasuk menarik, karena menawarkan gambar-gambar yang indah dan dapat memanjakan mata. Desain produksi yang ditangani oleh Oh Soo-eun juga cukup menarik. Melihat namanya yang berbau Korea, terlihat sekali jika Nayato menginginkan filmnya ini bergaya Korea. Sayang sekali, ia sepertinya gagal mencapai maksudnya, karena gaya dan style saja tidak cukup. Cerita dan dramatisasi yang kuat adalah yang paling penting. Memang, disini terlihat jika Nayato berusaha keras untuk meningkatkan kredibilitasnya dalam membuat film, karena terasa ada peningkatan yang berarti di film ini dibandingkan dengan beberapa film yang telah dikerjakannya. Namun sayangnya, ia tetap harus kembali belajar lebih giat untuk membuat film yang baik dan benar.


 

Pocong 2 Siap Edar

Saturday, December 9th, 2006

Pocong2_2

Fantastis! Itulah yang terlintas dalam benak saya setelah mengetahui jika sekuel dari film horrornya Rudi Sudjarwo (Ada Apa Dengan Cinta?, Mengejar Matahari), ‘Pocong’, yang dilarang edar oleh LSF akan tayang pada tanggal 28 Desember 2006 nanti. Bayangkan saja, film aslinya saja, jika tidak dicekal oleh LSF, akan tayang pada medio Oktober atau November 2005 ini. Namun, karena ‘Pocong’ yang pertama dianggap LSF terlalu detil dalam memaparkan pembalasan dendam dan kekerasan, maka dengan sangat terpaksa LSF menolak untuk meluluskan ‘Pocong’ untuk di putar secara umum.

Yang mengherankan, ternyata Rudi Soedjarwo dengan amat-sangat cepat mampu membuat sekuelnya. Entah bagaimana sistem kerja beliau dalam membuat film. Mudah-mudahan saja, hasilnya tidak mengecewakan.

Berikut sinopsis film, yang dikutip dari situs resminya (http://www.sinemart.com/pocong2):

"Maya (Revalina S.Temat), adalah seorang yatim piatu
yang bekerja sebagai asisten dosen di kampusnya. Ia hanya tinggal
berdua dengan adiknya, Andin (Risty Tagor) yang masih sekolah di SMU.
Dalam waktu dekat, Maya akan menikah dengan tunangannya, Adam (Ringgo
Agus Rahman).
         

Maya sangat menyayangi
adiknya. Semenjak ditinggal oleh kedua orang tuanya, Maya selalu
berusaha memberi perhatian lebih ke Andin, karena Andin masih dirundung
rasa kehilangan. Untuk membahagiakan Andin, Maya memutuskan untuk
mencari tempat tinggal baru yang lebih baik, nyaman & lingkungan
yang dapat mendukung segala kebutuhan Andin.

Ditemani
Adam, Maya mencari tempat kost yang sesuai dengan kebutuhan Andin.
Perhatian Maya tertuju pada sebuah iklan baris di koran yang memasang
tarif murah untuk sebuah kamar apartemen. Setelah melihat-lihat kondisi
apartemen itu, Maya langsung menyukainya.

Setelah mereka berdua pindah ke apartemen baru
tersebut, kehidupan mereka mulai tidak tenang. Andin mulai menemukan
hal-hal menakutkan di apartemen itu, Andin merasa ia selalu diganggu
oleh Pocong. Awalnya, tak ada yang percaya kepada apa yang dikatakan
Andin, sampai akhirnya Maya menemukan Andin dalam keadaan depresi berat
dan sangat mengkhawatirkan.

Karena
rasa sayang yang begitu besar kepada Andin, Maya nekat melakukan hal
yang bahkan tidak pernah dia pikir sebelumnya. Maya mendatangi seorang
paranormal. Berkat bantuan paranormal itu, pandangan Maya mampu
menembus dunia lain, ia menjadi peka.Ketika
kembali ke apartemen, Maya pun mulai merasakan kehadiran
makhluk-makhluk dari dunia lain.

