Archive for March, 2007

‘JAKARTA UNDERCOVER’: Pemicu Adrenalin Yang Penuh Ketegangan

Wednesday, March 28th, 2007

Produksi: Velvet Films/ reXinema (2007)
Sutradara: Lance
Cast: Luna Maya, Lukman Sardi, Fachri Albar, Christian Sugiono, Laura Antoinetta, Aimee Juliette, Sita Nursanti, Kenshiro Arashi

Genre: Thriller/Drama
Durasi: 100"
Release Date: 22 Maret 2007
My Grade: 3 out 5

Jakarta_under_coverJakarta Undercover adalah sebuah buku hasil investigasi Moammar Emka terhadap liarnya kehidupan malam Jakarta. Melalui buku tersebut mata kita seolah dibukakan akan betapa sudah rusaknya moral segelitir orang yang hidup di bumi ciptaan Tuhan ini, karena mengandalkan nafsu sebagai hiburannya. Disaat terdengar  kabar jika buku tersebut diangkat menjadi sebuah film layar lebar, jelas imajinasi banyak orang terbang liar membayangkan apa saja yang akan tervisualkan nantinya dilayar. Dan disaat kemudian, ‘Jakarta Undercover’ telah hadir menjadi sebuah tontonan, ditengah semarak anti pornografi dan porno-aksi serta iklim penyensoran industri film kita yang kurang kondusif,  justru ‘Jakarta Undercover’ hadir menjadi sebuah thriller menegangkan tentang seorang perempuan muda bernama Viki (Luna Maya) yang terpaksa menyamar menjadi seorang penari striptis banci di sebuah klub yang diperuntukkan untuk kaum gay dan lesbian. Ia mempunyai seorang adik yang menderita autis bernama Ara (Kenshiro Arashi). Dikarenakan hanya hidup berdua saja, Viki terpaksa mengajak sang adik saat tengah bekerja. Viki sendiri mempunya sahabat seorang transeksual yang bernama Amanda (Fachri Albar). Sementara itu, disuatu sudut klub tersebut, seorang pemuda anak pejabat yang gemar berhubungan seks dengan banci bernama Haryo (Lukman Sardi), tanpa sengaja membunuh teman kencannya. Haryo yang saat itu tengah bersama dengan dua orang temannya tentu saja menjadi panik dan memutuskan untuk membuang mayat tersebut. Hanya saja kemudian mereka mengetahui jika ada seseorang diruangan tersebut saat kecelakaan terjadi, yaitu Ara yang ternyata disembunyikan Viki disebuah kabinet dalam ruangan tersebut. Merasa takut identitas mereka akan terbongkar, maka mereka memutuskan untuk mencari Viki dan Ara. Pada mulanya Viki tidak mengetahui apa yang terjadi, sampai Haryo dan teman-temannya menyandera Ara. Setelah bingung memtuskan apa yang harus diperbuatnya, tanpa sengaja ia dan Ara bertemu kembali. Maka dimulailah petualangan Viki dan Ara dalam menghindari bahaya yang mencam mereka.

Skrip ‘Jakarta Undercover’ ditangani oleh Joko Anwar yang sebelumnya sukses dengan ‘Janji Joni’ (2005) dan entah mengapa Joko memakai gaya yang sama untuk film arahan Lance (Cinta Silver) ini. Walau begitu, harus diakui jika Joko Anwar merupakan salah seorang penulis skenario handal dalam negeri ini, karena ia tahu benar apa yang ingin dilakukannya. Film berjalan dengan konsistensi tempo dan intensitas ketegangan yang terjaga, membuat film ini cukup berhasil sebagai sebuah thriller. Dengan memakai struktur thriller yang membutuhkan ketegangan yang konstan ini, maka bolehlah ‘Jakarta Undercover’ dianggap sebagai pionir dalam industri film Indonesia.

Hanya saja, ada beberapa hal yang kemudian mengganjal setelah menyimak cerita dalam film ini. Sebagai misal, betapa faktor kebetulan dan Dewi Fortuna yang selalu berpihak kepada Viki dan Ara sehingga selalu bisa menghindar dari kejaran Haryo dan kumpulannya. Nuansa film yang terlalu mengejar ketegangan juga seakan terlupa dengan perlunya elaborasi terhadap informasi karakter yang lebih mendalam. Skrip hanya mengizinkan kita sebagai penonton untuk mempercayai jika Viki itu mempunyai latar belakang kelam, Ara itu autis atau Haryo itu just an annoying-spoiled-brat atau malah seorang pria dengan gangguan kejiwaan. 

Lukman Sardi sendiri rasanya tampil dengan cukup annoying dalam arti terlalu berlebihan dalam ekpresi dan terasa kurang meyakinkan kekejamannya. Begitu juga dengan aktor-aktor tak terkenal yang menjadi temannya yang rasanya perlu latihan akting lebih intensif untuk dapat menggambarkan karakter sekompleks yang mereka mainkan. Untunglah film ini ada Luna Maya. Kegelisahaan dan ketakutan seorang Viki digambarkan dengan baik. Bahkan lebih luar biasa lagi saat melakukan tarian striptis, hahahaha. Walaupun mungkin tidak akan diganjar dengan penghargaan aktris terbaik, jelas Luna sangat mengusai layar. Sementara itu Fachry Albar yang berperan sebagai seorang transeksual agak sedikit over-the-top  walau harus diakui secara fisik ia tampil dengan sangat meyakinkan.

