‘POCONG 2′: Akting yang Memikat, Atmosfir yang Mencekam dan Penggarapan yang Apik


Produksi: Sinemart (2006)
Sutradara: Rudi Sudjarwo
Cast: Revalina S. Temat, Ringgo Agus Rahman, Risty Tagor, Henidar Amroe, Dwi Sasono

Genre: Horor/Thriller/Misteri
Durasi: 90"
Release Date: 28 Desember 2006
My Grade: 3.5 out 5

Pocong2Apa sebenarnya formula dari sebuah film horor? Kalau ditanyakan kepada saya, sebuah film horror bukan hanya harus menyeramkan/mencekam/menegangkan, akan tetapi juga harus mempunyai penceritaan yang baik. Menilik beberapa film horror lokal yang membanjiri pasaran akhir-akhir ini, sayangnya masih belum ada yang memuaskan saya. Kebanyakan dari film-film tersebut menggunakan rumusan film horror-Asia-kontemporer yang sekarang sudah menjadi klise yang usang, sehingga unsur menyeramkan/mencekam/menegangkan-nya kurang menggigit. Apalagi banyak dari film-film tersebut mempunyai cerita yang buruk dan kadang terlalu mengabaikan logika. Untunglah, diakhir tahun tiba ‘Pocong 2′ yang mengembalikan kepercayaan saya jika sineas kita pun bisa membuat sebuah film horror yang memuaskan.

Uniknya, ‘Pocong 2′ merupakan besutan dari Rudi Sudjarwo (Ada Apa Dengan Cinta?, Mengejar Matahari, 9 Naga), yang sebenarnya cukup mengejutkan bagi saya karena bersedia untuk menggarap tema yang sering dipandang rendah oleh banyak sineas ini (sebelumnya memang sudah ada Hanny R. Saputra dengan ‘Mirror’ dan Hanung Bramantyo dengan ‘Lentera Merah’, namun rasanya belum bisa dikategorikan murni horror). Lebih uniknya lagi, film ini merupakan sekuel yang film aslinya tidak lolos sensor oleh Lembaga Sensor Film Indonesia, dengan alasan kekejaman yang terlalu
realis atau balas dendam yang terlalu definitif sehingga bisa mempengaruhi orang lain (yah, kurang lebih seperti itulah!), sehingga belum pernah ditayangkan secara luas. Berbekal unsur sensasi tadi disamping mungkin rasa penasaran Rudi, maka dalam waktu yang sangat singkat jadilah ‘Pocong 2′.

Maya (Revalina S. Temat) dan Andin (Risty Tagor) adalah dua orang kakak beradik yatim piatu. Mereka baru saja menempati sebuah apartemen. Hal ini dilakukan Maya karena ia mengira di tempat baru Andin bisa melupakan kesedihannya. Namun Andin marah merasa kesal terhadap Maya yang dianggapnya terllau sibuk bekerja sebagai asisten dosen di jurusan Filsafat dan pacaran dengan Adam (Ringgo Agus Rahman), sehingga tidak pernah memikirkannya. Sampai kemudian Andin mulai diteror oleh penampakan Pocong di apartemen mereka. Mulanya Maya tidak percaya, namun ketika menemukan Andin dengan keadaan depresi, maka Maya menemui seorang paranormal yang kemudian membuka mata batinnya. Dari sini ia kemudian bisa melihat penampakan mahluk-mahluk gaib yang mengerikan, termasuk sang Pocong. namun, sebenarnya ada bahaya yang lebih besar mengancam keselamatan jiwa mereka.

Tidak ada yang istimewa dalam plot ‘Pocong 2′. Bahkan cerita karakter utama yang pindah ke tempat tinggal baru yang angker sudah sering dipakai dalam genre ini, termasuk dalam ‘Kuntilanak’ (2006) karya Rizal Mantovani (Jelangkung). Ditambah lagi dengan beberapa bagian yang jelas sekali terinspirasi dari ‘The Eye’ (2002) atau ‘The Sixth Sense’ (1998) bahkan ‘Shutter’ (2005). Namun skrip yang ditulis oleh Monti Tiwa (9 Naga) tidak terjebak hanya menjadi sebuah orgia kengerian belaka, karena dengan latar belakang karakter utamanya yang mempunyai pendidikan Filsafat Ilmu, maka ekplanasi mengenai peristiwa gaib di film ini menjadi cukup logis dan jenial (walaupun kebenarannya masih bisa dipertanyakan). Dan dibandingkan ‘Kuntilanak’, nampaknya sang penulis skrip mempunyai riset yang lebih mendalam mengenai akar mitos makhluk gaib ini. Selain itu, adanya beberapa dialog dan adegan yang jenaka juga menyatu dengan cukup baik tanpa terasa terlalu dipaksakan.

Sebenarnya masih terdapat beberapa lobang dan pengabaian logika dalam narasinya, namun Rudi Sudjarwo mampu mengeksekusi film dengan tempo yang konsisten dan tanpa adegan-adegan yang terlalu bertele-tele, sehingga tidak terlalu mengganggu. Ia juga cukup baik dalam membangun set-up kengeriannya, sehingga unsur mencekam berjalan dengan intensitas yang tinggi. Sebenarnya, untuk beberapa adegan sudah bisa tertebak, namun dengan set-up yang baik tadi, kengeriannya masih terasa. Beberapa adegan flashback cukup efektif disamping juga sebagai informasi untuk penonton mengenai cerita yang ada di ‘Pocong’ sebelumnya. Teknik penggambilan gambar yang kadang tidak fokus mengindikasikan aspek realitas yang ingin ditampilkan oleh film sementara pemilihan tone warna yang cukup buram juga sangat kontributif dalam pengadeganan cerita yang sebenarnya kelam ini.

Ringgo Agus Rahman (Jomblo) bermain dengan baik walau sebenarnya hanya sebagai pemeran pendukung saja untuk film ini, karena konflik berputar lebih disekitar karakter Revalina S. Temat dan Risty Tagor (ini film perdana untuk mereka). Keduanya lumayan baik dalam mengekspresikan emosi mereka. Namun memang yang jelas-jelas mencuri perhatian adalah Dwi Sasono (Mendadak Dangdut, Pocong) yang
meski tidak mempunyai porsi adegan yang cukup besar, namun sangat berjiwa sekali dalam menjalani karakternya.

Nah, dengan akting yang memikat, atmosfir yang mencekam, serta penggarapan yang apik, menjadikan ‘Pocong 2′ sebagai film horror terbaik sepanjang 2006.


Leave a Reply