Tidak mudah bagi Maya untuk
beradaptasi dengan hal tersebut. Sekarang dia sudah mulai paham dengan
apa yang dialami Andin. Maya berusaha mencari tahu kenapa Andin menjadi
sasaran gangguan dari mahluk halus. Maya
harus berjuang keras. Karena ternyata, dia tidak hanya berhadapan
dengan arwah penasaran berupa Pocong. Ada sesuatu yang lebih dari itu,
sesuatu yang mengancam nyawa adiknya."

‘PULSE’: Usaha Pembeda Yang Kurang Menarik

Saturday, December 9th, 2006

Produksi: Dimension Pictures/Distant Horizons (2006)
Sutradara: Jim Sonzero
Cast: Ian Sommerhalder, Kristen Bell, Christina Millian, Jonathan Tucker, Brad Douriff (Spec. App.)

Genre: Horror/Thriller/Misteri
Durasi:
90"
Release Date: 13 Oktober 2006 (USA)
My Grade: 2 out 5

Pulse_xlg
Setelah ‘The Ring’, ‘The Grudge’, dan ‘Dark Water’, maka ‘Pulse’ adalah J-Horror ke empat yang diremake menjadi film Hollywood. Dan tampaknya ‘demam’ ini belum berakhir, karena sudah bisa dipastikan pada tahun 2007 nanti akan keluar versi remake dari ‘One Missed Call’ (2004) atau ‘Chakushin Ari’ karya Takashi Miike.

Kembali ke ‘Pulse’. Film ini adalah remake dari film yang aslinya berjudul ‘Kairo’ (2001), karya Kiyoshi Kurosawa, yang terkenal dengan karya-karya gelapnya yang kadang absurd dan surealis. ‘Kairo’ pun tak luput dari aura absurd dan surealis tadi, hanya saja dalam kadar yang cukup ringan. Namun begitu, tetap saja membutuhkan konsentrasi dan atensi yang tinggi dari penontonnya, karena ‘Kairo’ adalah horor yang gelap, moody dan terkadang menyeramkan. Inti utama dari ‘Kairo’ setidaknya yang saya tangkap, adalah kemurungan manusia modern yang terisolasi  karena gagal berinteraksi dengan utuh terhadap lingkunganya sehingga sebagai kompensasinya mereka memutuskan untuk berinteraksi secara maya melalui teknologi internet. Sayangnya, kemajuan teknologi justru juga membuka portal dimana makhluk-makhluk yang seharusnya sudah tiada mencoba untuk masuk kembali ke dunia nyata!

Secara garis besar ‘Pulse’ mengadopsi inti cerita dari ‘Kairo’, hanya saja kemudian ada sedikit penyesuaian agar cerita dapat menjadi lebih gampang dicerna, karena pada versi aslinya, cerita pada awalnya berjalan pararel, karena menampilkan dua karakter utama yang mempunyai narasi yang berbeda. Barulah menejlang akhir cerita mereka bertemu. Pada ‘Pulse’ versi Amerika ini bercerita tentang seorang Mahasiswi, Mattie (Kristen Bell) yang menemukan kekasihnya Josh (Jonathan Tucker), seorang hacker, tewas gantung diri. Beberapa hari kemudian ia menerima pesan elektronik di komputernya, yang anehnya, dikirim oleh Josh. Selanjutnya ia mengetahui kalau komputer Josh telah berpindah tangan kepada Dexter (Ian Somerhalder), juga seorang hacker. Ternyata di dalam komputer Josh terdapat semacam channel yang bisa menjembatani dunia roh untuk masuk kedunia manusia. Celakanya, layaknya serangan virus, program tersebut telah menginfeksi komputer-komputer, PDA bahkan ponsel yang terhubung secara on-line. Roh-roh tersebut menghisap sari kehidupan manusia yang bertemu dengan mereka, sehingga manusia-manusia tersebut akan merasa hampa dan mempunyai niat bunuh-diri yang besar. Ketika populasi orang yang melakukan bunuh diri semakin besar, maka Mattie dan Dexter mencoba untuk menghentikannya, sebelum terlambat!