Tentu saja, sebagai sebuah film yang diangkat dari sebuah buku yang mendeskripsikan tentang kehidupan malam, ‘Jakarta Undercover’  tak ketinggalan dalam menyajikan tentang gemerlap kehidupan malam yang dalam film ini diwakili oleh eksistensi penari striptis di klub Over Lust untuk kalangan elit homoseksual dan Mawar Biru yang lebih ditujukan untuk straigt-laced middle class. Tentu kita tidak bisa mengharapkan penggambaran segamblang bukunya, namun Lance sang sutradara cukup mampu menyiasatinya dengan adegan-adegan yang tetap bisa mengambil esensi buku tanpa harus tampil terlalu vulgar.  Walau begitu, ternyata ‘Jakarta Undercover’ tidak hanya mengekspos gemerlapnya kehidupan malam saja, karena jelas film ini ingin memperlihatkan kerasnya kehidupan Jakarta melalui sudut pandang "petualangan" yang dilakukan oleh Viki dan Ara. Dan rasanya film ini berhasil untuk itu.

Sementara itu, secara kualitas, Lance sebagai pengarah film mampu melampaui film debutnya, ‘Cinta Silver’ (2005), dimana kali ini Lance terlihat lebih paham tentang materi yang dihadapinya dan lumayan berhasil dalam menyusun ketegangan yang memang diharapkan dari film sejenis ini. Walau rasanya ini bukan film yang penting secara artistik, namun diitangannya ‘Jakarta Undercover’ menjadi tayangan popular yang memposisikan sebagai pemacu adrenalin. Dan rasanya film ini cukup sukses dalam mengambil posisinya tersebut.


‘TURISTAS’: Petualangan Berdarah di Eksotisme Brazil

Wednesday, March 28th, 2007

Produksi: Fox Atomic (2006)
Sutradara: Dean Stockwell
Cast: Josh Duhamel, Melissa George, Olivia Wilde, Beau Garret, Desmod Askew, Max Brown, Agles Steib

Genre: Thriller/Horror/Petualangan
Durasi: 102" (unrated)
Release Date: 01 Desember 2006 (USA)
My Grade: 2.5 out 5

TuristasSekelompok turis dari berbagai negara tidak sengaja membentuk kelompok semenjak bus yang mereka naiki mengalami kecelakaan dan mereka menemukan pantai terpencil yang indah. Mereka adalah Alex (Josh Duhamel),  dari Amerika yang sebenarnya enggan bepergian akan tetapi harus menemani sang adik Bea (Olivia Wilde) dan temannya Amy (Beau Garret), gadis pengelana asal Australia, Pru (Melissa George, The Amityville Horror) serta dua orang backpacker Inggris Finn (Desmond Askew) dan Liam (Max Brown). Namun kesenangan mereka di tepi pantai eksotis tersebut harus berakhir karena mereka di rampok. Bahkan ketika bertemu dengan desa terdekat, mereka malah bentrok dengan penduduk setempat karena seorang anak kecil yang tidak sengaja dilukai oleh Liam. Untunglah, Kiko (Agles Steib) penduduk lokal yang mereka temui sebelumnya mau mengantarkan mereka untuk mencari tempat yang aman, tepatnya sebuah rumah di dalam. Setelah melakukan perjalanan selama 10 jam, akhirnya mereka tiba juga. Namun sebelumnya Kiko mengajak kedelapan turis tersebut bersenang-senang di sebuah air terjun. Entah kenapa, kemudian Kiko malah mengajak mereka kembali kedesa daripada melanjutkan perjalanan menuju rumah yang diakui milik pamanya tersebut, namun sebuah kecelakaan yang mencederai Kiko menyebabkan mereka pada akhirnya tetap memasuki rumah tersebut. Tanpa mereka sadari, sebuah rencana jahat telah disusun dan nyawa mereka menjadi incaranya.

Turistas diarahkan oleh Dean Stockwell, yang karya-karyanya terdahulu lekat dengan petulangan bernuansa lautan (Blue Crush, Into The Blue). Maka kali ini ia pun sepertinya tidak ingin melepaskan trademark-nya tersebut. Hanya saja kai ini bukan lautan yang menjadi latar belakang dalam thriller terbarunya ini melainkan kepekatan hutan Brazil, walau adegan-adegan yang berlangsung dibawah air tetap ada ditemui dalam film ini. Rasanya jika sudah pernah menyimak film-film Dean Stockwell sebelumnya akan menemui formula yang sama disini, pengenalan karakter, pengambaran petualangan yang mengasyikan dan kemudian konflik. Kurang lebih demikian pakem dalam ‘Turistas’ ini. Hanya saja, berbeda dengan film-film sebelumnya, disini tingkat kekerasan dan seksualitas dalam ‘Turistas’ dinaikkan beberapa derajat, sehingga film ini bisa digolongkan dalam gore-movies yang sedang beken akhir-akhir ini.

Hal yang cukup mengganggu adalah penggambaran karakter-karakter pria utama di film ini yang begitu berlebihan karena dibandingkan karakter-karakter perempuan yang lebih kalem, maka pria-pria dalam film ini tampil dengan sangat cerewet dan selalu meributkan banyak hal, sehingga rasanya kita tidak keberatan jika mereka menemui ajal secara menggenaskan. Karakter-karakter yang terlalu biasa inilah yang menyebabkan ‘Turistas’ kurang greget dalam tampilan akhirnya,

Sementara itu, kemiripan dengan ‘Hostel’ (2006) karya Eli Roth mau tidak mau menjadi perbincangan, karena ‘Turistas’ memakai formula yang sama. Yang membedakan disini adalah motivasi sang villain dan intensitas ketegangan serta voltase kesadisan yang jauh berbeda. Saya berani bilang, sebagai film horor, maka ‘Turistas’ adalah film yang gagal karena konsistensi kengerian yang kurang terjaga dan adegan-adegan gore dalam film ini walau menggiriskan namun tidak sampai memualkan. Namun, sebagai sebuah thriller petualangan rasanya cukup berhasil karena Dean Stockwell cukup memuaskan dalam meramu adegan-adegan penuh ketegangan dalam film ini.


