‘LITTLE MISS SUNSHINE’: Mereka Disfungsional Karena Itu Mereka Menarik


Produksi: Fox Searchlight (2006)
Sutradara: Jonathan Dayton & Valerie Faris
Cast: Abigail Breslin, Greg Kinnear, Paul Dano, Alan Arkin, Toni Colette, Steve Carrel

Genre: Drama/Komedi
Durasi: 101"
Release Date: 26 Juli 2006 (USA)
My Grade: 4.5 out 5

Little_miss_sunshineSi gadis kecil Olive Hoover (Abigail Breslin) terobsesi dengan kontes kecantikan. Dan impiannya adalah untuk menjadi seorang Ratu Kecantikan sepertinya akan tercapai dengan terpilihnya ia sebagai salah seorang finalis ‘Little Miss Sunshine’, kontes kecantikan untuk anak-anak yang akan diadakan di Redondo Beach, California. Akhirnya, setelah pedebatan kecil, diputuskan jika ayahnya, Richard (Greg Kinear), ibunya Sheryl (Toni Collete), kakak laki-lakinya Dwayne (Paul Dano), pamannya Frank (Steve Carrel) dan sang kakek (Alan Arkin), akan menemani Olive ke pagelaran tersebut. Maka dimulailah perjalanan keluarga ini dari Alburquerque, kampung halaman mereka, dengan menggunakan VW Kombi tua berwarna kuning yang sudah mulai disfungsional.

Skrip ‘Little Miss Sunshine’ yang ditulis oleh Michael Ardnt sungguh menyimpan banyak kejutan, dibuka dengan pengenalan karakter yang mengambil durasi cukup panjang di awal film; sang ayah yang terobsesi dengan kesuksesan semenjak ia sendiri belum pernah mencicipi kesuksesan; sang ibu yang sangat menekankan akan kejujuran dalam keluarga namun bersikap sedikit neurotik; si kakak yang terpengaruh oleh Nietzhe dan  memilih untuk tidak berbicara selama sembilan bulan dalam upaya disiplin untuk memasuki sekolah penerbangan; sang paman yang homoseksual dan baru saja gagal dalam mengeksekusi dirinya sendiri semenjak ditinggal sang pacar dan didepak dari pekerjaannya; serta sang kakek yang telah diusir dari Panti Wreda karena kedapatan menghirup morphin dan mempunyai prinsip hidup yang unik "kau gila jika gila-gilaan (memakai narkoba) di waktu muda, tapi kau gila jika di waktu tua jika tidak melakukannya".

Dari sini kita dapat melihat bagaimana sebenarnya karakteristik keluarga Hoover ini; mereka disfungsional. Sama disfungsionalnya dengan VW yang mengantarkan mereka ke tujuan. Akan tetapi, seberapa disfungsionalnya, mereka harus tetap bersama karena mereka keluarga. Benar begitu kan? Setelah pengenalan karakter yang sangat ciamik dalam intensitas dan kedalamannya, film ini kemudian mengambil bentuk yang sebenarnya, Road Movie! Dua sutradara, Jonathan Dayton dan Valerie Faris, yang merupakan pasangan suami istri ini, sangat berhasil dalam menyampaikan jenialitas ceritanya dengan gemilang.

Apa sih yang dimaksud dengan keluarga disfungsional. Keluarga yang disfungsional adalah sebuah keluarga dimana salah satu atau beberapa anggotanya tidak menjalankan fungsinya dengan baik. Dan apakah ada yang salah dengan keluarga ini? Seharusnya tidak, karena saat ini mana ada sebuah keluarga yang benar-benar berada dalam terminologi konsep normal. Yah, kalau ada pun mungkin jarang. Terus terang saja, keluarga normal itu membosankan! Tidak mempunyai dinamika hidup dengan intensitas konflik yang tinggi. Hey, bagi saya konflik justru mendewasakan saya jadi untuk hidup dalam sebuah keluarga disfungsional adalah sebuah pembelajaran untuk hidup dalam realitas yang riil. Seharusnya begitu. Inilah yang mungkin menyebabkan banyak penonton dengan mudah merelasikan diri mereka dengan kehidupan keluarga Hoover. Apalagi film ini berhasil mendeskripsikan semangat keluarga unik ini dalam mewujudkan keinginan salah seorang anggotanya yang dituturkan dengan sangat mengena. Tentu saja sebagai sebuah Road Movie, ‘Little Miss Sunshine’ dizinkan untuk merefleksikan berbagai issue yang lebih plural dengan sentimen komedi satir yang mengena. Hanya saja, satir yang dihadirkan mungkin lebih familiar dengan kultur masyarakat Amerika Serikat itu sendiri. Namun sebenarnya menurut saya tetap bisa saja diinterprestasikan sebagai sebuah kontemplasi yang bersifat lebih umum.

Mungkin  saja ‘Little Miss Sunshine’ adalah komedi keluarga yang menghibur, namun dengan kekuatan akting para pendukungnya yang luar biasa prima menjadikan film ini sebagai sebuah tontonan yang asertif terhadap kebutuhan akan nilai-nilai kekeluargaan tanpa harus tampil retoris dalam unsur didaktikanya.


3 Responses to “‘LITTLE MISS SUNSHINE’: Mereka Disfungsional Karena Itu Mereka Menarik”

  1. APATIS VIAN Says:

    SUKA BANGEEEET….

    KMAREN BARU NONTON…nyesel banget knapa baru nontonnya sekarang…

    tapi sumpah….nih film sweet n touchy banget….lucuuuuuuu…..

    my grade: 8,5 out 10

    next review is transformers n hot fuzz (underdog movie but great i think) plissssss……..

    review film2 korea nya mana lago nih bro?|?????????

    piss

  2. hARIs Says:

    Little Miss Sunhsine is one of my fave movie….

    Korea? Tunggu aja ya? rencananya mau ngereview Miracle On the 1st street, secara Ha Ji-won is one of my fave actress

  3. Ririn'z ZoNe Says:

    stuju..bagus bgtz…
    banyak pesan yg bisa kita petik…

Leave a Reply