Archive for February, 2007

‘BABEL’: Languange is Power!

Tuesday, February 27th, 2007

Produksi: Paramount Vantage (2006)
Sutradara: Alejandro González Iñárritu
Cast: Brad Pitt, Cate Blancett, Gael Garcia Bernal, Ariadna Barraza, Rinko Kikuchi, Kôji Yakusho, Boubker Ait El Caid, Said Tarchani

Genre: Drama
Durasi: 142"
Release Date: 27 Oktober 2006 (USA)
My Grade: 4.5 out 5

Babel_2
‘Babel’ mengingatkan akan film terbaik versi Academy Award tahun 2006, ‘Crash’ karena menampilkan multi-narasi dengan multi-konflik dan multi-karakter yang mengisi layar dengan porsi yang seimbang dan entah bagaimana mereka saling terkait. Namun jika ‘Crash’ berhubungan dengan issue yang lebih makro, maka ‘Babel’ justru menyoroti konflik yang lebih personal dan emosional. Uniknya, karakter-karakternya justru berasal dari multi-ras dan negara yang berbeda. Sebenarnya ini bukan hal yang baru bagi sang sutradara, Alejandro González Iñárritu, yang sebelumnya telah menggarap film yang serupa, ‘Amores Perros’ (2001) dan ‘21 Grams’ (2003). Hanya saja kali ini terasa sangat luar biasa karena Sr. Iñárritu dengan gemilang merangkai berbagai konflik yang terjadi dalam satu kesatuan yang utuh tanpa kendor sama sekali.

Sepasang suami istri Amerika (Brad Pitt & Cate Blancett) yang tengah berlibur di Maroko, seorang pengasuh Meksiko (Ariadna Barazza) yang secara teledor membawa anak asuh Amerikanya melewati perbatasan dan seorang gadis Jepang (Rinko Kikuchi) tuna rungu yang tinggal hanya dengan ayahnya (Kôji Yakusho). Hidup mereka berubah hanya karena sebutir peluru yang ditembakkan secara serampangan oleh dua anak penggembala Moroko (Boubker Ait El Caid & Said Tarchani). 

Berbeda dengan ‘Crash’ yang bercerita secara linear, maka ‘Babel’ bercerita dengan sebaliknya, bahkan mirip kepingan-kepingan puzzle yang harus kita satukan. Untungnya, pendekatan Sr. Iñárritu yang lebih sederhana membuat proses penyatuan tersebut tidak begitu memusingkan kepala. Sebenarnya cerita yang ditawarkan oleh ‘Babel’ memang sederhana sekali, namun dibalik kesederhanaan tersebut tersimpan kekayaan batin yang mampu menawar dahaga jiwa-jiwa yang kerontang.

‘Babel’ sendiri adalah nama sebuah menara dalam sebuah kisah dikitab Injil Genesis, yang bercerita tentang orang-orang yang berada di dunia yang bersatu dan berbicara dalam bahasa yang satu. Mereka kemudian membangun sebuah menara untuk menggapai surga dan menjadi Dewa kemudian. Tuhan, yang melihat ini memutuskan untuk mengacau bahasa yang dipergunakan oleh orang-orang tersebut dan mengancurkan sang menara. Ketika orang-orang sudah mulai tidak memahami apa yang dikatakan oleh orang lainnya, mereka menghentikan proyek pembangunan menara dan menyebar ke berbagai pelosok dunia. Disini dapat dilihat bagaimana pentingnya bahasa itu sebagai sebuah jembatan hubungan komunikasi. Dalam ‘Babel’ setiap karakter memaparkan kegelisahan mereka dalam menjalani hidup dan pengenalan diri melalui kesalahpahaman terhadap situasi yang mereka hadapi dikarenakan ganjalan bahasa tadi. Bahasa seakan hadir sebagai esensi yang remeh, namun misinterprestasi bahasa justru dapat menentukan hidup-atau-mati seseorang.

