‘BABEL’: Languange is Power!
Sutradara: Alejandro González Iñárritu
Release Date: 27 Oktober 2006 (USA)

‘Babel’ mengingatkan akan film terbaik versi Academy Award tahun 2006, ‘Crash’ karena menampilkan multi-narasi dengan multi-konflik dan multi-karakter yang mengisi layar dengan porsi yang seimbang dan entah bagaimana mereka saling terkait. Namun jika ‘Crash’ berhubungan dengan issue yang lebih makro, maka ‘Babel’ justru menyoroti konflik yang lebih personal dan emosional. Uniknya, karakter-karakternya justru berasal dari multi-ras dan negara yang berbeda. Sebenarnya ini bukan hal yang baru bagi sang sutradara, Alejandro González Iñárritu, yang sebelumnya telah menggarap film yang serupa, ‘Amores Perros’ (2001) dan ‘21 Grams’ (2003). Hanya saja kali ini terasa sangat luar biasa karena Sr. Iñárritu dengan gemilang merangkai berbagai konflik yang terjadi dalam satu kesatuan yang utuh tanpa kendor sama sekali.
Sepasang suami istri Amerika (Brad Pitt & Cate Blancett) yang tengah berlibur di Maroko, seorang pengasuh Meksiko (Ariadna Barazza) yang secara teledor membawa anak asuh Amerikanya melewati perbatasan dan seorang gadis Jepang (Rinko Kikuchi) tuna rungu yang tinggal hanya dengan ayahnya (Kôji Yakusho). Hidup mereka berubah hanya karena sebutir peluru yang ditembakkan secara serampangan oleh dua anak penggembala Moroko (Boubker Ait El Caid & Said Tarchani).
Berbeda dengan ‘Crash’ yang bercerita secara linear, maka ‘Babel’ bercerita dengan sebaliknya, bahkan mirip kepingan-kepingan puzzle yang harus kita satukan. Untungnya, pendekatan Sr. Iñárritu yang lebih sederhana membuat proses penyatuan tersebut tidak begitu memusingkan kepala. Sebenarnya cerita yang ditawarkan oleh ‘Babel’ memang sederhana sekali, namun dibalik kesederhanaan tersebut tersimpan kekayaan batin yang mampu menawar dahaga jiwa-jiwa yang kerontang.
‘Babel’ sendiri adalah nama sebuah menara dalam sebuah kisah dikitab Injil Genesis, yang bercerita tentang orang-orang yang berada di dunia yang bersatu dan berbicara dalam bahasa yang satu. Mereka kemudian membangun sebuah menara untuk menggapai surga dan menjadi Dewa kemudian. Tuhan, yang melihat ini memutuskan untuk mengacau bahasa yang dipergunakan oleh orang-orang tersebut dan mengancurkan sang menara. Ketika orang-orang sudah mulai tidak memahami apa yang dikatakan oleh orang lainnya, mereka menghentikan proyek pembangunan menara dan menyebar ke berbagai pelosok dunia. Disini dapat dilihat bagaimana pentingnya bahasa itu sebagai sebuah jembatan hubungan komunikasi. Dalam ‘Babel’ setiap karakter memaparkan kegelisahan mereka dalam menjalani hidup dan pengenalan diri melalui kesalahpahaman terhadap situasi yang mereka hadapi dikarenakan ganjalan bahasa tadi. Bahasa seakan hadir sebagai esensi yang remeh, namun misinterprestasi bahasa justru dapat menentukan hidup-atau-mati seseorang.
Segmen-segmen dalam ‘Babel’ tampil dengan begitu kuat, apalagi didukung dengan kemampuan akting yang prima oleh para bintang-bintangnya. Jujur saja, walaupun Brad Pitt dan cate Blancett mengisi kredit sebagai pemeran utama, justru Ariadna Barraza, Rinko Kikuchi dan duo Boubker Ait El Caid, Said Tarchani tampil dengan sangat menonjol. Apalagi didukung kekuatan plot yang prima dalam segmen mereka masing-masing. Khusus untuk Boubker Ait El Caid dan Said Tarchani, sungguh sangat mengejutkan karena mereka (dan mayoritas pemeran di Moroko) adalah masyarakat lokal yang dilatih akting untuk keperluan film ini namun mereka bisa tampil maksimal layaknya aktor-aktor professional. Sedangkan untuk karakter yang diperankan oleh Gael Garcia Bernal sebenarnya bisa saja digantikan oleh aktor lainnya, karena tampaknya Bernal hadir karena hubungannya yang telah terjalin sebelumnya dengan Sr. Iñárritu dalam ‘Amores Perros’.