‘JAKARTA UNDERCOVER’: Pemicu Adrenalin Yang Penuh Ketegangan
Wednesday, March 28th, 2007Sutradara: Lance
Durasi: 100"
Release Date: 22 Maret 2007
Jakarta Undercover adalah sebuah buku hasil investigasi Moammar Emka terhadap liarnya kehidupan malam Jakarta. Melalui buku tersebut mata kita seolah dibukakan akan betapa sudah rusaknya moral segelitir orang yang hidup di bumi ciptaan Tuhan ini, karena mengandalkan nafsu sebagai hiburannya. Disaat terdengar kabar jika buku tersebut diangkat menjadi sebuah film layar lebar, jelas imajinasi banyak orang terbang liar membayangkan apa saja yang akan tervisualkan nantinya dilayar. Dan disaat kemudian, ‘Jakarta Undercover’ telah hadir menjadi sebuah tontonan, ditengah semarak anti pornografi dan porno-aksi serta iklim penyensoran industri film kita yang kurang kondusif, justru ‘Jakarta Undercover’ hadir menjadi sebuah thriller menegangkan tentang seorang perempuan muda bernama Viki (Luna Maya) yang terpaksa menyamar menjadi seorang penari striptis banci di sebuah klub yang diperuntukkan untuk kaum gay dan lesbian. Ia mempunyai seorang adik yang menderita autis bernama Ara (Kenshiro Arashi). Dikarenakan hanya hidup berdua saja, Viki terpaksa mengajak sang adik saat tengah bekerja. Viki sendiri mempunya sahabat seorang transeksual yang bernama Amanda (Fachri Albar). Sementara itu, disuatu sudut klub tersebut, seorang pemuda anak pejabat yang gemar berhubungan seks dengan banci bernama Haryo (Lukman Sardi), tanpa sengaja membunuh teman kencannya. Haryo yang saat itu tengah bersama dengan dua orang temannya tentu saja menjadi panik dan memutuskan untuk membuang mayat tersebut. Hanya saja kemudian mereka mengetahui jika ada seseorang diruangan tersebut saat kecelakaan terjadi, yaitu Ara yang ternyata disembunyikan Viki disebuah kabinet dalam ruangan tersebut. Merasa takut identitas mereka akan terbongkar, maka mereka memutuskan untuk mencari Viki dan Ara. Pada mulanya Viki tidak mengetahui apa yang terjadi, sampai Haryo dan teman-temannya menyandera Ara. Setelah bingung memtuskan apa yang harus diperbuatnya, tanpa sengaja ia dan Ara bertemu kembali. Maka dimulailah petualangan Viki dan Ara dalam menghindari bahaya yang mencam mereka.
Skrip ‘Jakarta Undercover’ ditangani oleh Joko Anwar yang sebelumnya sukses dengan ‘Janji Joni’ (2005) dan entah mengapa Joko memakai gaya yang sama untuk film arahan Lance (Cinta Silver) ini. Walau begitu, harus diakui jika Joko Anwar merupakan salah seorang penulis skenario handal dalam negeri ini, karena ia tahu benar apa yang ingin dilakukannya. Film berjalan dengan konsistensi tempo dan intensitas ketegangan yang terjaga, membuat film ini cukup berhasil sebagai sebuah thriller. Dengan memakai struktur thriller yang membutuhkan ketegangan yang konstan ini, maka bolehlah ‘Jakarta Undercover’ dianggap sebagai pionir dalam industri film Indonesia.
Hanya saja, ada beberapa hal yang kemudian mengganjal setelah menyimak cerita dalam film ini. Sebagai misal, betapa faktor kebetulan dan Dewi Fortuna yang selalu berpihak kepada Viki dan Ara sehingga selalu bisa menghindar dari kejaran Haryo dan kumpulannya. Nuansa film yang terlalu mengejar ketegangan juga seakan terlupa dengan perlunya elaborasi terhadap informasi karakter yang lebih mendalam. Skrip hanya mengizinkan kita sebagai penonton untuk mempercayai jika Viki itu mempunyai latar belakang kelam, Ara itu autis atau Haryo itu just an annoying-spoiled-brat atau malah seorang pria dengan gangguan kejiwaan.
Lukman Sardi sendiri rasanya tampil dengan cukup annoying dalam arti terlalu berlebihan dalam ekpresi dan terasa kurang meyakinkan kekejamannya. Begitu juga dengan aktor-aktor tak terkenal yang menjadi temannya yang rasanya perlu latihan akting lebih intensif untuk dapat menggambarkan karakter sekompleks yang mereka mainkan. Untunglah film ini ada Luna Maya. Kegelisahaan dan ketakutan seorang Viki digambarkan dengan baik. Bahkan lebih luar biasa lagi saat melakukan tarian striptis, hahahaha. Walaupun mungkin tidak akan diganjar dengan penghargaan aktris terbaik, jelas Luna sangat mengusai layar. Sementara itu Fachry Albar yang berperan sebagai seorang transeksual agak sedikit over-the-top walau harus diakui secara fisik ia tampil dengan sangat meyakinkan.
Tentu saja, sebagai sebuah film yang diangkat dari sebuah buku yang mendeskripsikan tentang kehidupan malam, ‘Jakarta Undercover’ tak ketinggalan dalam menyajikan tentang gemerlap kehidupan malam yang dalam film ini diwakili oleh eksistensi penari striptis di klub Over Lust untuk kalangan elit homoseksual dan Mawar Biru yang lebih ditujukan untuk straigt-laced middle class. Tentu kita tidak bisa mengharapkan penggambaran segamblang bukunya, namun Lance sang sutradara cukup mampu menyiasatinya dengan adegan-adegan yang tetap bisa mengambil esensi buku tanpa harus tampil terlalu vulgar. Walau begitu, ternyata ‘Jakarta Undercover’ tidak hanya mengekspos gemerlapnya kehidupan malam saja, karena jelas film ini ingin memperlihatkan kerasnya kehidupan Jakarta melalui sudut pandang "petualangan" yang dilakukan oleh Viki dan Ara. Dan rasanya film ini berhasil untuk itu.
Sementara itu, secara kualitas, Lance sebagai pengarah film mampu melampaui film debutnya, ‘Cinta Silver’ (2005), dimana kali ini Lance terlihat lebih paham tentang materi yang dihadapinya dan lumayan berhasil dalam menyusun ketegangan yang memang diharapkan dari film sejenis ini. Walau rasanya ini bukan film yang penting secara artistik, namun diitangannya ‘Jakarta Undercover’ menjadi tayangan popular yang memposisikan sebagai pemacu adrenalin. Dan rasanya film ini cukup sukses dalam mengambil posisinya tersebut.