Jika sebelumnya pernah menyaksikan ‘Kairo’, pasti segera bisa merasakan kalau ‘Pulse’ terasa sangat berbeda dengan versi aslinya. Jika ‘Kairo’ seperti mengajak penontonnya secara perlahan-lahan hanyut dalam ceritanya, maka ‘Pulse’ seperti sebuah horror-pop-kontemporer ala Amerika yang berusaha untuk menjelaskan banyak hal, sementara penjelasan yang diberikan justru memusingkan dan kurang dapat diterima (baca: plausible). Penggarapan Jim Sonzero juga serba tanggung, antara mencoba mengikuti ritme ‘Kairo’ atau over-stylish ala MTV. Pada mulanya ‘Pulse’ akan diarahkan oleh Wes Craven (Scream), namun entah mengapa tidak jadi. Ia malah hanya menangani skenarionya, bekerja sama dengan Ray Wright. Pengaruh Craven sebenarnya cukup terasa pada beberapa unsur suspens dari ‘Pulse’. Hanya saja filmnya berjalan datar bahkan cenderung monoton. Kadar kengerian ‘Pulse’ kurang tergarap dengan baik, sehingga kurang mencekam. Padahal ‘Pulse’ telah meminjam beberapa adegan yang menarik dari film aslinya, namun ternyata tetap tidak mendukung.

Kelemahan lain dari film ini adalah dari segi akting. Kristen Bell (Veronica Mars) dan Ian Somerhalder (Lost) terasa kurang maksimal. Beberapa pemain pendukungnya pun terasa dibuat-buat aktingnya, termasuk Jonathan Tucker (Texas Chainsaw Massacre), yang tampil di beberapa adegan. Oh ya, film ini juga menampilkan cameo dari Brad Douriff. Bagi yang sering menonton film horror pasti kenal siapa beliau. Ia adalah pengisi suara Chucky di ‘Child’s Play 1,2,3′ serta ‘Bride of Chucky’ dan ‘Seed of Chucky’.


The Steamy HOT-HOT Mr. Bond!

Tuesday, December 5th, 2006

Daniel_craig04Okay! Mungkin pada awalnya banyak yang kecewa, karena Pierce Brosnan sebagai pemeran James Bond yang telah menjadi favorit banyak orang akhirnya digantikan. Apalagi yang menggantikannya adalah seorang aktor Inggris yang, yah mungkin kurang terkenal. Aktor tersebut bernama Daniel Craig. Ketidaksetujuan tersebut diperparah lagi, karena secara fisik Mr. Craig dianggap sangat tidak relevan sebagai James Bond (baca: blonde, kekar, dan katanya sih jelek). Dengan kata lain ia sangat tidak sesuai dengan profil James Bond yang parlente (baca: Pierce Brosnan).

Namun, saat Casino Royale sebagai film terbaru dari franchise 007 keluar, sepertinya komunitas kontra tersebut semakin tereduksi, tergantikan dengan banyaknya kegaguman terhadap Daniel Craig karena berhasil menampilkan sosok James Bond yang lebih menyegarkan.

Ke-macho-an James Bond yang diaktualisasikan oleh Daniel Craig membuat banyak orang akhirnya mengidolakan dia. Terus terang, memang secara tampang beliau tidak ganteng-ganteng amat. Tapi secara fisik, Daniel Craig memang menghipnotis. Apalagi ia juga mempunyai kharisma tersendiri yang membuat kita bisa melekatkan pandangan kepadanya (no pun intended!).

Sepertinya Martin Campbell, sutradara Casino Royale sadar betul akan aura ragawi Daniel Craig yang bersinar tersebut, sehingga ia dalam banyak kesempatan di film tersebut memamerkan lekuk-lekuk tubuh Daniel. Sebagai contoh, ya gambar diatas. Mungkin ini memang trik baru dalam seni dagangan H’wood. Rasanya, di jaman baheula, hanya fisik perempuan saja yang diekspos. Namun, jika sering mengamati film-film jaman sekarang, memang rasanya kesetaraan gender sudah mulai merasuki dunia perfilman, khususnya dalam adegan buka-bukaan.