Segmen-segmen dalam ‘Babel’ tampil dengan begitu kuat, apalagi didukung dengan kemampuan akting yang prima oleh para bintang-bintangnya. Jujur saja, walaupun Brad Pitt dan cate Blancett mengisi kredit sebagai pemeran utama, justru Ariadna Barraza, Rinko Kikuchi dan duo Boubker Ait El Caid, Said Tarchani tampil dengan sangat menonjol. Apalagi didukung kekuatan plot yang prima dalam segmen mereka masing-masing. Khusus untuk Boubker Ait El Caid dan Said Tarchani, sungguh sangat mengejutkan karena mereka (dan mayoritas pemeran di Moroko) adalah masyarakat lokal yang dilatih akting untuk keperluan film ini namun mereka bisa tampil maksimal layaknya aktor-aktor professional. Sedangkan untuk karakter yang diperankan oleh Gael Garcia Bernal sebenarnya bisa saja digantikan oleh aktor lainnya, karena tampaknya Bernal hadir karena hubungannya yang telah terjalin sebelumnya dengan Sr. Iñárritu dalam ‘Amores Perros’.


‘PAN’S LABYRINTH’: Visualisasi dan Narasi Dongeng yang Menakjubkan dan Menyentuh

Tuesday, February 27th, 2007

Produksi: Picturehouse (2006)
Sutradara: Guillermo del Toro
Cast: Ivana Baquero, Maribel Verdu, Sergi Lopez, Ariadna Gil, Alex Angulo, Doug Jones

Genre: Drama/Horror/Thriller/Fantasy
Durasi: 120"
Release Date: 11 Oktober 2006 (Spanyol)
My Grade: 4.5 out 5

Pans_labyrinth_1
Pada saat kita masih kanak-kanak, siapa yang tidak menyukai dongeng. Sebuah fabel mengenai kebaikan mengalahkan kejahatan dengan ketabahan karakter utamanya dalam menjalani hidupnya. Cerita yang terkadang fantastis dan dipenuhi dengan imajinasi yang merangsang daya pikir kita sebagai seorang anak. Setelah kita dewasa, kita cenderung melupakan dan bahkan menyepelekan dongeng-dongen tersebut, karena kenyaataan hidup yang kita hadapi memaksa kita untuk menjadi orang yang pragmatis dan sinis menghadapi kehidupan.

Ofelia (Ivana Baquero), seorang gadis kecil yang sangat menyukai dongeng, walaupun ibunya Carmen (Ariadna Gil) mengatakan bahwa anak semuran Ofelia seharusnya tidak lagi terpengaruh oleh dongeng-dongeng semacam itu. Namun, Ofelia tetap menganggap dongeng-dongeng itu menarik walau kehidupan yang dijalaninya tidak seindah cerita yang dibacanya. Ia harus mengikuti ibunya yang tengah hamil tua kesebuah pos militer di tengah hutan, karena ayah tirinya, seorang kapten yang kejam, Vidal (Sergi Lopez) menginginkan anak laki-lakinya mengalami apa yang dialami ayahnya semenjak ia lahir. Kapten Vidal adalah seorang fasis yang tengah memburu sekelompok pemberontak yang bersembunyi ditengah hutan. Ditengah lingkungan yang tidak bersahabat, Ofelia menjalin persahabatan dengan Mercedes (Maribel Verdu, Y Tu Mama Tambien), pelayan di pos militer tersebut. Di dekat pos militer tersebut terdapat sebuah labirin yang bisa menyesatkan, namun Ofelia malah menemukan dongengnya sendiri di labirin tersebut, karena seorang peri membimbingnya untuk menemui Faun atau Pan (Doug Jones), mahluk mitologi setengah manusia setengah kambing. Pan mengatakan bahwa Ofelia adalah titisan seorang putri dan untuk meraih kembali statusnya ia harus menjalani serangkaian tes. Ia harus mematuhi setiap larangan dan arahan dari Pan jika ingin misinya sukses, karena jika tidak ia akan menerima konsekuensinya. Maka dimulailah petualangan Ofelia dalam menemukan jati dirinya. Sementara itu dilingkungan sekitarnya bahaya justru semakin mengincar.