‘300′: Epik Fantasi yang Tervisualkan Secara Gemilang

Monday, March 26th, 2007

Produksi: Warner Bross (2007)
Sutradara: Zack Snyder
Cast: Gerard Butler, Lena Headey, Rodrigo Santoro, David Wenham, Dominic West

Genre: Drama/Aksi/Petualangan
Durasi: 117"
Release Date: 09 Maret 2007 (USA)
My Grade: 4 out 5

300_1

‘Sin City’ (2005) karya Robert Rodriguez (Desperado) dianggap sebagai karya yang ground-breaking karena dengan berani mengangkat panel-panel gambar dalam novel grafis karya Frank Miller tersebut secara utuh kedalam layar sinema, sehingga kita seolah-olah tengah menyaksikan gambar komik yang menjadi hidup. Kini, Zack Snyder (Dawn of the Dead) memutuskan untuk mengambil gaya yang serupa saat ia mengangkat novel grafis Frank Miller lainnya, ‘300′.

Berdasarkan peritistiwa dan karakter yang nyata pernah ada, Frank Miller menjadikan ‘300′ sebagai salah satu karya emasnya. Melukiskan kegagahan Leonidas, raja Sparta beserta 300 satria pilihan dalam mengadang jalan invasi Xerxes, raja Persia, dilembah Thermophylae yang berada di tepi lautan Adriatik. Frank Miller dengan daya imajinasinya yang luar biasa menjadikan ‘300′ sebagai sebuah mitologi yang menggetarkan. Secara historis mungkin kurang akurat, tapi Frank Miller meleburkan epos kepahlawanan tersebut dalam visinya yang ekletik sehingga ‘300′ hadir bak kisah kepahlawanan yang fantastis dan mendebarkan.

Kemudian, ketika Zack Snyder memutuskan untuk meng-audio-visualkan komik tersebut, maka hasilnya adalah seperti menyaksikan sebuah lukisan cat minyak yang menjadi hidup. Penuh dengan warna yang artistik sekaligus memakai sudut pandang yang jenial dan impresif. Apalagi dengan detil-detil properti yang tereksplorasi dengan teliti, menjadikan ‘300′ seperti sebuah tayangan yang memanjakan mata. Hanya saja, walau dari segi grafis film ini tampil dengan luar biasa, akan tetapi pengaruh dari film-film epik yang ada sebelumnya terasa kental sekali. Sebut saja ‘Lord of the Ring’, ‘Gladiator’, ‘Troy’, ‘Hero’ sampai ‘The Matrix’, sehingga kita seolah mengalami déjàvu saat menyaksikan beberapa bagian dalam adegan di film ini.

‘300′ adalah epik swords-and-sandals, sehingga kita mengharapkan plot dalam ‘300′ akan mengalir secara megah dan penuh dengan lika-liku, namun ternyata ‘300′ mengambil jalan yang berbeda, karena cerita dalam film ini tampil dengan lebih sederhana dan mudah dipahami. ‘300′ seakan ingin memfokuskan pada visual yang menakjubkan sekaligus mengesankan dan tugas ini berhasil dilakukan dengan baik oleh ‘300′. Namun, bukan berarti jalan cerita dikesampingkan begitu saja oleh film ini, karena walaupun sederhana, namun kisah dramatis Leonidas (Gerard Butler) dalam memimpin 300 ksatrianya serta dilema yang dihadapi sang Ratu, Gorgo (Lena Headey) sepeninggal Leonidas tetap menarik untuk diikuti.

‘300′ mungkin bukan dimaksudkan sebagai epik yang menantang secara realisme, namun ia dimaksudkan sebagai persembahan sinema yang kuat dari segi artistik. Tujuan utamanya adalah menghibur dan ‘300′ sangat berhasil dalam menjalankan misinya.


‘BLACK CHRISTMAS’: What a Bloody X-Mas!

Monday, March 26th, 2007

Produksi: Dimension Films (2006)
Sutradara: Glen Morgan
Cast: Katie Cassidy, Michelle Trachtenberg, Kristen Cloke, Crystal Lowe, Lacey Chabert, Mary Elizabeth Winstead, Oliver Hudson, Andrea Martin, Jessica Harmon, Leela Savasta, Kathleen Kole

Genre: Thriller/Horror
Durasi: 84"
Release Date: 25 Desember 2006 (USA)
My Grade: 2.5 out 5

Black_christmas_1
‘Halloween’ (1978) dianggap sebagai peletak dasar sub-genre slasher dalam aliran horor kontemporer. Banyak film slasher yang beredar selama beberapa dekade terakhir ini dikenal mempunyai formula yang mengacu pada film tersebut. Namun ternyata beberapa tahun sebelumnya, tepatnya pada tahun 1974, telah ada ‘Black Christmas’ yang sama halnya dengan ‘Halloween’ mengambil hari perayaan sebagai pilar ceritanya. Kini, di tahun 2006, film cult yang telah dianggap klasik tersebut direka ulang oleh Glen Morgan, orang yang turut membidani ‘Final Destination’ (2000) dan juga merupakan salah seorang penulis dari serial ‘The X-Files’.

Dengan memakai judul ‘Black Christmas’, seakan-akan film ini ingin menggambarkan malapetaka bisa terjadi kapan saja, termasuk di hari natal. Demikianlah, menjelang natal, badai salju turun dengan lebatnya, sehingga Kelli (Katie Cassidy, When Stranger Call), Heather (Mary Elizabeth WInstead, Final Destination 3), Dana (Lacey Chabert, Mean Girls), Mellisa (Michelle Trachtenberg, The Ice Princess), Lauren (Crystal Lowe, Final Destinantion 3), Megan (Jessica Harmon), Clair (Leela Savasta), Eve (Kathleen Kole) dan Ny. Mac (Andrea Martin, Black Christmas-1974) adalah yang tersisa di sebuah rumah perkumpulan persaudaan mahasiswi Alpha Kappa.

