‘300′: Epik Fantasi yang Tervisualkan Secara Gemilang


Produksi: Warner Bross (2007)
Sutradara: Zack Snyder
Cast: Gerard Butler, Lena Headey, Rodrigo Santoro, David Wenham, Dominic West

Genre: Drama/Aksi/Petualangan
Durasi: 117"
Release Date: 09 Maret 2007 (USA)
My Grade: 4 out 5

300_1

‘Sin City’ (2005) karya Robert Rodriguez (Desperado) dianggap sebagai karya yang ground-breaking karena dengan berani mengangkat panel-panel gambar dalam novel grafis karya Frank Miller tersebut secara utuh kedalam layar sinema, sehingga kita seolah-olah tengah menyaksikan gambar komik yang menjadi hidup. Kini, Zack Snyder (Dawn of the Dead) memutuskan untuk mengambil gaya yang serupa saat ia mengangkat novel grafis Frank Miller lainnya, ‘300′.

Berdasarkan peritistiwa dan karakter yang nyata pernah ada, Frank Miller menjadikan ‘300′ sebagai salah satu karya emasnya. Melukiskan kegagahan Leonidas, raja Sparta beserta 300 satria pilihan dalam mengadang jalan invasi Xerxes, raja Persia, dilembah Thermophylae yang berada di tepi lautan Adriatik. Frank Miller dengan daya imajinasinya yang luar biasa menjadikan ‘300′ sebagai sebuah mitologi yang menggetarkan. Secara historis mungkin kurang akurat, tapi Frank Miller meleburkan epos kepahlawanan tersebut dalam visinya yang ekletik sehingga ‘300′ hadir bak kisah kepahlawanan yang fantastis dan mendebarkan.

Kemudian, ketika Zack Snyder memutuskan untuk meng-audio-visualkan komik tersebut, maka hasilnya adalah seperti menyaksikan sebuah lukisan cat minyak yang menjadi hidup. Penuh dengan warna yang artistik sekaligus memakai sudut pandang yang jenial dan impresif. Apalagi dengan detil-detil properti yang tereksplorasi dengan teliti, menjadikan ‘300′ seperti sebuah tayangan yang memanjakan mata. Hanya saja, walau dari segi grafis film ini tampil dengan luar biasa, akan tetapi pengaruh dari film-film epik yang ada sebelumnya terasa kental sekali. Sebut saja ‘Lord of the Ring’, ‘Gladiator’, ‘Troy’, ‘Hero’ sampai ‘The Matrix’, sehingga kita seolah mengalami déjàvu saat menyaksikan beberapa bagian dalam adegan di film ini.

‘300′ adalah epik swords-and-sandals, sehingga kita mengharapkan plot dalam ‘300′ akan mengalir secara megah dan penuh dengan lika-liku, namun ternyata ‘300′ mengambil jalan yang berbeda, karena cerita dalam film ini tampil dengan lebih sederhana dan mudah dipahami. ‘300′ seakan ingin memfokuskan pada visual yang menakjubkan sekaligus mengesankan dan tugas ini berhasil dilakukan dengan baik oleh ‘300′. Namun, bukan berarti jalan cerita dikesampingkan begitu saja oleh film ini, karena walaupun sederhana, namun kisah dramatis Leonidas (Gerard Butler) dalam memimpin 300 ksatrianya serta dilema yang dihadapi sang Ratu, Gorgo (Lena Headey) sepeninggal Leonidas tetap menarik untuk diikuti.

‘300′ mungkin bukan dimaksudkan sebagai epik yang menantang secara realisme, namun ia dimaksudkan sebagai persembahan sinema yang kuat dari segi artistik. Tujuan utamanya adalah menghibur dan ‘300′ sangat berhasil dalam menjalankan misinya.


One Response to “‘300′: Epik Fantasi yang Tervisualkan Secara Gemilang”

  1. Ina Says:

    maaf komen saya banyak. habis kegirangan ada blog yang begitu rajin mereview film-film. Salut!

    Menurut saya, 300 adalah film terindah yang pernah saya tonton. Warnanya itu lho. Sepanjang film saya cuma bisa bengong ngeliat warna-warna yang begitu.. menakjubkan!!

Leave a Reply