Archive for January, 2007

‘SAW III”: Deskripsi Neraka di Bumi? Hell, Yeah!

Tuesday, January 23rd, 2007

Produksi: Lion Gate Entertainment (2006)
Sutradara: Darren Lynn Bousman
Cast: Tobin Bell, Shawnee Smith, Angus Macfadyen, Bahar Soomekh, Leigh Whannell, Donnie Wahlberg

Genre: Horor/Thriller
Durasi: 113"
Release Date: 27 Oktober 2006 (USA)
My Grade: 3.5 out 5

Saw_iiiKekejaman dan ironi moralitas melengkapi lingkarannya dengan ‘Saw III’. sebagai sebuah konklusi, ‘Saw III’ akan menjawab berbagai pertanyaan yang timbul sesudah menyaksikan dua film sebelumnya. John Kramer alias Jigsaw (Tobin Bell) dalam kondisi yang memprihatinkan karena tengah sekarat oleh penyakit yang dideritanya. Namun ia masih mempunyai "tugas’ terakhir terhadap "objek" yang bernama Jeff (Angus McFadyen, Alias). Jeff harus melewati serangkaian tes jika ingin hidupnya selamat. Hanya saja, berbeda dengan sebelumnya, bukan Jeff pribadi yang didera oleh perangkap mengerikan Jigsaw, namun sejumlah orang yang terlibat dalam kecelakaan yang menyebabkan kematian anaknya. Tugas Jeff adalah memberi maaf dan menyelamatkan orang-orang tersebut! Untuk menjaga kestabilitasan tubuh Jigsaw, maka Amanda (Shawnee Smith), murid-magangnya, menculik Dr. Lynn Denlon (Bahar Soomekh, Crash) agar dapat merawat Jigsaw selama proses tes yang dilakukan terhadap Jeff. Dr. Lynn sendiri dipakaikan sejenis perangkap yang secara otomatis akan menewaskannya jika Jigsaw meninggal. Maka dikejar oleh waktu, Jeff dan Dr. Lynn harus menyelesaikan "tugas" mereka. Namun tanda diketahui oleh siapapun, sebenarnya Jigsaw tengah menyiapkan rencana terbesarnya!

Sadomasokisme tingkat tinggi dalam seri ‘Saw’ ini dinaikkan eskalasi intensitasnya oleh Darren Lynn Bousman yang sebelumnya telah menyukseskan ‘Saw II’ (2005). Sebagai film yang dianggap sebagai penutup, maka twist dalam cerita serta kesadisan alat-alat penyiksaan dimodifikasi sedemikian rupa, sehingga bisa dikatakan ‘Saw III’ cukup sukses dalam mengekspos kengerian serta rasa penasaran penonton akan akhir cerita Jigsaw. Mungkin untuk seri terakhir ini akan terasa lebih melodramatis dibandingkan dua seri sebelumnya, namun terasa lebih menarik dari segi pengembangan karakter dan progresi jalan cerita.

Bermula sebagai sebuah horror independen kecil, ‘Saw’ (2004) yang disutradarai oleh James Wan ternyata berhasil menarik minat banyak penonton, sehingga lahir sekuel-sekuelnya. Bisa dikatakan ‘Saw’ telah menjadi film cult baru di genre horror dalam dekade ini. Yang menjadikan film ini unik, selain serangkaian alat-alat penyiksaannya yang bisa bikin geleng-geleng kepala, adalah sang villain-nya itu sendiri yang hanya seorang manusia biasa tanpa kemampuan supranatural yang misterius karena hanya mengandalkan kecerdasan otaknya dalam memilih korban-korbannya dan motif serta latar belakang yang cukup manusiawi, sehingga menjadikan dia seorang villain yang bisa kita relasikan secara emosional. Ini juga yang mungkin membuat Jigsaw menjadi sebuah ikon horror terkini yang orisinil.