Sudah menjadi kebiasaan untuk saling bertukar kado di hari natal, hanya saja asrama Alpha Kappa tersebut mempunyai tradisi yang berbeda, karena setiap tahun mereka menyediakan kado untuk Billy Lenz, pria yang dulu menempati rumah tersebut. Hanya saja kini Billy mendekam di sebuah sanitarium karena telah membunuh ibu dan ayah tirinya serta melukai adiknya Agnes. Tanpa disadari oleh mereka, setelah 15 tahun, tragedi seakan berulang dirumah tersebut dan satu persatu mereka kemudian menemui ajalnya secara menggenaskan ditangan penyusup yang tak mereka ketahui keberadaannya.

Glen Morgan mungkin memang sangat tertarik dengan karakter-karakter yang menantang secara psikologis, karena setelah ‘Willard’ (2003) yang juga hasil re-make, ia memutuskan untuk mereka ulang kisah horor dengan sang psikopat yang mempunyai latar belakang menggiriskan. Hal ini dilakukannya dengan mengelaborasi latar belakang psikologis karakter Billy dengan cukup mendalam sebagai pengantar cerita, sesuatu yang jarang dilakukan di ranah horor ini. Hanya saja, hal tersebut kemudian hanya menjadi "bunga cerita" belaka, karena dalam perkembangannya film tidak mengizinkan adanya perkembangan karakter yang lebih signifikan, sehingga "kerepotan" yang telah dibangun sebelumnya menjadi mentah. Selanjutnya ‘Black Christmas’ menjadi film slasher yang jenerik dengan formula yang sangat tipikal untuk jenis ini dan adegan-adegan selanjutnya menjadi gampang tertebak sehingga menyebabkan film ini kehilangan greget dalam unsur suspensnya. Apalagi, adegan-adegan pembunuhannya hanya mengandalkan kesadisan tanpa ada upaya menggali teknik pembunuhan yang kreatif atau inventif.

Walau begitu, bagi yang menggemari film jenis ini, ‘Black Christmas’ tampil cukup menghibur karena film berjalan dengan tempo yang konsisten dan tidak membosankan. Apalagi film ini mengambil struktur "murder-mistery" dalam pengembangan plotnya, sehingga bagi yang senang menebak-nebak tentu senang mengikuti jalan ceritanya. Belum lagi, karakter-karakter yang mayoritas perempuan cantik ini menjadi penyedap dalam menambah keasyikan dalam memandangi layar. Hanya saja, karena faktor jenerik tadi, maka ‘Black Christmas’ tidak menjadi lebih baik dari versi aslinya, walau juga tidak lebih jelek.


‘BLOOD DIAMOND’: Drama, Aksi, Petualangan dalam Politik Kesadaran Sosial

Sunday, March 25th, 2007

Produksi: Warner Bross (2006)
Sutradara: Edward Zwick
Cast: Leonardo DiCaprio, Djimon Hounsou, Jennifer Connely

Genre: Drama/Aksi/Petualangan
Durasi:  143"
Release Date: 15 Desember 2006 (USA)
My Grade: 4 out 5

Blood_diamond_1
Di tahun 1999, Solomon Vandy (Djimon Hounsou, Constantine) adalah seorang nelayan biasa di daerah pedesaan Sierra Leone, Afrika. Namun konflik yang berkepanjangan telah memisahkan dirinya dengan anak istrinya. Sementara itu, Danny Archer (Leonardo DiCaprio, The Departed) adalah pria kulit putih Afrika Selatan yang berprofesi sebagai penyelundup intan. Nasib mempertemukan mereka, karena Danny mengetahui jika Solomon yang pernah bekerja disebuah tambang, telah menemukan sebuah intan bewarna merah jambu yang langka. Danny mengajak Solomon untuk kembali ketambang dan mengambil intan tersebut dengan imbalan akan mempertemukan Solomon dengan keluarganya. Mau tidak mau, maka Solomon pun bersedia. Dengan bantuan wartawan Amerika, Maddy Bowen (Jennifer Connely, Dark Water), maka dimulailah petualangan yang bisa mengancam nyawa mereka setiap saat. Sementara itu, ditempat lain, anak laki-laki Solomon telah direkrut oleh kelompok pemberontak untuk menjadi seorang tentara anak!

Melihat plot film ini, maka yang terbayangkan sebelum menyaksikan secara utuh adalah sebuah film aksi-petualangan yang seru mendebarkan. Tidak salah memang, karena ‘Blood Diamond’ mengandung unsur tersebut, namun dalam pengembangan ceritanya, film tidak hanya berjalan dalam mode aksi, melainkan juga drama yang kental unsur isu sosialnya.

‘Blood Diamond’ seakan menegaskan bahwa tidak semua intan yang beredar di pasaran tersebut datang ‘secara damai’ karena bisa saja intan yang Anda pakai adalah hasil darah seseorang yang tertumpah. Intan-intan yang berasal dari daerah konflik diharapkan tidak menjadi komoditi dalam perputaran uang dalam bisnis batu permata.

Selain itu, ‘Blood Diamond’ juga mendeskripsikan tentang situasi sosial-politik yang terjadi dikalangan masyarakat Afrika pada saat itu, terutama Sierra Leone yang penuh dengan konflik yang pada akhirnya berimbas dalam perkembangan psikologis anggota masyarakatnya, termasuk anak-anak yang direkrut menjadi tentara anak. Belum lagi bumbu-bumbu romansa antara Danny Archer dengan Maddy Bowen.