Apa penyebab hal ini? Mungkinkah para produser H’wood kian menyadari jika kaum perempuan saat ini juga mempunyai kebebasan dalam menikmati fisik lawan jenisnya? Atau mereka menyadari jika sekarang juga banyak lho kaum laki-laki yang menyenangi laki-laki lainnya. Ha? It’s that true? Well, I think the veracity of it is still under questioning.Yang jelas, apapun ideologi politis H’wood saat ini tentunya tergantung akan perkembangan atau perubahan trend yang berlaku di masyarakat, kan? However, in the spirit of capitalism, body sells, right?

Ngomong-ngomong soal Daniel Craig itu sendiri, berikut sedikti biodatanya (dikutip dari imdb.com):

Birth name
Daniel Wroughton Craig

Height
5′ 11" (1.80 m)

Mini biography

Daniel Craig, one of British theatre’s most famous faces who was waiting tables as a struggling teenage actor with the NYT, is now starring as James Bond in Casino Royale (2006).

He was born Daniel Wroughton Craig on March 2, 1968, at 41 Liverpool Road, Chester, Cheshire, England. His father, named Tim Craig, was a merchant seaman turned steel erector, then became landlord of ‘Ring O’ Bells’ pub in Frodsham, Cheshire. His mother, named Carol Olivia Craig, was an art teacher. His parents split up in 1972, and young Daniel Craig was raised with his older sister, Lea, in Liverpool, then in Hoylake, Wirral, in the home of his mother. His interest in acting was encouraged by visits to the Liverpool Everyman Theatre arranged by his mother. From the age of 6, Craig started acting in school plays, and his mother, Carol, was the driving force behind his artistic aspirations. He was also a good athlete and was a rugby player at Hoylake Rugby Club.

At the age of 14 Craig played roles in ‘Oliver’, ‘Romeo and Juliet’, and ‘Cinderella’ at Hilbre High School in West Kirby, Wirral, UK. He left Hilbre High at 16 to audition at the National Youth Theatre’s (NYT) troupe on their tour in Manchester in 1984. He was accepted and moved down to London. There his mother and father watched his stage debut as Agamemnon in Shakespeare’s ‘Troilus And Cressida’. As a struggling actor with the NYT, he was toiling in restaurant kitchens and as a waiter. Craig performed with NYT on tours to Valencia, Spain, and to Moscow, Russia, under the leadership of director Edward Wilson. He failed at repeated auditions at the Guildhall, but eventually his persistence paid off, and in 1988, he entered the Guildhall School of Music and Drama at the Barbican. There he studied alongside Ewan McGregor and Alistair McGowan, then later Damian Lewis and Joseph Fiennes, among others. He graduated in 1991, after a three-year course under the tutelage of Colin McCormack, the actor from the Royal Shakespeare Company. From 1992-1994 he was married to Scottish actress Fiona Loudon, their daughter, named Ella, was born in 1992.

Daniel Craig made his film debut in The Power of One (1992). His film career continued on television, notably the BBC2 serial ‘Our Friends in the North’ (1996). He shot to international fame after playing supporting roles in ‘Lara Croft: Tomb Raider’ (2001) and Road to Perdition (2002). He was nominated for his performances in the leading role in Layer Cake (2004), and received other awards and nominations. Craig was named as the sixth actor to portray James Bond, in October of 2005, weeks after he finished his work in Munich (2005), where he co-starred with Eric Bana under the directorship of Steven Spielberg.

Craig’s reserved demeanor and his avoidance of the showbiz-party-red-carpet milieu makes him a cool 007. He is the first blonde actor to play Bond, and also the first to be born after the start of the film series, and also the first to be born after the death of the author Ian Fleming in 1964. Four of the past Bond actors: Sean Connery, Roger Moore, Timothy Dalton, and Pierce Brosnan have indicated that Craig is a good choice as Bond.


Personal quotes

"I go through life thinking it’s all going to end tomorrow."

"I don’t believe in self-promotion, really I can’t be arsed."

‘THE GRUDGE 2′: Let’s Continue the Terror, Shall We?