Melalui ‘Pan’s Labyrinth’ atau ‘El Laberinto del Fauno’, Guillermo del Toro menemukan dongengnya sendiri dan memutuskan untuk membaginya dengan orang lain. Melalui film ini Guillermo del Toro seakan menegaskan jika orang dewasa juga membutuhkan dongeng untuk refleksi jiwa mereka. Sebagai pribadi yang dekat dengan atmosfir horror (Cronos, The Devil’s Backbone, Mimic, Blade 2, Hellboy), Guillermo del Toro membalut dongengnya ini dengan aura fantasi horror yang kental dan sedikit surreal. Maka beberapa adegan terasa sangat mistis dan beberapa adegan lain terasa brutal, namun tetap menampilkan aura naratif yang mengesankan sekaligus kontemplatif. Surealisme kemudian hadir sebagai skema dalam menaungi eksistensi cerita yang seperti dongeng namun sekaligus realitis ini. Pendekatan ini terasa sangat pas karena jika kita perhatikan, pada dasarnya sebenarnya dongeng-dongeng yang kita ketahui sebenarnya adalah cerita mengerikan mengenai konsekuensi sebuah pilihan, entah baik atau buruk (contoh kisah ‘Red Shoes’). Tidak jarang cerita tersebut memang tampil dalam format horror yang kental (Red Riding Hood) atau surealisme yang memusingkan (Alice In Wonderland). Namun pada intinya dongeng-dongeng tersebut adalah pengingat akan perlunya kebijaksaanaan dalam hidup karena salah dalam memilih biasanya akan berujung dengan konsekuensi yang berujung maut.

Labirin milik Pan seakan menjadi personifikasi dari ruwetnya kehidupan manusia, sehingga kita memerlukan bimbingan untuk melewatinya dan kemudian akan menemukan identitas diri kita sebenarnya. Tentu saja akan selalu ada pilihan-pilihan dalam bimbingan tersebut, sehingga kita harus meneguhkan diri dan percaya akan diri sendiri untuk mencapai tujuan tanpa harus terpengaruh godaan. Demikianlah petualangan yang dilakukan oleh Ofelia seakan-akan menjadi sebuah alat bantu penguji dirinya sendiri. Ia kemudian belajar untuk tidak hanya mengikuti arahan yang dianjurkan dan harga yang harus dibayar jika melanggarnya namun juga harus mempercayai dirinya sendiri untuk mengetahui mana yang benar dan yang salah. Dengan ini Guillermo del Toro seakan menegaskan eksistensi ‘Pan’s Labyrinth’ sebagai sebuah pesan akan pembelajaran tentang keberadaan diri yang dinarasikan secara menegangkan, menyentuh sekaligus kontemplatif tanpa terkesan menggurui.


‘BADAI PASTI BERLALU’: Reinterprestasi Kontemporer Yang Tawar

Monday, February 26th, 2007

Produksi: Astral Pictures (2007)
Sutradara: Teddy Soeriaatmadja
Cast:Vino G. Bastian, Raihaanun, Winky Wiryawan, Slamet Rahardjo Jarot, Dewi Irawan, Indra Birowo, Davina, Anandita, Agastya Kandaouw