Mungkin ini bukan film yang penting atau malah memuakkan bagi sebagian orang, akan tetapi ia murni sebagai sebuah horror akan kenyataan betapa gilanya dunia dan sebagian orang yang hidup didalamnya. Ia tidak berpretensi menjadi suar kebenaran atau berkoar-koar tentang kebaikan melawan kebajikan. ‘Saw’ seperti lebih menjadi personifikasi neraka karena ia adalah purifikasi moralitas seseorang untuk menyadari kesalahan dan mensyukuri hidupnya atau malah menemui ajalnya dengan menggenaskan karena tidak mau berusaha dengan keras untuk menyelamatkan hidupnya sendiri tanpa pertolongan orang lain. ‘Saw’ berbicara tentang konsekuensi sebuah pilihan dan pembuktian seberapa kuat tekad untuk hidup. Hanya saja disini dideskripsikan dengan kekejaman yang terasa vulgar dan berdarah-darah.

Oke, mungkin saya sudah terlalu berlebihan dan mungkin saya juga saya "sakit jiwa" karena menyenangi darah yang belepotan di film ini. Namun setidaknya film ini menjaga saya tetap sadar bahwasannya saya harus bisa lebih bersyukur karena masih bisa hidup sehat sentausa tanpa harus "ditabok" terlebih dahulu.

PS: By the way, there will be ‘SAW IV’!


‘THE WICKER MAN’: Misteri Sebuah Pulau Yang Penuh Rahasia

Tuesday, January 23rd, 2007

Produksi: Warner Bross (2006)
Sutradara: Neil Labunte
Cast: Nicholas Cage, Ellen Burstyn, Kate Beahan, Leelee Sobieski, Frances Conroy, Diane Delano

Genre: Horor/Thriller/Misteri/Drama
Durasi: 102"
Release Date:  01 September 2006 (USA)
My Grade: 2.5 out 5

Wicker_man‘The Wicker Man’ adalah remake dari film tahun 1973 yang berjudul sama dan diangkat dari novel ‘Ritual’ karya Anthony Shaffer. Nicholas Cage (The Rock, World Trade Center) membintangi versi terbaru ini sekaligus tercantum sebagai salah seorang produser. Ia mungkin merasa film ini menarik dan unik sehingga perlu untuk mereka ulang film thriller ini untuk konsumsi penonton masa kini.

‘The Wicker Man’ adalah tentang misteri dan bagaimana penonton dan karakter utamanya, Edward Malus (Nicholas Cage) bisa memecahkan misteri tersebut. Edward adalah seorang polisi yang tengah mengalami trauma karena merasa tidak mampu menyelematkan seorang gadis kecil dan ibunya dari kecelakaan lalu lintas. Suatu saat ia menerima sebuah surat dari dari Willow (Kate Beahan, Flightplan), mantan tunangannya, untuk mencari putrinya yang bernama Rowan disebuah pulau terpencil bernama Summersisle dimana Willow dan Rowan tinggal selama ini. Saat tiba di pulau tersebut, ia pun menyadari jika komunitas yang mendiami pulau tersebut tinggal dengan kebiasaan serta aturan tersendiri yang berbeda dengan dunia luar. Pada awalnya masyarakat disana menyangkal jika ada seorang anak yang bernama Rowan, namun justru dari penyelidikan Edward diketahui jika Rowan itu memang benar-benar ada. Rahasia apa sebenarnya yang tersimpan dipulau ini? Itulah yang harus dikuak oleh Edward sampai akhirnya ia bertemu dengan pimpinan spritual komunitas pulau tersebut yang bernama Sister Summersisle (Ellen Burstyn, The Fountain) yang kharismatis sekaligus misterius. Ya, seisi pulau yang tampaknya didominasi oleh para perempuan ini memang terasa misterius. Namun, mereka tampaknya tidak berbahaya! Atau malah sangat berbahaya?