Monday, December 4th, 2006

Produksi: Columbia Pictures/Ghost House Pictures (2006)
Sutradara: Takashi Shimizu
Cast: Sarah Michelle Gellar, Amber Tamblyn, Edison Chen, Jennifer Beals, Arriel Kebbel, Takako Fuji

Genre: Horror/Thriller
Durasi: 95"
Release Date: 13 Oktober 2006 (USA)
My Grade: 2.5 out 5

Grudge_two_2Mengekor kesuksesan remake ‘The Ring’, maka dibuatlah remake dari ‘Ju-On: The Grudge’ dengan tetap memakai sutradara aslinya, Takashi Shimizu, pada tahun 2004, dengan diproduseri oleh Sam Raimi (Evil Dead, Spiderman). Ternyata film tersebut sukses menembus angka diatas 100 juta Dollar. Bisa ditebak, urgensi untuk membuat sekuelnya pun tercetus. Kabarnya, lampu hijau diberikan untuk sequel hanya tiga hari setelah ‘The Grudge’ rilis.

Dengan tim yang sama dan penampilan singkat dari Sarah Michelle Gellar, bintang utama seri pertamanya, maka kini tiba ‘The Grudge 2′. Tidak ada yang berbeda dengan film pertama atau versi orisinilnya. Gaya non-linear tetap dipertahankan Stephen Susco sebagai penulis skenario versi Amerikanya. Ceritanya terbagi menjadi tiga bagian yang berjalan pararel: pertama, Aubrey Davis (Amber Tamblyn, The Ring) pergi ke Tokyo untuk membawa pulang  kakaknya, Karen Davis (Sarah Michelle Gellar, I Know What You Did Last Summer) kembali ke Amerika atas desakan ibunya. Padahal hubungan Aubrey dengan Karen sedang memburuk. Bukannya berhasil membawa Karen yang tengah dirawat di sebuah Rumah Sakit, justru ia terlibat dalam misteri kutukan kemarahan Kayako (Takako Fuji), setelah kematian tragis yang kemudian dialami oleh Karen. Bersama dengan seorang wartawan, Eason (Edison Chen, Infernal Affairs), mereka berusaha menguak misteri dendam Kayako. Kedua, tiga orang siswi sekolah Internasional di Tokyo, Vannesa (Teresa Palmer), Miyuki (Misako Uno) dan Allison (Arrielle Kebbel) mendatangi rumah kosong bekas pembantaian Kayako. Vannesa dan Miyuki sebenarnya hanya ingin mempermainkan Allison dengan menakut-nakutinya. Namun, sepulang dari rumah tersebut, mereka bertiga mengalami gangguan supernatural yang mengancam jiwa mereka. Ketiga, cerita kini berlokasi di Amerika. Seorang wanita, Trish (Jennifer Beals, Flashdance) pindah ke sebuah apartemen mengikuti tunangannya, Bill (Christopher Cousins). Selain menyesuaikan diri dengan apartemen baru, ia juga harus beradaptasi dengan kedua anak Bill, Lacey (Sarah Roemer) dan Jake (Mathew Knight). Suatu hari, tetangga mereka membawa seseorang yang berpenampilan misterius. Semenjak itu, suasana lingkungan apartemen beserta orang-orang yang didalamnya menunjukkan perubahan menjadi berprilaku aneh. Jake yang penasaran mencoba untuk mencari tahu apa yang tengah terjadi, tanpa disadarinya jika sebuah kekuatan ghaib yang berbahaya tengah mengancam keselamatan seluruh keluarganya.

Jika Anda memang telah terbiasa dengan pola narasi ala ‘Ju-On’ atau ‘The Grudge’ mungkin tidak akan kesulitan dalam mengikuti jalan ceritanya. Namun, bagi yang baru menyaksikan ‘The Grudge’ melalui sequel ini, tentu saja membutuhkan ekstra atensi yang keras. Hanya saja, memang kelemahan pada sequel ini adalah banyaknya inkoherensi yang menjadi lubang-lubang cerita. Sebagai misal, karakter Aubrey hadir sepertinya hanya sebagai ‘kewajiban’ untuk penyambung antara dua seri pertama dengan kedua. Karakter tersebut sebenarnya tidak memberikan kontribusi yang signifikan untuk pengembangan cerita. Juga saat pengenalan karakter Trish, dimana sepertinya ia akan mempunyai porsi peran yang besar, namun malah karakter Jake yang mendominasi. Banyaknya karakter yang ada serta narasi yang pararel kadang  bertabrakan dan terasa kurang halus dibeberapa bagian. Sementara itu, unsur kejutan diakhir filmnya pun sebenarnya kurang greget, karena cenderung bisa tertebak di pertengahan durasi film. Dari unsur penampakan Kayako pun cenderung menggunakan trik-trik lama, sehingga kurang terasa geregetnya.