Genre: Drama
Durasi: 90"
Release Date: 14 Februari 2007
My Grade: 2 out 5

Badai_pasti_berlalu_1 Pada tahun 1977 Teguh Karya mengangkat sebuah novel roman karya Marga T yang berjudul ‘Badai Pasti Berlalu’(BPB). Beliau yang biasanya menggarap film yang ’serius’ merasa tertantang untum membuat sebuah film melodrama, namun tetap menampilkan ciri khas Teguh Karya yang berkelas. Hasilnya, ‘BPB’ menjelma menjadi sebuah karya klasik mengesankan dan dianggap sebagai sebuah karya yang groundbreaking pada saat itu. Kini, 30 tahun kemudian saya mendengar Teddy Soeriaatmadja (Banyu Biru, Ruang) akan mengangkat kembali novel tersebut dalam bentuk fitur film. Ekspektasi saya langsung terbang tinggi mengingat saya sangat menyukai karya-karya Teddy sebelumnya. Namun, setelah berkesempatan menyimak versi terbaru dari ‘BPB’, saya berani menyimpulkan jika Teddy sama sekali bukan orang yang tepat untuk mengarahkan film ini, karena Teddy sama sekali tidak memahami materi yang dihadapinya.

Melodrama rasanya hadir untuk mengharu-biru. Kadang ia seperti anti-tesis dari realita, namun kenyataan yang semu sering kali harus dipoles secara over-the-top agar bertransformasi menjadi sebuah narasi yang mempengaruhi perasaan yang mencernanya. Dramatisasi ini lah yang menjadi kekuatan dari sebuah melodrama. Saya paham jika Teddy tidak ingin filmnya ini menjadi sebuah drama cengeng yang bertele-tele dan terlalu mengumbar emosi. Namun, ramuan emosional tersebut uniknya yang memang diperlukan untuk sebuah melodrama, karena ini bukan ‘hanya’drama.

Sisca (Raihanun) baru saja mengalami patah hati karena dikhianati oleh kekasihnya sendiri. Ia lalu pergi ke Bali untuk menenangkan diri. Turut bersamanya adalah kakak laki-lakinya (Agastya Kandauw) dan temannya Leo (Vino G. Bastian). Sisca yang dikenal sebagai gunung es ini sebenarnya menjadi objek taruhan dari Leo dan teman-temannya yang menantang Leo sang playboy untuk menaklukkan hati Sisca. Perlahan-lahan Leo berhasil meraih perhatian Sisca, sampai kemudian Sisca mengetahui alasan Leo mendekatinya. Percuma Leo memberi penjelasan jika ia sekarang benar-benar mencintai Sisca. Lantas Sisca berkenalan dengan Helmi (Winky Wiryawan), seorang manajer restoran milik ayahnya (Slamet Rahardjo). Prilaku Helmi yang sopan dan baik hati mempengaruhi Sisca, sampai ia mengetahui siapa sebenarnya Helmi. Helmi mengancam akan memberitahu ibu Sisca (Dewi Irawan) yang sakit jantung tentang affair ayahnya dengan adik perempuan Helmi (Davina), jika Sisca tidak menikahi Helmi. Maka, dengan terpaksa Sisca menikahi Helmi walaupun hidupnya tidak bahagia. Sisca tabah menerima jalan hidupnya dan mencoba menjadi istri yang baik bagi Helmi, walau Helmi berprilaku berbeda dengan dirinya. Puncaknya, sebuah tragedi menyebabkan Sisca harus mengambil keputusan untuk meraih kebahagianya sendiri.

Dngan plot-twist seperti itu, maka ‘BPB’ versi lama berhasil memainkan perasaan para penontonya dahulu. Sayangnya, perasaan tersebut tidak didapat saat menyaksikan ‘BPB’ versi terbaru ini. Perbandingan ini mau tidak mau harus dilakukan, mengingat Teddy Soeriaatmadja juga memakai soundtrack yang sama dengan versi aslinya, yang serupa halnya dengan film ini dan direka ulang oleh Andi Rianto. Ini menyebabkan kita berfikir jika ini memang adalah sebuah film dalam semangat revivalitas dari versi aslinya. Berbeda jika memang Teddy sama sekali berniat membuat sebuah film berdasarkan materi yang sama namun sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan ‘BPB’ versi 1977.