Neil Labunte (Nurse Betty), sebagai pengarah film ini cukup berhasil untuk memancing rasa penasaran para penonton dan mampu mengajak penontonnya untuk menerka-nerka gerangan apa yang terjadi di pulau tersebut. Sedikit ganjalan di hati saya adalah pemilihan Labunte untuk menggarap filmnya dengan pendekatan popular dan pemilihan tone yang cerah, sehingga atmosfir film terasa kurang suram untuk mendukung kesan misterius yang dibangun melalui perkembangan plotnya.  Apalagi sebenarnya ia sebenarnya cukup royal dalam memberikan petunjuk disana-sini, sehingga bagi yang sudah sangat sering menyaksikan film-film dengan varian thriller seperti ini sudah dapat dengan mudah mengira-ngira apa sebenarnya tengah terjadi dan bagaimana film akan berakhir. Kondisi ini membuat kita bertanya-tanya mengapa karakter Edward Malus dengan kapasitasnya sebagai seorang polisi tidak dapat menggambarkan skema yang tengah terjadi dan siapa  sebenarnya orang yang benar-benar harus dicurigainya.

Walau begitu, sebuah film adalah proses make-believe dan rasa-rasanya Neil Labunte sebagai sutradara dan Nicholas cage, Kate Beahan serta Ellen Burstyn sebagai pelakon utamanya tampil dengan cukup meyakinkan sehingga, terlepas dari semua lubang yang harus ditambal dalam ceritanya, menjadikan ‘The Wicker Man’ sebagai sebuah tontonan yang cukup layak untuk disimak.


‘THE TEXAS CHAINSAW MASSACRE: THE BEGINNING’: Sadisme Bervoltase tinggi!

Sunday, January 14th, 2007

Produksi: New Line Cinema (2006)
Sutradara: Jonathan Liebesma
Cast: Jordana Brewster, Taylor Handley, Diora Baird, Matt Bomer, R. Lee Ermey, Andrew Bryniarski

Genre: Horor/Thriller
Durasi: 91"
Release Date: 06 Oktober 2006 (USA)
My Grade: 2.5 out 5

Texas_chainsaw_massacre_the_beginningBagi yang menggemari genre horror pasti mengenal seri The Texas Chainsaw Masscre dengan ikonnya yang terkenal, Leatherface. Film yang aslinya keluaran tahun 1974 ini telah mempunyai banyak sekuel dan sebuah remake. Namun, dari sejumlah film tersebut rasanya belum ada yang menjelaskan
asal-usul Leatherface. Maka, kemudian dibuatlah The Texas Chainsaw Massacre: The Beginning (TCMB) yang dimaksudkan sebagai akar cerita mitologi Leatherface dan keluarga kanibalnya. Sayangnya, walau menjelaskan muasal prilaku kanibalistik keluarga Hewitt dan si Leatherface, TCMB tetap
terjebak dalam pengulangan pola lama, karena penjelasan riwayat mereka bisa dikatakan tidak terlalu mendetil, bahkan nyaris hanya selintasan saja, karena yang mendominasi cerita tetap saja penggambaran penjagalan manusia yang, terus terang, sangat mengerikan (pernah membayangkan bagaimana rasanya jika tubuh Anda di sinsaw?). Sayangnya, padahal jika latar belakang psikologis para psikopat di film ini dielaborasi dengan baik mungkin akan menjadikan TCMB sebagai horror yang bernilai lebih.

Plotnya pun masih setipe dengan seri sebelumnya, bahkan sangat mirip dengan dengan film seri pertama dan remakenya, yaitu tentang empat orang remaja yang tengah melakukan perjalanan dan tanpa sengaja bertemu dengan komunitas keluarga Hewitt dan tentu saja Leatherface. Selebihnya tentu saja darah, teror dan kengerian! Hanya saja kali ini divariasikan dengan latar belakang prilaku psikopatis keluarga Hewitt dan Leatherface yang bernama asli Thomas Hewitt ini.

Dibandingkan dengan remakenya, maka keluaran terbaru yang merupakan besutan sutradara Jonathan Liebesman (Darkness Fall) seakan melampaui film tersebut dalam hal kesadisan dan ketegangan. Tentu saja apakah hal ini merupakan aspek negatif atau positif tergantung dalam persepektif penontonnya, apakah memang penyuka adegan berdarah-darah atau penikmat horror yang elegan. Terus terang, sebagai penggemar film horror, saya memang merasa cukup terpuaskan dengan film ini. Namun dengan tanpa adanya inovasi yang berarti dalam segi plot dan formula, maka TCMB rasanya sama saja dengan berbagai horror gore yang kini banyak beredar.