Jika ditilik lagi, sebenarnya ‘The Grudge 2′ ini sebenarnya sebuah obligatory-sequel atau sekuel karena keharusan, selain tentu saja sebagai sebuah sequel-in-demand. Tampaknya film ini akan menjadi jembatan untuk pindah lokasi nantinya, jika sequel ketiga jadi dibuat tentunya. Terlepas dari kelemahan-kelemahannya, ‘The Grudge 2′ sebenarnya masih menarik untuk disaksikan, apalagi Takashi Simizu memang handal sekali dalam menampilkan adegan-adegan yang menyeramkan. Walaupun dibeberapa adegan mengandalkan adegan-adegan ‘kaget’, namun atmosfir kengeriannya tetap terjaga.

Dari segi akting, untuk kelas film horror, para pemainnya bermain dengan cukup ciamik. Sayang sekali, Sarah Michelle Gellar hanya tampil selintas. Kabarnya jadwal suting film ini bentrok dengan film thriller lain yang dibintanginya ‘The Return’ (2006).

Nah, jika Anda penggemar seri ‘The Grudge’, maka film ini jelas wajib tonton. Tapi, bagi yang bosan dengan gaya horror Asia, yah sebaiknya pilih film yang lain saja.


‘HANTU JERUK PERUT’: Kengerian Artifisial Yang Tidak Mengerikan

Sunday, December 3rd, 2006

Produksi: Indika Entertainment (2006)
Sutradara: Koya Pagayo
Cast: Angie, Sheila Marcia, Sammuel Z. Heckenbucker

Genre: Horror/Thriller
Durasi: 80"
Release Date: 30 November 2006
My Grade: 2 out 5

Hantu_jeruk_purut_posterSejujurnya saja, saya benar-benar under-estimated dengan film ini setelah melihat nama-nama seperti Koya Pagayo (12:00 AM, Panggil Namaku 3X) dan Indika Entertainment (Rumah Pondok Indah) di posternya, yang mana nama-nama tersebut benar-benar memberikan mimpi buruk bagi saya yang pernah menyaksikan film-film yang pernah mereka tangani. Tapi setelah membaca beberapa komentar yang bernada positif, saya mencoba melepaskan ekpektasi saya dan meluangkan waktu untuk menyaksikan ‘Hantu Jeruk Purut’ (HJP).

Sepertinya tengah menjadi trend saat ini di genre horror perfilman lokal untuk menggarap tema-tema yang menyangkut urban legend. Setelah sebelumnya ada ‘Rumah Pondok Indah’ (2006) dan ‘Kuntilanak’ (2006), maka kini giliran hantu Pastur Tanpa Kepala penunggu pemakaman Jeruk Purut Jakarta yang mendapat giliran untuk ‘diorbitkan’.