Dengan adanya multi konflik didalam pengembangan film, Edward Zwick (The Last Samurai) seakan menginginkan filmnya tidak hanya melulu soal intan-daerah-konflik saja, akan tetapi juga ingin bercerita tentang imbasnya terhadap pihak-pihak yang terlibat. Dengan ini durasi film menjadi cukup panjang sehingga terkadang melelahkan penonton, apalagi tidak semua sub-plot menyatu dengan mulus dengan keseluruhan cerita.

Namun, terlepas dari itu ‘Blood Diamond’ adalah film yang mencoba merefleksikan kenyataan yang ada dan ia cukup berhasil untuk itu. Edward Zwick cukup piawai dalam mengeksekusi adegan aksi, petualangan dan drama-nya, sehingga ‘Blood Diamond’ tampil dengan cukup meyakinkan sebagai sebuah tontonan yang sekaligus membawa pesan. Apalagi film ini didukung oleh kekuatan akting Leonardo DiCaprio dan Djimon Hounsou yang solid. Setelah mengusung akses Boston dalam ‘The Departed’ (2006), maka kini Leonardo tampil cukup meyakinkan sebagai seorang pria 30-an dengan akses Afrika Selatan yang kental dengan kepribadian yang sukar ditebak, sementara Djimon Hounsou sendiri berhasil mengekspresikan kegundahan yang dirasakannya secara nyata. Jennifer Connely sendiri tampil dengan cukup baik, namun dengan adanya duet DiCaprio dan Hounsou tadi, ia seakan termarginalkan.


‘KEKEXILI:MOUNTAIN PATROL’: Idealisme dalam Tantangan

Sunday, March 25th, 2007

Produksi: Columbia Pictures  (2004)
Sutradara: Lu Chuan
Cast: Duo Bujie, Lei Zhang, Liang Qi, Zhao Xueying

Genre: Drama
Durasi:  85"
Release Date: 01 Oktober 2004 (China)
My Grade: 4 out 5

Mountain_patrol
Berdasarkan kisah nyata, ‘Kekexili: Mountain Patrol’ mengisahkan tentang sekumpulan pria yang tergabung dalam sebuah kelompok patroli “tidak-resmi” yang walaupun hidup dalam kehidupan pekerjaan yang kurang kondusif, namun mereka tetap dengan giat berupaya dalam menghalau keberadaan para pemburu spesis Antelop Tibet yang nyaris musnah didataran tinggi Kekexili, Tibet.

Seorang wartawan dari Beijing, Ga Yu (Lei Zhang) ditugaskan untuk meliput kegiatan para petugas patroli yang dipimpin oleh Ri Tai (Duo Bujie). Maka kemudian, Ga Yu mengikuti Ri Tai yang kharismatis ini menyusuri Kekexili dalam upaya menangkap gerombolan pemburu liar. Maka dimulailah petualangan yang mendebarkan sekaligus membuka mata Ga Yu akan nasib menggiriskan para petugas patroli ini.

Sutradara Lu Chuan dengan luar biasa mampu menangkap lanskap Kekexili yang mengagumkan sebagai “panggung” bagi para karakter yang ada dalam film yang berjalan dengan balutan semi-dokumenter ini. Kekexili digambarkan sebagai tempat yang indah namun sekaligus menyimpan potensi bahaya laten yang besar. Sebagai sebuah film China yang berseting di Tibet, dengan mudah kita akan menafsirkan film ini sebagai sebuah propaganda ideologi politik yang ekstrim. Namun, skenario yang juga ditangani oleh Lu Chuan tampaknya tidak mempunyai pretensi untuk itu, dan rasanya metafora yang tersimpan dalam kisah film ini mengandung ambiguitas yang cukup kental.

Yang paling menarik justru adalah bagaimana film ini menggambarkan para petugas patroli ini begitu “rela” mengerjakan pekerjaan mereka dengan unsur idealisme yang kadang bertabrakan. Walau begitu, tekad mereka untuk melindungi anteleop-antelop Tibet ini begitu kuat, hingga mengorbankan kehidupan pribadi mereka. 

‘Kekexili: Mountain Patrol’ bisa dikatakan sebagai film yang membangun “social awareness” dan membuka mata kita akan eksistensi pemburu gelap dibalik keindahan jaket bulu yang menjadi asset kapitalisme dalam perdagangan kemewahan dan gaya hidup.


‘METROSEXUAL’ : Komedi dalam Praduga dan Stigma

Friday, March 16th, 2007

Produksi: GMM HUB (2006)
Sutradara: Yongyooth Thongkongtoon
Cast: Thianchai Chaisawatdee, Meesuk Jaengmeesuk, Patcharasri Benjamas, Ornpreeya Hunsat, Pimolwan Suphayang, Kulnadda Pajchimsawat, Michael Shaowanasai

Genre: Drama/Komedi
Durasi: 117"
Release Date: 13 July 2006 (Thailand)
My Grade: 3 out 5

Metrosexual_2 Metroseksual adalah istilah untuk menggambarkan pria dengan tanpa membedakan orientasi seksualnya yang mengabiskan banyak waktu dan uang demi penampilan dan gayahidupnya. Ia dengan fasihnya mengerti dan mengaplikasikan selera zaman dalam kehidupannya. Saat ini fenomena pria-pria metroseksual bukanlah hal yang tak lazim lagi. Disekitar kita, terutama di perkotaan besar, banyak terdapat disekitar kita. Tapi, terlepas dari masalah orientasi seksual tadi, banyak orang yang menstigmakan jika pria-pria metroseksual ini adalah bagian dari laki-laki homoseksual. Hal ini tentu saja tidak bisa disalahkan, karena hanya kalangan laki-laki ini yang bisa menandingi kaum perempuan dalam hal trend gaya hidup mutakhir.