Dari jajaran pemainnya, hanya Jordana Brewster (The Faculty, The Fast and Furious) saja yang cukup familiar, sedangkan pemain lainnya umumnya adalah muka-muka baru yang kurang dikenal, namun bermain dengan cukup baik.

Jonathan Liebesman, sang sutradara merupakan nama yang relatif kurang dikenal, namun cukup mampu dalam membangun suasana ketegangan yang kental dengan visual yang cukup menarik, walau tampaknya ia memakai gaya dan tone warna yang mirip dengan remake keluaran 2003 yang lalu. Hanya saja disini ia lebih ekplisit dalam mengumbar kesadisan, sehingga kemudian bisa membuat kita menjadi
mengira-ngira jika sebenarnya Jonathan Liebesman mempunyai anggapan jika horror yang baik itu harus mampu mengekploitasi kematian dengan tingkat kesadisan yang tinggi.


‘POCONG 2′: Akting yang Memikat, Atmosfir yang Mencekam dan Penggarapan yang Apik

Sunday, January 14th, 2007

Produksi: Sinemart (2006)
Sutradara: Rudi Sudjarwo
Cast: Revalina S. Temat, Ringgo Agus Rahman, Risty Tagor, Henidar Amroe, Dwi Sasono

Genre: Horor/Thriller/Misteri
Durasi: 90"
Release Date: 28 Desember 2006
My Grade: 3.5 out 5

Pocong2Apa sebenarnya formula dari sebuah film horor? Kalau ditanyakan kepada saya, sebuah film horror bukan hanya harus menyeramkan/mencekam/menegangkan, akan tetapi juga harus mempunyai penceritaan yang baik. Menilik beberapa film horror lokal yang membanjiri pasaran akhir-akhir ini, sayangnya masih belum ada yang memuaskan saya. Kebanyakan dari film-film tersebut menggunakan rumusan film horror-Asia-kontemporer yang sekarang sudah menjadi klise yang usang, sehingga unsur menyeramkan/mencekam/menegangkan-nya kurang menggigit. Apalagi banyak dari film-film tersebut mempunyai cerita yang buruk dan kadang terlalu mengabaikan logika. Untunglah, diakhir tahun tiba ‘Pocong 2′ yang mengembalikan kepercayaan saya jika sineas kita pun bisa membuat sebuah film horror yang memuaskan.

Uniknya, ‘Pocong 2′ merupakan besutan dari Rudi Sudjarwo (Ada Apa Dengan Cinta?, Mengejar Matahari, 9 Naga), yang sebenarnya cukup mengejutkan bagi saya karena bersedia untuk menggarap tema yang sering dipandang rendah oleh banyak sineas ini (sebelumnya memang sudah ada Hanny R. Saputra dengan ‘Mirror’ dan Hanung Bramantyo dengan ‘Lentera Merah’, namun rasanya belum bisa dikategorikan murni horror). Lebih uniknya lagi, film ini merupakan sekuel yang film aslinya tidak lolos sensor oleh Lembaga Sensor Film Indonesia, dengan alasan kekejaman yang terlalu
realis atau balas dendam yang terlalu definitif sehingga bisa mempengaruhi orang lain (yah, kurang lebih seperti itulah!), sehingga belum pernah ditayangkan secara luas. Berbekal unsur sensasi tadi disamping mungkin rasa penasaran Rudi, maka dalam waktu yang sangat singkat jadilah ‘Pocong 2′.

Maya (Revalina S. Temat) dan Andin (Risty Tagor) adalah dua orang kakak beradik yatim piatu. Mereka baru saja menempati sebuah apartemen. Hal ini dilakukan Maya karena ia mengira di tempat baru Andin bisa melupakan kesedihannya. Namun Andin marah merasa kesal terhadap Maya yang dianggapnya terllau sibuk bekerja sebagai asisten dosen di jurusan Filsafat dan pacaran dengan Adam (Ringgo Agus Rahman), sehingga tidak pernah memikirkannya. Sampai kemudian Andin mulai diteror oleh penampakan Pocong di apartemen mereka. Mulanya Maya tidak percaya, namun ketika menemukan Andin dengan keadaan depresi, maka Maya menemui seorang paranormal yang kemudian membuka mata batinnya. Dari sini ia kemudian bisa melihat penampakan mahluk-mahluk gaib yang mengerikan, termasuk sang Pocong. namun, sebenarnya ada bahaya yang lebih besar mengancam keselamatan jiwa mereka.