HJP dibuka dengan tiga anak muda yang mengunjungi Tempat Pemakaman Umum (TPU) Jeruk Purut, Jakarta, yang terkenal dengan keangkerannya karena kabarnya ditunggui oleh hantu seorang Pastur yang tanpa kepala. Setelah mengelilingi kuburan Pastur yang dimaksud sebanyak 7 kali, maka tidak berapa lama berselang, mereka menemui ajal mereka secara tragis. Cerita berpindah kepada seorang novelis muda yang tengah menulis fitur mengenai kejadian supranatural, termasuk mitos tentang Pastur Buntung tersebut. Anehnya Anna, penulis tersebut malah diteror oleh sosok hantu perempuan yang bergaya ala Sadako. Kemudian Anna sendiri pun menemui ajalnya. Namun ia masih sempat menelepon Airin (Angie), seorang pelajar SMU yang bercita-cita menjadi penulis, untuk melanjutkan cerita yang tengah ditulisnya tersebut. Karena sangat mengidolakan Anna, maka Airin pun melanjutkan riset yang dilakukan oleh Anna. Bersama dengan dua temannya Nadine (Sheila Marcia) dan Valen (Sammuel Z.H.), mereka menyambangi kuburan sang Pastur dan mengelilingi sebanyak 7 kali. Tapi mereka tidak menemui ajal mereka seketika, karena kali ini sang hantu malah melancarkan terror psikologis melalui mimpi-mimpi mengerikan yang terus menerus dialami oleh Airin. Pada mulanya Airin tidak mengindahkan mimpi-mimpi tersebut, sampai Nadine dan Valen pun kemudian mengalami gangguan makhluk halus tersebut, yang sepertinya tidak menginginkan Airin untuk melanjutkan menulis tentang Pastur Tanpa Kepala tersebut.

Harus diakui, Koya Pagayo kali ini bisa bercerita dengan lebih baik, tanpa harus terkesan terlalu stylish ala video klip tapi tak jelas juntrungannya itu, yang mana biasa dilakukan di film-film besutannya. Tampaknya kali ini ia berusaha menekankan pada upaya membangun atmosfir kengerian secara lebih halus dan gradual. Hanya saja ia masih belum fasih bertutur. Cerita yang ditawarkan ‘HJP’ sebenarnya cenderung lemah, kedodoran, tidak konsisten dan mempunyai level pengabaian logika yang cukup tinggi.

Koya Pagayo sendiri sepertinya tidak begitu percaya dengan sosok Pastur Tanpa Kepala itu sebagai sosok penyebar terror tunggal, karena ia juga menampilkan sosok hantu wanita, yang mana keberadaanya dalam cerita mitos sebenarnya juga masih dapat dipertanyakan. Disinilah kelemahan terbesar ‘HJP’, karena yang lebih mendominasi layar adalah sosok hantu perempuan bergaya Sadako tersebut dibandingkan si Pastur itu sendiri. Juga tidak jelas siapa sebenarnya yang menyebarkan teror supernatural, apakah si hantu wanita atau si Pastur. Sesuatu yang rasanya belum terjawab sampai akhir film. Koya Pagayo sepertinya masih terobsesi dengan gaya hantu-perempuan-berambut-panjang yang biasa ditampilkan dalam film-film horror Asia, sehingga ia menciptakan kengerian artifisial yang sebenarnya tidak mengerikan lagi, karena gambar-gambar yang digunakan oleh Koya Pagayo dalam menciptakan suasa seram telah banyak dipakai dalam film-film bergaya horror Asia lainnya. Selain itu, kelemahan terbesar Koya Pagayo adalah kebiasaan mencatut musik score dari film lain, yang mana dalam ‘HJP’ ini pun masih belum hilang juga. Yang paling mengesalkan saat ia menggunakan dering panggilan dari film ‘One Missed Call’ (2004) karya Takashi Miike sebagai salah satu musik latarnya! Oh ya, satu lagi. Ada apa sih Koya Pagayo dengan adegan orang yang ‘mengudara’? Sepertinya menjadi ciri khas sekali.

Dari segi akting Angie tetap tampil dengan baik, menyusul Laudya Chintya Bella, rekannya dalam ‘Virgin’ (2004), yang telah bermain dalam film horror ‘Lentera Merah’ (2006). Sisa pemain lainnya juga bermain dengan cukup lumayan untuk sebuah film bergenre horror. Hanya saja untuk Sammuel A.Z. masih tampak kaku hingga terasa komikal di beberapa adegan.

Akhir kalam, ‘HJP’ bukanlah salah satu film horror elegan yang berkelas dengan penggarapan yang menarik. Namun, sebagai sebuah film fitur yang keluar dari sutradara seperti Koya Pagayo, yah…bolehlah!

Wallpaper

Wallpaper1280x1024_1