‘PAN’S LABYRINTH’: Visualisasi dan Narasi Dongeng yang Menakjubkan dan Menyentuh
Sutradara: Guillermo del Toro
Release Date: 11 Oktober 2006 (Spanyol)

Pada saat kita masih kanak-kanak, siapa yang tidak menyukai dongeng. Sebuah fabel mengenai kebaikan mengalahkan kejahatan dengan ketabahan karakter utamanya dalam menjalani hidupnya. Cerita yang terkadang fantastis dan dipenuhi dengan imajinasi yang merangsang daya pikir kita sebagai seorang anak. Setelah kita dewasa, kita cenderung melupakan dan bahkan menyepelekan dongeng-dongen tersebut, karena kenyaataan hidup yang kita hadapi memaksa kita untuk menjadi orang yang pragmatis dan sinis menghadapi kehidupan.
Ofelia (Ivana Baquero), seorang gadis kecil yang sangat menyukai dongeng, walaupun ibunya Carmen (Ariadna Gil) mengatakan bahwa anak semuran Ofelia seharusnya tidak lagi terpengaruh oleh dongeng-dongeng semacam itu. Namun, Ofelia tetap menganggap dongeng-dongeng itu menarik walau kehidupan yang dijalaninya tidak seindah cerita yang dibacanya. Ia harus mengikuti ibunya yang tengah hamil tua kesebuah pos militer di tengah hutan, karena ayah tirinya, seorang kapten yang kejam, Vidal (Sergi Lopez) menginginkan anak laki-lakinya mengalami apa yang dialami ayahnya semenjak ia lahir. Kapten Vidal adalah seorang fasis yang tengah memburu sekelompok pemberontak yang bersembunyi ditengah hutan. Ditengah lingkungan yang tidak bersahabat, Ofelia menjalin persahabatan dengan Mercedes (Maribel Verdu, Y Tu Mama Tambien), pelayan di pos militer tersebut. Di dekat pos militer tersebut terdapat sebuah labirin yang bisa menyesatkan, namun Ofelia malah menemukan dongengnya sendiri di labirin tersebut, karena seorang peri membimbingnya untuk menemui Faun atau Pan (Doug Jones), mahluk mitologi setengah manusia setengah kambing. Pan mengatakan bahwa Ofelia adalah titisan seorang putri dan untuk meraih kembali statusnya ia harus menjalani serangkaian tes. Ia harus mematuhi setiap larangan dan arahan dari Pan jika ingin misinya sukses, karena jika tidak ia akan menerima konsekuensinya. Maka dimulailah petualangan Ofelia dalam menemukan jati dirinya. Sementara itu dilingkungan sekitarnya bahaya justru semakin mengincar.
Melalui ‘Pan’s Labyrinth’ atau ‘El Laberinto del Fauno’, Guillermo del Toro menemukan dongengnya sendiri dan memutuskan untuk membaginya dengan orang lain. Melalui film ini Guillermo del Toro seakan menegaskan jika orang dewasa juga membutuhkan dongeng untuk refleksi jiwa mereka. Sebagai pribadi yang dekat dengan atmosfir horror (Cronos, The Devil’s Backbone, Mimic, Blade 2, Hellboy), Guillermo del Toro membalut dongengnya ini dengan aura fantasi horror yang kental dan sedikit surreal. Maka beberapa adegan terasa sangat mistis dan beberapa adegan lain terasa brutal, namun tetap menampilkan aura naratif yang mengesankan sekaligus kontemplatif. Surealisme kemudian hadir sebagai skema dalam menaungi eksistensi cerita yang seperti dongeng namun sekaligus realitis ini. Pendekatan ini terasa sangat pas karena jika kita perhatikan, pada dasarnya sebenarnya dongeng-dongeng yang kita ketahui sebenarnya adalah cerita mengerikan mengenai konsekuensi sebuah pilihan, entah baik atau buruk (contoh kisah ‘Red Shoes’). Tidak jarang cerita tersebut memang tampil dalam format horror yang kental (Red Riding Hood) atau surealisme yang memusingkan (Alice In Wonderland). Namun pada intinya dongeng-dongeng tersebut adalah pengingat akan perlunya kebijaksaanaan dalam hidup karena salah dalam memilih biasanya akan berujung dengan konsekuensi yang berujung maut.
Labirin milik Pan seakan menjadi personifikasi dari ruwetnya kehidupan manusia, sehingga kita memerlukan bimbingan untuk melewatinya dan kemudian akan menemukan identitas diri kita sebenarnya. Tentu saja akan selalu ada pilihan-pilihan dalam bimbingan tersebut, sehingga kita harus meneguhkan diri dan percaya akan diri sendiri untuk mencapai tujuan tanpa harus terpengaruh godaan. Demikianlah petualangan yang dilakukan oleh Ofelia seakan-akan menjadi sebuah alat bantu penguji dirinya sendiri. Ia kemudian belajar untuk tidak hanya mengikuti arahan yang dianjurkan dan harga yang harus dibayar jika melanggarnya namun juga harus mempercayai dirinya sendiri untuk mengetahui mana yang benar dan yang salah. Dengan ini Guillermo del Toro seakan menegaskan eksistensi ‘Pan’s Labyrinth’ sebagai sebuah pesan akan pembelajaran tentang keberadaan diri yang dinarasikan secara menegangkan, menyentuh sekaligus kontemplatif tanpa terkesan menggurui.
March 4th, 2008 at 8:47 pm
aku dah nonton filmnya. keren… tapi kayaknya ada bebereapa adegan kejam yang harus disensor karena nggak cocok untuk anak2.:-)
March 7th, 2008 at 12:56 am
dear rima….
cuma mau gingatin aja kalau fil ini walau berbau dongen-fantasi..tapi sebenarnya bukanlah untuk anak2….:))