Tidak ada yang istimewa dalam plot ‘Pocong 2′. Bahkan cerita karakter utama yang pindah ke tempat tinggal baru yang angker sudah sering dipakai dalam genre ini, termasuk dalam ‘Kuntilanak’ (2006) karya Rizal Mantovani (Jelangkung). Ditambah lagi dengan beberapa bagian yang jelas sekali terinspirasi dari ‘The Eye’ (2002) atau ‘The Sixth Sense’ (1998) bahkan ‘Shutter’ (2005). Namun skrip yang ditulis oleh Monti Tiwa (9 Naga) tidak terjebak hanya menjadi sebuah orgia kengerian belaka, karena dengan latar belakang karakter utamanya yang mempunyai pendidikan Filsafat Ilmu, maka ekplanasi mengenai peristiwa gaib di film ini menjadi cukup logis dan jenial (walaupun kebenarannya masih bisa dipertanyakan). Dan dibandingkan ‘Kuntilanak’, nampaknya sang penulis skrip mempunyai riset yang lebih mendalam mengenai akar mitos makhluk gaib ini. Selain itu, adanya beberapa dialog dan adegan yang jenaka juga menyatu dengan cukup baik tanpa terasa terlalu dipaksakan.

Sebenarnya masih terdapat beberapa lobang dan pengabaian logika dalam narasinya, namun Rudi Sudjarwo mampu mengeksekusi film dengan tempo yang konsisten dan tanpa adegan-adegan yang terlalu bertele-tele, sehingga tidak terlalu mengganggu. Ia juga cukup baik dalam membangun set-up kengeriannya, sehingga unsur mencekam berjalan dengan intensitas yang tinggi. Sebenarnya, untuk beberapa adegan sudah bisa tertebak, namun dengan set-up yang baik tadi, kengeriannya masih terasa. Beberapa adegan flashback cukup efektif disamping juga sebagai informasi untuk penonton mengenai cerita yang ada di ‘Pocong’ sebelumnya. Teknik penggambilan gambar yang kadang tidak fokus mengindikasikan aspek realitas yang ingin ditampilkan oleh film sementara pemilihan tone warna yang cukup buram juga sangat kontributif dalam pengadeganan cerita yang sebenarnya kelam ini.

Ringgo Agus Rahman (Jomblo) bermain dengan baik walau sebenarnya hanya sebagai pemeran pendukung saja untuk film ini, karena konflik berputar lebih disekitar karakter Revalina S. Temat dan Risty Tagor (ini film perdana untuk mereka). Keduanya lumayan baik dalam mengekspresikan emosi mereka. Namun memang yang jelas-jelas mencuri perhatian adalah Dwi Sasono (Mendadak Dangdut, Pocong) yang
meski tidak mempunyai porsi adegan yang cukup besar, namun sangat berjiwa sekali dalam menjalani karakternya.

Nah, dengan akting yang memikat, atmosfir yang mencekam, serta penggarapan yang apik, menjadikan ‘Pocong 2′ sebagai film horror terbaik sepanjang 2006.


‘THE HOST’: Witty, Poignant, Thrilling

Monday, January 8th, 2007

Produksi: Showbox (2006)
Sutradara: Bong Joon-ho
Cast: Song Kang-ho, Park Hae-ill, Bae Do-na, Byeon hee-bong, Ko A-sung

Genre: Drama/Thriller/Sci-fi
Durasi: 119"
Release Date: 27Juli 2006 (Korea)
My Grade: 4 out 5

