‘BADAI PASTI BERLALU’: Reinterprestasi Kontemporer Yang Tawar
Sutradara: Teddy Soeriaatmadja
Release Date: 14 Februari 2007
Pada tahun 1977 Teguh Karya mengangkat sebuah novel roman karya Marga T yang berjudul ‘Badai Pasti Berlalu’(BPB). Beliau yang biasanya menggarap film yang ’serius’ merasa tertantang untum membuat sebuah film melodrama, namun tetap menampilkan ciri khas Teguh Karya yang berkelas. Hasilnya, ‘BPB’ menjelma menjadi sebuah karya klasik mengesankan dan dianggap sebagai sebuah karya yang groundbreaking pada saat itu. Kini, 30 tahun kemudian saya mendengar Teddy Soeriaatmadja (Banyu Biru, Ruang) akan mengangkat kembali novel tersebut dalam bentuk fitur film. Ekspektasi saya langsung terbang tinggi mengingat saya sangat menyukai karya-karya Teddy sebelumnya. Namun, setelah berkesempatan menyimak versi terbaru dari ‘BPB’, saya berani menyimpulkan jika Teddy sama sekali bukan orang yang tepat untuk mengarahkan film ini, karena Teddy sama sekali tidak memahami materi yang dihadapinya.
Melodrama rasanya hadir untuk mengharu-biru. Kadang ia seperti anti-tesis dari realita, namun kenyataan yang semu sering kali harus dipoles secara over-the-top agar bertransformasi menjadi sebuah narasi yang mempengaruhi perasaan yang mencernanya. Dramatisasi ini lah yang menjadi kekuatan dari sebuah melodrama. Saya paham jika Teddy tidak ingin filmnya ini menjadi sebuah drama cengeng yang bertele-tele dan terlalu mengumbar emosi. Namun, ramuan emosional tersebut uniknya yang memang diperlukan untuk sebuah melodrama, karena ini bukan ‘hanya’drama.
Sisca (Raihanun) baru saja mengalami patah hati karena dikhianati oleh kekasihnya sendiri. Ia lalu pergi ke Bali untuk menenangkan diri. Turut bersamanya adalah kakak laki-lakinya (Agastya Kandauw) dan temannya Leo (Vino G. Bastian). Sisca yang dikenal sebagai gunung es ini sebenarnya menjadi objek taruhan dari Leo dan teman-temannya yang menantang Leo sang playboy untuk menaklukkan hati Sisca. Perlahan-lahan Leo berhasil meraih perhatian Sisca, sampai kemudian Sisca mengetahui alasan Leo mendekatinya. Percuma Leo memberi penjelasan jika ia sekarang benar-benar mencintai Sisca. Lantas Sisca berkenalan dengan Helmi (Winky Wiryawan), seorang manajer restoran milik ayahnya (Slamet Rahardjo). Prilaku Helmi yang sopan dan baik hati mempengaruhi Sisca, sampai ia mengetahui siapa sebenarnya Helmi. Helmi mengancam akan memberitahu ibu Sisca (Dewi Irawan) yang sakit jantung tentang affair ayahnya dengan adik perempuan Helmi (Davina), jika Sisca tidak menikahi Helmi. Maka, dengan terpaksa Sisca menikahi Helmi walaupun hidupnya tidak bahagia. Sisca tabah menerima jalan hidupnya dan mencoba menjadi istri yang baik bagi Helmi, walau Helmi berprilaku berbeda dengan dirinya. Puncaknya, sebuah tragedi menyebabkan Sisca harus mengambil keputusan untuk meraih kebahagianya sendiri.
Dngan plot-twist seperti itu, maka ‘BPB’ versi lama berhasil memainkan perasaan para penontonya dahulu. Sayangnya, perasaan tersebut tidak didapat saat menyaksikan ‘BPB’ versi terbaru ini. Perbandingan ini mau tidak mau harus dilakukan, mengingat Teddy Soeriaatmadja juga memakai soundtrack yang sama dengan versi aslinya, yang serupa halnya dengan film ini dan direka ulang oleh Andi Rianto. Ini menyebabkan kita berfikir jika ini memang adalah sebuah film dalam semangat revivalitas dari versi aslinya. Berbeda jika memang Teddy sama sekali berniat membuat sebuah film berdasarkan materi yang sama namun sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan ‘BPB’ versi 1977.
Saya mengerti jika sebuah novel adalah sebuah materi yang kompleks untuk dielaborasi dalam bentuk narasi film karena keterbatasan durasi. Sayangnya, skrip yang ditulis oleh Titien Wattimena (Mengejar Matahari, Cinta Pertama) bersama dengan Teddy sendiri hanya mencuplik adegan-adegan penting tanpa mematangkan ceritanya. Sehingga akhirnya, menilik film ini seperti melihat potongan-potongan informasi yang kemudian dijahit menjadi satu namun tidak menjadi satu kesatuan yang utuh. Alur berjalan secara monoton tanpa ada riak-riak yang berarti. Kita hanya melihat banyak adegan yang lewat, namun tanpa eksposisi yang memuaskan, sehingga cerita dalam film ini seperti meloncat-loncat, sedangkan kita sebagai penonton belum sempat menecerna isi cerita sebelumnya, sehingga banyak sekali adegan-adegan yang terkesan menggantung, bahkan hingga klimaks film itu sendiri. Sebagai contoh, mengapa Sisca bisa langsung akrab dengan Helmi hanya melalui satu kali perkenalan atau tidak ada penjelasan secara gamblang apakah ayah dan ibunya berpisah karena mengetahui perselingkuhannya dan masih banyak lagi. Namun yang paling mengganjal adalah ekplorasi kegalauan hati Sisca dalam mengarungi ‘badai’ hidupnya yang terasa minim dan seadanya serta secukupnya. Tidak ada konflik yang terelasikan dengan emosi penontonnya.
Dari segi akting, Winky Wiryawan jelas sangat menonjol. Ia cukup berhasil menerjemahkan karakter Helmi yang kompleks menurut versinya sendiri. Sementara Vino G. Bastian bermain dengan menarik, namun kesan playboy yang ingin didapat rasanya tidak tersampaikan, malah yang didapat rasanya adalah anak manis yang sedikit badung. Raihaanun sendiri sebenarnya cukup berbakat, namun sayang sekali ia terlihat tidak konsisten dalam menghidupi karakternya, sehingga terasa kurang mengesankan.
Nilai lebih dari film ini adalah dari segi disain produksi dan sinematografi yang cantik, menjadikan film ini terasa sedap dipandang mata. Namun, sayangnya keindahan yang terpampang di layar saja tidak cukup, karena narasi yang menarik ternyata lebih penting. Kesimpulan akhirnya adalah ini merupakan film yang standar saja. Boleh ditonton, boleh tidak. Yang pasti, film ini semakin menegaskan ‘BPB’ versi Teguh Karya sebagai sebuah film yang monumental dan abadi.