Saya mengerti jika sebuah novel adalah sebuah materi yang kompleks untuk dielaborasi dalam bentuk narasi film karena keterbatasan durasi. Sayangnya, skrip yang ditulis oleh Titien Wattimena (Mengejar Matahari, Cinta Pertama) bersama dengan Teddy sendiri hanya mencuplik adegan-adegan penting tanpa mematangkan ceritanya. Sehingga akhirnya, menilik film ini seperti melihat potongan-potongan informasi yang kemudian dijahit menjadi satu namun tidak menjadi satu kesatuan yang utuh. Alur berjalan secara monoton tanpa ada riak-riak yang berarti. Kita hanya melihat banyak adegan yang lewat, namun tanpa eksposisi yang memuaskan, sehingga cerita dalam film ini seperti meloncat-loncat, sedangkan kita sebagai penonton belum sempat menecerna isi cerita sebelumnya, sehingga banyak sekali adegan-adegan yang terkesan menggantung, bahkan hingga klimaks film itu sendiri. Sebagai contoh, mengapa Sisca bisa langsung akrab dengan Helmi hanya melalui satu kali perkenalan atau tidak ada penjelasan secara gamblang apakah ayah dan ibunya berpisah karena mengetahui perselingkuhannya dan masih banyak lagi. Namun yang paling mengganjal adalah ekplorasi kegalauan hati Sisca dalam mengarungi ‘badai’ hidupnya yang terasa minim dan seadanya serta secukupnya. Tidak ada konflik yang terelasikan dengan emosi penontonnya.

Dari segi akting, Winky Wiryawan jelas sangat menonjol. Ia cukup berhasil menerjemahkan karakter Helmi yang kompleks menurut versinya sendiri. Sementara Vino G. Bastian bermain dengan menarik, namun kesan playboy yang ingin didapat rasanya tidak tersampaikan, malah yang didapat rasanya adalah anak manis yang sedikit badung. Raihaanun sendiri sebenarnya cukup berbakat, namun sayang sekali ia terlihat tidak konsisten dalam menghidupi karakternya, sehingga terasa kurang mengesankan.

Nilai lebih dari film ini adalah dari segi disain produksi dan sinematografi yang cantik, menjadikan film ini terasa sedap dipandang mata. Namun, sayangnya keindahan yang terpampang di layar saja tidak cukup, karena narasi yang menarik ternyata lebih penting. Kesimpulan akhirnya adalah ini merupakan film yang standar saja. Boleh ditonton, boleh tidak. Yang pasti, film ini semakin menegaskan ‘BPB’ versi Teguh Karya sebagai sebuah film yang monumental dan abadi.


‘LITTLE MISS SUNSHINE’: Mereka Disfungsional Karena Itu Mereka Menarik

Tuesday, February 6th, 2007

Produksi: Fox Searchlight (2006)
Sutradara: Jonathan Dayton & Valerie Faris
Cast: Abigail Breslin, Greg Kinnear, Paul Dano, Alan Arkin, Toni Colette, Steve Carrel

Genre: Drama/Komedi
Durasi: 101"
Release Date: 26 Juli 2006 (USA)
My Grade: 4.5 out 5

Little_miss_sunshineSi gadis kecil Olive Hoover (Abigail Breslin) terobsesi dengan kontes kecantikan. Dan impiannya adalah untuk menjadi seorang Ratu Kecantikan sepertinya akan tercapai dengan terpilihnya ia sebagai salah seorang finalis ‘Little Miss Sunshine’, kontes kecantikan untuk anak-anak yang akan diadakan di Redondo Beach, California. Akhirnya, setelah pedebatan kecil, diputuskan jika ayahnya, Richard (Greg Kinear), ibunya Sheryl (Toni Collete), kakak laki-lakinya Dwayne (Paul Dano), pamannya Frank (Steve Carrel) dan sang kakek (Alan Arkin), akan menemani Olive ke pagelaran tersebut. Maka dimulailah perjalanan keluarga ini dari Alburquerque, kampung halaman mereka, dengan menggunakan VW Kombi tua berwarna kuning yang sudah mulai disfungsional.