The_hostJika mendengar genre sci-fi (science fiction), maka yang terlintas dalam benak kita adalah film-film semisal ‘Alien’, ‘Jurassic Park’, ‘The X-Files’ dan sejenisnya yang nota-bene merupakan produk-produk dari Hollywood, Amerika. Memang, dalam ranah ini tampaknya yang paling menguasai adalah dataran perfilman Amerika Utara, karena sejarah film sci-fi mereka juga cukup panjang dan didukung pula oleh perkembangan teknologi visual mereka yang cukup luar biasa. Disamping itu, mereka pun cukup inventif dalam meramu plotnya, sehingga bisa menjadi formula tersendiri untuk jenis film seperti ini. Jika ada perfilman negara lain yang mencoba mengikuti jejak Hollywood dengan membuat film berjenis sci-fi, maka umumnya hasil akhirnya adalah film-film yang konyol dan menggelikan. Korea termasuk yang cukup sering mencoba menghasilkan film bergenre sci-fi, akan tetapi sayangnya banyak yang mengecewakan atau tidak seperti yang diharapkan. Namun, semua itu boleh jadi sudah berakhir dengan diproduksinya ‘The Host’ (2006) atau ‘Gweomul’ dalam bahasa aslinya.

‘The Host’ dimulai disaat seorang petugas A.S. yang tampaknya mempunyai kewenangan tinggi menyuruh bawahannya yang seorang Korea untuk membuang limbah kimia yang sangat beracun ke dalam pembuangan yang berujung ke sungai Han. Walaupun mulanya diprotes si bawahan Korea, namun si petugas A.S. tetap memaksa. Empat tahun kemudian, ditepi sungai Han, sosok mahluk yang mengerikan tiba-tiba saja muncul dan menimbulkan kepanikan. Apalagi kemudian dikabarkan jika sang mahluk menularkan virus yang berbahaya. Maka wilayah sungai di evakuasi dan penduduk diskeitarnya dikarantina termasuk keluarga Park Hee-bong (Byeon Hee-bong), pria tua berusia 60-an, bersama anak sulungnya, Gang Du (Song Kang-ho) seorang pria usia 40-an yang kurang dewasa dan kurang kompeten, anak laki-laki keduanya yang pengangguran dan pemabukan serta bertemperamen tinggi, Nam-ill (Park Hae-ill), dan si putri bungsu ang peraih perunggu olahraga memanah nasional, Nan-joo (Bae Do-na). Mereka baru saja berduka karena putri Gang Du yang masih duduk di bangku sekolah menengah, Hyun-seo (Ko A-asung), dibawa oleh sang monster ke dalam sungai. Namun, kemudian diketahui jika Hyun-seo masih hidup. Maka, dengan secercah harapan dan pengharapan, dimulailah petualangan keluarga yang disfungsional ini untuk bahu-membahu menyatukan kembali keluarga mereka, dengan cara apapun!

Cerita di film ini sebenarnya sederhana saja, namun dengan pemanfaatan teknologi CGI terbaru, ‘The Host’ sukses menampilkan monster yang tampak alami dan tidak terlalu generik. Tidak heran jika ‘The Host’ tampil memecahkan rekor Box-Office Korea Selatan yang sebelumnya dipegang oleh ‘The King and Clown’ (2005). Tapi unsur penting yang menarik penonton disana untuk berduyun-duyun menyaksikannya justru adalah cerita dari film tersebut. Disini tidak ada karakter yang benar-benar ‘hero’ dengan kekuatan atau kecerdikan yang luar biasa. Tidak ada juga yang berambisi untuk menyelamatkan dunia. Yang ada justru ‘The Host’ tampil dengan sangat humanis melalui deskripsi sebuah keluarga dalam upaya menyelamatkan anggotanya.

Bong Joon-ho (Memories of Murder-2003) sebagai sutradara berhasil meramu ketegangan, drama yang menyentuh dan humor satir yang tepat kesasaran. Pada dasarnya ‘The Host’ memang seperti sebuah kritikan tajam untuk arogansi pihak-pihak tertentu yang merasa paling punya kuasa dan serba tahu. Padahal yang ‘mengalami’ justru kalangan masyarakat biasa. Dengan proporsi ceritanya yang solid, maka ‘The Host’ tampil sebagai sebuah film sci-fi yang unik dan berbeda. Bukan yang terbaik mungkin, namun jelas bukan tipikal sci-fi yang biasa kita saksikan.