Fenomena inilah yang kemudian diangkat oleh sutradara Yongyooth Thongkongtoon,yang sebelumnya telah menyutradarai film hit ‘The Iron Ladies‘ (2000). ‘Metrosexual’ atau ‘Gang chanee gap ee-aep’ merupakan sebuah investigasi terhadap karakteristik dan orientasi seorang pria metroseksual. Dalam balutan komedi romantis yang menggemaskan, ‘Metrosexual’ mencoba mengungkap tabir ini melalui lika-liku penyelidikan empat orang perempuan; Pom (Patcharasri Benjamas), seorang reporter untuk sebuah majalah perempuan, Nim (Ornpreeya Hunsat), seorang operator/konselor telepon-hotline disfungsi seksual, Fyne (Pimolwan Suphayang), pemilik salon yang cerewet dan Pat (Kulnadda Pajchimsawat) yang bertunangan dengan seorang Jepang, terhadap Kong (Thianchai Chaisawatdee), kekasih teman mereka Pang (Meesuk Jaengmeesuk). Wajar saja mereka curiga, karena Kong yang parlente ini terlihat sangat sempurna-baik hati, pengertian, lemah lembut, pintar masak, fasih mode dan sangat mengetahui banyak hal yang justru mereka sebagai perempuan tidak tahu. Mereka maklum akan prilaku metrokseksual yang tengah merebak dikalangan pria kontemporer. Akan tetapi bagaimana jika ternyata Kong tidak hanya sekedar seorang pria metroseksual, melainkan juga seorang pria gay? Maka masa depan Pang, teman mereka yang sangat mereka sayangi, menjadi taruhannya.

Sebagai sebuah komedi, ‘Metrosexual’ cukup berhasil dengan adegan-adegan dan dialog yang menggelitik. Terkadang terkesan komikal namun disisi lain malah terlihat humanis. Tentu saja, sebagai sebuah komedi romantis, melodrama merupakan unsur yang tak terlepaskan, terutama menjelang akhir cerita. Inilah yang menyebabkan ‘Metrosexual’ terjebak dalam ending yang cukup klise. Namun, terlepas dari hal tersebut, Yongyooth Thongkongtoon lumayan berhasil dalam memainkan emosi cerita. Apalagi, film ini juga mempunyai subplot-subplot tentang sahabat-sahabat Pang dalam menghadapi masalah asmara masing-masing dan yang menyenangkannya adalah subplot tersebut tampil dengan tidak mengganggu jalannya cerita secara keseluruhan.

Hanya saja, sebagai sebuah karakter studi, ‘Metrosekual’ tampil datar saja, tanpa penggalian yang lebih mendalam. Konteks metroseksual hanya menjadi alat bantu untuk dramatisasi dari konflik dalam romansa yang coba diceritakan dalam film ini. Jika ingin mengharapkan sebuah elaborasi yang lebih signifikan mengenai prilaku gaya hidup ini, maka itu bukan inti utama dari film ini. Walau begitu, identifikasi terhadap pria yang homoseksual yang dilakukan oleh karakter gay yang bernama Bee (Michael Shaowanasai) di dalam film ini cukup informatif, walau rasa-rasanya kebenarannya perlu untuk diverifikasi ulang. 


‘NEAL N’ NIKKI’: So Corny That is Sweet!

Friday, March 16th, 2007

Produksi: YashRaj Films Films (2005)
Sutradara: Arjun Sablok
Cast: Uday Chopra, Tanisha Mukherjee

Genre: Drama/Komedi
Durasi: 122"
Release Date: 09 Desember 2005 (India)
My Grade: 3 out 5

Neal_nnikki_2 Neal (Uday Chopra) adalah seorang pemuda India-Canada yang berniat selama perjalanan 21 hari-nya di Vancouver hanya akan bersenang-senang dengan bertemu banyak perempuan. Tekad dalam hatinya adalah "making-out" dengan sebanyak perempuan yang bisa ia temui, karena selepas 21 hari ia hendak dijodohkan dengan seorang perempuan pilihan orangtuanya. Sayangnya, setiap ia hendak melepas "hajatnya’ seorang gadis yang semi-alkoholik bernama Niki (Tanisha Mukherjee) selalu menginterupsi. Walau kesal, namun akhirnya Neal malah menyetujui ajakan Nikki untuk menyusul mantan pacar Nikki yang seorang model. Maksud hati ingin memanas-manasi sang mantan pacar, Neal dan Nikki malah menunjukkan rasa saling suka. Namun, arogansi masing-masing mengalahkan perasaan, bahkan ketika sampai mereka malah telah tidur bersama! Tidak terasa, waktu 21 hari Neal hampir habis dan ia pun harus menjalani "kewajiban"-nya. Namun, akankah arogansi mengalahkan cinta? Rasanya jawaban untuk film sejenis ini sudah bisa ketebak dengan mudahnya.

Klise dan gampang ditebak rasanya merupakan gambaran umum dari komedi romantis karya Arjun Sablok ini (Na Tum Jaano Na Hum-2002). Namun, berbeda dengan karya sebelumnya, Sablok kini menyajikan film dengan tempo yang sangat dinamis dan meninggalkan formula tipikal Bollywood biasanya. Film tampil dengan semangat ultra-moderen dan dengan penggambaran karakter yang liberal dan trendy pula. Tampaknya, film-film Bollywood masa kini lebih menyenangi tema-tema yang lebih universal dengan penggambaran situasi dan karakter yang lebih kontemporer. Lagu dan tari tetap mewarnai jalannya cerita, namun dengan durasi yang ‘hanya’ dua jam (tidak umum untuk film Bollywood), rasanya film menjadi lebih ringkas dan tidak bertele.