Skrip ‘Little Miss Sunshine’ yang ditulis oleh Michael Ardnt sungguh menyimpan banyak kejutan, dibuka dengan pengenalan karakter yang mengambil durasi cukup panjang di awal film; sang ayah yang terobsesi dengan kesuksesan semenjak ia sendiri belum pernah mencicipi kesuksesan; sang ibu yang sangat menekankan akan kejujuran dalam keluarga namun bersikap sedikit neurotik; si kakak yang terpengaruh oleh Nietzhe dan  memilih untuk tidak berbicara selama sembilan bulan dalam upaya disiplin untuk memasuki sekolah penerbangan; sang paman yang homoseksual dan baru saja gagal dalam mengeksekusi dirinya sendiri semenjak ditinggal sang pacar dan didepak dari pekerjaannya; serta sang kakek yang telah diusir dari Panti Wreda karena kedapatan menghirup morphin dan mempunyai prinsip hidup yang unik "kau gila jika gila-gilaan (memakai narkoba) di waktu muda, tapi kau gila jika di waktu tua jika tidak melakukannya".

Dari sini kita dapat melihat bagaimana sebenarnya karakteristik keluarga Hoover ini; mereka disfungsional. Sama disfungsionalnya dengan VW yang mengantarkan mereka ke tujuan. Akan tetapi, seberapa disfungsionalnya, mereka harus tetap bersama karena mereka keluarga. Benar begitu kan? Setelah pengenalan karakter yang sangat ciamik dalam intensitas dan kedalamannya, film ini kemudian mengambil bentuk yang sebenarnya, Road Movie! Dua sutradara, Jonathan Dayton dan Valerie Faris, yang merupakan pasangan suami istri ini, sangat berhasil dalam menyampaikan jenialitas ceritanya dengan gemilang.

Apa sih yang dimaksud dengan keluarga disfungsional. Keluarga yang disfungsional adalah sebuah keluarga dimana salah satu atau beberapa anggotanya tidak menjalankan fungsinya dengan baik. Dan apakah ada yang salah dengan keluarga ini? Seharusnya tidak, karena saat ini mana ada sebuah keluarga yang benar-benar berada dalam terminologi konsep normal. Yah, kalau ada pun mungkin jarang. Terus terang saja, keluarga normal itu membosankan! Tidak mempunyai dinamika hidup dengan intensitas konflik yang tinggi. Hey, bagi saya konflik justru mendewasakan saya jadi untuk hidup dalam sebuah keluarga disfungsional adalah sebuah pembelajaran untuk hidup dalam realitas yang riil. Seharusnya begitu. Inilah yang mungkin menyebabkan banyak penonton dengan mudah merelasikan diri mereka dengan kehidupan keluarga Hoover. Apalagi film ini berhasil mendeskripsikan semangat keluarga unik ini dalam mewujudkan keinginan salah seorang anggotanya yang dituturkan dengan sangat mengena. Tentu saja sebagai sebuah Road Movie, ‘Little Miss Sunshine’ dizinkan untuk merefleksikan berbagai issue yang lebih plural dengan sentimen komedi satir yang mengena. Hanya saja, satir yang dihadirkan mungkin lebih familiar dengan kultur masyarakat Amerika Serikat itu sendiri. Namun sebenarnya menurut saya tetap bisa saja diinterprestasikan sebagai sebuah kontemplasi yang bersifat lebih umum.

Mungkin  saja ‘Little Miss Sunshine’ adalah komedi keluarga yang menghibur, namun dengan kekuatan akting para pendukungnya yang luar biasa prima menjadikan film ini sebagai sebuah tontonan yang asertif terhadap kebutuhan akan nilai-nilai kekeluargaan tanpa harus tampil retoris dalam unsur didaktikanya.