‘CINTA PERTAMA’: Melancholy and Infinite Sadness
Sutradara: Nayato Fio Nuola
Cast: Ben Joshua, Bunga Citra Lestari, Richard Kevin
Release Date: 07 Desember 2006
Terus terang, melihat plotnya, sebenarnya tidak ada yang baru ditawarkan oleh ‘Cinta Pertama’. Rasanya kita sudah sering mendengar atau menyaksikan roman dengan unsur naratif yang setipe. Memang, siapa sih yang tidak pernah mengalami cinta pertama. Apalagi jika dialami pada saat masih duduk di bangku SMA. Walau bagi banyak orang akan terlihat sepele, namun bagi yang mengalaminya akan terasa sangat indah dan membekas di hati selamanya. Demikian juga sepertinya yang coba ditawarkan oleh ‘Cinta Pertama’. Bisa dibilang, cerita dalam skrip yang digarap oleh Titien Wattimena (Mengejar Matahari, Tentang Dia) terlalu sederhana dan terkesan menggunakan banyak trik-trik klise (hujan yang terus-menerus rasanya cukup menganggu). Namun, sebenarnya bisa menarik dan membuat orang akan merasa relate to the story jika saja Nayato lebih menekankan pada cerita dan dramatisasi yang kuat. Disini film berjalan lambat dan cenderung monoton karena jalan ceritanya yang datar. Tidak ada riak-riak atau ritme yang bisa menaik-turunkan emosi penontonnya, karena konflik yang ditawarkan juga tidak jelas. Ceritanya sendiri terlalu dipaksakan untuk berlarat-larat dalam melankolis kesedihan yang berkepanjangan. Ditunjang lagi oleh penataan musik oleh Addie MS. yang sangat mellow. Pada beberapa bagian memang menarik, namun secara keseluruhan terasa dipaksakan sehingga membuat lelah secara emosi bagi yang menontonnya. Akan tetapi patut dihargai usaha Nayato untuk memakai penata musik yang sebenarnya, dibandingkan dengan mencatut skoring dari berbagai film yang sering dilakukannya dalam film-film sebelumnya.
Bunga Citra Lestari sebenarnya sudah bermain dengan cukup meyakinkan dalam film pertamanya ini. Aktingnya juga tidak terlalu sinetron, secara Bunga sebenarnya lebih banyak bermain di sinetron. Ben Joshua tidak menunjukkan pengembangan yang berarti semenjak film pertamanya, DeaLova (2005). Sementara Richard Kevin terasa datar dan kaku di beberapa adegan, sehingga seperti terlihat membaca daripada mengucapkan dialog secara wajar. Akan tetapi sebenarnya Richard hanya butuh latihan dan jam terbang yang tinggi, karena jika ditilik lagi ia terlihat cukup berbakat dan mampu untuk bermain dengan lebih wajar. Berikan saja ia sutradara yang lebih baik dan skenario film yang lebih bermutu dan saya yakin ia bisa menjadi besar nantinya.
Sebenarnya, dari segi visual, sinematographi ‘Cinta Pertama’ yang digarap oleh Dimas Aji termasuk menarik, karena menawarkan gambar-gambar yang indah dan dapat memanjakan mata. Desain produksi yang ditangani oleh Oh Soo-eun juga cukup menarik. Melihat namanya yang berbau Korea, terlihat sekali jika Nayato menginginkan filmnya ini bergaya Korea. Sayang sekali, ia sepertinya gagal mencapai maksudnya, karena gaya dan style saja tidak cukup. Cerita dan dramatisasi yang kuat adalah yang paling penting. Memang, disini terlihat jika Nayato berusaha keras untuk meningkatkan kredibilitasnya dalam membuat film, karena terasa ada peningkatan yang berarti di film ini dibandingkan dengan beberapa film yang telah dikerjakannya. Namun sayangnya, ia tetap harus kembali belajar lebih giat untuk membuat film yang baik dan benar.