‘Neal N’ Nikki’ sebenarnya adalah film yang dangkal dengan karakter yang dangkal pula. Tapi anehnya, film ini hadir dengan sangat memikat dan berhasil membuat kita ingin tetap duduk manis dan menantikan ending yang predictable tadi. Penampilan Uday Chopra dan Tanisha Mukherjee yang medioker itu sendiri ternyata berhasil padu dengan jalannya film. Rasanya, ‘Neal N’ Nikki’ memang hadir untuk menghibur tanpa pretensi menjadi sebuah propaganda moralitas dan filosofi. Ia hadir murni hanya untuk menghibur dan ia berhasil mencapai tujuannya. 


‘THE NIGHT LISTENER’: Thriller Tentang Sisi Buram Manusia

Tuesday, March 13th, 2007

Produksi: Miramax Films (2006)
Sutradara: Patrick Stettner
Cast: Robin Williams, Toni Collete, Sandra Oh, Rory Culkin, Bobby Cannavale, Joe Morton

Genre: Drama/Thriller
Durasi: 82"
Release Date: 04 Agustus 2006 (USA)
My Grade: 3 out 5

Night_listener
‘The Night Listener’ adalah film kesekian kali dari Robin Williams yang bernuansa gelap. Upayanya dalam memvariasikan genre dari yang biasa ia lakoni (komedi) terkadang berhasil namun terkadang juga tampil dengan tidak meyakinkan. Bagi saya The Night Listener termasuk yang cukup berhasil.

Gabriel Noone (Robin Williams) adalah seorang penyiar radio di sebuah acara tengah malam. Suatu ketika ia mendapat sebuah naskah yang memukau yang menurut Ashe (Joe Morton) sahabatnya merupakan karya seorang remaja berusia 14 tahun bernama Pete (Rory Culkin), yang juga merupakan penggemar Gabriel. Pete adalah korban pedofelia orangtuanya sendiri yang mengakibatkan ia menderita AIDS. Kini ia tinggal bersama ibu angkatnya yang bernama Donna (Toni Collete) di daerah Wisconsin. Maka dimulailah persahabatan antara Gabriel bersama Pete dan Donna, sampai suatu hari mantan pacar Gabriel, Jess (Bobby Cannavale) mengatakan jika suara Pete dan Donna adalah orang yang sama, karena memiliki kemiripan nada. Walau Gabriel tidak mau mempercayai jika Pete dan Donna adalah orang yang sama, namun dengan bantuan temannya Anna (Sandra Oh), ia memulai pencarian mengenai asal-usul Pete dan Donna yang hasilnya justru semakin menimbulkan kecurigaan. Maka, nekad Gabriel berangkat ke Wisconsin untuk menemui Donna. Pada akhirnya ia memang menemui Donna yang ternyata buta. Namun, bagaimana dengan Pete? Apakah dia benar-benar karakter yang nyata?

Konon, ‘The Night Listener’ yang diangkat oleh Novel karya Armistead Maupin ini terinpirasi dari pengalaman nyata yang dialami oleh Armistead sendiri. Kini, bersama dengan Terry Gillian yang merupakan partnernya di dunia nyata, mereka mengangkat novel tersebut dalam bentuk naskah film yang kemudian disutradarai oleh Patrick Stettner. Robin Williams turut bergabung karena merasa tertarik dengan ide ceritanya. Maka kerjasama mereka menghasilkan sebuah thriller kecil yang memikat dari awal hingga akhir.

‘The Night Listener’ mengangkat sisi psikologis dari karakter yang terisolasi dari dunianya dan kemudian memaparkannya dalam realitas yang cenderung buram dan terkadang menggelisahkan. Film berjalan dengan tempo yang cukup cepat, sehingga tidak terasa film sudah mencapai akhirnya, sehingga terkadang kita sebagai penonton merasa emosi dari film kurang terelaborasi. Mungkin pilihan Patrick Stettner mengambil tempo yang cepat adalah untuk menghindari kebosanan penonton pada tema yang cenderung berat ini (Kabarnya, untuk versi Festival Film Sundance, durasinya lebih panjang, yaitu sekitar 91 menit. Bandingkan dengan versi theatrikalnya yang hanya 82 menit. Berarti ada cukup banyak adegan yang dihilangkan). Padahal materi yang ditanganinya tampil dengan cukup jenial dengan tingkat monotonisme yang cukup rendah. Walaupun begitu sebagai sebuah thriller, struktur cerita sebenarnya cukup sederhana apalagi dengan plot-twist yang gampang tertebak. Mungkin disebabkan oleh karena film ini lebih menekankan pada unsur drama daripada lika-liku cerita?

Terlepas dari itu, ‘The Night Listener’adalah sebuah film yang menghibur sekaligus memberi signifikansi yang relevan bagi pencerahan jiwa (imho lho?). Apalagi didukung dengan jajaran pemain dengan kualitas akting prima, maka ‘The Night Listener’ adalah pilihan wajib bagi pengggemar thriller atau drama psikologis.


