‘HANTU JERUK PERUT’: Kengerian Artifisial Yang Tidak Mengerikan


Produksi: Indika Entertainment (2006)
Sutradara: Koya Pagayo
Cast: Angie, Sheila Marcia, Sammuel Z. Heckenbucker

Genre: Horror/Thriller
Durasi: 80"
Release Date: 30 November 2006
My Grade: 2 out 5

Hantu_jeruk_purut_posterSejujurnya saja, saya benar-benar under-estimated dengan film ini setelah melihat nama-nama seperti Koya Pagayo (12:00 AM, Panggil Namaku 3X) dan Indika Entertainment (Rumah Pondok Indah) di posternya, yang mana nama-nama tersebut benar-benar memberikan mimpi buruk bagi saya yang pernah menyaksikan film-film yang pernah mereka tangani. Tapi setelah membaca beberapa komentar yang bernada positif, saya mencoba melepaskan ekpektasi saya dan meluangkan waktu untuk menyaksikan ‘Hantu Jeruk Purut’ (HJP).

Sepertinya tengah menjadi trend saat ini di genre horror perfilman lokal untuk menggarap tema-tema yang menyangkut urban legend. Setelah sebelumnya ada ‘Rumah Pondok Indah’ (2006) dan ‘Kuntilanak’ (2006), maka kini giliran hantu Pastur Tanpa Kepala penunggu pemakaman Jeruk Purut Jakarta yang mendapat giliran untuk ‘diorbitkan’.

HJP dibuka dengan tiga anak muda yang mengunjungi Tempat Pemakaman Umum (TPU) Jeruk Purut, Jakarta, yang terkenal dengan keangkerannya karena kabarnya ditunggui oleh hantu seorang Pastur yang tanpa kepala. Setelah mengelilingi kuburan Pastur yang dimaksud sebanyak 7 kali, maka tidak berapa lama berselang, mereka menemui ajal mereka secara tragis. Cerita berpindah kepada seorang novelis muda yang tengah menulis fitur mengenai kejadian supranatural, termasuk mitos tentang Pastur Buntung tersebut. Anehnya Anna, penulis tersebut malah diteror oleh sosok hantu perempuan yang bergaya ala Sadako. Kemudian Anna sendiri pun menemui ajalnya. Namun ia masih sempat menelepon Airin (Angie), seorang pelajar SMU yang bercita-cita menjadi penulis, untuk melanjutkan cerita yang tengah ditulisnya tersebut. Karena sangat mengidolakan Anna, maka Airin pun melanjutkan riset yang dilakukan oleh Anna. Bersama dengan dua temannya Nadine (Sheila Marcia) dan Valen (Sammuel Z.H.), mereka menyambangi kuburan sang Pastur dan mengelilingi sebanyak 7 kali. Tapi mereka tidak menemui ajal mereka seketika, karena kali ini sang hantu malah melancarkan terror psikologis melalui mimpi-mimpi mengerikan yang terus menerus dialami oleh Airin. Pada mulanya Airin tidak mengindahkan mimpi-mimpi tersebut, sampai Nadine dan Valen pun kemudian mengalami gangguan makhluk halus tersebut, yang sepertinya tidak menginginkan Airin untuk melanjutkan menulis tentang Pastur Tanpa Kepala tersebut.

Harus diakui, Koya Pagayo kali ini bisa bercerita dengan lebih baik, tanpa harus terkesan terlalu stylish ala video klip tapi tak jelas juntrungannya itu, yang mana biasa dilakukan di film-film besutannya. Tampaknya kali ini ia berusaha menekankan pada upaya membangun atmosfir kengerian secara lebih halus dan gradual. Hanya saja ia masih belum fasih bertutur. Cerita yang ditawarkan ‘HJP’ sebenarnya cenderung lemah, kedodoran, tidak konsisten dan mempunyai level pengabaian logika yang cukup tinggi.

Koya Pagayo sendiri sepertinya tidak begitu percaya dengan sosok Pastur Tanpa Kepala itu sebagai sosok penyebar terror tunggal, karena ia juga menampilkan sosok hantu wanita, yang mana keberadaanya dalam cerita mitos sebenarnya juga masih dapat dipertanyakan. Disinilah kelemahan terbesar ‘HJP’, karena yang lebih mendominasi layar adalah sosok hantu perempuan bergaya Sadako tersebut dibandingkan si Pastur itu sendiri. Juga tidak jelas siapa sebenarnya yang menyebarkan teror supernatural, apakah si hantu wanita atau si Pastur. Sesuatu yang rasanya belum terjawab sampai akhir film. Koya Pagayo sepertinya masih terobsesi dengan gaya hantu-perempuan-berambut-panjang yang biasa ditampilkan dalam film-film horror Asia, sehingga ia menciptakan kengerian artifisial yang sebenarnya tidak mengerikan lagi, karena gambar-gambar yang digunakan oleh Koya Pagayo dalam menciptakan suasa seram telah banyak dipakai dalam film-film bergaya horror Asia lainnya. Selain itu, kelemahan terbesar Koya Pagayo adalah kebiasaan mencatut musik score dari film lain, yang mana dalam ‘HJP’ ini pun masih belum hilang juga. Yang paling mengesalkan saat ia menggunakan dering panggilan dari film ‘One Missed Call’ (2004) karya Takashi Miike sebagai salah satu musik latarnya! Oh ya, satu lagi. Ada apa sih Koya Pagayo dengan adegan orang yang ‘mengudara’? Sepertinya menjadi ciri khas sekali.

Dari segi akting Angie tetap tampil dengan baik, menyusul Laudya Chintya Bella, rekannya dalam ‘Virgin’ (2004), yang telah bermain dalam film horror ‘Lentera Merah’ (2006). Sisa pemain lainnya juga bermain dengan cukup lumayan untuk sebuah film bergenre horror. Hanya saja untuk Sammuel A.Z. masih tampak kaku hingga terasa komikal di beberapa adegan.

Akhir kalam, ‘HJP’ bukanlah salah satu film horror elegan yang berkelas dengan penggarapan yang menarik. Namun, sebagai sebuah film fitur yang keluar dari sutradara seperti Koya Pagayo, yah…bolehlah!

Wallpaper

Wallpaper1280x1024_1


2 Responses to “‘HANTU JERUK PERUT’: Kengerian Artifisial Yang Tidak Mengerikan”

  1. kaFi NewMan Says:

    Widih Ni Film SeRREmMMm AbiZZZ…/? Bulu kuduk Pe BediRi Muah..! Pada suatu mala Allh..?
    Oy Klo da rencana mo bikin Film Lagi Boleh Ajak aQ gax..?
    he..He.. Pliss…..
    nanti aku casting dech..?
    Yach..yach..yach..

  2. durian Says:

    bohong

Leave a Reply