‘LEWAT TENGAH MALAM’: Pseudo-Horror Yang Memusingkan

Monday, March 12th, 2007

Produksi: Maxima Pictures (2007)
Sutradara: Koya Pagayo
Cast: Joanna Alexandra, Cathrine Wilson, Andhika Pratama, Ichi Nuraini, Krisna Murti Wibowo, Fenita Jayanti

Genre: Horror/Drama
Durasi: 80"
Release Date: 08 Maret 2007
My Grade: 1.5 out 5

Lewat_tengah_malam_1"Mereka Ada di Sekitar Kita Lewat Tengah Malam"

Tampaknya bagi Koya Pagayo (12:00 AM, Hantu Jeruk Purut) batas antara "terinspirasi" dan "plagiarisme" dalam membuat film-filmnya sangat tipis sekali bahkan berbaur dengan pekat, sehingga susah membedakannya, Akibatnya film-film yang Koya Pagayo hasilkan adalah film-film pseudo-horror yang ultra-generik, tipikal dan acak-acakan, termasuk untuk karya terbarunya, ‘Lewat Tengah Malam’. Mengapa saya sebut acak-acakan? Oke, mari kita lihat sinopsisnya:

Sejak Tara (Cathrine Wilson)  bersama putri tunggalnya, Alice (Joanna Alexandra) pindah ke sebuah apartemen, banyak kejadian menyeramkan terjadi. Alice mencoba mengatakan pada Tara, namun Tara tak mempercayainya. Bagi Tara, semua itu ilusi Alice belaka. Satu-satunya tempat untuk Alice berkeluh kesah, hanyalah Ramon (Andhika Pratama) –  teman sekolahnya. Ramon percaya apa yang dirasakan Alice dan membantunya mengungkap misteri ini. Ketika semua terungkap, Alice harus menghadapi kenyataan: bahwa sesungguhnya dirinyalah sosok arwah tersebut! Dalam 7 hari, Ramon mengetahui tentang siapa Alice yang sebenarnya. Namun rasa sayangnya terhadap Alice, membuat Ramon bersikap seolah Alice masih ada…Apa yang akan dilakukan Alice setelah mengetahui semua ini? Dan, bagaimana dengan Tara – ibunya, menghadapi kenyataan ini? Mengapa dan siapa yang telah merenggut hidup Alice? (sumber: http://lewattengahmalam.maxima.ws)

Terlepas dari sinopsis yang spoiler berat, namun sepertinya ‘Lewat Tengah Malam’ akan menjanjikan sebuah horror psikologis yang menegangkan. Tapi percayalah bukan itu yang terpampang di layar bioskop! ‘Lewat Tengah Malam’ seperti kumpulan beberapa cerita yang sepertinya tidak saling berkaitan yang ternyata kita ketahui memang tidak berkaitan sama sekali setelah kita menyelesaikan menonton film ini. Sebagai contoh, selain dari plot yang telah disebutkan sebelumnya, ada juga subplot mengenai pacar Ramon (Andhika Pratama, D’Girlz Begin) yang diperankan oleh Ichi Nuraini (Mirror). Pada awal-awal kisah entah bagaimana dia dihantui oleh sosok hantu remaja perempuan, namun setelah akhir tidak ada penjelasan lagi tentang kelanjutan kisahnya. Begitu juga dengan subplot mengenai ayah Alice (Krisna Murti Wibowo) yang sepertinya adalah benang merah dari cerita ini namun setelah dipenghujung cerita tak lain hanya merupakan ‘bumbu-bumbu’ penyemarak cerita begitu juga dengan penampakan hantu perempuan yang mengganggu ketenangan Alice (Joanna Alexandra, Catatan Akhir Sekolah) dan membuat friksi dengan ibunya, Tara (Cathrine Wilson, Cinta Silver). Belum lagi berbagai ketidakjelasan dan inkoherensi (apalagi pengabaian logika) dalam cerita yang ditulis oleh Ery Sofid (12:00 AM, Hantu Jeruk Purut) membuat pusing kepala para penontonnya.

Durasi film tidak sampai 90 menit, tapi rasanya film sudah berjalan dengan panjangnya dan terlalu banyak yang ingin diceritakan oleh film ini. Namun  film berjalan dengan amat-sangat-tidak-cerdas dengan tumpang tindihnya berbagai sub-plot dan belum lagi penampakan hantu yang terlalu dibuat-buat untuk kepentingan horror semata sementara esensi cerita sebenarnya bisa sangat menyentuh baik dari segi dramatis maupun psikiologis. Sayangnya, Koya Pagayo sudah terlanjur cinta mati dengan gaya horror yang tidak inovatif yang biasa ia tampilkan daripada mengekplorasi sisi gelap dari plot yang sebenarnya cukup menarik tersebut. Seperti saya sebutkan diatas, batas antara ‘terinspirasi’ dan ‘plagiarisme’ sangat tipis bagi Koya Pagayo, sehingga ia tidak berani untuk memulai menciptakan gayanya sendiri, sehingga lebih percaya diri untuk mencatut gaya yang sudah terlanjur mapan. Hasilnya, sebuah film yang tidak konsisten sama sekali dan sungguh membuat kesal setelah menontonnya karena menderita migrain setelah keluar dari bioskop.

Saya akui kalau Koya Pagayo sangat perduli dengan style. Saya suka sekali adegan diawal film yang berbarengan dengan credit-title. Namun, semua orang juga tahu, (kecuali Koya Pagayo) kalau penceritaan itu lebih penting!

Judul awal dari film ini adalah ‘Alice Tidak Tinggal Disini Lagi’ yang mengingatkan akan ‘Alice Doesn’t Live Here Anymore’ karya Martin Scorsese di tahun 1974. Mungkin mengingat heboh-heboh plagiarisme yang ditimbulkan ‘Ekskul’ karya alter-egonya, Nayato Fio-Nuola, (Btw, yang mana alter-ego, yang mana karakter asli?), maka judul diubah menjadi ‘Lewat Tengah Malam’ yang lebih menjual. Sayangnya, sama dengan filmnya yang tidak jelas juntrungannya itu, isi cerita dengan judul film beserta tagline di poster, sama sekali tidak ada hubungannya! Padahal jelas judul awal lebih mewakili isi cerita lho?